NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama

Senin Pagi — Di Sekolah

Hari Senin pagi. Jam pelajaran baru dimulai, namun satu hal yang membuatku gelisah sejak tadi: Rasya tidak hadir.

Mataku terus melirik ke arah pintu kelas 1A yang tertutup. Tidak terlihat sosok bertubuh tinggi dengan rambut agak panjang yang biasa berdiri di sana. Tidak ada buku catatan biru kesayangannya. Tidak ada pula tatapan dingin yang justru mampu menenangkan hatiku.

“Nay, ada apa sih? Wajahmu seperti orang kehilangan sesuatu yang sangat berharga,” tanya Sasha sambil menyikut lenganku pelan.

“Aku kehilangan Rasya,” jawabku jujur.

“Wah, baru beberapa hari dekat saja sudah terlihat begitu sayangnya.”

“Aku bicara serius, Sha. Biasanya dia tidak pernah bolos sekolah tanpa alasan yang jelas.”

“Mungkin dia sedang sakit?”

Aku menggigit bibir bawah. Aku tahu Rasya tidak mungkin sakit. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah tipe orang yang tetap masuk kerja meski sedang demam tinggi—Bunda pernah bercerita bahwa sopirnya itu sangat bertanggung jawab. Jadi jika dia tidak hadir hari ini, pasti ada alasan lain yang lebih berat.

Tiba-tiba ponselku bergetar pelan di dalam saku rok.

Rasya (08.45): “Aku tidak masuk sekolah hari ini. Ada urusan penting.”

Nayla (08.46): “Urusan apa? Kamu baik-baik saja?”

Rasya (08.46): “Nanti aku jelaskan.”

Nayla (08.47): “Apakah kamu sakit?”

Rasya (08.47): “Tidak.”

Nayla (08.48): “Rasya.”

Rasya (08.48): “Iya?”

Nayla (08.49): “Aku khawatir.”

Tiga titik muncul di layar, menandakan dia sedang mengetik. Berhenti sebentar, lalu mulai mengetik lagi. Beberapa saat kemudian pesan balasan muncul.

Rasya (08.51): “Maaf. Besok aku pasti masuk.”

Aku menghela napas kesal. Dia meminta maaf, tapi tetap tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Cowok ini memang sulit ditebak.

---

Jam Istirahat — Di Belakang Sekolah

Vania mendekatiku seperti biasa—dengan senyum manis dan sebotol air mineral di tangannya. Namun hari ini, aku tidak berminat bersikap sopan seperti biasanya.

“Van, kamu kenal Rio dari mana sebenarnya?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Vania mengerjap, tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. “Kami berteman sejak di Bandung. Satu kompleks perumahan.”

“Dia tahu banyak hal tentang aku, ya?”

“Rio memang orangnya… suka memperhatikan orang lain.” Vania masih tersenyum, namun matanya terlihat waspada. “Dia penasaran pada orang yang dianggapnya menarik.”

“Menarik? Atau berbahaya baginya?”

Senyum Vania perlahan menghilang. Dia tertawa kecil, namun tawanya terdengar dibuat-buat. “Nay, kamu akhir-akhir ini jadi aneh. Seperti selalu curiga pada semua orang.”

“Curiga? Mungkin saja.” Aku menatap matanya lekat-lekat. “Tapi setidaknya aku tidak berpura-pura menjadi sahabat seseorang sambil menyimpan rencana jahat di baliknya.”

Tawa Vania seketika lenyap. Suasana di sekitar kami terasa menjadi lebih dingin dan tegang.

“Kamu tahu sesuatu, Nay?” Suara Vania berubah drastis—tidak lagi lembut dan manis, melainkan lebih rendah dan terdengar mengancam.

“Aku tahu banyak hal, Van.” Aku berdiri dan mengambil tasku. “Termasuk apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya.”

Vania seketika membeku di tempat.

Aku tidak melepaskan pandangannya. Aku ingin melihat reaksi aslinya—apakah dia juga terlahir kembali dan mengingat semuanya, atau dia hanyalah alat yang dipermainkan oleh orang lain yang lebih berkuasa.

“Na-Nayla, kamu bicara apa sih?” Suara Vania terdengar gemetar, namun aku tidak dapat memastikan apakah itu karena takut, marah, atau hanya sandiwara semata.

“Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak.” Aku menyandang tas di bahu. “Tapi jika kamu mengira bisa menjebakku untuk kedua kalinya, kamu salah besar. Karena kali ini, akulah yang akan menjebakmu.”

Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Vania yang masih terpaku dengan wajah yang terlihat sangat pucat.

---

Sepulang Sekolah

Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku meminta tolong Sasha untuk memberi tahu Ayah bahwa aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, padahal aku berencana pergi ke rumah Rasya.

Aku mendapatkan alamatnya dari Sasha—karena Sasha adalah anak ketua kelas, ia memiliki akses ke data siswa. Rumah Rasya terletak di perumahan sederhana, sekitar lima belas menit perjalanan dari rumahku.

Aku mengetuk pagar besi berwarna biru, namun tidak ada jawaban. Aku kemudian menekan tombol bel. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat, dan pintu terbuka.

Rasya berdiri di hadapanku—matanya tampak merah, wajahnya pucat, dan tangan kanannya terbalut perban putih.

“Rasya!” Aku hampir berteriak terkejut. “Apa yang terjadi padamu?!”

Dia tampak terkejut melihat kedatanganku. “Nayla? Kamu—kenapa ada di sini?”

“Jangan balik bertanya! Jelaskan apa yang terjadi pada tanganmu!”

Rasya melirik perban di tangannya, lalu menghela napas panjang. “Masuklah dulu.”

---

Di Dalam Rumah Rasya

Rumahnya tidak terlalu besar, namun terlihat sangat rapi dan tenang. Dindingnya dicat putih yang mulai sedikit pudar, dan di rak dinding terpajang beberapa foto keluarga—termasuk foto seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Rasya.

“Itu ibuku,” ucapnya mengikuti arah pandanganku. “Di kehidupan sebelumnya, dia sudah tiada. Tapi di kehidupan ini, dia masih sehat dan hidup bersamaku.”

“Oh, Rasya…” Aku meraih tangannya yang tidak diperban. “Aku turut senang mendengarnya.”

“Iya.” Senyum tipis terukir di bibirnya. “Itu salah satu alasan aku bersyukur mendapatkan kesempatan kedua ini. Aku bisa memperbaiki kesalahan yang pernah aku buat dulu.”

“Termasuk melukai dirimu sendiri?” Aku menunjuk perban di tangannya.

Dia menarik tangannya perlahan dan duduk di atas sofa. “Kamu mau minum sesuatu?”

“Jangan menghindar, Rasya.”

Ia terdiam sejenak, lalu mulai berbicara dengan suara yang lembut namun tegas.

“Aku mencari Rio.”

“Apa?!”

“Setelah kejadian di toko buku kemarin, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Jadi aku berusaha mencari tahu siapa dia sebenarnya.”

“Dengan cara apa?”

Rasya tidak menjawab secara langsung, namun dari raut wajahnya aku sudah bisa menebak apa yang dilakukannya.

“Rasya, kamu tidak boleh main hakim sendiri—”

“Aku tidak main hakim sendiri. Aku hanya… ingin memastikan kebenarannya.” Ia menatap perban di tangannya. “Dan ternyata Rio jauh lebih berbahaya dari yang aku duga.”

“Apa maksudmu?”

“Rio juga terlahir kembali.” Rasya menatapku dengan pandangan serius. “Dan dia bukan orang sembarangan. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah tangan kanan Andre. Orang yang paling dipercaya. Dialah yang menyusun semua rencana fitnah untuk menjatuhkanmu, Nayla. Bukan Vania.”

Mulutku terbuka lebar mendengarnya.

“Vania hanyalah pelaksana perintah. Rio adalah otak di balik semua kejahatan itu.”

Dunia terasa berputar sejenak mendengar kenyataan itu.

“Jadi… selama ini aku salah mengira siapa musuh utamaku?”

“Tidak sepenuhnya. Vania dan Andre tetap bersalah atas apa yang mereka lakukan. Tapi Rio… dialah yang paling berbahaya. Dan sekarang dia sudah mengetahui rahasia kita. Dia akan melakukan apa saja untuk menghentikan kita.”

“Bagaimana kamu bisa mengetahui semua ini?”

