Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Ratu di Alam Dewa
Wu Gang dan Li Xun berjalan menyusuri garis perbatasan desa. Malam telah larut, hanya mendapatkan sedikit penerangan dari cahaya bulan dan bintang-bintang di kubah langit. Pada saat itu pula, Li Xun tiada henti-hentinya mengoceh sepanjang jalan, menceritakan kembali kisahnya saat bertarung melawan utusan Sekte Naga Hitam beberapa bulan lalu dengan gaya yang sangat jenaka hingga membuat dirinya sendiri tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya.
Sementara Wu Gang memandang rekannya itu dengan wajah datar, lalu melayangkan sebuah teguran keras untuk mengingatkan. "Jangan pernah remehkan lawanmu."
Li Xun baru saja berniat membuka mulut untuk menyanggah kalimat penuh kedisiplinan itu, namun sebuah rentetan suara mendadak menghentikan niatnya.
"Tolong...!"
Teriakan meminta bantuan terdengar dari arah kejauhan. Suara itu terdengar sangat samar, datang dari titik luar wilayah perbatasan desa. Wu Gang dengan sigap bersiap untuk bergegas menuju sumber suara, namun dia menyadari bahwa Li Xun justru tetap berdiri santai tanpa menggerakkan tubuh sedikit pun.
Wu Gang pun menghentikan langkahnya, menatap heran ke arah rekannya. "Kenapa malah diam saja?"
Li Xun melipat kedua belah tangannya di depan dada sembari memberikan penjelasan dengan santai. "Suara itu dari luar perbatasan. Kita jelas tidak bisa ke sana. Aturan tetap aturan, kita harus patuh."
Wu Gang merasa sangat sulit untuk melayangkan komentar bantahan karena ucapan Li Xun memiliki dasar kebenaran. Kendati demikian, suara meminta bantuan itu terus mengusik nuraninya.
"Tolong! Apa ada orang?!"
Kali ini, gema jeritan itu terdengar jauh lebih jelas dari sebelumnya. Karakteristik suaranya pun terdeteksi sangat berbeda, memancarkan suara wanita yang sedang berada dalam kondisi ketakutan. Li Xun seketika mengubah posisinya, melesat maju menembus kegelapan secepat sambaran kilat tanpa berpikir panjang lagi.
Wu Gang berteriak memanggil namanya dengan lantang dari arah belakang. "Li Xun! Arahnya sama seperti tadi!"
"Tapi yang ini suara wanita!" jawab Li Xun dari kejauhan, tanpa sedikit pun memperlambat tempo larinya.
Wu Gang hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan gusar melihat kelakuan temannya, lalu terpaksa memacu langkah kaki untuk mengikuti pergerakan Li Xun dengan tingkat kecepatan yang sepadan.
Sedangkan di dimensi yang berbeda, kesadaran jiwa Zhao Fei telah kembali menjelajahi wilayah Alam Dewa. Setelah sebelumnya sempat mengamankan diri sesaat pasca-menyaksikan hujan batu meteor berapi, kini dia telah sepenuhnya melangkah keluar dari tempat persembunyian rahasianya. Langkah kakinya bergerak menyusuri hamparan bekas medan pertempuran akbar yang menampilkan pemandangan teramat mengerikan. Permukaan tanah di sekelilingnya tampak hancur lebur dengan kawah-kawah ledakan yang lebar di mana-mana. Tumpukan mayat para prajurit berserakan di atas tanah yang menghitam, dengan beberapa jasad yang masih melekat erat pada setelan zirah emas dan perak mereka.
Zhao Fei tidak memiliki kemampuan fisik untuk menyentuh jasad-jasad itu secara langsung karena perbedaan fasa eksistensi jiwanya saat ini. Kendati demikian, dia terus memfokuskan pandangan mata guna mengenali asal-usul faksi militer yang telah gugur ini. Menurut catatan memorinya, ini merupakan sebuah faksi baru yang tidak pernah dia kenali di masa lampau. Namun, ada satu hal yang memicu debar di dadanya, yaitu keberadaan lambang ukiran petir murni pada permukaan zirah mereka. Simbol itu memiliki kaitan yang teramat erat dengan lambang kebesaran dari kekaisaran agungnya di masa kejayaan dahulu, menandakan bahwa pasukan ini merupakan faksi yang setia pada namanya.
Suara derap langkah kaki kuda mendadak bergemu dari arah kejauhan medan. Zhao Fei dengan sangat sigap segera bersembunyi di balik sebuah bongkahan batu besar guna mengamankan keberadaan jiwanya. Tiga ekor kuda perang pun memunculkan diri, ditunggangi oleh tiga orang penunggang dengan jubah yang bersih dari darah pertarungan.
Penunggang pertama merupakan seorang pria dewasa yang mengenakan setelan zirah emas-perak yang lebih mewah dari jasad-jasad di sana. Dia mendecak pelan sembari menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan penuh kesedihan. "Kerugian kita sangat besar kali ini. Terlalu besar untuk kita pikul," keluh pria itu.
Penunggang kedua adalah seorang perwira muda yang memiliki garis wajah yang masih segar namun dipenuhi tekad. "Tapi setidaknya kita berhasil menahan musuh. Mereka tidak sampai menyentuh perbatasan wilayah kita."
Sementara diapit keduanya, merupakan seorang wanita anggun yang duduk dengan posisi tegap di atas punggung seekor kuda putih yang menawan. Zhao Fei mengunci pandangan matanya pada paras wanita itu, lalu mengerutkan dahi dengan rapat.
