Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Kalung Mana?!
Ekspresi wajah Valeria Francesca seketika membeku total di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup dengan ritme yang mendadak berantakan saat ia perlahan-lahan mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam milik Alessandro Dirgantara. Suaranya terdengar bergetar parah dan tercekat di tenggorokan. "Ka... kalung edisi terbatas yang mana, Ales?"
Alessandro menyahut dengan nada suara bariton yang teramat tenang dan datar, seolah hal itu bukan masalah besar. "Kalung Ruby merah darah yang aku temani kamu beli di butik beberapa hari yang lalu. Potongan dan kilau batunya sangat serasi untuk melengkapi keanggunan warna gaun biru laut yang kamu kenakan malam ini."
Mendengar konfirmasi tersebut, Valeria merasa seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam dadanya baru saja dihantam oleh godam raksasa hingga hancur berkeping-keping.
Kalung Ruby?
Bukankah perhiasan mewah bernilai fantastis itu adalah barang persis yang baru saja ia bawa kembali ke butik untuk dicairkan dananya menjadi uang tunai secara diam-diam tadi siang?!
Akal sehat Valeria berputar taktis mencari jalan keluar darurat. Ia mulai berbicara terbata-bata, sepasang matanya bergerak gelisah ke segala arah demi menyusun kalimat kebohongan yang masuk akal. "A-ah... kalau kalung yang itu... aku... aku lupa di mana terakhir kali meletakkannya setelah pulang kemarin, Ales."
Alessandro menyipitkan sepasang mata tajamnya perlahan, melayangkan sebuah tatapan menyelidik yang menusuk. "Bagaimana bisa lupa? Bukankah kita baru saja menuntaskan transaksi pembeliannya dua hari yang lalu?"
Butiran keringat dingin seketika meletup berserakan, membasahi permukaan kulit punggung Valeria di balik gaun satinnya. "I-iya, tapi kemarin kan aku terburu-buru membereskan barang karena kesal sama kamu. Mungkin aku teledor dan asal melempar kotak beludrunya ke suatu sudut ruangan."
Alessandro menyahut acuh tak acuh tanpa curiga berlebih, "Ya sudah, kalau begitu aku akan memanggil kepala pengasuh rumah untuk membantu kamu membongkar isi kamar dan mencarinya sampai ketemu."
"Nggak usah! Nggak perlu!"
Valeria memotong kalimat tersebut dengan intonasi yang terlampau cepat dan bernada tinggi. Menyadari bahwa reaksi spontannya yang panik justru membuat Alessandro menatapnya dengan kerutan dahi penuh kebingungan, ia buru-buru memaksakan seulas senyuman manis yang tampak teramat kaku dan canggung di wajahnya. "Maksud aku... aku bisa mencarinya sendiri kok dengan teliti. Kamar ini kan privasi kita, jadi nggak perlu sampai repot-repot melibatkan atau merepotkan orang lain cuma buat urusan sepele kayak gini, hehe."
Alessandro mengernyitkan alis tebalnya tipis. "Kamu yakin seratus persen tidak butuh bantuan pengasuh?"
"Yakin banget, Ales!" Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Valeria melangkah maju, meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada tegap Alessandro, lalu mendorong postur tubuh kokoh pria itu secara perlahan agar keluar dari area ruang ganti pakaian. "Mendingan sekarang kamu turun ke lantai bawah duluan aja buat urus persiapan mobil atau keperluan kerjaan kamu yang lain. Pokoknya kamu tunggu aja di bawah, begitu kalungnya ketemu, aku bakal langsung turun menemui kamu."
Begitu ia berhasil menutup rapat pintu kayu kokoh walk-in closet dan menguncinya dari dalam, pertahanan mental Valeria seketika runtuh total. Ia mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata rapi dengan ekspresi frustrasi yang amat sangat, hampir saja berteriak histeris meratapi nasib sialnya.
Kenapa dari sekian puluh koleksi perhiasan mewah yang berjejer di dalam lemari beludru, pria itu harus secara spesifik memilih kalung Ruby merah darah tersebut?! Masalahnya, Alessandro mendampinginya secara langsung saat proses pembelian dua hari lalu. Jika ia nekat meluncurkan klaim palsu bahwa kalung berharga miliaran itu telah hilang lenyap, insting detektif dan kewaspadaan Alessandro dipastikan akan langsung aktif mendeteksi adanya kejanggalan besar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Valeria segera merogoh saku pakaian olahraganya, mencari nomor kontak pribadi milik pemilik butik perhiasan mewah tadi siang, lalu buru-buru menekan tombol panggilan telepon darurat.
