Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Usai troli mereka penuh dengan berbagai kebutuhan rumah tangga, Zayyan dan Alin pun berjalan menuju area kasir. Troli besar yang mereka dorong hampir penuh sesak. Mulai dari bahan makanan, camilan, buah-buahan, kebutuhan dapur, hingga beberapa barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar belanja awal mereka. Tentu saja sebagian besar barang tambahan itu dipilih oleh Alin.
Sepanjang perjalanan menuju kasir, Alin sesekali melirik isi troli sambil tersenyum kecil. Entah kenapa kegiatan sederhana seperti berbelanja bersama terasa menyenangkan baginya.
Sementara itu Zayyan berjalan di samping sang istri dengan satu tangan mendorong troli dan tangan lainnya sesekali meraih pinggang Alin ketika banyak pengunjung berlalu lalang di sekitar mereka. Tindakan kecil itu seolah sudah menjadi kebiasaannya sekarang.
Mereka berhenti di salah satu antrean kasir yang tidak terlalu panjang. Alin berdiri di depan troli sementara kasir mulai memindai satu per satu barang belanjaan mereka.
"Banyak juga ya," gumam Alin ketika melihat tumpukan barang di atas meja kasir.
Zayyan tersenyum tipis."Kamu yang ambil."
Alin langsung terkekeh pelan."Iya sih. Tapi kamu juga yang nyuruh" ucap Alin tidak mau di salahkan.
Satu per satu barang melewati alat pemindai.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara mesin kasir terdengar berulang kali. Kasir yang bertugas sesekali melirik pasangan muda di hadapannya. Sulit untuk tidak memperhatikan mereka. Selain karena penampilan keduanya yang sama-sama menarik, interaksi mereka juga terlihat hangat.
Terutama Zayyan. Tatapannya tidak pernah jauh dari wanita di sampingnya. Ketika Alin terlihat sedikit lelah berdiri, Zayyan langsung menarik troli agar sang istri bisa bersandar sedikit pada pegangan troli tersebut. Hal kecil itu mungkin tidak disadari orang lain, namun cukup untuk menunjukkan perhatian.
Setelah semua barang selesai dihitung, angka total belanja muncul di layar monitor kasir. Tanpa banyak bicara, Zayyan langsung mengeluarkan kartu dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada kasir.
Alin yang melihat hal itu spontan berkata,
"Aku transfer setengahnya nanti."
Zayyan menoleh."Untuk apa?"
"Ya buat bayar belanja."
Pria itu mengernyit."Kamu istriku."
Alin berkedip."Terus kenapa?"
"Terus nggak perlu bayar. Ini sudah menjadi tanggung jawabku memenuhi semua kebutuhanmu, sayang" Jawaban sederhana itu membuat Alin terdiam beberapa saat. Bukan karena nominal belanjaan mereka yang cukup besar.Tetapi karena cara Zayyan mengatakannya seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sangat wajar. Dan tidak perlu diperdebatkan.
Kasir yang mendengar percakapan mereka bahkan sampai tersenyum kecil. Tidak lama kemudian transaksi selesai. Kasir menyerahkan kartu milik Zayyan kembali.
"Terima kasih, Pak."
"Terima kasih," ucap Zayyan sopan.
Alin ikut menganggukkan kepala. Kemudian keduanya mulai memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam beberapa kantong besar.
Zayyan mengambil sebagian besar kantong yang berisi barang berat, sementara Alin hanya membawa kantong yang lebih ringan. Padahal wanita itu beberapa kali berusaha membantu.
"Aku bisa bawa sendiri."
"Bisa, tapi nggak perlu. Ini berat, biar aku yang membawanya"
"Lho kenapa?"
"Ada aku." Jawaban singkat itu sukses membuat Alin tersenyum malu.
Mereka lalu berjalan meninggalkan area kasir. Keramaian supermarket masih terdengar di sekitar mereka. Anak-anak berlarian, suara troli saling beradu, dan pengumuman diskon sesekali terdengar dari pengeras suara. Namun di tengah keramaian itu, dunia Alin terasa jauh lebih tenang. Entah sejak kapan, kehadiran Zayyan mulai memberinya rasa aman yang sulit dijelaskan.
Pria itu mungkin bukan orang yang romantis dengan kata-kata manis setiap saat. Namun melalui tindakan-tindakan kecilnya, Zayyan selalu berhasil menunjukkan perhatian yang tulus.
