NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 : Ancaman Viktor

Area pelabuhan timur malam itu dipenuhi kabut tipis dan suara ombak keras yang menghantam dermaga besi tua.

Beberapa mobil hitam milik keluarga Alexander berhenti berjejer tidak jauh dari gudang-gudang tua di pinggir pelabuhan.

Brakk!

Pintu mobil terbuka kasar.

Bara turun lebih dulu dengan wajah dingin. Jas hitamnya bergerak tertiup angin malam sementara tatapan tajamnya langsung menyapu area sekitar.

Di belakangnya, Edwin ikut turun sambil memasukkan peluru ke pistolnya.

“Lokasinya di ujung dermaga.” lapor Daniel cepat sambil menunjukkan alat pelacak kecil di tangannya. “Sinyal terakhir Black Viper berhenti di gudang nomor tujuh.”

Tatapan Bara langsung berubah tajam. “Kita masuk.”

“Siap.”

Beberapa pria bersenjata segera menyebar mengelilingi area gudang. Langkah kaki mereka menggema di lantai besi yang lembap.

Sedangkan Bara berjalan paling depan dengan pistol hitam sudah siap di tangannya.

Krekk…

Pintu gudang tua perlahan dibuka.

Suasana di dalam gelap dan sunyi. Tidak ada suara, hanya lampu redup yang berkedip pelan di sudut ruangan.

Tatapan Bara langsung menyapu seluruh area dengan dingin. “Periksa semuanya.”

“Baik, Tuan!”

Anak buah keluarga Alexander segera bergerak memeriksa setiap sudut gudang. Namun beberapa menit berlalu. Tidak ada siapa pun, gudang itu kosong.

Edwin mengernyit tajam sambil melihat meja-meja kosong dan beberapa puntung rokok yang masih hangat. “Sial… kita terlambat.”

Bara tidak menjawab.

Tatapannya perlahan turun pada lantai gudang yang masih memiliki bekas jejak sepatu baru. Mereka baru pergi, dan tepat saat itu…

Bwoooonnnggg…

Suara klakson kapal besar tiba-tiba terdengar dari arah dermaga luar. Semua orang langsung menoleh cepat.

Daniel segera berlari menuju jendela gudang. “Tuan!”

Bara langsung berjalan cepat ke arah luar gudang. Dan detik berikutnya, rahang pria itu langsung menegang. Di tengah laut gelap tidak jauh dari pelabuhan… sebuah kapal besar mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga.

Lampu kapal menyala terang di tengah kabut malam.

Sedangkan di bagian atas kapal, seorang pria bertubuh besar berdiri santai sambil memegang pagar besi... Victor.

Angin malam membuat jaket hitamnya berkibar pelan. Tato ular hitam di leher dan pundaknya terlihat samar di bawah cahaya kapal.

Pria itu tertawa keras begitu melihat Bara berdiri di dermaga.

“Bara Alexander!” teriaknya lantang dari atas kapal.

Tatapan Bara berubah sangat dingin.

Victor menyeringai lebar penuh ejekan. “Aku akan kembali!”

Suara tawanya menggema di area pelabuhan.

“Dan Aku harap kau selalu waspada!” lanjutnya keras. “Karena gadis yang bersamamu Itu…” Matanya menyipit tajam penuh ancaman. “Akan kurebut darimu!”

Tawa Victor kembali terdengar menyeramkan di tengah suara ombak dan mesin kapal. Dan detik itu juga, aura Bara berubah mengerikan.

Brakk!

Pria itu langsung melangkah maju ingin mengejar ke arah dermaga.

Namun Edwin cepat menahan lengannya kuat-kuat. “Bara!”

Tatapan Bara masih lurus pada kapal Victor dengan rahang mengeras penuh amarah. “Lepaskan.” suaranya rendah dan berbahaya.

“Tidak.” jawab Edwin tegas.

Bara langsung menoleh tajam.

Namun Edwin tetap menahan tubuh kakaknya. “Biarkan dia pergi. Dia sengaja memancingmu.” lanjut Edwin serius. “Kita tidak perlu mengejarnya sekarang.”

Tatapan Bara masih gelap penuh emosi.

Sedangkan kapal Victor semakin menjauh dari pelabuhan.

“Fokus kita sekarang bukan Victor.” lanjut Edwin rendah. “Kita harus kembali ke mansion.”

Bara terdiam.

Edwin menatapnya tajam. “Opa dan Rosline adalah orang yang paling terancam sekarang.”

Kalimat itu membuat rahang Bara kembali menegang.

“Karena mereka akan dijadikan kelemahanmu.” lanjut Edwin pelan namun tegas.

Angin malam kembali berhembus dingin di area dermaga. Sedangkan Bara masih diam menatap kapal Victor yang perlahan menghilang di tengah laut gelap.

Lalu akhirnya, dengan suara rendah penuh tekanan, Bara berkata, “tapi kenapa harus gadis itu…”

Edwin langsung menoleh.

Bara mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Dia bahkan bukan siapa-siapa untukku.”

Beberapa detik Edwin hanya diam. Lalu pria itu menghela napas pelan sebelum berkata, “Victor itu licik.”

