NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH PAHAM

Keesokan harinya, tepat setelah matahari naik cukup tinggi, Angkasa kembali datang ke rumah Pak Bimo. Seperti biasa, wajahnya tampak tenang dan senyumnya ramah. Kali ini ia datang mengajak Arum pergi lagi, dengan alasan yang cukup masuk akal. Ia bilang ada rekan kerjanya yang sebentar lagi akan menikah, dan ia bingung harus membelikan kado apa.

Karena tahu selera Arum bagus dan pas, dia pun meminta tolong gadis itu untuk menemaninya ke mal yang ada di Yogyakarta, lumayan dekat dari desa tempat tinggal Arum, perjalanannya tidak sampai satu jam.

Arum yang pagi itu hatinya sedang berbunga-bunga, langsung menyetujuinya dengan senang hati. Semalam setelah curhat panjang lebar sama Intan, hatinya memang masih sedikit ragu dan gelisah, tapi kehadiran Angkasa yang datang menjemput dengan senyum sehangat itu seolah menghapus segala kekhawatirannya. Arum berpikir, kalau Angkasa tidak peduli, pasti tidak akan sesering ini mengajaknya pergi berdua.

Mereka pun berangkat naik mobil Angkasa. Perjalanan terasa menyenangkan, obrolan ringan mengalir sepanjang jalan, membuat Arum makin yakin bahwa perasaannya mungkin berbalas. Sesampainya di mall, mereka berkeliling dari satu toko ke toko lain.

Arum dengan telaten membantu memilihkan barang yang cantik, bermanfaat, dan cocok sebagai kado pernikahan. Angkasa hanya diam mengikuti saran Arum, sesekali memuji selera gadis itu yang memang tidak pernah salah pilih.

Setelah keputusan jatuh pada satu set perlengkapan rumah tangga yang indah dan elegan, urusan mencari kado pun selesai. Jam di pergelangan tangan Angkasa sudah menunjukan angka 1, perut mereka sama-sama sudah terasa lapar.

"Udah beres semua. Ayo kita makan dulu ya, saya traktir. Di lantai atas ada restoran yang katanya enak banget," ajak Angkasa santai.

Arum mengangguk setuju dengan senyum cerah. Mereka pun berjalan beriringan menuju restoran itu. Suasananya nyaman, bersih, dan wanginya masakan yang menggugah selera. Mereka duduk di meja deket pintu masuk, di sudut ruangan yang cukup sepi. Setelah memesan makanan dan minuman, pelayan pun pergi membawa pesanan mereka.

"Masih lama kayaknya masaknya," ucap Angkasa sambil bersandar santai di kursinya, matanya menatap sekeliling ruangan.

Arum mengangguk. Tiba-tiba dia pengen buang air kecil . "Mas Angkasa... aku ke toilet dulu ya sebentar.Masih lama kan nunggu makanannya?"

"Iya silahkan,saya tungguin di sini," jawab Angkasa ramah sambil tersenyum.

Arum pun beranjak pergi. Ia berjalan santai menuju toilet, membenahi sedikit penampilannya dan menatap bayangannya di cermin dengan hati yang senang. Ia tidak sabar ingin kembali ke meja makan, duduk di depan Angkasa, dan menghabiskan waktu lebih lama lagi bersamanya.

Namun, saat Arum berjalan kembali menuju restoran itu, langkah kakinya tiba-tiba terhenti kaku di dekat pintu masuk.

Dari jarak beberapa langkah, Arum melihat ada sosok wanita lain yang kini duduk di kursi yang tadi dia duduki. Wanita itu cantik, penampilannya modis, dan terlihat sangat akrab saat berhadapan dengan Angkasa. Posisi duduk Angkasa membelakangi pintu masuk, jadi Angkasa sama sekali tidak sadar kalau Arum sudah kembali dan berdiri tak jauh dari sana.

Hati Arum langsung berdebar kencang karena cemas. Ia tidak berniat mendengarkan, tapi suara percakapan mereka terdengar cukup jelas karena suasana restoran memang sedang sepi. Arum diam terpaku di balik dinding pembatas, matanya berkaca-kaca saat mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Angkasa.

"Kamu dari mana tau saya ada di sini? Emangnya kamu ngikutin saya dari tadi ya?" nada suara Angkasa terdengar dingin dan sedikit ketus, sangat berbeda dengan nada bicara lembut yang biasa ia dengar.

Si wanita di depan Angkasa malah tertawa renyah, terlihat sangat senang dan antusias. "Kebetulan aja kok, Angkasa. Lagian siapa yang nggak seneng kalau bisa ketemu kamu. Eh, ngomong-ngomong tadi cewek yang sama kamu itu siapa? Cantik juga,pacar kamu ya? Pantesan aja kamu dari dulu nolak aku terus, ternyata udah ada yang punya ya."

