NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prinsip di Atas Emas, dan Mahkota Dunia Maya

Lokasi: Ruang Kantor Pribadi Dika di Kompleks Akademi Manchester City, Inggris.

Waktu: Sore hari, sehari setelah foto resmi mereka diunggah PSSI dan mengguncang seluruh Indonesia. Ruangan ini luas, mewah, dan tertata sangat rapi, dilengkapi meja kerja besar, rak buku berisi taktik sepak bola dan buku keuangan, serta jendela besar yang menghadap ke lapangan utama. Udara di dalam ruangan terasa sejuk dan tenang, sangat kontras dengan keadaan di luar sana yang sedang riuh rendah membicarakan nama Dika Pratama.

Dika duduk di kursi kerjanya yang empuk dan berputar. Ia sudah mandi dan berganti pakaian santai berwarna hitam pas badan yang memperlihatkan jelas bentuk otot bahu, lengan, dan dadanya yang padat dan kokoh. Wajahnya yang tampan dan tegas itu tampak tenang, namun matanya yang cokelat tua menatap tajam ke arah tumpukan berkas tebal yang baru saja diantarkan oleh manajemen klub.

Di sebelahnya, Rio duduk bersandar di dinding dengan tangan disilang di dada bidangnya yang sangat besar. Tubuh raksasa 183 cm itu seolah menjadi penjaga setia yang tak tergoyahkan, wajahnya serius namun penuh rasa hormat kepada sahabatnya.

"Dik... ini gila, benar-benar gila," kata Rio pelan sambil menggelengkan kepala, matanya menunjuk ke arah berkas-berkas di meja itu. "Belum sehari nama kita terang benderang, belum apa-apa... tawaran sudah menumpuk setinggi gunung. Lihat itu... ada perusahaan rokok, minuman bersoda, kendaraan bermotor, pakaian, telepon seluler, sampai produk kosmetik pun ada. Dan lihat nilainya... ada yang menawar sampai Rp 50 Miliar cuma buat kamu jadi iklan mereka setahun. Itu uang luar banyaknya, Dik. Bisa beli gedung bertingkat."

Dika tersenyum tipis, tidak terkesan sama sekali. Ia mengambil selembar berkas paling atas, membaca angka yang tertera di sana, lalu melemparkannya kembali ke tumpukan dengan santai, seolah kertas itu tidak berharga apa-apa.

"Rio... ingat apa yang selalu saya katakan? Nama baik dan harga diri jauh lebih mahal dari uang berapa pun jumlahnya."

Dika berdiri tegap, tubuh atletisnya menjulang gagah, berjalan perlahan mendekati jendela. Ia menatap ke luar, ke arah rumput hijau tempat ia berjuang.

"Lihat diri kita sekarang. Apa yang sudah kita raih? Kita baru saja tanda tangan kontrak jadi pemain akademi. Kita baru saja latihan sekali. Kita belum cetak satu gol pun di pertandingan resmi. Kita belum angkat satu piala pun. Kita belum buktikan apa-apa di panggung sesungguhnya. Tapi karena wajahku terungkap dan suaraku dikenal, semua orang mau bayar mahal cuma buat pakai nama dan wajahku. Untuk apa, Rio? Untuk jadi iklan produk sementara prestasi masih kosong? Itu sama saja menjual harga diri dengan harga murah."

Dika berbalik menatap sahabatnya, sorot matanya tajam dan berprinsip kuat.

"Saya menolak semuanya, Rio. Semua tawaran iklan, semua sponsor pribadi, semua penampilan, semua undangan... saya tolak sampai kapan pun saya mau. Saya cuma akan menerima tawaran itu SETELAH saya mencetak prestasi nyata. Setelah saya jadi pemain utama di tim utama Manchester City. Setelah saya cetak gol di Liga Inggris. Setelah saya bawa timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia. Saat saya punya trofi, punya rekor, punya sejarah... saat itulah nama saya punya harga mahal yang sesungguhnya. Saat itu baru saya pakai nama saya untuk bisnis, untuk iklan, untuk kemajuan orang banyak. Kalau sekarang saya terima, saya cuma jadi 'wajah ganteng bersuara emas' tanpa karya. Saya tidak mau dikenal begitu. Saya mau dikenal sebagai PEMAIN HEBAT yang kebetulan punya suara dan wajah bagus."

Rio ternganga mendengar ketegasan itu, lalu perlahan senyum bangga merekah di wajahnya. Ia menggelengkan kepala kagum.

"Kamu ini memang beda, Dik. Orang lain kalau ditawar sekian triliun pun mungkin langsung terima tanpa pikir panjang. Tapi kamu... prinsipmu setinggi langit. Baguslah. Aku ikut kamu apa pun keputusanmu. Uang kita sudah terlalu banyak kok, kekayaan kita sudah 1,2 Triliun lebih, terus nambah dari Bitcoin, dari gaji... uang iklan ini cuma receh buat kita. Biarkan saja, biar mereka kecewa. Kita fokus ke lapangan saja."