Rasya terdiam sesaat, lalu membuka laci meja di sampingnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan—buku catatan bersampul biru yang selalu ia bawa ke mana-mana.

“Aku menemukan ini di tempat persembunyian Rio.”

Aku membuka halaman pertama. Tertulis rapi di sana:

NAMA: NAYLA KIRANA

USIA: 15 TAHUN

KEHIDUPAN SEBELUMNYA: MENINGGAL DALAM KECELAKAAN MOBIL

STATUS: TERLAHIR KEMBALI — TELAH TERKONFIRMASI

Aku membalik halaman berikutnya.

NAMA: RASYA — ALIAS: RASYID (SOPIR, KEKASIH DI KEHIDUPAN INI)

USIA: 15 TAHUN

KEHIDUPAN SEBELUMNYA: MENINGGAL DALAM KEJADIAN YANG SAMA DENGAN NAYLA (KORBAN LEDAKAN)

STATUS: TERLAHIR KEMBALI — TELAH TERKONFIRMASI

CATATAN: HABISINYA SEBELUM TERLAMBAT.

Tanganku gemetar membaca tulisan itu. “Rasya… dia berniat…”

“Membunuhku.” Rasya mengangguk pelan. “Dan kamu juga.”

---

Sore Itu — Di Taman Belakang Rumah Rasya

Kami duduk berdampingan di bangku taman kecil di belakang rumahnya. Pepohonan rindang menaungi kami dari terik matahari sore yang mulai meredup. Di kejauhan, langit terlihat mulai menggelap—pertanda akan turun hujan.

“Nayla, maaf aku tidak bercerita dari awal.” Rasya menunduk memandang rerumputan yang mulai basah terkena embun. “Aku pikir aku bisa melindungimu tanpa membuatmu tahu risikonya.”

“Kamu bodoh,” ucapku pelan.

Dia menoleh, tampak terkejut.

“Aku bilang kamu bodoh.” Aku menatap matanya lekat-lekat. “Kamu pikir dengan menanggung semuanya sendirian aku akan merasa aman? Kita ini adalah tim, Rasya. Kita harus menghadapi ini bersama-sama.”

“Tapi—”

“Tidak ada kata ‘tapi’.” Aku mengangkat wajahnya agar menatapku. “Dengarkan aku. Aku tidak akan lari. Aku tidak akan takut. Karena aku sudah pernah mati sekali. Dan ternyata, mati itu tidak semenakutkan yang aku bayangkan. Yang paling aku takutkan bukanlah kematian—melainkan kehilanganmu.”

Suasana di sekitar kami terasa hening sejenak.

Rasya menatapku dalam-dalam. Matanya yang tadinya terlihat muram perlahan mulai berbinar.

“Tahukah kamu,” katanya pelan, “kamu jauh lebih berani daripada aku.”

“Aku perempuan.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan keberanian.”

“Tentu ada.” Aku tersenyum tipis. “Perempuan diciptakan memiliki kekuatan besar, karena mereka mampu melahirkan nyawa baru. Jika bisa melakukan hal seberat itu, apa lagi yang tidak bisa kita hadapi?”

Rasya tertawa kecil. “Argumen yang unik.”

“Tapi masuk akal, bukan?”

“Iya.” Senyumnya melebar, memperlihatkan lesung pipit yang selalu membuat hatiku berdebar. “Sangat masuk akal.”

Tetesan air hujan mulai jatuh perlahan. Awalnya hanya sedikit, namun tak lama kemudian turun semakin deras.

“Ayo masuk ke dalam,” ajak Rasya sambil berdiri.

Namun aku tetap duduk di tempat.

“Nayla?”

“Aku ingin tetap di sini.”

“Di tengah hujan?”

“Iya.” Aku menengadah memandang langit, membiarkan air hujan membasahi wajahku. “Aku suka hujan. Rasanya seperti sedang membasuh segala hal buruk yang pernah terjadi.”

Rasya terdiam sejenak, lalu duduk kembali di sampingku. Ia melepas jaket denimnya dan mengangkatnya menutupi kepala kami berdua, menciptakan pelindung darurat yang kecil.

Di bawah naungan jaket itu, dunia terasa menjadi sempit—hanya ada aku dan dia. Hanya terdengar suara hujan yang jatuh dan detak jantung kami yang berpacu cepat.

