Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKELAHIAN
Rania mencengkeram pergelangan tangan Dav dan menariknya maju, memanfaatkan momentum berat tubuh ksatria itu sendiri.
Bhuk
BRAKKKK
Satu pukulan keras mendarat tepat di ulu hati Dav.
"Aaaaaakkkkkkkhhh!"
Dav terhuyung, namun dia segera membalas dengan tendangan memutar.
WUSH
HAP
Tidak segampang itu, menyentuh seorang mantan letnan militer, Rania melompat mundur, lalu menerjang kembali.
BHUK
BHUK
BHUK
Pertarungan berlangsung sengit, Dav yang awalnya meremehkan Rania, justru kini mulai menyesal, karena gadis kecil yang menjadi lawan nya ini jauh dari kata lemah.
BHUK
BHUK
Mereka berdua bertarung dengan ilmu beladiri masing-masing yang mereka kuasai, Dav menggunakan teknik bela diri resmi kekaisaran yang kaku namun bertenaga, sementara Rania menggunakan teknik Close Quarter Combat yang kotor, dan mematikan.
BHUK
BRAK
Rania menghindar ke bawah, menyapu kaki Dav hingga ksatria itu terjatuh, lalu sebelum Dav sempat bangkit, Rania melayangkan dua pukulan cepat ke arah wajah.
BHUK
BHUK
Satu di pipi kiri, satu tepat di hidung. Darah segar mulai mengucur dari hidung Dav.
"Teknik macam apa ini..." geram Dav sambil menyeka darahnya.
Dav masih mencoba menerjang lagi, kali ini dengan seluruh tenaganya untuk mengunci tubuh mungil Rania.
"Teknik untuk menjatuhkan pria sombong seperti kalian!" seru Rania, menangkap lengan Dav, memutarnya ke belakang punggung, lalu menendang bagian belakang lutut Dav hingga pria itu berlutut di tanah.
KRAKK
"Aaaaaakkkkkkkhhh!"
"Dav mengerang kesakitan saat Rania menekan wajahnya ke tanah yang kotor.
"Sampaikan pada Kaisarmu," bisik Rania di telinga Dav dengan nada dingin yang menusuk.
"Jika dia ingin bertemu, biarkan aku yang datang padanya sesuai keinginanku, jangan pernah mengirim anjing penjaga untuk mencari ku lagi, atau lain kali, aku tidak akan hanya mematahkan egomu, tapi juga lehermu berserta burung mu," bisik Rania terdengar sangat mengerikan, di telinga Dav.
BHUK
Sebelum benar-benar melepaskan Dav, Rania memberikan satu hantaman lutut ke tengkuk Dav hingga pria itu pingsan seketika.
Wajah Dav kini tampak bonyok dengan memar biru di mata dan hidung nya.
Tanpa memedulikan Dav yang tergeletak tidak sadarkan diri, Rania pergi dari sana, berjalan menembus kegelapan hutan, untuk kembali menuju mansion Belmont sebelum ada yang menyadari kepergiannya.
Tidak lama dari kepergian Rania, Kaisar Arlon muncul di tempat perkelahian tadi.
Aron berdiri mematung di tengah keheningan hutan, matanya menyapu sekitar, mencari jejak sekecil apa pun yang ditinggalkan gadis itu, namun nihil.
Pandangan Aron kemudian jatuh ke bawah, ke arah Dav yang tergeletak mengenaskan dengan wajah penuh lebam.
"Siapa yang melakukan nya? Gadis kecil itu?" batin Aron, mengerut kan kening nya.
"Bangun, Dav, jangan mempermalukan aku lebih lama lagi," ucap Aron dingin.
Aron tidak membantu pria itu berdiri, dia hanya menendang pelan sepatu Dav sampai ksatria itu mengerang dan perlahan membuka matanya yang bengkak sebelah.
"Ugh... Yang Mulia?" ucap Dav berusaha duduk sambil memegangi ulu hatinya yang terasa seperti baru saja dihantam palu godam.
"Di mana dia? Kenapa kamu justru enak-enakan tidur di si, huh!" tanya Aron mendengus, tanpa sedikitpun rasa iba pada kondisi anak buahnya.
Uhuk
Uhuk
Dav terbatuk, mengeluarkan sisa darah dari mulutnya, lalu dia menatap tuannya dengan tatapan kosong, masih sedikit linglung karena hantaman di tengkuknya tadi.
