Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: DÉJÀ VU BERDARAH
Rasa sakit itu tidak nyata, tapi teriakannya nyata.
"AAAAARGH!"
Vero melolong, tubuhnya mengejang hebat di kursi kereta. Tangannya mencengkeram dada, mencari lubang menganga yang seharusnya ada di sana akibat ledakan. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusuknya akan retak dari dalam.
Hening.
Tidak ada api. Tidak ada jeritan massal. Tidak ada bau daging terbakar.
Hanya suara deg-deg-jes roda kereta yang monoton dan tatapan kaget dari puluhan pasang mata yang kini tertuju padanya.
"Mas? Mas kenapa?"
Vero menoleh cepat, lehernya berbunyi krek. Wanita tua dengan keranjang sayuran itu ada di sana. Lagi. Wajahnya kali ini tidak tersenyum, melainkan penuh kekhawatiran dan sedikit ketakutan melihat reaksi histeris Vero.
"Mimpi buruk... lagi?" tanya wanita itu ragu-ragu.
Vero tidak menjawab. Napasnya memburu, uap hangat keluar dari mulutnya di ruangan ber-AC itu. Dia meraba wajahnya, lengannya, kakinya. Utuh. Dia masih hidup.
Bagaimana bisa?
Ingatan itu menghantamnya seperti palu godam. Kilatan cahaya putih. Panas yang melelehkan kulit dalam hitungan mikrodetik. Rasa hampa. Dia ingat kematiannya sendiri. Dia ingat rasanya padam.
Vero menunduk, menatap jam tangan analog di pergelangan kirinya. Tangannya gemetar begitu hebat hingga dia kesulitan memfokuskan pandangan pada jarum jam.
07:01:05
Alis Vero berkerut.
Tunggu.
Ada yang salah.
Di ingatan terakhirnya—atau mimpi terakhirnya—dia bangun tepat saat penyiar wanita selesai bicara. Saat itu pukul 07:00 pas.
Tapi sekarang, jarum jam menunjukkan pukul 07:01.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat..."
Suara pengumuman itu terdengar lagi. Tapi kali ini, suaranya sudah berada di tengah kalimat, bukan dari awal.
Satu menit, batin Vero. Aku bangun terlambat satu menit?
Logikanya mencoba mencari alasan rasional. Mungkin aku cuma ketiduran lagi. Mungkin ledakan tadi cuma mimpi yang sangat, sangat realistis. Efek kelelahan kerja. Ya, pasti itu.
Tapi keringat dingin yang membasahi kemeja kerjanya berkata lain. Adrenalin di darahnya bukan sisa mimpi. Itu adalah respons fight or flight dari seseorang yang baru saja lolos dari maut.
Vero berdiri mendadak. Kakinya lemas seperti jeli, membuatnya nyaris jatuh menimpa pelajar SMA yang berdiri di depannya.
"Woy, santai dong, Om!" protes anak itu.
Vero mengabaikannya. Matanya liar menyapu seisi gerbong.
Formasinya sama.
Wanita tua di kiri. Pelajar SMA di depan. Pria berjas yang sibuk dengan ponsel di pojok.
Pria jaket hitam.
Otak Vero berteriak. Di mana dia?
Vero mendorong tubuhnya melewati kerumunan penumpang yang padat. Dia tidak peduli lagi dengan sopan santun. Dia harus memastikan. Jika ini mimpi, pria itu tidak akan ada di sana. Jika ini nyata...
"Minggir! Minggir!" Vero menyibak kerumunan dengan kasar.
"Eh, kasar banget sih!"
"Sakit tau!"
Vero sampai di sambungan gerbong. Dia melihat ke gerbong sebelah. Dan di sana, di tempat yang sama, berdiri pria itu.
Jaket hoodie hitam tebal. Tas ransel kanvas hijau tentara dipeluk erat di dada. Wajah pucat yang gelisah menatap jam digital dinding.
Darah Vero membeku.
Itu nyata.
Tas hijau itu. Bom itu.
Vero melirik jam tangannya lagi. 07:02.
Di "mimpi" sebelumnya, bom meledak pukul 08:00.
Itu berarti dia punya waktu 58 menit. Dia tidak perlu menunggu sampai kereta hampir sampai. Dia bisa menghentikannya sekarang.
Tanpa pikir panjang, didorong oleh teror murni, Vero menerjang maju.
"HEI! KAU!" teriak Vero, telunjuknya mengarah lurus ke wajah pria berjaket hitam itu.
Pria itu tersentak kaget. Matanya membelalak melihat Vero yang berlari ke arahnya dengan tatapan membunuh.
"JANGAN BERGERAK!"
Vero menubruk pria itu. Mereka berdua terhuyung dan jatuh menimpa penumpang lain yang sedang duduk. Jeritan kaget memenuhi gerbong. Tas kanvas hijau itu terlempar dari pelukan si pria jaket hitam, meluncur di lantai gerbong.
"Lepaskan! Apa-apaan kau?!" Pria jaket hitam itu berteriak, suaranya panik. Dia mencoba menendang perut Vero.
"DIA BAWA BOM!" raung Vero, berusaha menahan tangan pria itu. "ADA BOM DI TAS ITU!"
Suasana gerbong berubah menjadi kepanikan yang membingungkan. Orang-orang mundur, membuat lingkaran di sekitar mereka. Namun, tidak ada yang lari. Mereka hanya menonton dengan tatapan takut bercampur curiga—bukan pada tas itu, tapi pada Vero.
Vero sadar dia terlihat seperti orang gila. Kemeja berantakan, mata merah, menyerang orang asing tanpa alasan jelas di pagi buta.