Begitu nada sambung terputus, Valeria langsung meluncurkan kalimatnya dengan intonasi yang teramat mendesak dan panik, "Halo, Ibu Pemilik Butik? Tolong saya! Apakah seuntai kalung berlian Ruby yang aku retur secara khusus tadi siang saat ini posisinya masih tersimpan di dalam brankas toko kamu? Tolong, aku butuh banget barang itu kembali ke tangan aku sekarang juga dalam hitungan menit! Aku bersumpah akan mentransfer balik seluruh nominal uang refund-nya detik ini juga, yang penting tolong amankan kalung itu hanya untuk aku!"
"Nona Valeria?" Pemilik butik di seberang sambungan telepon sempat tertegun kaku mendengar rentetan kalimat panik tersebut. "Aduh... mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona. Bukankah tadi siang Anda sendiri yang bersikap sangat tegas menyatakan sudah tidak menyukai modelnya? Kebetulan sekali, baru setengah jam yang lalu ada seorang pelanggan kelas atas kami yang lain yang melihat katalognya, langsung tertarik, dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke butik murni untuk mengambil kalung tersebut."
Mendengar penjelasan administratif itu, lubuk hati Valeria seketika mencelos jatuh ke dasar jurang terdalam. Ia mempercepat ritme bicaranya penuh tekanan, "Jangan! Kamu mutlak nggak boleh menjual kalung itu kepada siapa pun! Aku mendadak berubah pikiran dan mutlak menginginkan kalung itu kembali menjadi milik aku malam ini!"
"Tapi, Nona... seluruh prosedur pembatalan transaksi dari pihak kami sudah selesai diproses..."
Valeria langsung meluncurkan serangan finansial secara agresif tanpa memedulikan gengsi lagi, "Sepuluh juta rupiah! Aku akan mentransfer tambahan uang pelicin sebesar sepuluh juta rupiah sekarang juga ke nomor rekening pribadi kamu sebagai biaya administrasi darurat! Tolong kirim kembali kalung Ruby itu ke alamat vila pribadi Alessandro sekarang juga menggunakan jasa kurir instan paling cepat, seluruh biaya operasional pengiriman aku yang tanggung penuh. Semakin cepat barang itu sampai di depan gerbangku, semakin baik!"
Setelah meluncurkan berbagai untaian kalimat bujukan yang manis, memberikan jaminan mutlak bahwa dirinya tidak akan pernah melancarkan aksi retur barang lagi di masa depan, serta menaikkan nominal uang pelicin hingga menyentuh angka belasan juta rupiah, pertahanan pemilik butik akhirnya luluh total. Wanita paruh baya itu akhirnya setuju untuk membatalkan pesanan pelanggan lain demi mengamankan posisi sang pelanggan Top-Tier VIP.
Valeria segera menyelesaikan proses transfer balik dana miliaran beserta uang pelicinnya melalui aplikasi m-banking, mengirimkan detail titik koordinat alamat vila, lalu mengendap-endap melangkah turun menyusuri anak tangga menuju ke area pintu gerbang teras depan untuk menanti kedatangan kurir perhiasan.
Rentang waktu tunggu selama setengah jam yang berjalan malam itu terasa laksana satu abad siksaan abadi bagi Valeria yang didera kecemasan tingkat tinggi. Tepat pada momen paling menegangkan tersebut, sebuah notifikasi pesan singkat dari Alessandro mendadak masuk, memancarkan kilauan cahaya di layar ponselnya:
Alessandro: Bagaimana situasinya di atas, Valeria? Apakah kalung Ruby-nya sudah berhasil kamu temukan? Perlu aku perintahkan beberapa pelayan wanita untuk naik membantu kamu membongkar lemari pakaian?
Ujung-ujung jemari Valeria seketika mendadak basah oleh kepulan keringat dingin. Beruntung, tepat pada detik-detik kritis di mana ia hampir kehilangan akal untuk menyusun kalimat balasan, siluet lampu sepeda motor milik kurir butik perhiasan akhirnya tampak membelah kegelapan jalanan, berhenti tepat di depan pagar otomatis vila. Setelah sukses merebut kembali kotak beludru merah dari tangan kurir dan melontarkan kalimat terima kasih berulang kali, Valeria langsung meluncurkan aksi sprint berlari kencang kembali masuk ke dalam vila.