"Dia... dia monster, Yang Mulia, saya tidak pernah melihat gerakan seperti itu, dia tidak menggunakan mana, tapi dia tahu persis di mana titik lemah yang harus dihantam," lapor Dav dengan suara serak.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Aron, menyatukan alisnya.
"Gadis melati yang Anda suruh kejar tadi, aku rasa nona itu bukan wanita, ilmu beladiri nya sangat tinggi," lanjut Dav, menceritakan pengalamannya melawan seorang wanita.
Aron menyipitkan matanya, dia tahu Dav adalah ksatria tingkat tinggi yang sulit dikalahkan.
Jika seorang gadis kecil bisa membuatnya babak belur seperti ini, berarti gadis itu bukan orang sembarangan.
"Menarik... sangat menarik," gumam Aron sambil mengusap dagunya.
"Seorang gadis dengan aroma melati yang lembut, tapi memiliki taring seperti serigala hutan, dia bahkan bisa menjatuhkan ksatria tingkat atas kekaisaran tanpa menggunakan senjata," gumam Aron, tanpa sadar memuji kehebatan Rania.
Aron memutar cincin perak lili di tangannya, keingintahuannya kini telah berubah menjadi obsesi yang membara.
"Biarkan dia, Dav, obati lukamu," perintah Aron dingin.
"Tapi Yang Mulia, dia berbahaya! Jika dia bisa melumpuhkan saya, dia bisa saja mencelakai Anda!" seru Dav khawatir.
"Dia tidak akan mencelakai ku, dia justru menyelamatkanku dua kali, dia hanya sedang bermain kucing-kucingan denganku," ucap Aron menyeringai, matanya menatap ke arah kegelapan hutan.
Kaisar itu menarik napas dalam, seolah masih bisa merasakan sisa aroma melati yang tertinggal di udara.
"Aku akan menunggumu, Gadis Melati, mari kita lihat, sejauh mana kamu bisa lari dariku di rumahku sendiri," batin Aron dengan kilat mata yang penuh ambisi.
"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum membuatmu pingsan?" tanya Aron lagi.
Glek
Dav menelan ludah, teringat ancaman terakhir Rania yang membuatnya merinding sampai ke tulang belakang.
"Dia bilang, dia akan datang sendiri jika dia mau. Dan dia memperingatkan Anda untuk tidak lagi untuk mencarinya," jawab Dav.
"Bahkan Nona melati itu mengancam akan mematahkan burung saya Yang Mulia," lanjut Dav, merasa ngilu membayangkan burung kesayangan nya di aniaya Rania.
Mendengar itu, alis Aron terangkat sebelah, sebuah seringai tipis justru muncul di wajah pucat nya.
"Menarik. Berani sekali dia mengancam ksatria kekaisaran," gumam Kaisar Aron, tersenyum miring.
"Yang Mulia, haruskah saya memanggil pasukan bayangan untuk melacak seluruh wanita di ibu kota yang memiliki aroma melati?" tanya Dav sambil tertatih mencoba berdiri.
"Tidak perlu, aku yakin dia akan datang lagi," jawab Arlon, tegas.
Aron mulai berjalan meninggalkan hutan, diikuti Dav yang berjalan terseok-seok di belakangnya.
"Tapi wajahnya tertutup topeng, Yang Mulia. Bagaimana kita mengenalinya?" Dav masih merasa penasaran.
Aron menghentikan langkahnya sebentar, teringat bagaimana pelukan gadis itu tadi meredam kegilaan di dalam tubuh nya, sebuah sensasi yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Aku tidak butuh melihat wajahnya untuk tahu itu dia, detak jantungnya, cara dia bicara yang tidak sopan, dan aroma itu, sudah cukup bagiku untuk menyeret nya ke hadapan ku," jawab Aron tegas.
Aron kembali melangkah dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin malam, meninggalkan Dav yang hanya bisa meringis sambil memegangi hidungnya.
"Siapa sebenarnya kamu..." bisik Aron pada kegelapan.
Aron menyentuh bagian dadanya, tempat Rania menyandarkan kepalanya tadi, ada rasa hangat yang tertinggal di sana, sesuatu yang asing bagi seorang pria yang sejak kecil hanya mengenal bau darah dan pengkhianatan.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor