Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Perizinan pertama
Suasana di dalam kamar VIP hotel itu seketika berubah mencekam begitu pintu ganda yang kokoh itu tertutup dengan bunyi klik yang tajam. Yuchen dan para pengawal tetap di luar, meninggalkan Alin dalam keheningan yang menyesakkan bersama Rei.
Rei melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja marmer dengan denting pelan yang entah kenapa terdengar seperti lonceng peringatan bagi Alin.
“Tadi itu sangat kreatif, Alin,” ucap Rei tanpa menoleh. Ia mulai membuka kancing manset kemejanya satu per satu. “Menggambar kumis kucing di dokumen negara? Bermain kaki di bawah meja rapat?”
Alin mundur satu langkah, mencoba mencari jarak. “Aku hanya bosan. Rapatmu itu membosankan sekali, Rei. Lagipula, kau sendiri yang memaksaku ikut masuk.”
Rei berbalik perlahan. Ia tidak tampak marah, tapi ada intensitas di matanya yang jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. Ia melangkah mendekat, memaksa Alin terus mundur hingga punggung wanita itu membentur dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Bingdu yang bersalju di bawah sana.
“Kau ingin perhatianku, bukan?” Rei menumpukan kedua tangannya di dinding kaca, mengunci Alin di tengahnya. “Sekarang kau memiliki seluruh perhatianku. Tanpa gangguan pejabat, tanpa dokumen, dan tanpa batas.”
Alin mencoba tetap terlihat berani meski jantungnya berpacu liar. Ini yang membuat Rei tertarik pada wanita itu. Seperti pertemuan pertama mereka didalam kapal, Alin mati-matian meredam rasa takutnya hanya untuk menunjukkan dirinya baik-baik saja.
“Aku tidak butuh perhatianmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak bisa mengaturku seolah aku ini—-“ Kata-katanya terputus saat Rei menundukkan wajahnya, hingga napas hangat pria itu terasa di bibirnya.
Rei tidak menciumnya—setidaknya belum—ia hanya berhenti tepat satu sentimeter di depan bibir Alin, menikmati bagaimana wanita di hadapannya mulai gemetar.
“Kau sangat berani saat di ruang rapat tadi,” bisik Rei rendah, suaranya serak dan mengintimidasi. “Kemana perginya perempuan yang nakal itu tadi? Kenapa kau diam?”
Alin menelan ludah, berusaha memalingkan wajah, namun Rei menggunakan satu tangannya untuk memegang dagu Alin dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap mata gelap sang Pangeran.
“Kau membuatku tidak fokus selama dua jam, Alin. Kau tahu berapa harga waktu seorang Pangeran?” Rei memberikan senyum tipis yang mematikan. “Aku akan menagih kompensasinya sekarang. Seluruh malam ini... kau tidak akan kubiarkan lepas dari pandanganku.”
Alin mencengkeram kemeja Rei di bagian dada, entah untuk mendorongnya atau justru untuk menahan diri agar tidak jatuh lemas. “Kau... kau tidak berani melakukan apa-apa padaku.”
Rei terkekeh, suara tawa yang rendah dan maskulin. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Alin. “Jangan menantang pria yang sudah kau buat kehilangan kesabarannya seharian ini, Sayang. Karena cara ‘menaklukanmu dengan keji’ yang kukatakan tadi pagi... itu bukan sekadar ancaman.”
Udara di dalam ruangan itu terasa semakin panas, kontras dengan salju yang turun dengan tenang di balik dinding kaca di belakang mereka.
Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik, namun sarat akan gairah yang telah dipendam sejak perjalanan di mobil tadi. Cahaya lampu kota Bingdu yang berpendar di balik dinding kaca memantulkan bayangan dua insan yang sedang terkunci dalam pergulatan emosi.
Rei tidak lagi memberikan ruang. Ia merapat, membiarkan Alin merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan suhu beku di luar sana.
“Cukup, Rei.” Alin menahan dada bidang sang Pangeran agar tidak terlalu menghimpitnya, bahkan ia bisa merasakan detak jantung Rei yang kuat melalui kemeja tipisnya, sebuah irama yang entah sejak kapan mulai selaras dengan degup jantungnya sendiri.
