Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah Sarah pergi dengan wajah menahan malu dan amarah, Celina menutup kembali pintu dapur dengan tumit kakinya. Ia berbalik dan mendapati Zuhair sedang memijat pangkal hidungnya, tampak sangat lelah secara mental padahal hari baru saja dimulai.
"Gus, jangan tegang gitu dong. Muka lo udah kayak kertas kusut," goda Celina sambil kembali ke depan cobeknya.
Zuhair tidak menjawab. Ia kembali fokus pada nasi di atas kompor, mencoba mengalihkan pikirannya dari sentuhan fisik Celina tadi yang masih menyisakan sensasi aneh di lengannya. Suasana dapur kembali hening, hanya ada suara ulekan Celina yang kini lebih bersemangat karena merasa menang dari Sarah.
Tiba-tiba, ponsel Celina yang tergeletak di atas meja makan kecil bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: "Raka - Jakarta".
Celina segera menyambar ponselnya. Ia menggeser tombol hijau dan langsung menempelkannya ke telinga tanpa mematikan speaker.
"Woy! Cel! Lo ke mana aja anjir?" suara musik dugem yang berdentum kencang terdengar dari seberang telepon, sangat kontras dengan suasana pesantren yang tenang. "Gila ya lo, ilang ditelan bumi! Anak-anak pada nyariin, nih. Lo di mana? Kenapa nggak pernah ikut party lagi? Malam ini ada opening club baru di senayan, lo harus dateng!"
Zuhair yang mendengar kata "party" dan suara musik yang bising itu langsung menghentikan kegiatannya. Matanya melirik tajam ke arah Celina.
Celina melirik balik ke arah Zuhair dengan tatapan menantang, lalu menjawab telepon itu dengan santai. "Berisik lo, Rak! Gue lagi sibuk, tauk!"
"Sibuk apaan sih? Palingan juga lo lagi hangout di mana gitu. Jangan sok sibuk deh, ayo balik ke Jakarta sekarang. Tanpa lo, meja kita sepi, nggak ada yang bikin rusuh," cecar Raka di seberang sana.
Celina tertawa kecil, melirik Zuhair yang kini sudah bersedekap dada sambil menatapnya datar. "Gue nggak bisa balik, Raka. Gue udah pindah kota. Jauh. Jadi jangan cariin gue lagi buat urusan nggak jelas kayak gitu."
"Pindah kota? Ke mana? Serius lo?"
"Kepo banget sih lo. Pokoknya gue lagi ada... urusan 'pendidikan' khusus di sini. Jadi stop nanya-nanya kapan gue party lagi. Bye!"
Klik.
Celina mematikan teleponnya dan melempar ponsel itu kembali ke meja. Ia menatap Zuhair yang masih menatapnya dengan tatapan "interogasi".
"Apa?" tanya Celina sambil mengangkat bahu. "Gue udah bilang kan, gue pindah kota. Puas lo?"
Zuhair menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati Celina. "Bagus kalau kamu sadar duniamu sudah berubah, Celina. Tapi kalau teman-temanmu masih menghubungi dengan cara seperti itu, saya khawatir kamu akan goyah."
Celina menyeringai, ia berjalan mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Zuhair. Ia bisa mencium aroma sabun mandi Zuhair yang segar.
"Goyah? Tenang aja, Gus. Selama lo masih bisa bikin gue 'penasaran' kayak tadi pagi, gue rasa dunia malam di Jakarta kalah seru dibandingin ngerjain lo di sini," bisik Celina dengan nada nakalnya.
Zuhair memalingkan wajah, telinganya kembali memerah. "Selesaikan sambalnya, Celina. Saya mau siapkan piring."
"Iya, iya, Gus Sayang..." sahut Celina sambil tertawa renyah, kembali asyik dengan ulekannya sementara hatinya bersorak melihat kegugupan suaminya itu.
Pada malam hari, pendopo pesantren terlihat ramai. Acara makan malam bersama setelah kajian rutin membuat suasana terasa hangat, namun tidak bagi Zuhair. Ia merasa ada yang kurang karena tidak ada "gangguan" dari Celina. Istrinya itu benar-benar mager dan memilih mengunci diri di kamar dengan alasan ingin lanjut menonton filmnya.