"Tolong! Orang gila! Tolong!" teriak pria jaket hitam itu, memainkan peran korban dengan sempurna.
Dua orang pria bertubuh besar—sepertinya pekerja proyek—maju dan menarik bahu Vero.
"Mas, tenang Mas!"
"Lepasin dia!"
"Kalian nggak ngerti!" Vero meronta, sikutnya menghantam rahang salah satu penahannya. "Di tas itu! Buka tasnya! Kita semua bakal mati jam 8!"
"Woy! Pegangin dia!"
Vero ditarik paksa menjauh dari si pria jaket hitam. Dia dibanting ke dinding gerbong, tangannya dipiting ke belakang. Wajahnya ditekan ke kaca jendela yang dingin.
"Lepaskan! Cek tasnya, bodoh!" Vero meludah, air matanya keluar karena frustrasi.
Pria berjaket hitam itu segera merangkak mengambil tasnya. Dia memeluk tas itu erat-erat, melirik Vero dengan tatapan yang berubah sekilas—dari takut menjadi dingin. Sangat dingin.
Vero melihat tatapan itu. Itu bukan tatapan korban. Itu tatapan predator yang terganggu.
"Bawa dia ke petugas keamanan di stasiun depan," kata salah satu penumpang.
Vero terengah-engah, tenaganya habis. Dia melihat jam dinding digital di atas pintu gerbong.
07:05
Masih lama. Masih ada waktu. Kalau mereka membawanya ke keamanan, dia bisa menjelaskan. Dia bisa meminta polisi menjinakkan bom itu.
Kereta terus melaju. Menit demi menit berlalu dalam ketegangan. Vero diawasi ketat oleh tiga penumpang pria yang menjaganya agar tidak mengamuk lagi. Si pria jaket hitam pindah ke gerbong lain, menjauh dari keributan.
Sial, batin Vero. Aku kehilangan jejaknya.
Waktu merayap lambat.
07:15.
07:30. Stasiun Manggarai.
Vero diseret keluar paksa oleh Petugas Keamanan Dalam (PKD) stasiun yang sudah dikabari lewat interkom.
"Jalan! Jangan bikin ribut!" bentak petugas itu.
"Pak, dengarkan saya," Vero memohon, suaranya parau. "Ada penumpang bawa bom C4 di tas hijau. Dia lari ke gerbong 6 atau 7. Bapak harus hentikan keretanya!"
"Iya, iya, nanti cerita di pos," jawab petugas itu dengan nada meremehkan. Jelas dia menganggap Vero sedang mabuk atau gangguan jiwa.
Vero diseret menuruni peron, masuk ke pos keamanan yang sempit dan bau rokok. Dia didudukkan di kursi besi, tangannya diborgol ke meja.
"Nama?" tanya petugas itu sambil mengeluarkan buku catatan.
"Vero. Veroland. Pak, demi Tuhan, jam 8 nanti..."
Vero menoleh ke jam dinding di pos satpam.
Jarum detik berputar.
07:59:30
"Sudah hampir jam 8, Pak! Evakuasi stasiun!" Vero berteriak, menarik-narik borgolnya hingga pergelangan tangannya lecet berdarah.
Petugas itu hanya menggelengkan kepala, menyalakan rokok. "Tenang dulu. Minum air nih."
Vero menatap nanar ke arah jendela pos yang menghadap ke jalur rel. Kereta yang tadi ditumpanginya sudah berangkat menuju Stasiun Pusat beberapa menit lalu. Jaraknya mungkin sudah 2 kilometer dari sini.
Tapi kalau bom itu meledak...
07:59:50
"Tolong..." bisik Vero. Dia menutup telinganya rapat-rapat.
07:59:55
Petugas itu menghembuskan asap rokok. "Kamu ini kerja di mana? Kok pagi-pagi sudah—"
08:00:00
BOOM!
Bukan di pos satpam. Tapi dari kejauhan.
Suara dentuman itu begitu keras hingga kaca jendela pos satpam bergetar hebat dan retak. Tanah berguncang seperti gempa bumi.
Petugas satpam itu menjatuhkan rokoknya, mulutnya menganga menatap kepulan asap hitam pekat berbentuk cendawan yang membubung tinggi di langit arah Stasiun Pusat.
"Apa..." gumam petugas itu.
Vero tidak sempat merasa lega karena tebakannya benar.
Gelombang kejut (shockwave) datang dua detik kemudian.
Dinding pos satpam meledak ke arah dalam. Serpihan kaca dan beton menghujam tubuh Vero sebelum dia sempat berkedip.
Dunia menjadi hitam. Lagi.
Sentakan kasar.
Vero menarik napas panjang yang menyakitkan, seolah paru-parunya baru saja dikempeskan paksa.
Matanya terbuka.
Langit-langit gerbong logam.
Goresan kusam.
Vero langsung membanting pandangannya ke pergelangan tangan kiri. Dia tidak peduli dengan wanita tua di sebelahnya. Dia tidak peduli dengan pelajar SMA di depannya.
Hanya satu hal yang penting.
Jarum jam tangan analog itu berdetak.
07:02:05
Vero mematung. Darah surut dari wajahnya.
Loop pertama, dia bangun pukul 07:00.
Loop kedua, dia bangun pukul 07:01.
Sekarang, Loop ketiga, dia bangun pukul 07:02.
Dia kehilangan satu menit lagi.
Waktunya sedang dimakan.
Dan jika pola ini terus berlanjut... suatu saat nanti, dia akan bangun tepat saat bom itu meledak.
"Bangsat," desis Vero pelan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