Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Ruang BK
Hujan turun semakin deras di luar gedung sekolah.
Suara petir sesekali terdengar menggelegar, membuat suasana kelas yang sudah sepi terasa semakin mencekam.
Naresha berdiri mematung di depan Pak Damar.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Sangat kenal.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Tatapan pria itu terlalu tajam.
Terlalu tenang.
Dan anehnya membuat Naresha merasa sedang berada dalam bahaya.
Pak Damar masih memegang ujung buku hitam milik Naresha sebelum akhirnya melepaskannya perlahan.
“Kamu suka menulis ya?”
Naresha buru-buru menarik bukunya.
“Iya.”
“Bagus.”
Pak Damar tersenyum kecil.
“Terkadang… menulis bisa membantu seseorang tetap waras.”
Entah kenapa ucapan itu terdengar aneh.
Seolah memiliki makna lain.
Naresha menggenggam bukunya erat.
“Kalau ga ada apa-apa saya mau pulang dulu, Pak.”
Namun saat Naresha hendak melewati pria itu—
Pak Damar kembali bicara.
“Kamu tahu Evelyn meninggal di mana?”
Langkah Naresha langsung berhenti.
Sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar di luar.
Perlahan Naresha membalikkan badan.
Tatapan Pak Damar kini terlihat lebih gelap.
“Lorong lantai tiga,” jawab Naresha pelan.
Pak Damar mengangguk kecil.
“Dan sejak itu… banyak siswa mulai melihat hal-hal aneh.”
Deg.
Naresha menelan ludah.
“Bapak juga percaya hantu?”
Pak Damar terkekeh kecil.
“Kalau sudah melihat sendiri, seseorang pasti akan percaya.”
Suasana kelas terasa semakin dingin.
Naresha mulai tidak nyaman berada sendirian dengan pria itu.
“Kenapa Bapak ngomongin Evelyn ke saya?”
Pak Damar terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan berjalan mendekati jendela kelas.
Tatapannya lurus ke arah hujan di luar.
“Karena kamu mirip dia.”
Deg.
“Maksudnya?”
“Bukan wajahnya.”
Pak Damar menoleh perlahan.
“Tapi caranya melihat.”
Bulu kuduk Naresha langsung meremang.
Pria itu tahu terlalu banyak.
Dan semakin lama berada di dekatnya…
Naresha semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Tiba-tiba—
Ctak.
Lampu kelas mati.
Gelap.
Naresha langsung menegang.
“Astaga…”
Petir menyambar di luar jendela.
Cahaya putih sesaat menerangi ruangan.
Dan dalam sepersekian detik itu…
Naresha melihat sosok perempuan berdiri di belakang Pak Damar.
Evelyn.
Wajahnya pucat.
Matanya hitam.
Dan tangannya perlahan menyentuh bahu pria itu.
Naresha langsung mundur satu langkah.
Pak Damar menyadari perubahan ekspresi Naresha.
“Kamu lihat sesuatu?”
Suara pria itu tetap tenang.
Namun kini terdengar jauh lebih menyeramkan.
Lampu kembali menyala.
Ctak.
Sosok Evelyn hilang.
Naresha mulai sulit bernapas.
“Aku… aku pulang dulu.”
Ia langsung berjalan cepat menuju pintu kelas.
Namun sebelum keluar—
Pak Damar berkata pelan,
“Hati-hati sama Arven.”
Deg.
Naresha langsung berhenti.
“Apa maksud Bapak?”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Dia ga cerita semuanya ke kamu.”
Sunyi.
Naresha menatap pria itu beberapa detik.
Namun Pak Damar tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tatapannya justru terasa seperti sedang mengamati Naresha.
Menilai.
Dan itu cukup membuat Naresha segera pergi dari sana.
•
Koridor sekolah sudah hampir kosong saat Naresha keluar dari kelas.
Hujan masih deras.
Suasana sore terasa suram.
Langkah Naresha berjalan cepat menuju tangga utama.
Pikirannya kacau.
Tentang Evelyn.
Tentang Pak Damar.
Dan tentang ucapan terakhir pria itu.
“Hati-hati sama Arven.”
Kenapa semua orang di sekolah ini ngomong setengah-setengah sih…
Naresha mendesah kesal.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang berdiri di ujung koridor.
Arven.
Cowok itu bersandar di dekat jendela sambil menatap hujan.
Seperti sedang menunggu seseorang.
Dan saat melihat Naresha…
Ia langsung berdiri tegak.
“Lo dari mana?”
Nada suaranya terdengar khawatir.
Naresha mendekat perlahan.
“Ketemu Pak Damar.”
Ekspresi Arven langsung berubah.
“Dia ngomong apa?”
Naresha memperhatikan wajah cowok itu beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia mulai merasa ragu.
Karena ucapan Pak Damar tadi terus terngiang di kepalanya.
Dia ga cerita semuanya ke kamu.
“Kenapa?” tanya Naresha pelan. “Lo takut dia ngomong sesuatu?”
Arven terlihat bingung.
“Sha?”
“Sebenernya ada apa yang lo sembunyiin dari gue?”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar di sekitar mereka.
Tatapan Arven berubah rumit.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu perlahan cowok itu berkata,
“Gue ga mau lo ikut terseret lebih jauh.”
Jawaban itu justru membuat Naresha semakin kesal.
“Semua orang ngomongnya muter-muter!”
Naresha menatap Arven tajam.
“Kalau emang ada sesuatu ya ngomong!”
Arven mengepalkan tangannya pelan.
Dan beberapa detik kemudian…
Cowok itu akhirnya berkata lirih,
“Waktu Evelyn meninggal…”
Tatapannya perlahan turun.
“Orang terakhir yang lihat dia hidup… itu gue.”