Pertanyaan itu membuat jantung Arum seolah berhenti berdetak. Ia menahan napasnya, menunggu jawaban Angkasa dengan perasaan campur aduk antara harap dan takut.

Angkasa terdengar menghela napas kasar, jelas sekali terasa kalau ia sangat risih dan ingin cepat-cepat mengusir wanita itu dari hadapannya.

Dia ingat betul siapa wanita ini mantan teman kuliah yang terobsesi berat padanya, yang sudah berkali-kali ditolak mentah-mentah tapi masih saja berusaha mendekat dan mengganggu di mana pun ia berada. Karena rasa risih dan ingin mengakhiri obrolan itu secepat mungkin, Angkasa menjawab pertanyaan itu asal saja, tanpa berpikir kalau ada orang lain yang mendengar.

"Cewek itu? Bukan, bukan pacar. Dia cuma teman saya aja," jawab Angkasa ketus dan datar.

"Dia anak rekan bisnis saya, sekaligus anak sahabat lama Bapak saya. Jadi saya anggap dia seperti teman saja, enggak lebih."

Deg...

Dunia Arum rasanya berhenti. Kata-kata itu menghantam dadanya lebih sakit daripada pukulan fisik apa pun.

"Cuma teman... anak rekan bisnis... anak sahabat Bapak..."

Jadi ini arti kebaikan Angkasa selama ini? arti semua perhatian, jalan-jalan, dan momen indah yang mereka lewati? Arum pikir ada sesuatu yang lebih, ada rasa yang sama.

Tapi ternyata... semuanya hanya karena urusan orang tua dan hubungan bisnis semata. Angkasa sama sekali tidak punya perasaan apa-apa. Angkasa menganggapnya biasa saja, teman biasa, tidak lebih.

Air mata mulai menggenang deras di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya. Ia tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan mereka lebih lanjut. Apa yang arum takuti saat dia curhat sama intan terjadi,cintanya bertepuk sebelah tangan.

Padahal Angkasa tadi itu hanya menjawab asal, hanya ingin si wanita itu berhenti bertanya dan segera pergi. Angkasa sama sekali tidak tahu Arum ada di sana, tidak tahu Arum mendengar semuanya, dan tidak tahu betapa sakit mendengar kata-kata itu bagi gadis yang dicintainya itu.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Arum memutuskan untuk tidak menyapa, tidak menghampiri. Ia berbalik badan perlahan, lalu berjalan cepat meninggalkan restoran itu, meninggalkan Angkasa yang masih duduk di sana, dan meninggalkan segala harapannya yang baru saja tumbuh subur.

Arum berjalan terhuyung-huyung keluar dari gedung mall itu. Dia langsung memesan taksi online untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Arum hanya bisa menangis di dalam mobil, membiarkan air matanya membasahi pipi dan bajunya.

Rasanya sesak sekali. Ini baru pertama kali ia merasakan jatuh cinta dengan begitu tulus dan dalam, tapi kenapa rasanya langsung disuguhkan rasa sakit yang seperih ini? Rasanya ingin sekali dia lupakan semua rasa itu, tapi rasanya sudah terlanjur dalam.

Di tengah tangisannya yang memilukan, tangan Arum gemetar mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Angkasa, pesan yang terasa sangat berat untuk dikirim.

"Mas Angkasa... maaf aku pulang duluan ya. Tadi ada urusan mendadak yang harus diurus di rumah, aku nggak enak ngomong langsung. Kamu makan aja sendiri di sana, nggak usah nungguin aku. Makasih buat hari ini ya."

Pesan itu dikirim. Arum mematikan layar ponselnya, membiarkan Angkasa bingung di sana, membiarkan Angkasa bertanya-tanya kenapa ia tiba-tiba hilang. Arum tidak peduli lagi saat ini. Yang ia rasakan sekarang hanya sakit hati, kecewa, dan rasa malu yang luar biasa. Ia merasa bodoh, merasa terlalu berharap, merasa percuma saja segala rasa sayang yang ia berikan.

Di restoran, Angkasa baru saja berhasil mengusir si wanita itu dan menghela napas lega. Ia menoleh ke arah kursi kosong di depannya, lalu menatap jam tangannya.

"Lama juga ke toiletnya," batin Angkasa sambil tersenyum sendiri.

Namun saat ia mengecek ponselnya dan membaca pesan singkat dari Arum, senyum itu langsung lenyap diganti kerutan dahi bingung. Angkasa mengerutkan kening. Ada apa? Hal mendadak apa? Padahal tadi baik-baik saja. Angkasa mencoba menelepon , tapi nomor Arum udah gak aktif. Ia mencoba mengirim pesan balasan bertanya lebih lanjut, tapi tidak ada jawaban.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!