NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 hujan Kiamat di langit darah dan dewa yang terbakar

Lima ribu pilar cahaya hitam kemerahan membelah langit Benua Atas. Ini bukanlah fenomena alam, bukan pula murka dari dewa-dewa yang menghuni surga. Ini adalah manifestasi dari kapitalisme absolut yang dipersenjatai dengan hukum kehancuran murni.

Di ketinggian puluhan ribu kaki, di mana udara begitu tipis hingga paru-paru manusia fana akan meledak, dua ratus kapal terbang *Fatamorgana Emas* mengapung dengan tenang. Moncong-moncong *Meriam Kiamat Timbangan Surga* memuntahkan energi secara serempak. Hentakan daya tolak (recoil) dari lima ribu meriam tersebut begitu masif hingga formasi penyeimbang dari dua ratus kapal raksasa itu berderit keras, nyaris memecahkan lambung kapal dari kayu spiritual.

Di bawah sana, Seratus Li dari posisi armada, Markas Besar Sekte Teratai Darah berdiri angkuh di lembah yang dikelilingi sungai merah.

Di dalam sekte, puluhan ribu murid dan tetua sedang duduk bersila di alun-alun utama. Mereka merasa sangat aman. Di atas kepala mereka, *Formasi Lautan Darah Sembilan Lapis* berputar perlahan, membentuk kubah transparan berwarna merah pekat yang memancarkan bau anyir darah. Formasi ini dibangun dari pengorbanan jutaan jiwa dan telah melindungi sekte selama delapan ratus tahun dari segala bentuk invasi.

Patriark Xue Wuyan, yang berwujud seperti remaja berusia lima belas tahun dengan rambut merah menyala, berdiri di puncak menara darah. Ia menatap ke langit yang tertutup awan putih tebal. Senyum meremehkan menghiasi bibir pucatnya.

"Armada pedagang itu berhenti di balik awan," Xue Wuyan mendengus sinis, berbicara kepada para tetua di belakangnya. "Cang Qixuan si pemuda bodoh itu pasti menyadari bahwa meriam kapalnya tidak akan bisa menjangkau kita dari jarak sejauh itu. Menembak dari balik awan hanya akan membuang energi batu spiritualnya ke udara kosong. Kita hanya perlu menunggunya kehabisan uang dan—"

Ucapan sang Patriark terpotong.

Langit di atas mereka tidak mendung, namun mendadak berubah menjadi gelap gulita. Awan putih tebal itu terkoyak secara paksa dan menguap seketika.

*DZHUUUUMMMM-------!!!!*

Suara itu datang terlambat, mengalahkan kecepatan cahaya. Lima ribu pilar energi pemusnah berwarna hitam kemerahan menghujam langsung dari langit. Sinar-sinar itu tidak memiliki bentuk fisik, melainkan energi murni yang membawa hukum alam tentang ketiadaan (*void*) dan panas magma ekstrem.

Ketika sinar pertama menyentuh permukaan kubah *Formasi Lautan Darah Sembilan Lapis*, tidak ada ledakan epik. Tidak ada benturan qi yang spektakuler.

Yang terjadi adalah sebuah anomali fisika spiritual.

Kubah darah yang dibanggakan itu... meleleh. Layaknya mentega tipis yang ditusuk oleh ribuan besi panas, formasi pelindung tertinggi sekte itu bolong di lima ribu titik berbeda dalam waktu sepersekian detik. Sinar hitam kemerahan menembus tanpa sedikit pun hambatan, mengabaikan hukum pertahanan elemen darah.

"M-Mustahil!" jerit Xue Wuyan, matanya melotot hingga urat merahnya nyaris pecah.

Sinar-sinar kehancuran itu menghantam tanah sekte.

*BLAAARRR!!! BUUUMMM!!!*

Bumi terbelah. Aula Leluhur yang megah menguap menjadi debu dalam satu kedipan mata. Ribuan murid yang sedang duduk bersila di alun-alun tidak sempat berteriak; tubuh fisik, lautan Dantian, hingga jiwa mereka terhapus dari eksistensi, diurai menjadi partikel debu oleh panas *Inti Lava Abadi* yang digabungkan dengan racun pemusnah.