“Rasya.”

“Iya?”

“Aku menyukaimu.”

Ia seketika membeku. “Apa?”

“Aku menyukaimu. Sudah sejak lama. Sejak kamu mengirim pesan itu—‘kamu terlihat cantik saat sedang marah’—saat itulah aku sadar. Kamu berbeda dari orang lain.”

“Nayla—”

“Biarkan aku selesai bicara.” Aku memotong ucapannya. “Aku tahu ini terdengar gila. Kita baru saling mengenal selama beberapa minggu saja. Namun rasanya… seolah kita sudah saling mengenal seumur hidup. Mungkin karena di kehidupan sebelumnya, perasaan ini sudah ada. Aku hanya terlalu sibuk dengan Andre hingga tidak menyadarinya.”

Air mataku bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahku.

“Dan sekarang, di kehidupan ini, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Aku tidak ingin terus merasa takut. Aku tidak ingin—”

Tiba-tiba ia menciumku.

Lembut dan tulus.

Seperti hembusan angin yang datang tanpa diduga.

Bibirnya terasa dingin terkena air hujan, namun sentuhannya sangat lembut. Tangannya yang sehat mengusap pipiku dengan lembut, menyeka air mata atau air hujan—atau mungkin keduanya.

Aku tidak tahu berapa lama momen itu berlangsung. Mungkin hanya tiga detik, atau bisa jadi tiga menit. Yang aku yakini adalah, saat ia menarik wajahnya perlahan, matanya terlihat berkaca-kaca dan tersenyum.

“Aku juga menyukaimu,” ucapnya pelan. “Sejak… sejak kamu tersenyum padaku di depan gerbang sekolah pada hari pertama kita bertemu. Saat itulah aku tahu, ‘inilah dia. Orang yang sama. Orang yang aku cintai di kehidupan sebelumnya, yang tidak sempat aku lindungi dengan baik.’”

Aku terisak haru—campuran antara rasa bahagia dan lega yang luar biasa.

“Jadi,” tanyaku di sela isakan, “apakah kita resmi sekarang?”

“Resmi apa?”

“Berpacaran. Resmi menjadi sepasang kekasih.”

Ia tertawa—tawa yang terdengar tulus dan membuat seluruh wajahnya bersinar. “Kedengarannya memang sederhana, tapi… iya. Kita resmi berpacaran.”

“Janji?”

Ia mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji.”

Kami berdua tersenyum lebar seperti orang yang sedang dimabuk cinta, duduk di tengah hujan dengan jaket denim menutupi kepala kami, hingga bagian tubuh kami yang lain basah kuyup.

Namun di tengah dinginnya air hujan, hatiku terasa sangat hangat. Hangat sekali.

---

Malam Itu — Riwayat Pesan

Rasya (20.15): “Sudah sampai rumah dengan selamat?”

Nayla (20.16): “Sudah. Bundaku marah karena aku pulang dalam keadaan basah kuyup.”

Rasya (20.16): “Maaf ya.”

Nayla (20.17): “Jangan terus-terusan minta maaf. Itu adalah salah satu momen terindah dalam hidupku.”

Rasya (20.17): “Momen apa?”

Nayla (20.18): “Ciuman pertama kita.”

Rasya (20.18): “...”

Rasya (20.19): “Aku membacanya sampai lima kali.”

Nayla (20.19): “Baca saja terus sampai hafal.”

Rasya (20.20): “Kalau kita sudah berpacaran, bolehkah aku mengirim pesan seperti ini?”

Nayla (20.20): “Tentu saja boleh.”

Rasya (20.21): “Aku menyayangimu, Nayla.”

Nayla (20.21): “Aku juga menyayangimu, Rasya.”

Rasya (20.22): “Besok kita bertemu di sekolah ya.”

Nayla (20.22): “Iya. Jangan bolos lagi.”

Rasya (20.23): “Janji.”

Rasya (20.23): “Semoga mimpi indah, kekasihku.”

Aku memeluk bantal erat-erat, menggigit bibir sambil tersenyum lebar hingga mataku terasa mengantuk.

Kekasihku. Kata itu terdengar begitu indah di telingaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!