Tepat pada saat langkah kaki Valeria yang terengah-engah baru saja menapakkan kaki di depan ambang pintu koridor kamar tidur, sosok tegap Alessandro mendadak melangkah keluar dari dalam ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung lorong—pria itu tampaknya baru saja menyelesaikan beberapa pemeriksaan dokumen bisnis darurat sebelum berangkat.
Melihat kehadiran sang CEO besar yang mendadak muncul di hadapannya, Valeria secara refleks langsung mengangkat kotak beludru merah di tangan kanannya tinggi-tinggi di udara, memasang seulas senyuman manis yang dipaksakan di wajah cantiknya demi menutupi napasnya yang memburu pendek. "Ales! Lihat, aku udah berhasil ketemu kalungnya! Ternyata setelah aku bongkar seluruh sudut kamar sampai pusing, kalung Ruby ini terselip di dalam saku tas pergi yang aku pakai kemarin, hehe."
Sebentuk gurat rasa bersalah, cemas, dan ketakutan yang samar sebenarnya tersembunyi rapat di balik senyuman lebar yang ia pamerkan malam ini; Valeria teramat takut jika ketajaman insting Alessandro sampai mendeteksi adanya ketidakselarasan dari raut wajahnya.
Beruntung, Alessandro tampaknya tidak terlalu menaruh curiga pada gelagat tersebut. Pria itu hanya melirik sekilas ke arah jarum jam tangan mewahnya, lalu menyahut dengan intonasi suara bariton yang tenang, "Waktunya sudah terlampau mepet dengan jam dimulainya acara. Segera kenakan kalung itu sekarang di lehermu, kita harus segera bertolak pergi."
Valeria menganggukkan kepalanya patuh penuh rasa lega. Karena menyadari dirinya sudah tidak memiliki sisa waktu yang cukup aman untuk kembali masuk ke dalam ruang ganti, ia terpaksa mulai mengenakan kalung berlian tersebut secara darurat di depan permukaan cermin besar yang tertempel di dinding lorong koridor kamar.
Namun, entah karena struktur pengait kecil di ujung rantai emas putihnya yang terlampau kaku dan keras, atau karena panjang lingkaran rantainya yang didesain agak terlalu pas dengan lingkar leher, Valeria terus-menerus mengalami kesulitan untuk mengunci pengaitnya di belakang leher. Kedua lengan atasnya kini mulai terasa pegal, lemas, dan mati rasa akibat terlalu lama terangkat tinggi ke arah belakang kepala.
Merasa tidak memiliki alternatif pilihan lain yang tersisa demi mempercepat waktu, Valeria akhirnya menghentikan gerakannya, membalikkan posisi tubuhnya perlahan menghadap ke arah Alessandro, lalu meluncurkan kalimat permohonan bantuan dengan sepasang mata bulat yang sengaja dibuat tampak memelas. "Ales... aku bener-bener nggak bisa mengunci pengait rantainya sendiri dari tadi. Bisa tolong bantu pasangkan di leher aku?"
Menatap sepasang mata bulat Valeria yang tampak memelas meminta bantuan di hadapannya, Alessandro sempat terdiam satu detik sebelum akhirnya melangkah maju beberapa tapak kaki, menjangkau untaian kalung Ruby mewah tersebut dari sela-sela jemari Valeria.
Pria itu kini mengambil posisi berdiri tepat di balik punggung Valeria. Jarak posisi berdiri mereka berdua yang teramat rapat dan minim batasan, membuat embusan aroma sabun mandi yang baru, segar, bersih, dan lembut dari atas permukaan kulit tubuh Valeria mendadak berembus mesra, merangsek masuk menguasai indra penciuman Alessandro. Aroma alami malam ini terasa sangat bertolak belakang dengan jenis parfum mewah berbau menyengat, pekat, dan manis berlebihan yang biasanya disemprotkan secara brutal oleh pemilik tubuh Valeria asli di masa lalu. Dan entah mengapa, Alessandro menyadari bahwa embusan aroma segar malam ini sama sekali tidak terasa mengganggu kenyamanan indra penciumannya.