Jeritan kepanikan meledak dari sisa-sisa murid yang berada di pinggiran sinar.

"Lari! Sembunyi ke ruang bawah tanah!" teriak seorang tetua, sebelum setengah badannya teriris oleh gelombang kejut energi yang memantul dari tanah.

Xue Wuyan melompat ke udara, memaksakan seluruh kultivasi ranah *Domain Bumi (Earth Realm)* tahap menengah miliknya keluar. Ia tidak bisa melarikan diri; jika ia kabur, fondasi sektenya yang berumur ribuan tahun akan musnah hari ini juga.

"AVATAR DEWA DARAH!" raung Xue Wuyan hingga memuntahkan darah dari mulutnya.

Lautan darah dari sungai yang mengelilingi sekte meluap naik, berkumpul membentuk sosok raksasa setinggi seratus meter yang terbuat dari darah murni. Sosok itu memiliki empat lengan dan memegang tameng raksasa, berusaha menjadi payung untuk menutupi sisa-sisa bangunan sekte dari hujan sinar kiamat tersebut.

"Bocah Jinling! Kau pikir uangmu bisa mengalahkan dewa?!" teriak Xue Wuyan, mengendalikan Avatar raksasa itu untuk menahan serangan.

Memang, untuk beberapa detik, tameng darah raksasa itu berhasil menahan ratusan pilar sinar. Darah mendidih dan menguap, namun Xue Wuyan terus mengisinya dengan qi murninya. Ia tersenyum gila. Asalkan ia bisa menahan serangan pembuka ini, meriam-meriam di kapal itu pasti akan kehabisan batu spiritual dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengisi ulang daya. Itulah hukum alam dari artileri spiritual!

Namun, di atas langit yang jauh, di geladak Bahtera Fatamorgana Emas, Cang Qixuan melihat pertahanan putus asa tersebut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

"Nona Hong Lian," Qixuan menguap panjang, bersandar di langkan kapal. "Kura-kura di bawah sana sedang mencoba menahan hujan dengan daun pisang. Beritahu dia bahwa cuaca hari ini tidak akan cerah."

Hong Lian tertawa buas. Tawa yang menggetarkan tulang. Tangannya yang dipenuhi jelaga memegang tuas komando sentral.

"Tuanku, mereka mengira meriam ini harus diisi ulang dengan batu spiritual!" teriak Hong Lian, matanya menyala gila. "Mereka tidak tahu bahwa kita tidak menggunakan batu! Kita menggunakan *Inti Lava Abadi* dan Koin Timbangan Surga! Selama gunung berapi di Benua Atas masih panas, meriam ini tidak akan pernah berhenti bernapas!"

Hong Lian menggeser tuas tersebut hingga mentok.

"TEMBAKAN BERUNTUN! TANPA JEDA! BUMIHANGUSKAN!"

Di laras-laras *Meriam Kiamat Timbangan Surga*, formasi Koin Timbangan terus-menerus menukar panas abadi menjadi energi penghancur. Tidak ada waktu jeda pengisian daya (cooldown).

Jika tembakan pertama adalah hujan badai, maka detik berikutnya adalah air bah dari neraka.

Sinar hitam kemerahan yang tadinya terputus, kini menyambung menjadi pilar cahaya solid yang ditembakkan secara terus-menerus tiada henti. Ribuan sinar itu terus menyiram Avatar Dewa Darah milik Xue Wuyan tanpa memberi jeda sedetik pun.

"A-Apa-apaan ini?!" Xue Wuyan merasakan keputusasaan absolut saat melihat sinar itu tidak kunjung padam. Tameng darahnya menguap lebih cepat daripada kemampuannya memulihkan diri.

