🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Emas Dan Pisau Tersembunyi
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan semburat merah keemasan yang memancar indah di langit senja. Di dalam kompleks istana kekaisaran, ribuan lentera mulai dinyalakan satu per satu, menerangi bangunan-bangunan megah dengan cahaya hangat namun sedikit samar, menciptakan suasana kemewahan yang berpadu dengan misteri.
Jamuan makan malam yang diadakan khusus untuk menghormati kedatangan Xiao Chen dan Shen Yue berlangsung di Aula Perjamuan, sebuah ruangan yang bahkan lebih luas dan lebih mewah daripada Aula Utama tadi. Lantainya dilapisi karpet beludru tebal berwarna merah tua yang dijahit dengan benang emas, dinding-dindingnya dihiasi lukisan pemandangan indah dan permata berkilauan, sementara meja-meja panjang dari kayu cendana mengkilap tersusun rapi, dipenuhi dengan piring-piring perak, gelas-gelas kristal, dan hidangan-hidangan lezat yang aromanya memenuhi seluruh ruangan.
Para tamu undangan—para bangsawan tinggi, pejabat negara, keluarga kerajaan, dan panglima militer—sudah duduk di tempat masing-masing, berpakaian serba indah dan berwarna-warni. Suara percakapan terdengar riuh rendah, penuh tawa sopan dan pujian-pujian manis, namun di balik setiap senyum dan kata-kata itu, mata-mata mereka saling menatap penuh selidik, mencuri dengar, dan menilai posisi satu sama lain.
Di sisi paling dalam ruangan, di meja utama yang duduk sejajar dengan takhta kecil Kaisar Yuan, itulah tempat paling terhormat dan paling ditatap semua orang. Di sana, di sebelah kanan Kaisar—posisi yang biasanya disediakan untuk anggota keluarga terdekat atau pejabat paling berkuasa—duduklah Xiao Chen. Dan di sebelahnya, di kursi yang sama tingginya dan sama indahnya, duduklah Shen Yue.
Pemandangan itu membuat banyak orang menelan ludah kaget dan iri hati. Belum pernah ada orang luar, apalagi seorang wanita yang bukan dari keluarga bangsawan, yang mendapatkan kehormatan setinggi itu. Namun, setelah kejadian di Aula Utama tadi, tidak ada yang berani bersuara menentang. Kecerdasan, keberanian, dan wibawa yang ditunjukkan Shen Yue telah membuat semua orang sadar: wanita ini bukan pendamping biasa. Dia adalah kekuatan baru yang harus dihormati dan diperhitungkan.
Xiao Yi duduk tegak, jubah hitam dan emasnya kontras mencolok di tengah lautan warna-warni cerah pakaian para bangsawan. Ia diam, tenang, namun matanya yang tajam bergerak perlahan, memindai setiap sudut ruangan, setiap wajah, setiap gerakan, dan setiap orang yang mendekat. Tangannya yang besar dan kokoh sesekali bergerak ke samping, seolah secara naluriah ingin memastikan sosok di sebelahnya tetap ada dan aman.
Shen Yue duduk dengan anggun, punggungnya tegak namun rileks. Gaun kremnya masih sama seperti siang tadi, namun kini terlihat lebih bersinar karena cahaya lentera. Di samping piringnya, di atas alas sutra halus, tergeletak setangkai mawar merah yang sama—tetap segar, tetap indah, seolah bunga itu sendiri menolak layu meski sudah dipetik berjam-jam lamanya.
Ia tersenyum sopan pada siapa pun yang menatapnya, menjawab sapaan dengan nada lembut namun tegas, matanya yang jernih menangkap setiap detail kecil: kilatan iri di mata para selir, bisik-bisik penuh perhitungan di kalangan menteri, dan tentu saja... tatapan tajam yang tidak pernah lepas darinya dari ujung meja sana.
Pangeran Mu Ran duduk di meja kedua, tepat di hadapan meja utama. Ia mengenakan jubah biru muda berhias awan perak yang tampak sangat segar dan menawan. Sejak jamuan dimulai, senyumnya tidak pernah hilang dari bibirnya. Ia tertawa, berbicara, memuji hidangan, dan terlihat sebagai tuan rumah yang paling ramah dan paling menyenangkan. Namun, setiap kali Shen Yue melirik ke arahnya, ia selalu menemukan mata pria itu tertuju padanya—meneliti, menimbang, dan menyusun strategi baru.
