NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: tamat
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:105.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi itu datang tidak seperti biasanya. Dapur yang biasanya ramai dengan suara sutil beradu dengan wajan, kini terasa sunyi. Tidak terdengar bunyi apa pun. Juga tidak ada aroma masakan yang biasa memenuhi rumah sejak subuh.

Semuanya terasa kosong. Orang-orang di dalam rumah mulai menyadari keanehan itu.

Biasanya, di jam enam pagi seperti ini, makanan sudah tersaji rapi di atas meja. Namun kali ini… tak ada satu piring pun. Bahkan segelas air putih pun tidak tersedia.

Sintia yang melihat pemandangan itu langsung mendengus kasar. Wajahnya terlihat kesal, seolah sudah tahu siapa yang harus disalahkan. Satu per satu anggota keluarga mulai datang ke ruang makan.

Dan untuk pertama kalinya, semua hanya berdiri menatap meja kosong.

"Arya, ini bagaimana?" protes Sintia dengan nada tinggi. "Jam segini Adinda belum juga masak. Lalu bagaimana dengan keluarga kita?" lanjutnya penuh amarah.

Arya menghela napas pelan. Matanya menoleh ke arah kamar utama yang pintunya sedikit terbuka. Ada keraguan di sana, namun pada akhirnya ia tetap melangkah.

"Tok… tok… tok…" Tiga ketukan terdengar pelan.

Tidak ada jawaban. Namun dari celah pintu, Arya bisa melihat Adinda sedang berdiri di depan cermin, sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Din," panggilnya sambil membuka pintu dan masuk ke dalam.

Adinda hanya melirik sekilas. Lalu kembali merapikan hijabnya. Seakan kehadiran Arya tidak penting.

"Din… aku mohon, jangan seperti ini," ucap Arya akhirnya.

Adinda mengernyitkan dahinya."Maksudnya?"

Nada suaranya datar, tidak emosi tapi sikapnya itu Justru membuat Arya semakin tidak nyaman.

"Iya… kalau memang kamu nggak bisa masak, seharusnya bilang. Jangan mendadak seperti ini. Orang-orang semuanya pada bingung, menunggu masakanmu," sahut Arya.

Kali ini Adinda menoleh sepenuhnya, tatapannya dingin dan menusuk. "Setelah apa yang kau lakukan padaku… kau masih sempat menyuruhku menjadi pembantu di rumahku sendiri?"

Arya tersentak kaget. "Din, kamu itu istriku, bukan pembantuku!" tegasnya.

Adinda tersenyum tipis, akan tetapi senyuman itu tidak sampai di matanya, ucapan suaminya itu terlalu mudah menyebut kata 'istri' tanpa peduli dengan posisinya yang justru di duakan seperti ini.

"Istri yang kau sakiti…" ucapnya pelan.

Satu langkah ia mendekat. Tatapannya lurus menembus mata Arya. "Tepatnya… yang kau curangi, Mas."

Hening kemudian, tidak ada suara. Namun kata-kata itu terasa jauh lebih keras dari bentakan apa pun.

Tapi keheningan itu belum sempat benar-benar reda. Saat tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.

"Mas…" Suara lembut itu langsung memecah suasana.

Arya menoleh cepat, Luna berdiri di ambang pintu, menggendong Axel yang tampak mulai rewel, bahkan tanpa dipersilahkan wanita itu sudah menyelonong masuk ke kamar kakak madunya. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya tajam memperhatikan keadaan di dalam kamar itu.

Sejenak pandangannya bertemu dengan Adinda. Ada senyum tipis di sana. Senyum yang sulit diartikan.

"Mas, Axel dari tadi nangis. Kayaknya dia lapar," ucap Luna pelan, seolah tidak ingin memperkeruh suasana.

Akan tetapi kehadirannya justru membuat udara di dalam kamar semakin menegang. Adinda tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Luna sekilas.

Lalu kembali merapikan tas kerjanya. Seolah wanita itu tidak lebih penting dari benda mati di sekitarnya.

"Din… sarapan belum ada," ucap Arya lagi, kali ini dengan nada lebih menekan.

Luna langsung menimpali dengan suara lembutnya. "Mas, nggak apa-apa. Aku bisa kok bantu masak," ujarnya, lalu menatap Adinda sekilas. "Lagian sekarang aku juga lagi cuti kerja. Jadi lebih banyak di rumah."

Kalimat itu terdengar biasa entah kenap, terasa seperti sengaja ditegaskan, bahwa ia akan sering berada di rumah ini, bersama suami Adinda.

Tanpa disangka Adinda menanggapi sindiran itu dengan tenang, bahkan sangat tenang. Ia menutup resleting tasnya perlahan, lalu berbalik badan menghadap ke arah madunya itu.

"Luna," panggilnya tiba-tiba.

Untuk pertama kalinya, Adinda menyebut namanya secara langsung.

Luna sedikit terkejut. "Iya, Mbak?"

Adinda menatapnya lurus. "Kalau kamu merasa sudah jadi istri di rumah ini… silakan jalankan peranmu dengan baik."

Suasana langsung membeku. Arya menahan nafas sejenak, pikirannya sudah diliputi dengan kecemasan, di tambah lagi dengan kehadiran Luna.

Dan tanpa mereka bertiga sadari di depan pintu kamar Airin terkejut mendengar ucapan kakak iparnya yang terdengar cukup berani.

"Masak. Cuci. Urus rumah," lanjut Adinda dengan suara datar. "Karena selama ini, semua itu aku yang kerjakan."

Wajah Luna berubah. Senyum di bibir wanita itu memudar perlahan.