Tatapannya berubah serius. “Dia akan menyakiti siapa pun yang berada di dalam lingkaran keluarga Alexander.” lanjutnya pelan. “Terutama Rosline.”

Bara perlahan menoleh.

“Karena dia wanita yang paling dekat denganmu sekarang.” gumam Edwin.

Suasana langsung hening. Kali ini Bara tidak bisa membantahnya.

Suasana dermaga masih terasa dingin dan menyesakkan setelah kapal Victor benar-benar menghilang di balik kabut laut malam.

Bara berdiri diam cukup lama. Tatapannya masih lurus ke arah laut gelap dengan rahang mengeras kuat.

Sedangkan Edwin perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan kakaknya sambil menghela napas.

“Dia berhasil memancing emosimu.” gumam Edwin pelan.

Bara tertawa kecil tanpa humor. “Aku tahu.”

Namun nada suaranya justru terdengar jauh lebih berbahaya sekarang.

Daniel mendekat hati-hati. “Tuan, kita sebaiknya segera kembali.”

Bara akhirnya mengalihkan tatapannya dari laut. Sorot matanya kini benar-benar dingin.

“Semua jalur keluar pelabuhan diawasi mulai malam ini.” perintahnya rendah. “Aku ingin seluruh pergerakan Black Viper dilaporkan langsung padaku.”

“Baik, Tuan.”

“Dan…” Bara berhenti sebentar. “Periksa semua orang yang bekerja di mansion.”

Edwin langsung menoleh.

“Kita punya tikus di dalam.” lanjut Bara dingin. “Victor tidak mungkin bisa masuk ke sistem mansion tanpa bantuan orang dalam.”

Suasana langsung berubah serius.

Daniel mengangguk cepat. “Saya akan mulai investigasi malam ini juga.”

Bara tidak menjawab lagi. Pria itu langsung berjalan menuju mobil dengan langkah berat namun cepat. Sedangkan Edwin diam beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti dari belakang.

Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Suara hujan tipis mulai terdengar membentur kaca mobil saat kendaraan melaju meninggalkan area pelabuhan.

Bara duduk diam sambil menatap keluar jendela. Namun pikirannya terus terngiang ucapan Victor tadi. Rahangnya kembali menegang.

Edwin yang duduk di depannya memperhatikan perubahan ekspresi itum “Kau mulai peduli padanya.” gumam Edwin tiba-tiba.

Tatapan Bara langsung terangkat tajam.

“Aku hanya tidak suka orang yang tidak bersalah terseret.” jawabnya dingin cepat.

Edwin tersenyum tipis kecil. “Kalau hanya begitu…” ia menyandarkan tubuhnya santai. “Kau tidak akan bereaksi seperti tadi.”

Bara tidak menjawab. Dan justru diamnya itu membuat Edwin semakin yakin.

Beberapa menit kemudian…

Mobil mereka akhirnya memasuki gerbang besar mansion Alexander lagi. Namun begitu turun dari mobil, Bara langsung berhenti. Tatapannya berubah tajam.

Karena seluruh mansion terlihat jauh lebih terang dari biasanya. Lampu keamanan menyala di setiap sudut halaman.

Dan di depan pintu utama mansion, Rosline berdiri di sana. Gadis itu memakai sweater putih besar dengan jas milik Bara yang masih tersampir di pundaknya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Sedangkan dua pengawal berdiri tidak jauh darinya.

Rosline langsung terlihat lega begitu melihat Bara turun dari mobil. “Tuan Bara…”

Langkah Bara otomatis berhenti beberapa detik.

Edwin yang melihat itu langsung menghela napas pelan.

Rosline buru-buru berjalan mendekat dengan wajah khawatir. “Apa kalian baik-baik saja?”

Tatapan Bara perlahan turun ke wajah gadis itu. Dan entah kenapa… rasa sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya sedikit mereda begitu melihat Rosline berdiri aman di depan mansion.

Namun detik berikutnya, wajah Bara langsung kembali dingin. “Aku sudah bilang kau tidak boleh keluar kamar sendirian.”

Rosline langsung salah tingkah. "A-aku hanya khawatir…”

“Khawatir?” ulang Bara rendah.

Rosline menggigit bibir pelan lalu mengangguk kecil. “Aku mendengar kalian benar-benar pergi mencari Victor.” suaranya mengecil. “Dan saya tidak bisa tidur…”

Suasana mendadak hening.

Edwin diam-diam menoleh ke arah lain sambil menahan senyum tipisnya sendiri.

Sedangkan Bara masih menatap Rosline beberapa detik tanpa bicara. Lalu akhirnya, pria itu menghela napas pelan sebelum berkata. “Aku tidak akan mati semudah itu.”

Rosline langsung menatapnya cepat.

Namun sebelum gadis itu sempat bicara lagi, Bara tiba-tiba melepas sarung tangan hitamnya lalu menepuk pelan kepala Rosline satu kali. Gerakan kecil yang begitu singkat. Namun cukup membuat Rosline langsung membeku kaget.

“Masuk.” ucap Bara rendah. “Udara malam sangat dingin.”

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!