Akibat dari sudut pandang postur tubuh tingginya yang diharuskan menunduk ke arah bawah demi memfokuskan jemarinya mengunci pengait kecil rantai, pandangan mata tajam milik Alessandro secara tidak sengaja langsung jatuh tertuju lurus pada belahan dada Valeria yang terekspos terbuka di balik potongan kemben gaun satin biru lautnya. Visualisasi pemandangan indah yang sempat ia saksikan di dalam ruang walk-in closet sore tadi mendadak kembali berputar secara otomatis di dalam struktur memorinya, memicu sebuah letupan debaran aneh yang teramat asing, mendebarkan, dan menggelitik di lubuk jantung sang CEO besar.
"Ales... udah selesai belum kuncinya?" suara lembut Valeria mendadak bergaung pelan, memecah kesunyian canggung yang mencengkeram atmosfer di hadapannya.
Alessandro seketika tersentak sadar dari lamunan visualnya. Ia buru-buru melepaskan sisa jemarinya dari rantai kalung setelah berhasil mengunci pengaitnya dengan sempurna, lalu melangkah mundur satu tapak kaki demi mengembalikan batasan jarak personal mereka yang aman. "Sudah."
Mendengar konfirmasi tersebut, Valeria langsung memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah permukaan cermin lorong untuk memeriksa hasil akhir penampilannya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia terpaksa meluncurkan pengakuan jujur bahwa selera estetika gaya busana yang dimiliki oleh seorang Alessandro Dirgantara memang berada di kasta tertinggi.
Dengan untaian kalung berlian Ruby berwarna merah darah yang melingkar indah sebagai aksen kontras yang berani, berpadu sempurna dengan keanggunan material satin gaun biru laut yang dikenakannya, seluruh aura kecantikan, pesona visual, dan keanggunan feminin di tubuh Valeria seolah mendadak terpancar berkali-kali lipat lebih cerah, glamor, dan memikat mata siapa pun yang memandangnya.
Terlebih lagi, harus diakui bahwa postur fisik yang dimiliki oleh pemilik tubuh Valeria asli ini memang berada di kategori yang teramat sempurna bagi standar seorang wanita. Dengan bentuk lingkar pinggang yang ramping, sepasang kaki yang jenjang, serta bentuk kurva bokong yang begitu padat, kencang, dan proporsional. Ditambah lagi dengan fakta bahwa tinggi badannya saat ini tercatat lima sentimeter lebih tinggi jika dibandingkan dengan tinggi badan asli Valeria di dunia asalnya dulu, membuat seluruh penampilannya malam ini terlihat luar biasa memukau, berwibawa, dan mencuri perhatian layaknya seorang supermodel papan atas yang siap melangkah di atas panggung penayangan mode.
Lima menit kemudian, sepasang kekasih buatan ini telah bertolak meninggalkan area kompleks perumahan elite vila menuju ke lokasi penyelenggaraan Private Jewelry Appreciation Event. Acara malam ini merupakan sebuah gelaran pameran sosial kelas atas yang bersifat sangat tertutup, mewah, dan eksklusif, di mana pihak panitia penyelenggara hanya menyebarkan total dua puluh lembar undangan resmi yang dicetak khusus untuk para tokoh konglomerat, pengusaha kakap, dan figur berpengaruh di eselon tertinggi piramida masyarakat.
Valeria melayangkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan megah tersebut dengan binar takjub yang tertahan, merasa dirinya persis seperti seorang gadis desa polos yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam kemegahan kota metropolitan yang berkilau. Jika jiwanya tidak mengalami insiden transmigrasi masuk ke dalam raga tunangan seorang Alessandro Dirgantara, seumur hidupnya ia dipastikan tidak akan pernah memiliki hak istimewa atau kesempatan emas untuk bisa menghirup atmosfer kemewahan pesta kaum jetset yang sewajarnya hanya ada di dalam plot tayangan televisi ini.
Menatap takjub ke arah deretan koleksi perhiasan berlian antik bernilai sejarah tinggi yang tersimpan rapi di balik kotak etalase kaca tebal berpencahayaan khusus, Valeria berbisik pelan penuh rasa ingin tahu ke samping tubuh Alessandro, "Ales... apakah seluruh koleksi perhiasan permata bernilai sejarah yang ada di dalam pameran ini semuanya diperjualbelikan secara bebas untuk umum?"
Alessandro menyahut dengan nada bariton yang terkesan sangat kasual dan berwibawa, "Beberapa koleksi edisi terbatas memang sengaja dipasarkan oleh pemiliknya untuk dilelang malam ini, sebagian lainnya murni hanya dipamerkan sebagai pemenuhan hobi dari kolektor perhiasan dunia."