“Kau takut sekarang?!” gumam Rei. Tangannya terangkat, ujung jarinya menyusuri garis rahang Alin dengan gerakan yang sangat lambat, namun penuh dominasi.
Alin menahan napas. Jantungnya berpacu liar, bukan hanya karena takut, tapi karena intensitas pria ini. Ia memalingkan wajah sedikit, mencoba mencari sisa-sisa kewarasannya.
“Hentikan ini, Rei—-“ Gugup Alin mendorong tubuh Rei yang semakin menghimpitnya.
“Kau sangat suka bermain api, Alin,” bisik Rei, suaranya kini lebih berat, lebih serak. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alin, menghirup aroma parfum wanita itu yang bercampur dengan dinginnya salju. “Dan kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang bermain api di dekatku?”
"Tolong... jaga sikap mu, Yang mulis," desis Alin, menekan sebutan ‘Yang mulia’ untuk mengingatkan siapa pria itu sesungguhnya. "Aturan adab kerajaan mu dengan jelas menyatakan bahwa seorang anggota keluarga inti tidak boleh berinteraksi sedekat ini dengan—- dengan rakyat biasa, terlebih lawan jenisnya tanpa pendamping. Kau melanggar norma, Pangeran.” Ujar Alin mencoba mengutip protokol yang ia pelajari.
Rei tersenyum licik merasakan aura gugup dari wanita itu, terlebih saat Alin tidak lagi menyebut nama panggilannya.
“Persetan dengan norma," bisik Rei tepat di telinganya, nafasnya terasa hangat dan provokatif. "Aku tidak peduli. Di ruangan ini, akulah satu-satunya aturan yang berlaku."
Alin memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang, menyentuh dinding kaca yang dingin. Rasa dingin dari kaca dan panas dari sentuhan Rei menciptakan sensasi yang membingungkan indranya.
“Ma—maafkan aku Yang mulia. Tidak akan ku ulangi.”
Tangan Rei merambat naik, menyusuri garis pinggang Alin hingga jemarinya menyusup di antara helai rambut wanita itu. Dengan sentakan lembut, ia memaksa Alin menatapnya. Mata gelap Rei berkilat penuh obsesi. Di bawah temaram lampu ruangan, pria itu tampak seperti predator yang akhirnya berhasil menyudutkan mangsanya.
“Aku hanya menuntut hakku atas gangguan yang kau buat hari ini,” sahut Rei.
“Ti—tidak seperti ini.” Gugup Alin.
Dengan tangannya, Rei merengkuh lagi wajah kecil wanita itu. Sapuan ibu jarinya menyentuh lembut bibir Alin, “Aku menginginkannya, apa tidak bisa?” Pandangan Rei jatuh mengunci pada bibir halus dan hangat itu.
Alin tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya dengan rasa gugup dan takutnya. Ia dapat merasakan hangatnya nafas Pangeran di kulit bibirnya. Degup jantungnya semakin tidak karuan seirama dengan degup jantung pria dihadapannya.
Di bawah telapak tangannya yang masih menempel di dada Rei, Alin bisa merasakan debar jantung pria itu yang liar, berpacu seragam dengan detak jantungnya sendiri yang kian tak karuan. Ia mencengkeram erat kemeja Rei, mencari tumpuan saat rasa menggelitik yang asing mulai mengaduk-aduk perutnya.
"Buka matamu, Alin," bisik Rei lagi. Nadanya bukan sebuah permintaan, melainkan perintah halus yang tak bisa dibantah.
Dengan sisa keberanian yang ada, Alin membuka matanya perlahan. Ia langsung disambut oleh tatapan Rei yang gelap—seperti samudera di tengah badai. Tidak ada sisa kemarahan di sana, yang ada hanyalah ambisi yang membara.
"Lihat aku," tuntut Rei, suaranya kini serak. "Jangan bersembunyi di balik rasa takutmu. Aku tahu kau pun merasakannya. Detak jantungmu tidak bisa berbohong."