Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedekat Nadi
Malam telah menjelang, wanita itu masih menahan nyeri di seluruh tubuhnya. Setengah jam setelah kepergian Ethan siang tadi setelah cukup lama mengumpulkan tenaga akhirnya dengan langkah tergopoh-gopoh dia bangkit berdiri dari dinginnya lantai.
Mengambil segelas air dari lemari pendingin lalu membawanya menuju kamar. Dan tak keluar dari tempat itu sampai malam tiba. Wanita lugu itu sangat paham kalau suaminya tidak akan kembali.
Kemarahan Ethan jelas terlihat buas kali ini, apalagi membayangkan nama baiknya yang hancur. Beberapa kali saat menghukum Clarissa, mulutnya mengungkit hal itu.
Clarissa belum makan sejak siang sampai malam ini karena tidak ada rasa lapar yang berisik. Cukup segelas air yang dibawanya tadi baginya sudah cukup membasahi dahaganya.
Tubuhnya sempat berbaring sejenak dengan perasaan setengah sadar meski matanya terpejam dan tertidur namun rasanya dia masih melanjutkan pertengkaran tadi bahkan denyutan itu sangat nyata. Tapi tidur sejenak itu sedikit memberi jeda bagi tubuhnya untuk mengisi energinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, masih terlalu awal untuk tidur. Dengan rasa ragu yang ditahannya sejak tadi, dia memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Air mengalir dengan lembut namun masih mampu menyisakan perih. Clarissa sudah menduga hal ini maka sejak tadi masih menunda mandi. Di depan cermin yang bersandingkan dengan wastafel yang menambah estetik kamar mandi itu terlihat seorang wanita yang sangat menyedihkan.
Lukanya mulai membengkak, menyisakan wajah biru keunguan. Pembuluh darah yang pecah meninggalkan jejak merah di bola mata sebelah kirinya. Sejenak dia takut melihat bayangannya sendir, masih memohon kepada siapapun yang tulus untuk menyadarkannya bahwa ini hanya ilusi.
Tubuhnya yang telah polos di pandanginya dengan rinci dari pantulan cermin itu. Mengingat kembali bagaimana dia mendapatkan luka ini. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Biasanya Ethan hanya menggunakan tangan kosong, atau mencambuk dengan sabuk.
Kemarahan yang meluap tadi bahkan memecahkan guci, dan untung saja tidak dibanting ke arahnya yang posisinya masih bersimpuh di lantai. Meski tetap saja mendapat hukuman dengan hantaman payung yang kini tidak layak pakai lagi.
Tempat kejadian tadi di ruang tamu masih dibiarkan berantakan, dengan guci pecah yang masih berserakan hingga payung yang tak lagi lurus kokoh. Clarissa kali ini tak peduli.
Dia masih berdiri di depan cermin melihat jejak luka yang akan semakin parah, diraupnya air dari wastafel dengan telapak tangan yang sedikit bergetar lalu diusapnya ke wajahnya dan sunggu terasa perih.
Tidak ada air mata karena percuma. Menangis hanya akan membuat matanya kian perih. Clarissa menjauh dari pantulan cermin mendekat kearah shower yang hanya beberapa jengkal dari sana.
Berjalan perlahan hingga air dingin itu mengalir dari ujung kepala hingga jatuh sampai ke ujung kakinya. Clarissa sempat tersentak dan menahan nafas sejenak lalu menghembuskan dengan perlahan. Meresapi setiap bulir air yang menyentuh kulitnya hingga terbiasa dengan rasa sakit itu.
Setelah merasa cukup dengan kegiatannya, dia meraih handuk dan menutupi kepalanya juga menutupi tubuhnya. Keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang mencoba mengobati lukanya sendiri.
Ditengah kesulitannya saat menyentuh luka di punggung, terdengar suara dering dari ponselnya yang masih berada di tas selempang yang dipakainya tadi. Dia masih mengabaikan, sama seperti beberapa jam yang lalu.
Raganya sudah cukup lelah dengan drama konflik hari ini. Tak ingin berbicara dengan siapapun bahkan tak penasaran dengan nama yang tertera di layar ponsel itu.
Selesai mengobati lukanya, memakai pakaiannya dengan nyaman. Membiarkan rambut panjangnya yang basah terurai, berbeda seperti biasanya yang akan langsung dikeringkan dengan hair dryer dan ditata hingga cantik.