Hanya dalam waktu sepuluh detik tembakan tanpa henti, Avatar Dewa Darah setinggi seratus meter itu berteriak tanpa suara sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.

Sinar-sinar itu menembus pertahanan terakhir, menyapu Xue Wuyan dan membanting tubuhnya ke tanah. Gunung tempat sekte itu berdiri mulai runtuh. Danau darah mengering, berubah menjadi kerak hitam. Api purba melahap sisa-sisa aula, paviliun, dan jembatan. Puluhan ribu nyawa, sejarah ratusan tahun, dan kesombongan para dewa fana, semuanya dibakar hingga rata dengan tanah.

Pemandangan dari atas armada sungguh menyerupai kanvas akhir zaman.

Shen Feiyan jatuh terduduk di atas geladaknya. Matanya memandang tak percaya pada pembantaian satu sisi yang terjadi seratus li di bawah mereka. Sebagai seorang pedagang Benua Atas, ia telah melihat banyak perang antar sekte. Namun perang selalu melibatkan duel kehormatan, taktik formasi, dan negosiasi.

Pemuda di hadapannya ini tidak berperang. Ia memencet tombol *delete* pada eksistensi musuhnya dari tempat yang aman dan nyaman.

"Hentikan tembakan," perintah Qixuan santai, mengangkat satu tangannya.

Hong Lian menarik tuas mundur. Suara dengungan meriam berhenti. Asap mengepul dari laras-laras raksasa yang memerah akibat panas, namun bahan baja spiritual vulkanik menahan suhu tersebut dengan sempurna.

Qixuan berjalan kembali ke singgasananya. Ia memandang ke bawah, ke arah kawah berasap yang kini menggantikan markas Sekte Teratai Darah.

"Wakil Jenderal Leng Yue," panggil Qixuan.

"Hamba, Tuanku!" Leng Yue melangkah sigap, zirah peraknya bergemerincing. Wajah dinginnya menutupi kekaguman luar biasa yang berkecamuk di dalam dadanya.

"Turunkan armada. Bawa sepuluh ribu prajurit elit Naga Hitam untuk menyapu reruntuhan. Patriark mereka, Xue Wuyan, berada di ranah Domain Bumi tahap menengah. Serangan tadi pasti menghancurkan fisik dan sektenya, tapi kecoak sepertinya tidak akan mati semudah itu. Temukan dia. Sisanya, bersihkan seluruh perbendaharaan bawah tanah mereka yang tersisa."

"Sesuai perintah!" Leng Yue memberi hormat dengan memukulkan tinju ke dadanya. "Pasukan! Persiapkan pendaratan! Kita panen darah hari ini!"

Di dasar kawah yang dulunya adalah alun-alun Sekte Teratai Darah, udara terasa sangat panas dan menyesakkan akibat sisa-sisa radiasi *Api Inti Bumi*. Mayat-mayat berserakan, hangus tak dapat dikenali.

Dari balik bongkahan batu raksasa yang menutupi pintu perbendaharaan bawah tanah, sebuah tangan pucat yang berlumuran darah mencuat keluar. Batu itu tergeser paksa. Xue Wuyan merangkak keluar dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Tubuh fisiknya yang berwujud remaja itu setengah hancur. Lengan kirinya putus hingga ke bahu, kulit wajahnya melepuh, dan separuh wajahnya memperlihatkan tulang tengkorak. Inti Jiwa di dalam Dantiannya retak parah. Jika ia tidak menggunakan pusaka pelindung nyawa *Akar Teratai Nirwana* tepat sedetik sebelum sinar itu menghantamnya, ia pasti sudah menguap.

"Aku... aku tidak boleh mati di sini..." rintih Xue Wuyan, merangkak di atas abu murid-muridnya. "Yun Canghai... keparat itu bersembunyi di Langit Berkabut... aku harus mencapainya... meminjam Formasi Teleportasi Pusat..."

Saat ia bersusah payah mencoba berdiri menggunakan sisa tenaganya, bayangan raksasa menutupi kawah tersebut.