Karakteristik wajah itu terasa teramat familiar di dalam catatan memorinya. Pemuda itu memutar otak dengan keras, menggali kembali setiap lembaran ingatan masa lalunya sebagai seorang penguasa tertinggi langit. Terus begitu sampai sepasang matanya terbuka lebar saat sebuah kebenaran radikal menghantam kesadarannya. Wanita agung yang memegang kendali kuda putih itu tidak lain merupakan salah satu dari ratusan selir miliknya di masa lalu.
Helai rambut hitamnya yang panjang terurai dengan indah itu menjadi mahkota bagi paras yang memiliki kualitas kecantikan luar biasa, jenis kecantikan yang bahkan standar keindahan Alam Dewa pun mutlak mengakuinya. Pakaian jubah yang dikenakannya terlihat sangat memukau, memancarkan kesan elegan yang kuat, membedakan dirinya dari karakteristik para selir istana pada umumnya.
Zhao Fei mendadak didera oleh rasa panik yang lumayan besar, khawatir jika eksistensi kehadirannya di tempat ini akan segera terdeteksi oleh indra mereka. Namun, dia kembali teringat akan untaian kalimat penegasan dari Tabib Wen bahwa area ini tidak termasuk ke dalam zona terlarang, sehingga jiwanya akan tetap aman terisolasi dari pandangan luar. Kendati demikian, ada sebuah permasalahan emosional yang jauh lebih menyakitkan menghantam batinnya, yaitu kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak mampu mengingat siapa nama dari wanita setianya itu.
Rasa bersalah yang pekat seketika menyergap seluruh relung sukmanya. Karena di masa lampau, dia memiliki ratusan selir di dalam istana agungnya, akan tetapi dirinya malah disibukkan oleh urusan takhta kekuasaan, agenda kultivasi tingkat tinggi, serta tata kelola pemerintahan Alam Dewa. Dia tidak pernah benar-benar meluangkan durasi waktu untuk mengenal karakteristik serta nama mereka satu per satu secara mendalam. Apakah dirinya memang memiliki kelayakan untuk tewas dikhianati di masa lalu akibat sikap abainya terhadap ketulusan orang-orang terdekatnya ini?
Wanita di atas kuda putih itu mulai membuka suara, melontarkan nada bicara yang terdengar sangat lembut namun sarat akan ketegasan tekad yang tidak tergoyahkan. "Yang terpenting, kita masih bisa melawan," ucap wanita itu sembari mengarahkan pandangan matanya menatap lurus ke arah area kejauhan dataran, tempat di mana wujud raksasa iblis itu sebelumnya berdiri mengamuk. "Kita tidak boleh sampai menodai nama agung Yang Mulia Petir Abadi Zhao Fei, suamiku."
Wanita itu memalingkan wajahnya, menatap kedua jenderal pengiringnya secara bergantian dengan serius. "Aku berjanji akan terus menegakkan keadilan dan kebenaran atas nama itu."
Pria yang mengenakan zirah emas-perak itu segera menundukkan posisi kepalanya dengan khidmat di hadapan sang wanita. "Ratu Lianhua, pasukan sudah siap untuk pertempuran berikutnya," lapor sang jenderal dengan penuh rasa hormat.
Ratu. Mereka memanggil wanita setianya itu dengan sebutan seorang Ratu pemimpin perlawanan.
Zhao Fei hanya bisa tertunduk lesu di balik perlindungan batu besar, dengan helai rambut yang jatuh menutupi sebagian ekspresi wajahnya yang dipenuhi penyesalan besar. Wanita itu terus berjuang mengorbankan segalanya demi menjaga kehormatan namanya di tengah kekacauan dimensi atas, sementara dirinya sendiri bahkan tidak memiliki ingatan mengenai siapa nama asli dari belahan jiwanya itu. Dia bersuara lirih, membisikkan kalimat pendek yang teramat tulus hanya untuk didengar oleh sukmanya sendiri. "Maafkan aku... Lianhua."
Kemudian dirinya kembali menegakkan posisi kepalanya dengan binar mata yang memancarkan kobaran api tekad baru yang membara. "Aku akan segera kembali. Aku berjanji."
Zhao Fei segera bangkit berdiri dari posisinya, memantapkan langkah kaki karena telah mengetahui dengan sangat jelas ke mana arah koordinat yang harus dia tuju berikutnya. Dia sangat mengenali rute menuju ke sebuah lokasi rahasia yang merupakan tempat penyimpanan utama dari berbagai koleksi pil peningkatan kultivasi tingkat tinggi miliknya di masa lalu. Tempat terisolasi itu berada dalam perlindungan formasi pertahanan berlapis.
Kendala utama yang harus dia hadapi adalah kenyataan bahwa di dalam area penyimpanan kuno itu terdapat sebuah sistem formasi deteksi murni yang berpotensi memicu kemunculan rupa fisiknya secara nyata bilamana tidak diwaspadai. Dia tidak memiliki kebebasan untuk melangkah masuk begitu saja secara ceroboh, melainkan harus bergerak secara sembunyi-sembunyi guna mencari celah kelemahan dari sirkulasi energi formasi pelindung itu.
Namun, seluruh risiko maut itu merupakan sebuah konsekuensi yang mutlak harus dia ambil saat ini. Dia tidak boleh membiarkan level ranah spiritual raga barunya terus tertahan di tingkatan yang rendah ini. Peningkatan kekuatan ini tidak lagi sekadar untuk menghancurkan rencana agresi Long Wei di dunia fana, melainkan demi keselamatan seluruh barisan pasukannya di atas sana, serta demi menebus utang ketulusan kepada wanita agungnya yang setia menanti kepulangannya di tengah medan perang seorang diri.