Melihat bagaimana sepasang mata bulat milik Valeria tampak terpaku lekat-lekat tanpa bisa beralih dari keindahan kilau barang-barang antik tersebut, Alessandro mengikuti arah garis pandangan mata kekasihnya yang kini terkunci pada sebuah Mahkota Berlian Filigri (Filigree Diamond Crown) kuno yang terletak di sudut kanan atas etalase. Pria itu secara otomatis mengasumsikan bahwa kekasihnya yang matre itu mendadak kembali dilanda hasrat posesif untuk memiliki barang mewah tersebut.
"Kamu menyukai mahkota berlian antik itu?" tanya Alessandro datar, sorot matanya tenang. "Jika kamu benar-benar menginginkannya, aku bisa memerintahkan asisten pribadi saya sekarang untuk segera menghubungi pihak pemilik barang dan menanyakan berapa nominal harga tertinggi yang mereka inginkan agar bersedia melepaskan hak kepemilikannya malam ini juga."
Mendengar tawaran spontan senilai miliaran tersebut, Valeria buru-buru menggelengkan kepalanya dengan gerakan panik, melambaikan kedua tangannya di udara secara ekspresif. "Nggak usah, nggak usah, Ales! Tolong jangan telepon siapa pun! Aku ke sini murni cuma mau lihat-lihat keindahan seninya aja kok sebagai hiburan mata. Nggak perlu sampai membuang-buang uang fantastis sebanyak itu cuma buat menebus sebuah mahkota yang nggak bakal aku pakai sehari-hari."
Untaian kalimat bijak penuh penolakan yang keluar dari bibir Valeria tersebut seketika membuat Alessandro menghentikan langkah kakinya secara total. Pria berkuasa itu memutar tubuhnya, melayangkan sebuah tatapan mata yang teramat dalam, tajam, dan penuh selidik yang mengunci lurus ke arah wajah Valeria. "Kenapa pembawaan kamu hari ini mendadak berubah menjadi sangat hemat, bijaksana, dan selalu sibuk memikirkan cara untuk menghemat pengeluaran uang saya?"
Jantung Valeria kembali berdegup kencang dilanda kepanikan akibat kecerobohan verbalnya yang merusak karakter asli Valeria terdahulu. Ia buru-buru memutar otaknya demi meluncurkan kalimat penyelamat situasi, memaksakan seulas tawa kecil yang terdengar renyah di bibirnya. "A-ah, maksud aku... sebagai wanita yang mendampingi kamu, wajar dong kalau sekarang aku mulai belajar mikirin urusan efisiensi keuangan kamu, Ales? Uang miliaran itu kan dicari lewat proses kerja keras dan perasan keringat konsentrasi kamu setiap hari di kantor pusat Dirgantara Group, jadi aku sebagai tunangan kamu nggak boleh terus-menerus bersikap kekanak-kanakan dan egois membiarkan kamu menghamburkan dana sebanyak itu cuma demi pemenuhan kesenangan sesaat aku."
Lagipula, di dalam kalkulasi logis Valeria yang sekarang, membeli perhiasan antik bersejarah yang memiliki tingkat keunikan setinggi mahkota tersebut murni hanya akan menjadi sebuah investasi mati yang sama sekali tidak berguna bagi rencana pelariannya nanti. Koleksi barang mewah bersejarah yang memiliki nilai keunikan setinggi itu dipastikan memiliki sistem pelacakan asal-usul kepemilikan yang sangat ketat di pasar gelap; jika suatu hari nanti ia nekat menjual mahkota tersebut demi mencairkan uang tunai di luar daerah, Alessandro dipastikan akan langsung menerima laporan intelijen mengenai titik koordinat lokasinya dalam hitungan menit dari para makelar perhiasan.
Mengingat masalah finansial tersebut, pikiran Valeria mendadak melayang, meratapi nasib malang uang pelicin senilai sepuluh juta rupiah yang terpaksa ia gelontorkan murni untuk menebus kembali kalung Ruby dari tangan pemilik butik siang tadi. Hatinya seketika terasa perih dan menangis darah; rencana aksi pelarian pertamanya bahkan belum sempat dimulai sama sekali ke permukaan, namun ia sudah harus menanggung kerugian finansial murni sebesar belasan juta hanya demi menutupi kedok kebohongannya malam ini di depan Alessandro.
