Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan harinya, jarum jam baru saja menyentuh angka tiga pagi. Di saat dunia masih terlelap dalam pelukan mimpi yang sunyi, Ziva sudah terjaga. Suasana kamar yang remang-remang menjadi saksi bisu rutinitas paginya yang dimulai jauh sebelum matahari berani menampakkan diri. Bagi Ziva, jam-jam ini adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa bergerak bebas tanpa harus mendengar cacian atau melihat tatapan sinis dari penghuni rumah lainnya.
Meskipun sang ayah, Pandu, telah menjatuhkan hukuman larangan keluar kamar selama satu minggu, peraturan itu seolah menjadi pasal karet di tangan ibu tirinya, Ratna. Bagi Ratna, hukuman "dikurung" itu hanya berlaku di depan Pandu.
Namun di belakang suaminya, Ziva dituntut untuk tetap menjadi "mesin" rumah tangga. Bangun pagi, memasak, mencuci tumpukan piring kotor, hingga membersihkan setiap sudut rumah adalah kewajiban yang harus Ziva selesaikan sebelum para "tuan dan nyonya" itu terbangun.
Ironisnya, setelah keringat Ziva bercucuran dan seluruh pekerjaan selesai, Ratna akan muncul di depan Pandu dengan senyum manis dan wajah yang seolah-olah kelelahan, lalu mengklaim bahwa dialah yang melakukan semua pekerjaan domestik itu demi bakti kepada sang suami.
Karakter ibu tiri yang jahat dan manipulatif bukan sekadar dongeng bagi Ziva; itu adalah realita pahit yang ia telan setiap hari.
"Non Ziva, biar bibik saja yang lanjutin cuci piringnya. Non mandi saja, siap-siap... eh, maksud bibik, istirahat saja," ucap Bi Sumi lirih.
Bi Sumi adalah saksi hidup perjalanan Ziva. Dialah yang mengingat bagaimana Ziva kecil dulu adalah putri yang sangat dimanja dan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya tumbuh dewasa dalam balutan kepahitan.
Ziva menoleh dan memberikan senyum tipis yang sarat akan luka. "Nggak papa, Bik. Lagian Ziva kan nggak diizinin ke sekolah sama Ayah. Jadi Ziva punya banyak waktu buat bantuin Bibik."
Bi Sumi menatap nona mudanya dengan tatapan nanar. "Non Ziva yang sabar ya. Gusti Allah mboten sare. Suatu saat nanti Non Ziva pasti bahagia, entah lewat jalan mana."
"Iya, Bik. Makasih ya selalu ada buat Ziva."
"Iya, Non sa—"
Brak!
Suara baskom plastik yang dilempar keras ke lantai keramik dapur mengejutkan mereka berdua. Ratna berdiri di ambang pintu dapur dengan daster mahalnya, namun wajahnya nampak sangat tidak sinkron dengan penampilannya, matanya melotot tajam.
"Heh! Apa-apaan ini?! Kalian itu harusnya kerja yang bener, bukan malah ngerumpi di sini!" bentak Ratna kasar.
"Ingat ya, Sumi! Saya tidak menggaji kamu hanya untuk ngobrol! Mau kamu saya pecat sekarang juga, hah?!"
Bi Sumi menunduk dalam, badannya gemetar.
"Maaf, Nyonya..."
"Maaf, maaf! Buruan sana beresin rumah yang bersih, jangan enak-enakan ngerumpi!"
"Stop! Jangan marahin Bi Sumi!" potong Ziva tegas. Ia berdiri di depan Bi Sumi, berusaha menjadi tameng bagi orang yang sudah ia anggap sebagai pengganti sosok ibu tersebut.
"Bibik nggak salah, aku yang ngajak ngobrol." ucap Ziva,
Ratna mendengus sinis, ia berjalan mendekati Ziva dengan langkah yang mengancam. "Kenapa, hah? Kamu nggak terima? Dasar anak haram!"
Darah Ziva mendidih. Sebutan itu selalu menjadi pemantik amarahnya yang terdalam. "Saya bukan anak haram! Ayah dan Ibu menikah secara sah!" ucap Ziva dengan tangan mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Terus kalau bukan anak haram, anak apa dong? Oh, jangan-jangan kamu anak pungut? Ups..." Ratna menutup mulutnya dengan gaya yang sangat teatrikal, seolah-olah ia baru saja membocorkan rahasia besar.
Ziva menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kencang. Ia menatap Ratna dengan sorot mata yang tak kalah tajam. "Kalau saya anak pungut, terus Anda apa dong? Oh iya, Anda kan orang terlantar yang kebetulan dipungut oleh Ayah saya karena rasa kasihan. Ups juga."
Bi Sumi yang berada di belakang Ziva refleks menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir meledak melihat wajah Ratna yang seketika berubah menjadi merah padam.
"BERANI KAMU SAMA SAYA, HAH?!" teriak Ratna murka. Tangannya sudah melayang di udara, hendak melayangkan pukulan.
"Yah, kok marah sih? Jadi beneran ya, dulu orang terlantar?" Ziva memasang wajah polos yang sangat menjengkelkan bagi lawannya.
"Das—"
"Ada apa sih, Bu? Teriak-teriak masih pagi begini, nggak enak didengar tetangga," suara berat Pandu menginterupsi perdebatan panas itu.
Ratna seketika merubah raut wajahnya. Dalam hitungan detik, ia berubah menjadi istri yang nampak terzalimi.
Ia berbalik dan menatap suaminya dengan wajah yang seolah-olah ingin menangis. "Ini loh, Mas... mereka berdua pagi-pagi sudah ngerumpi di sini. Sumi kerjanya cuma makan gaji buta! Dan ini lagi, Mas... anak kamu. Bukannya kemarin kamu bilang dia dikurung di kamar, kok malah berkeliaran di dapur?"