"Atau…" Adinda melangkah satu langkah mendekat dengan tatapan yang semakin tajam.

"kamu hanya ingin menikmati hasilnya saja?"

Deg.

Luna menelan ludah, ia tidak mau terlihat, numpang atau tidak berperan apa-apa dalam keluarga suaminya itu, terlebih lagi dia harus menunjukkan pada semua orang atas kesanggupannya itu kalau bisa? Dia harus diatas segalanya dari Adinda.

"Mbak jika memang tugas itu harus dialihkan ke saya, aku terima saja kok," sahutnya dengan cepat.

Adinda tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu, selamat menjalankan hidup baru mu di rumah ini."

Luna menanggapinya dengan senang hati, merasa dirinya lebih memegang kendali dari pada istri pertamanya.

"Dan maaf ya Mbak, sekali lagi jangan tersinggung, aku di sini bukan untuk merebut apa pun. Aku hanya menjalankan takdirku sebagai istri Mas Arya," sahutnya dengan suara lembut, tapi penuh tekanan.

"Takdir?" ulangnya pelan. Matanya menatap bayi di pelukan Luna. Lalu kembali ke wajah wanita itu.

"Takdir tidak pernah datang dari hubungan yang disembunyikan," ucapnya tenang.

Arya langsung menyela. "Sudah, cukup Din!"

Namun kali ini Adinda tidak berhenti. "Dan satu lagi," lanjutnya.

Tatapannya beralih ke Arya. "Mas, jangan biasakan aku seperti dulu lagi."

Arya mengernyit. "Maksud kamu?"

Adinda mengambil tasnya. "Luna bilang dia lagi cuti. Artinya dia punya waktu."

Ia menoleh sekilas ke arah wanita itu lalu berkata. "Manfaatkan waktu luangmu dengan baik."

Langkahnya berjalan menuju pintu kamar, akan tetapi sebelum benar-benar keluar kakinya berhenti sejenak tanpa menoleh ia berkata pelan.

"Karena aku juga punya pekerjaan, dan kesibukan lain."

Satu kalimat sederhana. Namun maknanya dalam. Ia tidak lagi akan menjadi “penopang” rumah ini.

Pintu terbuka lalu Adinda keluar tanpa menoleh lagi, dengan tatapan yang lurus. Ia sudah merancang sesuatu yang siap mengguncang.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Luna menggigit bibirnya pelan. Wajahnya tidak lagi setenang tadi.

"Mas…" bisiknya lirih. "Aku nggak enak kalau Mbak Dinda seperti ini."

Tapi di dalam hatinya, justru ada rasa lain. Rasa tidak nyaman, seperti terancam di dalam jebakannya sendiri.

Sementara Arya hanya diam, baru kali ini. Ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ada.

Bersambung

1
Alina Bams
ceritanya gak jelas
Siti Sariyah
lanjut
Ika Yanti Unyil
ceritanya bagus thor cuma untuk judulnya sedikit kurang nyambung.karena yg banyak dibahas masalah rumah tangga adinda dan arya.serta maslah keluarga tentang perebutan harta.
tapi cerita setiap babnya ngalir dan bahasanya enak dibaca.jd nyaman aja bacanya
makasih thor ud kasih bacaan yang bagus.
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️
Rahmat Zakaria
lho kok tamat 🤭
Rina Arie
good book
Teh Euis Tea
loh adinda Valen ga nikah thor?
cinta semu
ngarep bonchap Thor ,biar makin jelas hubungan adinda sm Valen ...Arya legowo dgn kenyataan ,,biar bisa hidup damai
Sugiharti Rusli
Adinda bersama Valen dan putri kandungnya Alesia, serta Arya bersama si Luna dan Axel, dan suatu saat mereka pasti bisa berjumpa dalam versi terbaik masing" tanpa saling iri dan menjatuhkan, toh Alesia akan jadi darah daging si Arya sampai kapanpun, meski dia melepaskan panggilan ayah dari sang putri,,,
Sugiharti Rusli
memang satu yang harus disadari adalah keikhlasan menerima takdir hidup yah, agar langkah kita makin ringan melangkah ke depan,,,
Sugiharti Rusli
dan si Arya juga sudah mulai nyaman bersama keluarga barunya dan melangkah ke depan bersama Luna dan Axel
Sugiharti Rusli
ternyata memang sudah dibuat tamat yah kisah Adinda, memang pada akhirnya sudah bisa move on yah,,,
Sugiharti Rusli
wah pantas sudah ada notif karya barumu thor,,,
Dini Hidayani
harus ada bonchap dong ingin tau adinda bahagaia
Sugiharti Rusli
semoga setelah tahu isi hati masing", hubungan mereka bisa lebih maju yah, karena Alesia juga butuh kasih sayang Adinda yang selalu ada dalam tumbuh-kembangnya kelak,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalan waktu, hati mereka mulai terikat tanpa mereka sadari, apalagi Alesia juga memanggil Adinda sedari awal mama tanpa tahu kalo dia memang ibu yang melahirkannya,,,
Sugiharti Rusli
mungkin awalnya Valen juga ga ada perasaan apa" kepada Adinda yang dulu juga masih sah sebagai istri si Arya,,,
Sugiharti Rusli
pada awalnya baik Adinda maupun Valen bertemu karena urusan Alesia, karena dia ibu yang melahirkan anak yang dirawat Valen sejak lahir,,,
Sugiharti Rusli
memang pepatah Jawa 'witing tresno jaranan soko kulino' itu memang benar yah
Sugiharti Rusli
hadeh akhirnya mereka bisa jujur sama perasaannya masing" yah sekarang
Dew666
💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!