Xue Wuyan mendongak. Bahtera Awan Emas utama mendarat perlahan, melayang hanya beberapa puluh meter di atasnya. Seratus prajurit Naga Hitam melompat turun layaknya hujan gagak hitam, langsung mengepungnya dengan formasi tameng dan tombak spiritual berlapis emas.

Di tengah-tengah formasi pasukan itu, sesosok pemuda berjubah hitam bersulam perak turun dengan melangkah perlahan di udara, seolah sedang menapaki anak tangga tak kasat mata.

Cang Qixuan mendarat di atas batu yang hangus tepat di depan wajah Xue Wuyan. Ia membuka kipas gioknya, mengipas sisa debu dari wajah tampannya dengan ekspresi sangat jijik.

"Bau darah yang dibakar benar-benar merusak selera sarapanku," keluh Qixuan ringan. Ia menunduk menatap Patriark yang sedang sekarat itu. "Kau pasti Xue Wuyan. Kudengar kau terlihat seperti bocah belasan tahun karena kau terlalu banyak menyedot darah keperawanan gadis-gadis untuk memperpanjang umurmu. Sebuah hobi yang sangat menjijikkan dan miskin inovasi."

"Cang... Qixuan..." Xue Wuyan meludahkan darah hitam ke tanah. Giginya bergemeretak penuh kebencian. "K-Kau... kau menggunakan senjata pusaka yang melanggar hukum langit! Jika penguasa Benua Tengah mengetahui hal ini, mereka akan mengirimkan dewa sejati untuk memenggalmu!"

"Dewa sejati? Ah, kau maksud birokrat-birokrat yang duduk di singgasana lebih tinggi darimu?" Qixuan tertawa pelan. "Jika mereka datang, aku hanya perlu menaikkan tawaranku. Di dunia ini, tidak ada dewa yang tidak bisa dibeli. Dan jika mereka menolak, aku akan membuat meriam yang lebih besar untuk memanggang mereka."

Qixuan menyipitkan matanya, mengalirkan hawa membunuh yang sangat murni. *Inti Emas Kegelapan*-nya berdenyut, memancarkan resonansi yang langsung menekan sisa-sisa jiwa Xue Wuyan.

"Kau memblokade jalanku. Kau mengirim pembunuh ke rumahku. Tapi lihatlah dirimu sekarang, merangkak seperti cacing yang kehilangan rumahnya," Qixuan mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram tengkorak kepala Xue Wuyan dengan kasar dan mengangkatnya ke udara.

Xue Wuyan menjerit kesakitan saat energi *Air Kegelapan (Yin)* yang sangat dingin membekukan sarafnya.

"J-Jangan bunuh aku! Aku... aku bisa memberitahumu letak seluruh harta rahasia Sekte Teratai Darah!" ratap Patriark itu, kehilangan seluruh martabatnya. "Ada sebuah kolam Darah Suci di bawah tanah! Benda itu bisa memperkuat tubuh fisikmu hingga kebal terhadap senjata kelas Surga!"

"Menarik," senyum iblis Qixuan merekah. "Tapi kau lupa, Patriark. Setelah aku membunuhmu, seluruh gunung ini otomatis menjadi milikku. Aku bisa mencari kolam itu sendiri bersama anjing pelacakku."

Tanpa basa-basi lagi, Qixuan mengaktifkan kemampuan tergelap dari seninya.

"Menelan Langit: Pengekstrakan Jiwa Absolut!"

Kekuatan gravitasi hitam yang sangat buas melesat dari telapak tangan Qixuan, langsung menembus ubun-ubun Xue Wuyan. Pria berusia enam ratus tahun itu mengejang hebat. Dari dalam Dantiannya, sebuah entitas cahaya merah darah yang berbentuk miniatur Xue Wuyan (Jiwa Baru) ditarik keluar secara paksa.

