NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Keluar

Di tengah keputusasaan yang makin memuncak, angin malam tiba-tiba berembus kencang. Bau melati yang menyengat langsung menusuk hidung, sampai mengalahkan bau busuk Jarian yang dari tadi ngepung mereka. Dari balik kabut tebal di dekat pohon beringin tua, sesosok Perempuan berkebaya hijau lumut jalan mendekat. Langkahnya anggun dan tidak bersuara, kakinya tidak napak di tanah hutan yang lembap itu. Dia adalah Sinta.

Sosok misterius itu muncul lagi. Wajahnya pucat tapi cantik, matanya menatap lurus ke Bagas, kemudian beralih ke Adrian yang masih duduk lemas di tanah. Kedatangan Sinta bikin Pak RT sama Kang Kosim mundur selangkah karena ketakutan. Sementara Aki Sukra langsung mengatupkan kedua tangannya di dada, tanda menghormati sekaligus waspada.

"Dia sudah datang untuk menagih janji.". Bisik Sinta. Suaranya terdengar mendayu-dayu, seperti gema yang langsung memantul di dalam kepala mereka masing-masing.

"Sinta... tolong kami. Kamu bilang itu peringatan. Kalau kamu lahir dari keinginan Dinda, kamu pasti tahu kan caranya bebasin dia dari tempat ini?". Bagas, walaupun sekujur tubuhnya gemetaran parah, memberanikan diri buat maju. Kamera rusak milik Dinda didekapnya erat-erat di dada.

Sinta berhenti tepat tiga langkah di depan Bagas. Mata hitam pekatnya menatap kamera di pelukan Bagas, terus dia senyum tipis senyuman yang kelihatan sedih banget.

"Aku ini cerminan dari hati temanmu yang terluka. Dia mengikat jiwanya ke kegelapan Jarian karena merasa cuma itu satu-satunya cara biar kamu menganggap dia ada, Adrian. Tempat ini tidak akan melepaskan apa yang udah diserahkan secara sukarela, kecuali,". Ucap Sinta lembut, sambil jari lentiknya nunjuk ke arah Adrian.

"Kecuali apa, Sinta? Tolong, beritahu kami!" potong Adrian langsung. Dia mendongak dengan muka yang sudah basah kuyup dengan air mata. Ego dan logika mahasiswanya sudah runtuh total, digantikan rasa takut dan rasa bersalah yang luar biasa.

Sinta membalikkan badannya, menghadap ke arah kegelapan hutan yang paling pekat, tempat suara tawa melengking itu berasal.

"Kegelapan Jarian itu suka dengan kepalsuan, tetapi dia akan tunduk dengan kebenaran yang menyakitkan. Dinda terjebak dengan ilusi dan keinginannya sendiri. Untuk memutuskan ikatan itu, kalian harus hancurkan pusat dari perjanjiannya. Gunakan kameramu, Bagas. Di dalam ada rekaman malam ketika Dinda melakukan ritual. Frame terakhir sebelum kamera itu rusak adalah jangkar jiwanya di dunia ini.". Sinta menoleh lagi ke Bagas.

”Tapi kamera ini sudah mati, Sinta! Rusak ketika kami baru masuk batas hutan!” Bagas kaget, dia memperhatikan kameranya yang layarnya udah retak dan mati total.

"Kamera itu mati karena tidak kuat menampung energi yang terlalu kuat. Bukan mesinnya yang harus nyala, Nak Bagas. Tapi ingatan dan rasa bersalah di dalamnya yang harus dipaksa keluar,". Sahut Aki Sukra tiba-tiba, seperti langsung paham maksud Sinta. Beliau mendekati Bagas.

"Bawa kamera itu ke pusat Jarian, tempat Adrian menusukkan sekopnya kemarin. Adrian harus pegang kamera itu bersama Bagas. Di depan sang penunggu, Adrian, kamu harus jujur sejujur-jujurnya. Menjelaskan kepada Dinda, jelaskan kepada ke Jarian, apa yang sebenarnya ada di hatimu. Tidak membawa draf proyek, riset, atau kepedulian palsu. Cuma jiwamu yang apa adanya." Sinta mengangguk pelan.

"Kalau jawabanmu bisa menghancurkan keinginan Dinda, ikatan itu akan putus. Tapi, kalau hatimu masih ada rasa sombong atau bohong sedikit aja. Jarian tidak hanya menyimpan Dinda, namun juga kalian berdua.". Sinta jalan mendekati Adrian, badannya agak membungkuk sampai bau melati keringnya kerasa menyengat banget.

Setelah menyampaikan maksud, tubuh Sinta perlahan memudar jadi kelopak melati kering yang gugur, terus ditiup angin dan hilang ditelan kabut.

Suasana langsung hening, menyisakan pilihan berat di pundak Adrian dan Bagas. Suara tawa melengking di kejauhan terdengar makin tidak karuan, seperti menantang mereka untuk segera masuk ke dalam tempat Dinda berada.

"Yan. Aku menemani mu ke dalam. Tapi kamu harus siap jujur sama diri mu sendiri.". Bagas ngulurin kamera rusak itu ke Adrian. Tangannya sudah tidak gemetaran lagi, berganti dengan  tatapan tegas seorang sahabat.

"Ayo, Gas. Aku akan bawa Dinda pulang, atau aku tidak akan kembali." Adrian menatap kamera itu, kemudain perlahan berdiri. Dia mengusap air matanya, lalu menatap tajam ke kegelapan hutan larangan.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!