NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SECERCAH ASA DI KONTRAKAN SEDERHANA

Waktu berjalan merangkak di dalam sel, tetapi bagi dunia di luar, hari demi hari berlalu dengan cepat tanpa permisi. Tiga bulan sudah Mas Rendra dan Pak Didi menjalani masa hukuman mereka di Lembaga Pemasyarakatan Semarang. Selama tiga bulan itu pula, tidak pernah sekalipun aku absen mengetuk pintu gerbang besi itu setiap hari Sabtu. Tubuhku yang kini kian berat karena kandungan yang menginjak usia tujuh bulan tidak pernah menjadi penghalang. Perutku sudah tampak membuncit jelas di balik baju kurung longgar yang sering kukenakan, menandakan bahwa kehidupan baru di dalam rahimku tumbuh dengan sehat, berbanding lurus dengan harapan yang perlahan mekar di hati kami.

Pagi ini, udara Semarang kembali menyambutku dengan embun tipis yang berbaur asap kendaraan. Seperti biasa, sekeranjang makanan sederhana—kali ini sayur lodeh tempe dan ikan asin kesukaannya—telah lolos dari pemeriksaan ketat petugas sipir.

Saat Mas Rendra berjalan memasuki ruang kunjungan, senyumnya langsung mengembang. Tubuhnya kini jauh lebih tegap dan padat karena kegiatan fisik di dalam Lapas, wajahnya bersih, dan pancaran matanya tak lagi sayu seperti awal-awal penahanannya. Ada binar kehidupan dan semangat yang amat kentara setiap kali dia melihatku duduk menantinya di seberang jeruji pembatas.

"Assalamualaikum, istriku yang hebat," sapa Mas Rendra dengan suara baritonnya yang kini terdengar jauh lebih tenang dan stabil. Kedua tangannya langsung menggenggam jemariku erat lewat sela-sela besi.

"Waalaikumsalam, Mas. Alhamdulillah, kamu kelihatan segar sekali hari ini," jawabku lembut sembari menata rantang di atas meja semen yang dingin.

Mas Rendra tidak langsung menyentuh makanan itu. Pandangannya perlahan turun, menatap lekat-lekat ke arah perutku yang kini bersandar pada tepi meja. Dengan izin petugas yang berjaga di sudut ruangan, dia memasukkan telapak tangannya lebih dalam lewat celah jeruji, mengelus lembut perut membuncitku dengan penuh kasih sayang.

"Dia aktif sekali hari ini, Yun. Tangan Mas langsung ditendang," bisiknya dengan mata yang berkaca-kaca, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan binar kebahagiaan seorang ayah.

"Iya, Mas. Sepertinya dia tahu kalau ayahnya sedang mengelus. Setiap kali hari Sabtu, dia selalu lebih aktif dari biasanya," ujarku menimpali dengan senyuman tulus.

Mas Rendra menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke dalam mataku. Genggaman tangannya pada jemariku mengencang, menyalurkan sebuah keyakinan yang matang.

"Yun," panggilnya serius. "Mas sudah merenungkan ini setiap malam di dalam sel. Empat bulan lagi Mas keluar dari sini. Mas sudah membulatkan tekad... kita tidak akan pernah kembali lagi ke rumah marmer itu. Mas juga tidak mau terus-menerus menumpang dan merepotkan Bapak dan Ibu di desa setelah bebas nanti."

Aku mendengarkan dengan saksama, menanti kelanjutan kalimatnya.

"Begitu Mas keluar dari penjara, Mas mau kita mengontrak rumah sendiri, Yun. Rumah kecil saja tidak apa-apa, yang penting kita bisa tinggal bersama lagi sebagai satu keluarga utuh," lanjut Mas Rendra dengan nada suara yang penuh harap. "Mas sudah bicara dengan beberapa teman di dalam sini yang punya kenalan di daerah pinggiran kota. Ada kontrakan sederhana yang harganya terjangkau. Mas nanti akan bekerja apa saja, jadi kuli panggul di pasar, buruh bangunan, atau membantu di ladang orang, asal itu halal untuk membayar kontrakan dan membeli susu anak kita."

Mendengar janji dan rencana masa depan yang meluncur dari bibir suamiku, dada ini rasanya bergetar hebat. Pria yang dulunya sangat bergantung pada harta ibunya dan takut menghadapi kemiskinan, kini dengan gagah berani merencanakan hidup dari nol, dari sebuah rumah kontrakan kecil.

"Mas beneran tidak malu kalau harus hidup susah dan mengontrak rumah?" tanyaku perlahan, menguji keteguhan hatinya.

Mas Rendra menggeleng kuat, air matanya menetes satu-satu membasahi punggung tanganku. "Malu Mas sudah habis saat memakai rompi merah di ruang sidang, Yun. Yang tersisa sekarang cuma rasa tanggung jawab Mas sebagai suami dan ayah. Mas justru malu kalau terus-menerus jadi pengecut yang menyia-nyiakan istri sehina kemarin. Tolong beri Mas kesempatan untuk membuktikan itu, Yun. Kita mulai semuanya dari awal, di rumah kontrakan kita sendiri."

Aku tersenyum, air mata haru menyembur dari sudut mataku. Kuhapus air mata di pipinya dengan ujung jemariku yang bebas. "Iya, Mas. Aku mau. Aku akan menantimu sampai hari itu tiba. Rumah kontrakan kecil pun akan terasa seperti surga kalau di dalamnya ada kejujuran dan rasa saling menghargai."

Sisa waktu kunjungan siang itu dihabiskan dengan canda tawa kecil yang sudah lama hilang dari hubungan kami. Mas Rendra melahap habis sayur lodeh bawaanku dengan lahap, sesekali menceritakan bagaimana Pak Didi yang berada di sel sebelah juga mulai rajin beribadah dan ikut kegiatan kerajinan tangan di dalam Lapas.

Saat peluit panjang sipir berbunyi menandakan waktu kunjungan telah usai, Mas Rendra berdiri dengan tegap. Dia meletakkan tangan kanannya di dada, lalu melambaikan tangan padaku dengan senyuman paling menawan yang pernah kulihat.

"Empat bulan lagi, Yuni. Jaga kesehatanmu dan anak kita baik-baik di desa," serunya pelan sebelum melangkah masuk kembali ke dalam blok tahanan.

Aku mengangguk, melangkah keluar dari gedung Lapas dengan langkah yang terasa begitu ringan. Di bawah naungan langit siang yang cerah, aku mengelus perutku yang menonjol. Di dalam hati, aku berbisik kepada janinku bahwa tak lama lagi, ayahnya akan pulang untuk menjemput kami menuju sebuah awal yang baru—sebuah kehidupan yang mungkin sederhana di dalam rumah kontrakan, namun fondasinya dibangun di atas pertobatan, kesetiaan, dan cinta yang tulus tanpa kepalsuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!