Bahkan memutuskan kembali merebahkan diri hingga bantalnya menjadi basah. Dering ponsel itu kembali berdering, kali ini dia memuakkan untuk bangkit dan mendekat ke arah suara. Meraih isi tasnya dan menggenggam ponselnya.
Pelupuk matanya kembali berair dan sedikit perih saat membawa nama yang tertera disana. Hingga ponselnya kembali hening dan menambah daftar panggilan tak terjawab yang tak lain adalah Mamanya. Wanita hebat yang telah melahirkan dengan segala perjuangan.
Dia pikir ini yang terakhir kali, namun belum selesai dia menaruh ponselnya, benda yang masih di telapak tanggannya kembali berdering. Dia berusaha menetralkan hatinya dan berusaha mengangkatnya.
"Ha....Hallo Ma?" Nada suaranya sedikit bergetar namun segera menetralkannya denga berdehem beberapa kali.
"Hallo Sa, Astaga kamu darimana saja. Dari tadi Mama telepon tak direspon" Suara Mama terlihat cemas namun kini bernafas lega setelah mendengar suara putrinya.
"Iya Ma, tadi aku ketiduran"
"Masa ketiduran lama sekali"
Suasana mendadak hening, Clarissa tidak tau lagi harus menjawab apa.
"Hallo Nak, Clarissa" Suara Mamanya kembali terdengar karena tak mendapat sahutan.
"Iya Ma"
"Kamu sedang apa?"
"Sedang duduk, baru saja selesai mandi" Clarissa menjawab jujur.
"Kamu sudah makan nak?"
"Sudah Ma" Sahut Clarissa yang kali ini berbohong.
"Mama hari ini masak ayam opor terus ingat kamu" Cerita Mamanya yang merindu pada putrinya yang memang menyukai ayam opor.
Air mata Clarissa akhir tumpah juga, terharu mendengar penuturan Mamanya.
"Mama kangen banget sama kamu nak, coba alihkan ke video biar kamu lihat masakan Mama"
Raut muka Clarissa kini tak bisa berbohong bahwa dia bahkan menggigil lengannya sendiri untuk meredam tangisannya agarbtak terdengar.
"Hallo nak, kamu kenapa?" Suara Mamanya yang merasa aneh karena hari ini putri sulit sekali diajak bicara.
"Tidak Ma, Aku masih sibuk"
"Iya sebentar saja, ayo kita video call dulu. Sudah lama juga kita tidak cerita banyak"
"Maaf Ma, jangan sekarang ya Aku masih sibuk. Sudah dulu ya Ma" Balas Anggun lalu segera mengakhiri panggilan tersebut.
Tangisannya kini kembali pecah, ada rasa rindu dan sangat ingin memeluk Mamanya. Namun apa jadinya jika keluarga melihat kondisinya yang kacau begini.
Dia terus menangis tanpa ada satupun yang memberi sandaran untuknya. Waktu berjalan cepat, kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meski hanya bersandar di ranjang dengan berlinang air mata yang diusap berulang kali. Tak sadar bahwa sudah menangis cukup lama yang akan memperparah kondisinya.
Ponselnya masih dalam genggamannya, tak terlepas sejak mengakhiri panggilan dengan Mamanya. Ingin sekali dia kembali menelepon namun takut tak mampu menguasai hatinya dan tangisan pilu yang akan melukai hati keluarganya.
"Apa aku masih layak hidup?" Pertanyaan itu terngiang dibenaknya.
Dia seperti kehilangan arah, tersesat namun tidak tahu dibagian mana dia tersesat. Sementara Ethan yang tidak terlihat batang hidungnya namun Clarissa masih berharap agar suaminya pulang. Meski masih bersikap dingin seperti biasa tatkala mereka bertengkar namun lebih baik dibanding berada sendiri.
"Aku rindu Mama dan semuanya" bisik hatinya yang membawanya pada kenangan indah dikala masih tinggal bersama keluarganya.
"Ma.... Aku mau pulang" Sahutnya tipis dengan tatapan kosong.
Hingga dibeberapa menit berikutnya dia bangkit berdiri meraih jacket dari lemari lalu membawa selempang yang bertengger diatas nakas lalu berjalan pelan keluar dari kamar itu.