Entitas itu meronta, menjerit memohon ampun, namun energi elemen Bumi dan Api Inti milik Qixuan langsung menghanguskan kehendaknya, memurnikannya menjadi bola energi esensi murni sebesar genggaman tangan. Qixuan memasukkan bola esensi dari ahli ranah *Domain Bumi* itu ke dalam mulutnya dan menelannya utuh-utuh.

Seketika, badai energi spiritual meledak di sekitar Qixuan. Jubah hitamnya berkibar liar. Esensi dari seorang patriark ratusan tahun tidak bisa ditelan semudah ahli bayaran biasa. Otot-otot leher Qixuan menegang, darah segar menetes dari ujung bibirnya saat *Inti Emas Kegelapan* di dalam Dantiannya berbenturan dengan energi modifikasi tubuh dari Sekte Darah.

Namun, Qixuan telah menelan *Bunga Jiwa Hitam*, *Api Inti Bumi*, dan petir surgawi sebelumnya. Tubuhnya telah diubah menjadi wadah peleburan ekstrem.

"Tunduk pada kekayaanku!" geram Qixuan secara batin, menggunakan keteguhan mentalnya yang terbentuk dari arogansi absolut untuk menghancurkan perlawanan energi darah tersebut.

*DZHUUUUMMM!*

Aura Qixuan menembus lapisan hambatan terakhir. Gelombang kejut memancar dari tubuhnya, menghempaskan abu vulkanik di sekitarnya.

Kultivasinya melonjak pesat. Dari ranah Jiwa Baru tahap Menengah, ia melesat menembus tahap Puncak, dan setengah langkahnya kini resmi menginjak ranah *Domain Bumi (Earth Realm)*. Udara di sekitarnya melengkung, patuh pada gravitasi spiritual yang ia ciptakan. Mulai saat ini, dalam radius lima puluh meter di sekitarnya, Qixuan bisa mendikte hukum ruang dan waktu sesuka hatinya.

Ia melepaskan mayat fisik Xue Wuyan yang telah mengering menjadi sekumpulan kulit keriput tanpa tulang, lalu membiarkannya jatuh menjadi abu ke atas tanah.

Qixuan menoleh pada Leng Yue yang sedari tadi berlutut menjaga jarak aman.

"Wakil Jenderal, bersihkan tempat ini," Qixuan mengusap bibirnya dengan saputangan sutra yang segera dibuangnya. "Kuras habis Kolam Darah Suci itu dan masukkan ke dalam wadah spiritual. Benda itu akan kita gunakan sebagai bonus mandi air hangat bagi prajurit berprestasi bulan ini."

"Sesuai perintah Anda, Panglima Tertinggi!" Leng Yue bangkit, segera meneriakkan komando kepada ribuan pasukannya untuk membongkar setiap inci perbendaharaan bawah tanah sekte tersebut.

Qixuan melangkah kembali menuju armada. Target pertamanya telah tumbang. Namun, permainan belum selesai.

Jauh ke arah barat, di wilayah pegunungan yang mengambang di udara, Markas Besar Sekte Langit Berkabut berada dalam kondisi kepanikan stadium akhir.

Di dalam Paviliun Awan Tertinggi, cermin komunikasi gaib raksasa yang menghubungkan Yun Canghai dengan Xue Wuyan tiba-tiba retak, lalu pecah berkeping-keping menjadi genangan air mati.

Patriark Yun Canghai, penguasa tertinggi sekte, terhuyung mundur hingga jatuh ke atas kursinya. Wajah tuanya pucat pasi seolah kehabisan darah. Para tetua agung yang berada di ruangan tersebut saling bertukar pandang dengan kengerian yang tak bisa diucapkan.

"P-Patriark..." salah satu tetua bersuara gemetar. "Koneksi jiwa dengan Xue Wuyan terputus secara absolut. K-Apakah ini berarti..."

"Sekte Teratai Darah telah musnah," bisik Yun Canghai, suaranya sangat lirih, kehilangan seluruh wibawa surgawinya. "Kurang dari satu dupa waktu sejak armada itu terlihat di langit... mereka telah meratakan markas sekte tingkat atas menjadi debu."