Sarah, yang hari ini mendapat jadwal piket memasak untuk keluarga ndalem dan pengurus, tampak sangat sibuk. Namun, matanya tidak pernah lepas dari sosok Zuhair yang duduk di barisan depan.
"Gus, ini piring khusus untuk Anda. Sudah saya siapkan menu terbaik karena Bunda Siska dan Kyai Roni sudah pamit pulang sore tadi," ucap Sarah sambil meletakkan sepiring nasi dengan lauk pauk yang terlihat menggiurkan di depan Zuhair.
Zuhair hanya mengangguk sopan. "Terima kasih, Sarah. Repot-repot sekali."
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Zuhair mulai menyantap makanan itu. Di dalam bumbunya, Sarah sudah menghancurkan dua butir obat tidur dosis kuat yang ia dapatkan dari apotek saat izin keluar minggu lalu. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa "memiliki" Zuhair, atau setidaknya menciptakan skandal yang membuat nama Celina makin terpuruk.
Selesai acara, Zuhair berdiri untuk kembali ke rumahnya. Namun, baru berjalan beberapa langkah menuju pelataran belakang yang sepi menuju arah ndalem, kepalanya mendadak terasa berputar.
Kenapa berat sekali mata ini... batin Zuhair. Langkahnya mulai goyah. Dunianya terasa bergoyang.
Pelataran belakang itu gelap, hanya diterangi lampu taman yang remang. Saat Zuhair nyaris tersungkur menabrak pohon kamboja, sebuah tangan dengan cepat menahannya.
"Gus? Gus Zuhair kenapa? Anda sakit?" Suara Sarah terdengar sangat cemas, padahal hatinya bersorak kegirangan melihat obatnya bekerja begitu cepat.
"Sarah... saya... saya hanya mengantuk sekali," gumam Zuhair dengan suara yang mulai serak. Matanya sudah setengah terpejam, kesadarannya perlahan menipis.
"Mari, Gus. Ndalem masih jauh lewat belakang, mari saya antar," ajak Sarah sambil merangkul lengan Zuhair kuat-kuat, memandu laki-laki itu menuju omah-omahan atau rumah kecil khusus santri senior tempat ia tinggal.
Karena statusnya yang sudah lama mengabdi, Sarah memang memiliki tempat tinggal yang sedikit lebih privat dari santriwati biasa. Area itu sangat sepi malam ini karena semua orang masih sibuk membereskan pendopo.
Zuhair yang sudah kehilangan kendali atas tubuhnya hanya bisa pasrah. Dalam pikirannya yang mulai kabur, ia mengira ia sudah sampai di teras rumahnya sendiri.
Begitu sampai di dalam kamar kecilnya, Sarah merebahkan tubuh Zuhair di atas ranjang kayu yang beralaskan kasur tipis. Ia mengunci pintu dari dalam, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap wajah Zuhair yang tampak tenang saat tidur, lalu tangannya perlahan terulur untuk melepas peci hitam yang masih bertengger di kepala Zuhair.
"Maafkan saya, Gus... tapi ini satu-satunya cara agar Anda sadar siapa yang lebih pantas mendampingi Anda," bisik Sarah dengan senyum licik.
Sementara itu, di rumah kecil mereka, Celina mulai merasa lapar. Ia melempar laptopnya ke kasur dan melirik jam dinding.
"Lama banget sih si Zuhair itu? Katanya cuma makan bentar," gumam Celina. Ia merasa ada yang tidak beres. Biasanya Zuhair akan mengetuk pintu atau minimal memberi kabar jika pulang terlambat.
Celina mengambil jaket oversize-nya, mengikat rambutnya asal, dan melangkah keluar rumah lewat pintu belakang. "Gue samperin aja deh, kalau perlu gue seret pulang."
Celina sempat berkeliling sebentar di sekitar pendopo yang sudah mulai sepi, namun ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan suaminya. "Mungkin dia ketiduran di kamar Abi atau ada rapat dadakan buat acara besok," gumam Celina sambil menguap. Tanpa rasa curiga yang berlebih, ia memutuskan untuk kembali ke rumah kecil mereka dan lanjut tidur.