Setelah keluar dari pintu supermarket, udara malam langsung menyambut mereka. Zayyan membuka bagasi mobil lebih dulu. Kemudian ia mulai memasukkan semua kantong belanjaan satu per satu ke dalam bagasi.
Alin berdiri di sampingnya sambil memperhatikan. Sesekali wanita itu tersenyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Zayyan yang menyadari tatapan istrinya.
Alin menggeleng. "Nggak kenapa-napa"
"Bohong." ucap Zayyan.
Alin tertawa kecil."Aku cuma senang."
"Sama belanja?" tanya Zayyan sambil mengeryitkan alisnya.
Alin mengangguk. Wanita itu menatap wajah suaminya beberapa saat. "Dan senang karena belanjanya sama kamu."
Untuk sesaat Zayyan terlihat terdiam. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Senyuman yang jarang muncul. Namun selalu berhasil membuat jantung Alin berdebar. Pria itu lalu menutup bagasi mobil sebelum membuka pintu penumpang untuk sang istri.
"Ayo masuk."
Alin menurut.
Sementara Zayyan berjalan memutar menuju kursi pengemudi. Tak lama kemudian mobil mereka meninggalkan area parkir supermarket, membawa pulang bukan hanya tumpukan belanjaan, tetapi juga kebahagiaan kecil yang diam-diam tumbuh di antara keduanya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai lenggang. Zayyan sesekali melirik istrinya yang sedang duduk tenang sambil menatap lurus ke depan.
Di dalam mobil, suasana terasa nyaman. Alin duduk di kursi penumpang sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela. Sementara Zayyan fokus mengemudi.
"Kita makan malam di luar aja," ucap Zayyan.
Alin menoleh."Kenapa? Kita kan sudah belanja. Mending masak aja."
"Ada yang harus kamu kerjakan setelah ini," jawab Zayyan sambil melirik istrinya sekilas dengan tatapan jahil.
Alin mengernyit. "Apa?"
"Nanti juga tahu."
"Kok rahasia?"
Zayyan hanya tersenyum tipis. Sikap misterius suaminya justru membuat Alin semakin penasaran.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Alin terus mencoba mencari tahu maksud ucapan Zayyan, tetapi pria itu sama sekali tidak memberikan jawaban yang jelas.
Mereka akhirnya makan malam di sebuah restoran yang cukup tenang dan nyaman. Tidak terlalu mewah, tetapi memiliki suasana hangat.
Selama makan, Alin beberapa kali kembali bertanya. "Jadi sebenarnya kita mau kemana habis ini?"
"Habiskan dulu makanan mu, sayang" tegur Zayyan.
"Zay." kesal Alin.
"Makan." tegas Zayyan
Alin mendecih kesal. Sementara Zayyan terlihat sangat menikmati ekspresi penasaran istrinya.
Sekitar satu jam kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil. Alin mengira mereka akan langsung pulang ke rumah. Namun semakin lama mobil berjalan, semakin ia sadar bahwa arah yang mereka tempuh bukan menuju rumah.
Alin mulai memperhatikan jalanan di sekitar.
"Kita salah jalan."
"Nggak."
"Ini bukan jalan ke rumah."
"Iya, aku tahu."
Alin langsung menoleh.
"Kalau tahu kenapa kesini?"
Zayyan hanya tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Beberapa menit kemudian sebuah bangunan hotel berbintang terlihat berdiri megah di depan mereka. Mobil perlahan memasuki area lobi.
Alin membelalak.
"Zay"
"Apa?"
"Kok ke hotel?"
Zayyan memarkirkan mobilnya dengan santai seolah itu adalah hal yang paling normal di dunia.
"Lah memang ke sini."
Alin menatapnya tidak percaya.
"Kamu serius?"
"Sangat serius."
"Tapi kenapa?"
Zayyan mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah istrinya. Untuk beberapa detik pria itu hanya menatap wajah Alin yang terlihat bingung.
Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil."Tentunya untuk membuat adik bayi"
Alin melototkan matanya. Mendadak dia merinding mengingat waktu malam pertama kemarin Zayyan menggempurnya hingga pagi.
Zayyan meraih tangan istrinya perlahan."Malam ini aku mau habiskan waktu sama istriku tanpa gangguan siapa-siapa"
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