Dika mengangguk puas, lalu kembali duduk di kursinya, membuka laptop besar di meja kerjanya.

"Nah, sekarang ada urusan lain yang lebih penting. Urusan ini berkaitan dengan suara saya, akun yang membuat semua orang penasaran sampai pingsan itu. Lihat layar ini, Rio..."

Dika menggerakkan tetikusnya, membuka halaman akun YouTube "Suara Hati Dika".

Rio maju mendekat, menatap layar itu dengan mata terbelalak lebar. Angka besar berkedip-kedip di sana, berubah naik setiap detiknya:

JUMLAH PELANGGAN: 30.000.000 ORANG

Tiga puluh Juta orang! Angka yang luar biasa, rekor mutlak bagi kreator asal Indonesia, bahkan salah satu yang tertinggi di dunia untuk kategori kanal hiburan dan musik. Dan yang paling hebat, pencapaian ini terjadi tepat setelah identitas Dika terungkap. Dunia bukan hanya mengenal suaranya, tapi kini mengenal sosoknya yang gagah, kaya raya, jenius, dan pesepakbola hebat. Popularitasnya meledak berkali-kali lipat dalam hitungan jam.

"Sudah tembus 30 Juta, Dik... Cepat sekali, luar biasa," gumam Rio takjub.

"Dan lihat pesan masuk ini," tunjuk Dika ke arah kotak pesan resmi. "Ini bukan pesan dari pengguna biasa, Rio. Ini pesan langsung dari kantor pusat YouTube, dari CEO mereka sendiri."

Dika membuka pesan itu dan membacakannya dengan suara lantang namun tenang:

"Kepada Tuan Dika Pratama...

Kami di YouTube tercengang dan sangat mengapresiasi perjalanan luar biasa kanal 'Suara Hati Dika'. Dari sebuah kanal misterius yang hanya mengandalkan suara, kini berkembang menjadi fenomena global dengan lebih dari 30 Juta pelanggan dalam waktu singkat, sekaligus mengungkapkan diri sebagai atlet sepak bola profesional berprestasi tinggi. Tidak ada sosok lain di dunia yang memiliki kombinasi bakat, pengaruh, dan daya tarik sebesar Anda.

Oleh karena itu, kami dengan hormat menawarkan kontrak eksklusif bernama 'YouTube Global Icon'. Kami menginginkan Anda menjadi ikon utama YouTube di kawasan Asia dan Pasifik, sekaligus wajah representasi kami di kancah dunia.

Nilai kontrak: £50 Juta Poundsterling (sekitar Rp 750 Miliar Rupiah) selama 5 tahun.

Ditambah: Pendapatan iklan video Anda dinaikkan 3 kali lipat dari tarif normal, akses fasilitas eksklusif, tim produksi khusus, dan dukungan penuh untuk setiap proyek kreatif Anda.

Kami tunggu kabar baik dari Anda."

Rio sampai memegang meja agar tidak jatuh kaget. Mulutnya terbuka lebar tak percaya. 750 MILIAR RUPIAH! Hanya untuk jadi ikon YouTube! Nilai itu setara kekayaan konglomerat besar.

"Dik... ini... ini bukan tawaran biasa. Ini tawaran paling gila yang pernah ada. Uang ini bisa beli setengah saham Manchester City kalau mau. Apa jawabanmu? Kamu mau tolak juga kah?" tanya Rio dengan suara sedikit bergetar, penasaran luar biasa.

Dika tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar dan penuh perhitungan. Ia tidak langsung menjawab ya atau tidak. Ia memegang dagunya, matanya berbinar cerdas, otak bisnisnya bekerja cepat.

"Berbeda, Rio. Ini beda kasusnya dengan tawaran iklan produk tadi. Ini tawaran dari rumah saya sendiri, dari tempat yang mengangkat nama saya, yang menjadi sumber awal kekayaan saya. Akun ini adalah anak kandung saya, Rio. Saya bangun dari nol, saya isi dengan karya saya, suara saya, pikiran saya. Ini bukan sekadar iklan, ini kerja sama strategis."

Dika berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tegas namun penuh senyum:

"Tapi ingat prinsip saya tetap berlaku. Saya terima tawaran ini, tapi saya ubah isinya sesuai keinginan saya. Saya tidak mau cuma jadi 'wajah iklan' pasif. Saya minta dua syarat utama yang tidak bisa ditawar."