Ruangan itu tenggelam dalam teror. Jika Sekte Teratai Darah yang memiliki pertahanan brutal dan kejam hancur dalam hitungan menit, bagaimana nasib Sekte Langit Berkabut yang mengandalkan formasi ilusi dan penghindaran? Ilusi tidak ada gunanya melawan tembakan artileri massal yang membakar langit secara membabi buta!

"Kita harus menyerang balik!" usul seorang tetua petarung dengan mata memerah. "Gunakan armada udara kita sendiri! Kita sergap mereka saat mereka sedang sibuk menjarah!"

"Bodoh!" bentak Yun Canghai, menggebrak meja gioknya. "Armada mereka dipersenjatai dengan meriam yang menembakkan energi tanpa amunisi batu! Kekuatan pemuda bernama Cang Qixuan itu berada di luar nalar. Menghadapinya secara frontal berarti bunuh diri massal!"

Patriark tua itu bangkit berdiri, matanya memancarkan keputusasaan sekaligus tekad yang gila. Ia menyadari bahwa mempertahankan gunung ini sama dengan menunggu giliran dieksekusi.

"Kumpulkan seluruh pusaka berharga di dalam cincin spasial tingkat tinggi," perintah Yun Canghai cepat. "Pilih seratus murid paling berbakat. Buang sisanya. Aktifkan *Kapal Bahtera Penembus Batas* rahasia milik leluhur."

Para tetua terkesiap. Kapal Penembus Batas adalah artefak evakuasi darurat yang hanya bisa digunakan sekali untuk melarikan diri ke Benua Tengah—benua pusat di mana sekte-sekte ortodoks sejati dengan kultivator ranah *Kaisar Langit* bernaung. Melakukan evakuasi berarti meninggalkan sembilan puluh persen murid sekte untuk mati, membuang wilayah kekuasaan mereka, dan datang ke Benua Tengah sebagai pengungsi yang memalukan.

"P-Patriark! Membuang sekte? Ribuan murid akan mati di bawah tembakan meriam iblis itu!" protes seorang tetua berambut putih, menangis pilu.

"Jika kita semua mati di sini, warisan Langit Berkabut benar-benar berakhir!" raung Yun Canghai, menarik kerah jubah tetua itu. "Kita akan pergi ke Benua Tengah! Aku akan memohon pada Kaisar Surgawi di sana, menyerahkan sisa harta kita, dan menyuruh mereka mengirim pasukan dewa untuk menumpas bocah Jinling itu! Ini adalah satu-satunya jalan untuk membalas dendam!"

Evakuasi kepanikan pun dimulai. Di balik ilusi kabut pegunungan yang tampak tenang dari luar, para elit sekte sibuk merampok kas mereka sendiri, mengemas pil abadi, pedang pusaka, dan manuskrip rahasia. Mereka mengumpulkan seratus murid muda yang paling jenius, memaksa mereka masuk ke dalam sebuah kapal perak kecil namun memancarkan aura spasial yang sangat pekat.

Sementara itu, ribuan murid biasa ditinggalkan untuk menjaga pos mereka, tanpa menyadari bahwa pemimpin mereka telah menetapkan mereka sebagai tumbal umpan.

Satu jam kemudian, Kapal Bahtera Penembus Batas itu diaktifkan. Lapisan ruang dimensi terbuka, dan kapal perak itu melesat masuk, melarikan diri dari wilayah timur menuju keamanan mutlak Benua Tengah.

Di atas geladaknya, Yun Canghai menatap ke belakang, melihat pegunungan sektenya memudar di balik celah dimensi. Air matanya menetes.

"Tunggulah, Cang Qixuan," kutuk Yun Canghai dalam hati, dendamnya mengakar kuat. "Kekayaanmu mungkin bisa membeli Benua Timur dan Atas. Tapi di Benua Tengah, kekuatan murni adalah dewa yang sebenarnya. Saat aku kembali bersama pasukan Kaisar Surgawi, aku akan memaksamu menelan emasmu sendiri hingga mati tersedak."