"Nona Su..."
Suara berat Kaisar Yuan memecah perhatian Shen Yue. Ia menoleh, melihat pria tua itu sedang menatapnya dengan senyum yang terlihat ramah namun matanya masih menyimpan rasa penasaran yang belum terpuaskan. Di tangannya, Kaisar memegang gelas anggur kristal yang berisi cairan merah cerah.
"Kau tampak sangat tenang dan nyaman di sini," ucap Kaisar pelan, suaranya terdengar ramah namun penuh ujian tersembunyi. "Banyak wanita bangsawan yang lahir dan besar di dalam tembok istana saja masih merasa kewalahan dan gugup berada di ruangan ini. Namun kau... kau duduk di sini seolah istana ini sudah menjadi rumahmu sendiri. Apakah kediaman Xiao memang senyaman dan semewah ini, hingga kau tidak merasa asing lagi?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki makna ganda. Kaisar ingin tahu: apakah gadis ini hanya terbiasa dengan kemewahan? Atau apakah dia memiliki ketenangan jiwa yang sejati yang tidak bergantung pada emas dan permata? Dan lebih jauh lagi: apakah dia menganggap kediaman Xiao lebih berharga daripada istana kekaisaran?
Shen Yue tersenyum tipis, mengangkat gelas tehnya perlahan—ia memilih minum teh daripada anggur, sebuah pilihan kecil namun penuh makna yang tidak luput dari perhatian Xiao Yi.
"Kediaman Xiao memang megah dan nyaman, Baginda. Tapi kemewahan bukanlah yang membuat saya merasa betah atau merasa itu rumah saya," jawab Shen Yue lembut namun jelas, suaranya terdengar tenang dan jujur. Ia menoleh sekilas ke arah Xiao Yi di sebelahnya, lalu kembali menatap Kaisar. "Bagi saya, Baginda, rumah bukanlah soal seberapa tinggi temboknya, seberapa mahal perabotannya, atau seberapa banyak pelayannya. Rumah adalah tempat di mana hati kita merasa damai, tempat di mana kita dicintai dan menerima orang lain apa adanya. Di kediaman Xiao, saya menemukan kedamaian itu. Di sana, saya tidak dikelilingi oleh kemegahan saja, tapi oleh kehidupan yang tumbuh, oleh ketulusan, dan oleh rasa saling menjaga. Itulah sebabnya saya merasa nyaman... bukan karena kemewahannya, tapi karena kehangatannya."
Jawaban itu sederhana namun sangat dalam. Ia tidak merendahkan istana, tapi juga tidak mengagungkannya berlebihan. Ia menempatkan nilai kasih sayang dan ketulusan jauh di atas emas dan kekuasaan.
Kaisar Yuan terdiam sejenak, menatap gadis itu dengan pandangan yang makin sulit diartikan. Di sebelahnya, Xiao Yi yang sejak tadi diam merasakan rasa bangga yang makin memuncak. Ia mengangkat gelas anggurnya, meneguk isinya sedikit sambil menahan senyum tipis. Jawaban itu... persis seperti yang diharapkannya. Shen Yue tidak bermain di aturan mereka. Ia membuat aturannya sendiri, aturan yang membuat segala kemegahan dan kekuasaan mereka terlihat kecil dan kosong.
"Jawaban yang sangat bijak..." gumam Kaisar pelan, lalu tertawa kecil. "Benar juga. Kemewahan memang tidak bisa membeli ketenangan hati. Aku sudah berpuluh tahun duduk di atas takhta emas ini, namun sering kali aku merasa lebih sepi daripada rakyat biasa di luar sana. Mungkin aku harus belajar banyak hal darimu, Nona Su."
Percakapan itu terhenti sejenak saat Mu Ran berdiri dari tempat duduknya, mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi dengan senyum paling menawan dan paling sopan. Ia berjalan beberapa langkah maju ke tengah ruangan, menarik perhatian semua tamu.
