Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 saudara tiri
Nara menatap wanita di depannya yang terus menangis sambil menarik ujung bajunya. Wanita berambut sanggul rapi ini adalah ibunya, Nyonya Mu.
Pikiran Nara mendadak semrawut saat membayangkan nasibnya sekarang. Ayah yang kejam, ibu tiri seperti Han Ruo, deretan saudara tiri, ditambah kemiskinan yang mencekik. Bagaimana dia bisa bertahan hidup di tempat seperti ini?
Rasa sesak langsung memenuhi dada Nara. Detik berikutnya, dia tidak bisa menahan diri lagi dan menangis kencang.
Refleks, dia ingin memukul dada dengan tangan kiri, tapi langsung teringat kalau tangan itu baru saja kehilangan satu jarinya. Nara buru-buru menarik tangannya kembali, lalu mengalihkan pukulan ke atas kasur usang di bawahnya.
"Tuhan, keterlaluan banget! Aku baru saja melunasi cicilan rumah, baru selesai dekorasi, bahkan baru beli mobil baru!" ratap Nara histeris.
"Kenapa hidupku yang baru mau enak ini malah dilempar ke tempat terpencil kayak gini? Mending bunuh aku sekalian saja!" tangisnya makin pecah.
Nyonya Mu langsung berhenti menangis karena kaget. Dia melihat putrinya yang mendadak berubah drastis dengan perasaan asing sekaligus takut.
"Ara, kamu kenapa, Nak? Apa lukanya sakit sekali?" tanya Nyonya Mu cemas.
"Ibu kan sudah bilang berkali-kali, biarkan saja mereka mau bicara apa. Kenapa kamu harus senekat itu?" lanjut Nyonya Mu sambil kembali mengusap air matanya yang tumpah.
Melihat sikap ibunya yang lemah dan penakut seperti adonan lembek, Nara justru merasa makin merana. Tangisannya malah makin menjadi-jadi dan menggema di dalam kamar kecil itu.
"Kakak... Ibu..."
Di tengah suara tangis yang saling bersahutan, sebuah suara kecil terdengar dari arah pintu. Nara spontan mendongak, dan suara tangisnya langsung terhenti seketika.
"Cika? Kamu ikut reinkarnasi juga?" tanya Nara tidak percaya.
Gadis kecil di depannya berumur sekitar sebelas atau dua belas tahun. Rambutnya kering kekuningan dengan wajah tirus, tapi dia punya mata almond yang jernih dan bibir kecil yang mungil. Wajah itu mirip sekali dengan adik kandungnya di dunia modern, Cika.
Belum sempat anak itu menjawab, Nyonya Mu sudah berdiri duluan. Dia menarik tangan gadis kecil itu dengan panik.
"Ning, cepat lihat kakakmu. Pikiran dia sepertinya lagi kacau," ucap Nyonya Mu panik.
Harapan Nara langsung runtuh seketika. Dia mengerjapkan mata, membuat air matanya kembali mengalir deras tanpa melepas pandangan dari anak itu.
"Kak, ada apa? Aku Yan Ning," kata gadis kecil itu sambil melangkah maju dengan raut wajah sangat khawatir. "Apa jarimu sakit banget? Mau aku panggilkan Tabib Lin lagi buat periksa?"
Nara menarik napas dalam-dalam. Anak ini bukan Cika, cuma mirip saja. Hatinya merasa lega, tapi di saat yang sama juga ada rasa kecewa yang mendalam.
"Tabib Lin? Tapi... kita tidak punya uang sama sekali," potong Nyonya Mu lirih sambil menarik pelan lengan baju Yan Ning.
Yan Ning menggigit bibirnya erat-erat, mencoba mencari jalan keluar. "Aku bakal minta ke kakek, atau bersujud memohon di depan nenek. Masa mereka tega tidak meminjamkan uang?"
"Nanti aku juga akan menebang kayu bakar lebih banyak buat dijual untuk melunasi utangnya. Mereka pasti mau, kan?" lanjut Yan Ning berusaha meyakinkan ibunya.
Mendengar ucapan polos itu, Nyonya Mu hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam sementara air matanya mengalir makin deras.
Nara yang melihat hal itu akhirnya paham sepenuhnya. Nasib pemilik tubuh ini di masa lalu ternyata jauh lebih menyedihkan dari yang dia duga—mati sia-sia hanya karena luka potong jari yang tidak sanggup diobati.
"Jangan pergi, Ning. Kakak sudah tidak apa-apa kok," ucap Nara cepat sambil menahan tangan adiknya dan memaksakan sebuah senyuman. "Tadi Kakak cuma agak kaget saja karena sisa sakitnya."
Yan Ning memandang kakaknya dengan tatapan heran. Dia merasa ada yang berbeda dari sikap kakaknya sekarang, tapi dia tidak tahu pasti bagian mana yang berubah.
Belum sempat Nara berbicara lagi, sebuah suara cempreng dan melengking mendadak terdengar dari luar kamar.
"Kalian semua pada sembunyi di mana, sih? Sudah siang begini belum juga masak! Apa perlu nenek yang datang langsung buat menjemput kalian? Mau bikin seisi rumah mati kelaparan, ya?!"
Nara langsung menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, berdiri seorang anak perempuan berumur sekitar dua belas tahun memakai baju terusan bermotif bunga.
Rambutnya dikuncir dua dengan hiasan jepit sutra yang cukup bagus. Anak itu berdiri sambil memegang pinggang, menatap mereka dengan pandangan meremehkan.
Kulitnya sawo matang sehat, wajahnya agak panjang dengan dahi yang sempit. Namun, ada tahi lalat kecil di dekat sudut matanya yang membuat penampilannya terlihat mencolok.
Dia adalah saudara tiri pemilik tubuh ini—Yan Ran.