Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34.ZIARAH
Ini hari kedua Qai berada di apartemen, ia tidak tahu harus menghubungi siapa kalau ingin berziarah ke makam ayahnya. Dewi tidak bisa dihubungi, mungkin takut jika diadili.
[Hallo bos aku mau tanya waktu ayah ku meninggal dia dimakamkan dimana?] Qai terpaksa menghubungi Jhon Meyer.
[Pemakaman keluarga Raharja, komplek Merpati]
[Terimakasih bos]
"Imah kita goo...ziarah ke makam ayah ku. Kita beli buket bunga dan ingat bawa payung."
"Siap bos.."
Sore ini langit begitu cerah, Qai memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Imah memangku Adrian sambil bernyanyi suka-suka. Ia merasa bersalah pergi ke Thailand karena keras kepalanya, padahal ia bisa memerintahkan anak buahnya.
"Bos, ayah Adrian pasti sangat tampan. Aku melihat dia tidak mirip dengan bos, aku yakin dia mirip ayahnya."
"Imah apa kau sudah punya pacar?" tanya Qai mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin masa lalunya di ketahui orang. Biar ia tanggung sendiri.
"Pernah, tapi dikhianati..."
"Jangan diteruskan aku tahu endingnya. Kau terpaksa memilih pekerjaan ini atau kau tergiur gaji dan mengesampingkan masa depanmu."
"Ini sebuah pelarian, aku tidak peduli masa depan atau apapun tentang cinta dan pengabdian, aku capek.."
Air mata Fatimah menggelinding jatuh, ia terisak. Qai menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Mungkin kalau tidak ada Adrian, ia juga akan berbuat seperti Imah.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, cuma saran saja, jika kau mundur dari XPostOne setelah tiga tahun masa percobaan agak sulit. Jadi, sebelum terlambat kau boleh pergi masa depan mu lebih penting, kau masih muda."
"Tidak, aku punya prinsip dan semangat pantang mundur."
"Oke kalau begitu." sahut Qai pendek. Dulu ia juga begitu, penuh emosi tanpa pikir panjang.
KOMPLEK MERPATI
"Kita sudah sampai, kau turun dengan Adrian aku mau parkir mobil."
"Baik bos.."
Ternyata tempat ini luas, Qai sempat berpikir kalau tempat makam keluarga Raharja, kecil dan wingit. Ternyata disini indah, banyak pohon melati dan kamboja tumbuh dan sangat terawat.
Rupanya hanya dia yang berziarah, Qai mencari makam atas nama pak Wijaya. Ia berkeliling dan menemukan disamping makam ibunya.
Mungkin kakek Raharja merasa bersalah makanya orang tuaku dimakamkan disini. Pikir Qai sedikit lega.
Qai dan Imah bersimpuh, dia meletakan buket bunga Black Rose dan berdoa untuk ayah ibunya. Ia berkeluh kesah tentang hidupnya dan minta maaf tidak datang saat ayahnya men*nggal.
Sedang khusuk berdoa, saat itu Ende dan Berlin Raharja datang untuk berziarah. Mereka berdua kaget melihat ada orang asing menangis di kuburan pak Wijaya.
Apalagi mereka melihat Outfit Qai dan Imah tak lazim, celana hitam kulit, jaket hitam, kaca mata hitam dan memakai topi eiger.
"Mereka seperti pembalap, mungkin kolega pak Wijaya, aku jadi curiga."
"Kirain Qai, lihat anaknya, ganteng. kita berdoa dulu setelah mereka selesai baru kita samperin..." ucap Ende.
Ende berjongkok di makam istrinya dan menaburkan bunga sambil bercengkrama. Sekali-kali Ende dan Berlin melirik ke makam pak Wijaya untuk memastikan masih ada orang yang mereka curigai.
"Putri ku berlibur ke luar negeri apa kau ada calling? Kalau dia datang paman akan bikin pesta pertunangan." tiba-tiba paman nyeletuk begitu, Berlin jadi sedikit sebal.
"Paman aku mencintai Black Rose..." tegas Berlin. Sudah capek menolak.
"Selama dua tahun kau mencari gadis itu, tapi tidak ada hasilnya, kau mau jadi bujang lapuk."
"Paman lebih baik aku tidak menikah seumur hidup..."
"Jangan membantah lagi, perusahan kita akan jadi satu kalau kalian menikah. Kita akan mengalahan perusahan Raharja dan menjadi terbesar di pulau ini."
"Terserah paman aku malas saja..." ucap Berlin pasrah.
"Begitu dong...pulang Qai dari luar negeri kau harus jemput dan ajak menemui kakek. Disana kalian juga dapat saham."
"Buat apa minta saham ke kakek, aku tidak mau."
"Itu bagian kalian kalau tidak diambil nanti panti asuhan yang dapat."
"Ya paman, yang muda harus mengalah." sahut Berlin.
Tidak sengaja mata Berlin mengerling ke makam pak Wijaya, ia kaget karena kedua wanita itu sudah tidak ada.
"Paman orangnya hilang..." ucap Berlin berdiri. Mereka setengah berlari ke makam pak Wijaya.
"Bunga mawar hitam...jangan-jangan dia Black Rose." ucap Berlin menatap buket bunga di atas makam pak Wijaya dan istrinya.
"Berlin..ini hanya buket bunga, kau perlu ke Psikiater, ada gangguan mental dan emosional....."
"Paman ini nyata aku mau mencarinya."
"He. He..diam, kita belum doa..."
"Paman...besok saja, aku pergi dulu..."
"Berlin paman kau tinggallll...."
Berlin berlari ke mobil di ikuti oleh Ende yang terengah-engah di belakang. Seperti mencari jarum di jerami, tidak satupun orang yang dia temui mirip Qai.
"Paman, kemana wanita itu lari? Aku yakin itu Black Rose..."
"Berlin jika itu benar Black Rose kenapa ia tidak menghubungimu atau mencari mu. Mungkin dia sudah menikah makanya ada anak kecil."
"Jika dia sudah menikah, aku ingin kejelasan dan aku akan mundur, tapi jika belum aku siap menikahinya, apapun syaratnya."
"Bagaimana kalau kita pulang dulu?"
"Baik paman."
Sepanjang jalan Berlin terdiam, ia tidak ingin membahas apapun. Hampir saja ia menerobos lampu lalu lintas untung paman mengingatkan.
"Berlin lihat kesamping sepertinya wanita tadi!" seru Ende menunjuk ke mobil Bentley.
*****