Pandu menatap Ziva dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Ziva! Ngapain kamu di sini! Ayah sudah bilang kamu dilarang keluar kamar!"
"Yah, Ziva baru saja beres-beres—"
"Mau alasan apa lagi kamu? Mau minta makan? Atau mau bujuk-bujuk Ayah kamu supaya hukumannya dicabut?" potong Ratna dengan nada sinis yang dibuat-buat lembut.
"Bukan—"
"Sudah! Kamu kembali ke kamar kamu, Ziva!" ucap Pandu tanpa mau menatap mata anaknya.
"Tapi, Yah..."
"AYAH BILANG MASUK KAMAR, ZIVA!" bentakan itu menggelegar, memantul di dinding dapur yang dingin.
Ziva tersentak. Rasa sakit akibat tamparan kemarin belum hilang, dan kini bentakan itu kembali menghantam hatinya. Ziva adalah seorang anak perempuan yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertama sekaligus pelindung utama.
Namun, ketika pelindung itu berubah menjadi penghancur mentalnya, Ziva merasa dunianya runtuh berkeping-keping.
Ia menunduk, mengedipkan matanya berkali-kali. Namun, cairan bening itu tetap luruh membasahi pipinya yang lebam
. Bi Sumi yang tak tega melihat hal itu, perlahan mengusap tangan Ziva, memberikan kekuatan dalam diam dan memberi isyarat agar Ziva lebih baik menuruti perintah ayahnya demi menghindari keributan yang lebih besar.
Ziva berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya terasa sangat berat menaiki anak tangga menuju kamarnya yang bernuansa baby blue.
Di bawah, Pandu menatap Sumi dengan dingin.
"Kamu juga, Sumi. Kembali bekerja!"
"Baik, Tuan."
Setelah dapur sepi, Ratna mendekati Pandu dengan gaya manja. "Ngapain kamu di dapur sepagi ini, Sayang?" tanya Pandu melembutkan suaranya.
"Oh, ini Mas... aku tadi habis cuci piring kotor. Kasihan Sumi pekerjaannya banyak, jadi aku bantu sedikit," bohong Ratna dengan senyum yang sangat manis. Padahal, tangannya bahkan
belum menyentuh air sabun sedikit pun.
"Astaga, kamu nggak perlu lakukan itu, Sayang. Itu tugas Sumi. Kamu nggak perlu repot-repot," ucap Pandu sambil mengusap kepala istrinya penuh kasih.
Ratna tertawa kecil dalam hati. Sangat mudah membodohi laki-laki ini. "Sudah sewajarnya aku sebagai istri membantu pekerjaan rumah, Mas."
Di dalam kamarnya, Ziva mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Air matanya mengalir membasahi bantal.
"Kapan ya gue bisa keluar dari sini? Kapan gue bisa ngerasain disayang dan dimanja lagi kayak dulu?" gumamnya lirih.
"Kata orang hidup itu berputar, tapi kenapa hidup gue rasanya selalu di bawah? Kayak nggak ada yang peduli, kayak gue ini makhluk transparan."
Ia meraih foto mendiang ibunya yang diletakkan di nakas.
"Bu... Ziva kangen. Pengen nyusul Ibu, tapi Ziva nggak tega ninggalin Ayah sendirian di sini sama mereka. Walaupun Ayah udah nggak sayang lagi sama Ziva, tapi Ayah itu satu-satunya yang Ziva punya."
Ziva mencoba tersenyum di tengah isak tangisnya. Ia teringat Karlota, sahabatnya yang selalu menjadi tameng dan penyemangatnya. Jika bukan karena Karlota, mungkin Ziva sudah menyerah sejak lama. Ia kemudian memejamkan mata, berusaha tidur kembali meskipun hatinya sangat hancur. Ia sudah mengirimkan pesan izin ke sekolah dengan alasan "acara keluarga", sebuah kebohongan yang harus ia telan sendiri agar tidak ada yang tahu betapa malangnya nasib sang "bendahara bar-bar" ini di rumahnya sendiri.
Di belahan kota yang sama, di dalam sebuah ruang kerja yang sangat mewah namun minim pencahayaan, Mahendra duduk dengan tatapan tajam menghadap tumpukan laporan di depannya.
Meskipun hari masih sangat pagi, ia sudah aktif memantau segala hal.
Ia meraih ponselnya saat ada pesan masuk dari Reo, orang kepercayaannya. Laporan mengenai kejadian di rumah Ziva tadi pagi sudah sampai ke tangannya. Rahang Mahendra mengeras saat membaca bahwa Ziva kembali dibentak dan diperlakukan tidak adil.
"Tikus-tikus itu benar-benar harus dibasmi," gumam Mahendra dengan suara rendah yang mengerikan.
Ia kemudian menekan sebuah nomor di ponselnya.
"Kirim unit tambahan ke rumah Pandu Saputra. Pastikan gadis itu tidak terluka sedikit pun. Dan jika ibu tirinya berani mengangkat tangan lagi..."
Mahendra menjeda kalimatnya, matanya menyipit penuh ancaman. "Pastikan tangan itu tidak akan bisa digunakan lagi."
Mahendra kembali menatap foto Ziva yang ia simpan di dalam laci meja kerjanya. Posesivitasnya semakin menjadi. Ia tidak akan membiarkan Ziva menderita lebih lama lagi. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menarik Ziva keluar dari neraka itu dan memasukkannya ke dalam sangkar emas miliknya, di mana hanya Mahendra yang boleh melihat, menyentuh, dan mencintainya.
"Sabar sedikit lagi, Ziva. Aku akan menjemputmu," bisiknya ke arah kegelapan ruangan.