Kembali ke armada *Fatamorgana Emas* yang kini tengah mengudara di atas reruntuhan Teratai Darah.

Qixuan baru saja selesai mandi air hangat yang diinfus dengan rempah spiritual di dalam kabin pribadinya, membersihkan sisa debu pertarungan. Ia keluar ke balkon kapal mengenakan jubah sutra biru malam yang lembut, rambut panjangnya diikat longgar.

Mo Chen muncul dari balik bayangan, berlutut dengan satu lutut.

"Tuanku," lapor Mo Chen, nada suaranya sangat tenang. "Sensor formasi pemantau jarak jauh yang dipasang Nona Hong Lian menangkap fluktuasi sobekan ruang (spatial tear) di wilayah udara barat, tepat dari koordinat Markas Sekte Langit Berkabut. Fluktuasi itu menunjukkan pergerakan perpindahan benua. Kemungkinan besar, Patriark Yun Canghai telah melarikan diri ke Benua Tengah menggunakan artefak kuno, meninggalkan sektenya."

Mendengar laporan itu, Qixuan tidak terlihat terkejut apalagi marah. Ia justru bersandar pada langkan kayu ukir kapal, tertawa kecil sambil menggoyang-goyangkan cawan araknya.

"Melarikan diri ke Benua Tengah? Sangat sesuai dengan sifat pecundang ortodoks," Qixuan tersenyum miring.

"Apakah kita harus mengejar kapal tersebut, Tuanku? Jika mereka berhasil meminta bantuan dari Benua Tengah, kita mungkin akan menghadapi pasukan elit dari kultivator ranah *Domain Bumi* dan *Kaisar Langit*." Mo Chen mengingatkan risiko dari bocornya informasi.

"Biarkan tikus itu berlari, Mo Chen," Qixuan menyesap araknya perlahan, menikmati aroma kemenangan. "Benua Tengah adalah lautan yang dipenuhi hiu-hiu raksasa. Yun Canghai akan datang ke sana sebagai pengungsi yang membawa sisa-sisa harta pusaka sektenya. Sebelum dia sempat meminta bantuan, hiu-hiu serakah di sana pasti akan melahapnya lebih dulu untuk merampas hartanya."

Qixuan menatap hamparan bintang di langit Benua Atas. Ambisinya tidak pernah puas.

"Selain itu, kehadiran pelariannya di sana akan menjadi brosur iklan gratis untuk kita. Biarkan mereka bercerita tentang betapa mengerikannya 'Iblis Kekayaan' dari Jinling. Biarkan para kaisar dan dewa di Benua Tengah tahu namaku sebelum aku sendiri yang datang mengetuk pintu mereka."

"Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Tuanku?"

"Besok pagi, kirim divisi kecil untuk menyapu sisa-sisa gunung kosong milik Langit Berkabut. Curi semua yang mereka tinggalkan. Setelah itu, kita putar armada. Kita pulang ke Jinling," perintah Qixuan santai.

Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya ke arah hamparan malam. "Pestanya sudah selesai. Waktunya mencerna hasil tangkapan. Selain itu, aku masih ingat janjiku pada ibuku untuk pergi memancing di Danau Bintang. Dan seorang Dewa Kekayaan tidak boleh membatalkan janji liburannya hanya karena urusan remeh seperti menaklukkan dunia."

Era baru telah sepenuhnya dipahat. Tiga sekte raksasa Benua Atas yang berkuasa selama milenium telah disapu bersih dalam waktu kurang dari dua bulan. Cang Qixuan, sang Tuan Muda Pemboros, kini secara *de facto* adalah Kaisar Bayangan dari dua benua. Dengan sumber daya absolut dan mesin perang yang tak tertandingi di bawah komandonya, ia menunggu dengan tenang datangnya tantangan baru, siap menukar setiap tetes darah musuhnya dengan kemilau emas murni.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!