Alessandro tampaknya tidak terlalu memedulikan argumen efisiensi keuangan yang dipaparkan Valeria. Pria itu menatapnya lurus, lalu menyahut dengan intonasi suara bariton yang mantap dan sarat akan komitmen mutlak, "Kamu adalah wanita yang telah mempertaruhkan seluruh nyawa kamu untuk menyelamatkan hidup saya dari maut di dalam arus sungai yang deras waktu itu, Valeria. Sudah menjadi kewajiban moral yang mutlak bagi saya selamanya untuk menggelontorkan seberapa besar pun dana uang yang kamu inginkan demi menjamin seluruh kebahagiaan hidup kamu."
Valeria hanya bisa meluncurkan seulas tawa palsu yang dipaksakan dari bibirnya, buru-buru mengalihkan fokus pandangan matanya ke arah lain, tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk berani menatap langsung ke dalam ketulusan sorot mata Alessandro. Di dalam lubuk batinnya, ia berteriak penuh rasa bersalah yang membakar dada. Bukan aku yang menyelamatkan nyawa kamu dari sungai itu, Ales! Jiwa yang asli dari pemilik tubuh ini justru adalah dalang utama yang sengaja menyabotase merusak sistem rem mobil kamu malam itu murni demi menciptakan skenario penyelamatan palsu agar bisa mengikat kamu!
Tepat pada momen ketegangan batin yang menyiksa tersebut, seorang rekan pengusaha kakap dari kalangan sosialita papan atas melangkah mendekat demi menyapa kehadiran Alessandro. Menyadari kedua pria berkuasa tersebut mulai terlibat di dalam obrolan bisnis serius yang dipenuhi oleh istilah-istilah korporat tingkat tinggi yang sama sekali tidak ia pahami, Valeria memanfaatkan celah tersebut dengan cara menarik ujung lengan jas formal Alessandro secara perlahan untuk berpamitan. "Ales... aku mau melangkah ke arah sudut meja sana sebentar buat ambil beberapa menu makanan kecil dan minuman hangat, ya. Kalian mengobrol saja dulu dengan santai."
Alessandro menurunkan fokus matanya, menatap lekat-lekat ke arah ujung-ujung jemari lentik Valeria yang kini secara perlahan melepaskan cengkeramannya dari lipatan kain jas kerjanya. Di dalam catatan sejarah masa lalu, setiap kali menghadiri acara sosial kelas atas seperti ini, Valeria asli dipastikan tidak akan pernah sudi melepaskan dekapannya dari lengan Alessandro bahkan untuk satu detik pun, murni demi memamerkan status sosialnya sebagai kekasih sang CEO besar di hadapan seluruh wanita lain. Namun malam ini, wanita itu justru secara proaktif mencari celah untuk menjauhkan diri dan dengan sengaja menghindari momen pembuktian hak klaim kepemilikannya atas diri Alessandro.
"Oke," jawab Alessandro memberikan izin singkat dengan anggukan kepala pelan.
Setelah menerima lampu hijau persetujuan, Valeria segera melangkah dengan ritme kaki yang cepat dan santai menuju ke arah meja konter marmer panjang di sudut ruangan yang menyajikan aneka camilan, kue, dan hidangan penutup mewah. Berbagai jenis kuliner lezat kelas atas yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya di dunia nyata dulu kini tersaji rapi dalam visualisasi yang teramat menggugah selera di hadapannya.
Ia mengambil sepotong menu salmon asap menggunakan garpu kecil, lalu mengunyahnya dengan lahap sembari membisikkan kalimat taktis di dalam batinnya: Aku harus memanfaatkan momentum pesta sosial gratisan ini buat makan sebanyak-banyaknya demi mengisi energi fisik tubuh ini. Lagipula, begitu aku berhasil melancarkan aksi kabur dari Jakarta nanti, aku nggak akan pernah punya kesempatan emas lagi buat bisa mencicipi kemewahan kuliner gratisan selevel ini.
Namun, tepat di tengah-tengah kunyahan makan malamnya yang terasa nikmat, sebuah letupan sensasi rasa nyeri yang teramat pekat, tajam, dan menyiksa mendadak berdenyut hebat, menghantam area rongga perut bagian bawah Valeria secara tiba-tiba tanpa ada peringatan medis apa pun sebelumnya.
___
Bersambung~~