"Hadirin sekalian! Izinkan saya mengusulkan satu gelas penghormatan!" seru Mu Ran dengan suara lantang dan jernih, bergema ke seluruh ruangan. Matanya berkilat, beralih dari satu orang ke orang lain sebelum akhirnya berhenti tepat pada Shen Yue. "Malam ini adalah malam yang sangat istimewa. Kita semua berkumpul di sini untuk menyambut kedatangan Tuan Muda Xiao Chen, pelindung terbesar negeri kita yang gagah dan perkasa... dan juga menyambut Nona Su Shen Yue, wanita yang luar biasa, yang kecerdasan dan kebijaksanaannya telah kita saksikan sendiri hari ini!"
Suara tepuk tangan pelan terdengar mengisi ruangan. Mu Ran tersenyum makin lebar, namun kilatan di matanya makin tajam.
"Kita semua tahu betapa hebatnya Tuan Muda Xiao Chen. Kekuatannya, keberaniannya, dan pengabdiannya pada negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Tapi yang membuat kita semua takjub... adalah perubahan besar yang terjadi pada diri Beliau belakangan ini. Dulu, Beliau dikenal sebagai sosok yang dingin, tertutup, dan menakutkan. Namun sekarang, kita melihat Beliau tampak lebih tenang, lebih berwibawa, dan lebih... hidup. Dan kita semua tahu dari mana perubahan indah ini berasal."
Mu Ran menatap lurus ke arah Shen Yue, senyumnya manis namun penuh racun tersembunyi.
"Nona Su, konon Anda memiliki tangan ajaib yang bisa membuat segala sesuatu tumbuh dan indah. Anda yang mengubah tanah mati menjadi taman bunga. Anda yang mengubah angin badai menjadi udara sejuk. Anda benar-benar seperti dewi penolong yang turun ke dunia. Namun..."
Mu Ran berhenti sejenak, nada bicaranya sedikit melambat, membuat suasana ruangan menjadi hening dan menegang.
"...saya jadi penasaran. Jika tangan Anda begitu ajaib, begitu penuh kehidupan, begitu indah... mengapa Anda memilih untuk berdiri di sisi Tuan Muda Xiao Chen? Beliau adalah sosok yang keras, penuh duri, dan masa lalunya kelam. Bukankah bunga yang indah seharusnya tumbuh di taman kerajaan yang paling terang, paling aman, dan paling sempurna? Bukankah tangan ajaib seperti Anda seharusnya merawat hal-hal yang lembut, bukan mengubah sesuatu yang keras dan sulit seperti Tuan Muda? Apakah Anda tidak lelah? Apakah Anda tidak takut... tergores oleh duri-duri tajam itu?"
Pertanyaan itu terdengar seperti pujian dan rasa ingin tahu yang tulus, namun isinya sangat berbahaya. Mu Ran dengan cerdas memisahkan mereka berdua. Ia memuji Shen Yue setinggi langit, namun menempatkan Xiao Chen sebagai beban, sebagai benda buruk yang butuh diubah, sebagai tempat yang tidak layak bagi gadis itu. Ia ingin menanamkan keraguan, ingin membuat orang berpikir bahwa Shen Yue ada di sana karena tugas, karena kasihan, atau karena terpaksa, bukan karena cinta. Ia ingin merusak kesatuan dan keharmonisan yang baru saja mereka tunjukkan di Aula Utama.
Xiao Yi langsung menegakkan tubuhnya, aura dinginnya mulai menyebar kembali. Ia hendak menjawab, hendak menolak kata-kata itu dengan tegas. Namun, Shen Yue sekali lagi menahannya dengan sentuhan lembut di lengan, memberi isyarat bahwa dia yang akan menjawab.
Shen Yue menatap Mu Ran dengan tenang, matanya yang jernih tidak berkedip sedikit pun menatap senyum palsu itu. Ia tersenyum, senyum yang sama manisnya namun jauh lebih tulus dan lebih tajam. Ia berdiri perlahan, mengangkat gelas tehnya sedikit ke arah Pangeran itu.
"Pangeran Mu benar-benar pandai berkata-kata. Kata-kata Anda begitu indah hingga hampir membuat saya percaya bahwa saya memang dewi yang Anda sebutkan itu," jawab Shen Yue lembut namun jelas, membuat beberapa tamu tertawa kecil sopan. "Namun, Pangeran keliru dalam satu hal penting."