Dika mulai mengetik balasan pesan itu dengan jari-jarinya yang panjang dan kuat, tulisannya cepat dan mantap:

"Kepada Pihak YouTube,

Saya terima tawaran kehormatan ini. Saya bersedia menjadi Ikon Global YouTube. Namun ada dua syarat mutlak dari saya:

Nilai kontrak £50 Juta tetap berlaku, TAPI seluruh uang pembayarannya, seratus persen, saya minta langsung dikonversikan dan dibayarkan dalam bentuk aset BITCOIN, bukan uang tunai Rupiah atau Dolar. Saya ingin aset ini disimpan dan dikelola langsung oleh tim saya.

Saya akan tetap memegang kendali penuh atas konten saya. Saya akan terus mengunggah karya suara, puisi, dan musik saya seperti biasa, TAPI frekuensinya saya sesuaikan dengan jadwal sepak bola saya. Sepak bola tetap prioritas utama nomor satu saya di dunia. Akun ini adalah hobi dan karya jiwa saya, bukan pekerjaan utama saya. Saya akan semakin aktif saat saya sudah mencapai puncak karir sepak bola nanti.

Jika disetujui, mari kita tanda tangan besok."

Rio menepuk dahinya, lalu tertawa keras sambil menggelengkan kepala kagum.

"Gila... gila benar kamu, Dika! Orang lain dikasih uang tunai saja sudah syukur, kamu malah minta dibayar pakai Bitcoin. Kamu benar-benar yakin sekali harga Bitcoin bakal melambung ke puluhan ribu dolar ya? Kalau tawaran 750 Miliar itu kamu minta Bitcoin, nanti nilainya bisa jadi berapa Triliun kalau harinya naik?! Kamu bukan cuma kaya, kamu bakal jadi orang terkaya di dunia!"

Dika menutup laptopnya perlahan, lalu berdiri kembali, menatap sahabatnya dengan sorot mata yang penuh keyakinan mutlak.

"Bitcoin itu masa depan, Rio. Dan saya sedang menimbunnya sebanyak-banyaknya sebelum dunia sadar harganya mahal. Ingat, modal awal saya 1,2 Triliun, saya tambah 5 Miliar kemarin, saya tambah separuh gaji saya setiap minggu, dan sekarang saya tambah 750 Miliar lagi dalam bentuk Bitcoin... Nanti hitung sendiri berapa kekayaan saya saat harga Bitcoin tembus $50.000 atau $100.000 nanti. Angkanya nggak bakal muat di kalkulator."

Dika berjalan menuju pintu, langkahnya tegap dan berwibawa.

"Dan syarat kedua saya... itu yang paling penting. Saya ingatkan terus ke dunia: Saya Dika Pratama, Pesepak Bola. Sisanya hanyalah pelengkap. Saya tidak mau dunia lupa tujuan utama saya datang ke sini. Uang iklan saya tolak karena belum berprestasi. Tapi tawaran YouTube saya terima karena itu karya saya sendiri, hasil keringat saya sendiri sejak dulu kala."

Dika membuka pintu ruangan, angin sejuk berhembus masuk menerbangkan ujung bajunya. Di luar sana, nama Dika Pratama sedang menjadi pembicaraan dunia. Di Indonesia, rakyatnya bangga bukan kepalang. Di dunia maya, ia adalah raja baru dengan 30 Juta pengikut. Di dunia bisnis, ia baru saja menolak miliaran demi prinsip dan menerima tawaran fantastis dengan syarat yang membuatnya makin tak tersentuh kekayaannya.

"Sudah selesai urusan bisnis, Rio... Sekarang saatnya urusan utama," kata Dika sambil tersenyum menatap sahabatnya.

"Kita turun ke lapangan lagi. Hari ini kita latihan taktik pertahanan. Saya mau kamu makin sulit ditembus, saya mau saya makin sulit direbut bola. Biar saat tawaran iklan datang lagi nanti... saat kita sudah juara... angkanya bukan lagi puluhan miliar, tapi triliunan. Dan saat itu tiba... kita pakai semua itu untuk kebaikan bangsa kita, untuk Persida, untuk sekolah, untuk rumah sakit."

Rio mengangguk mantap, tubuh raksasanya berjalan mengikuti langkah sahabatnya.

"Siap, Kapten! Prinsipmu itu yang bikin aku makin hormat. Emas saja nggak kamu pedulikan kalau belum ada prestasi. Luar biasa. Ayo kita latihan! Bikin mereka makin kaget besok!"

Matahari sore mulai terbenam, menyinari dua sosok gagah itu yang berjalan berdampingan menuju lapangan. Di satu sisi, mereka memiliki kekayaan yang tak terbayangkan. Di sisi lain, mereka hidup sederhana, disiplin, dan bekerja keras layaknya pemula.

Dika Pratama telah menetapkan standar baru. Di dunia yang semuanya mengejar uang dan ketenaran, ia justru mengejar prestasi dan harga diri. Dan karena itulah, rasa hormat orang kepadanya jauh melebihi sekadar kekaguman.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!