Shen Yue menoleh ke arah Xiao Yi, menatap wajah tampan dan tegas itu dengan pandangan penuh kasih sayang yang begitu nyata hingga siapa pun yang melihatnya akan tersentuh.
"Pangeran bilang Xiao Chen itu keras, penuh duri, sulit, dan kelam. Anda bilang dia butuh diubah, butuh diperbaiki, seolah dia adalah benda rusak yang saya ambil untuk diperbaiki. Tapi Pangeran... Anda salah besar."
Shen Yue kembali menatap Mu Ran, suaranya sedikit meninggi namun tetap lembut, terdengar jelas ke seluruh ruangan.
"Saya tidak datang ke sisi Xiao Chen untuk mengubahnya. Saya tidak datang untuk memperbaikinya. Dan saya tidak menganggap dia tanah mati atau benda rusak. Justru sebaliknya... saya datang ke sana karena saya melihat keindahan yang tersembunyi di balik kekerasan itu. Saya melihat kekuatan yang luar biasa di balik duri-duri itu. Saya melihat jiwa yang paling murni dan paling setia yang tertutup oleh kesepian dan rasa sakit."
Ia mengangkat sedikit tangan kanannya, memperlihatkan telapak tangannya yang bersih dan halus.
"Pangeran bertanya apakah saya takut tergores duri? Apakah saya lelah merawat sesuatu yang keras? Pangeran... biarkan saya beri tahu Anda satu hal tentang bunga dan duri. Bunga mawar punya duri bukan karena dia jahat atau keras. Dia punya duri untuk melindungi keindahannya agar tidak sembarangan orang bisa mengambilnya. Dia punya duri karena dia tahu, keindahan yang sejati harus dijaga dengan kekuatan."
Shen Yue menunjuk ke arah mawar merah di meja itu.
"Lihatlah bunga ini. Dia punya duri yang sangat tajam, bisa melukai siapa saja yang memegangnya sembarangan. Tapi bagi saya... duri itu bukan hal yang menakutkan. Duri itu adalah bukti bahwa bunga ini kuat, bahwa dia berani bertahan, bahwa dia tidak mudah tunduk pada siapa pun. Dan saat saya memegangnya dengan kasih sayang, dengan kelembutan, dan dengan rasa hormat... duri itu tidak melukai saya. Justru duri itulah yang melindungi kami berdua bersama-sama."
Ia menatap kembali Mu Ran yang kini wajahnya mulai kaku dan hilang senyumnya.
"Jadi jawabannya, Pangeran... saya tidak lelah. Saya tidak takut. Dan saya tidak ingin Xiao Chen berubah menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Saya ingin dia tumbuh, berkembang, dan mekar menjadi dirinya sendiri yang paling indah dan paling kuat. Sama seperti bunga mawar... dia indah karena dia punya kelopak yang lembut, tapi dia agung karena dia punya duri yang kokoh. Dan bagi saya... itulah makhluk paling sempurna yang pernah ada."
Keheningan melanda ruangan itu, namun kali ini bukan keheningan karena ketegangan, melainkan keheningan karena kekaguman.
Kata-kata itu bukan sekadar jawaban. Itu adalah pernyataan cinta yang paling agung dan paling luhur. Shen Yue tidak hanya membela Xiao Chen, dia mengangkatnya lebih tinggi dari siapa pun. Dia menjelaskan bahwa kekurangan yang dianggap orang lain justru adalah kelebihan dan kekuatan terbesar yang membuatnya dicintai.
Xiao Yi berdiri perlahan di samping Shen Yue. Matanya menatap gadis itu dengan rasa cinta, rasa bangga, dan rasa haru yang begitu besar hingga nyaris meledak. Di dalam dirinya, di setiap sudut jiwanya—Xiao Yi, Xiao Lei, dan Xiao Mo—semuanya merasakan hal yang sama. Mereka merasa dilihat, dipahami, dan dicintai sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa penilaian, tanpa keinginan untuk mengubah mereka.
Ia mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi, suaranya menggelegar kuat dan penuh wibawa, mengalahkan suara Mu Ran tadi.
"Hadirin sekalian! Saya angkat gelas ini bukan untuk diri saya sendiri... tapi untuk wanita ini, Su Shen Yue!" seru Xiao Yi, matanya menatap tajam ke arah Kaisar, ke arah Mu Ran, dan ke arah semua orang. "Orang-orang bilang dia ajaib. Orang-orang bilang dia punya kekuatan. Tapi bagi saya... dia tidak punya sihir lain selain ketulusan hatinya. Dia tidak mengubah saya... dia hanya membuka mata saya agar saya bisa melihat bahwa saya pun berhak hidup, berhak dicintai, dan berhak bahagia. Dia tidak mengambil apa pun dari saya... dia justru memberi saya segalanya: rumah, kedamaian, dan alasan untuk bertahan hidup."
Xiao Yi meneguk anggurnya hingga tandas, lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja dengan bunyi keras yang mantap.
"Dan ingatlah baik-baik semua kata-kata yang baru saja diucapkan Nona Su. Siapa pun yang menghormatinya... menghormati nyawa saya. Siapa pun yang berani menyakitinya... berani menghadapi murka saya. Dan siapa pun yang berpikir duri saya itu berbahaya... ingatlah bahwa duri itu ada untuk melindungi kelopak yang paling indah ini."
Suara tepuk tangan yang gemuruh dan meriah meledak di seluruh ruangan. Kali ini bukan tepuk tangan sopan, tapi tepuk tangan tulus yang didorong oleh kekaguman pada keberanian, kecerdasan, dan cinta yang begitu besar itu.
Di tengah riuh rendah tepuk tangan itu, Mu Ran duduk kembali ke kursinya perlahan, wajahnya pucat menahan amarah dan rasa malu. Ia kalah lagi. Ia mencoba memisahkan, mencoba meragukan, mencoba mencari celah... tapi setiap kali ia menyerang, Shen Yue justru mengubah serangannya menjadi kemenangan yang makin besar, makin menguatkan ikatan mereka.
Di atas takhta, Kaisar Yuan tersenyum lebar, namun di balik senyum itu ada rasa waspada yang makin dalam. Ia sadar sekarang. Ia sadar bahwa apa yang dimiliki Xiao Chen bukan sekadar wanita cerdas. Ia memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuasaan, uang, atau intrik politik. Karena kekuatan itu berakar pada cinta dan kepercayaan yang mutlak.
Shen Yue duduk kembali di kursinya, napasnya tenang dan teratur. Xiao Yi duduk di sebelahnya, dan kali ini, secara terbuka dan berani, ia menggenggam tangan gadis itu di atas meja, di depan semua orang, menautkan jari-jari mereka erat-erat. Matanya menatap Shen Yue penuh rasa sayang.
"Kau hebat..." bisik Xiao Yi pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. "Kau membuat mereka semua diam. Kau membuatku merasa seperti raja sejati."
Shen Yue tersenyum lembut, meremas balik genggaman itu.
"Kau memang raja bagiku, Xiao Yi. Dan selama aku ada... tidak ada siapa pun yang boleh meremehkanmu atau memisahkan kita," jawabnya pelan namun tegas.
Jamuan malam itu berlanjut hingga larut malam. Masih ada percakapan, masih ada pertanyaan, masih ada tatapan-tatapan tajam. Namun sejak momen itu, satu hal yang jelas bagi semua orang di istana itu: Xiao Chen dan Su Shen Yue bukan lagi dua individu yang bisa dimainkan, dipisahkan, atau dimanfaatkan. Mereka telah menjadi satu kesatuan yang kokoh, indah, dan penuh duri tajam.
Mereka datang ke sini sebagai tamu. Tapi malam ini, mereka telah menaklukkan istana itu dengan kebijaksanaan dan cinta mereka. Dan besok, saat mereka pulang, mereka akan membawa pulang bukan hanya kehormatan... tapi juga kebenaran yang kini diketahui seluruh negeri: bahwa kekuatan terbesar di dunia ini bukanlah kekuasaan Kaisar, melainkan kasih sayang yang tulus dan kepercayaan yang tak tergoyahkan.