NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Sisi Gelap Idol.

Korea Selatan—sebuah negeri yang tak pernah tidur dari sorotan lampu gemerlap, industri hiburan yang seakan menjadi nadi budaya pop dunia. Di atas panggung yang disinari ribuan lampu sorot, di mana sorak sorai penggemar menyatu dengan dentuman musik, berdiri sosok yang namanya telah menembus batas negara dan bahasa: Kim Namjunho.

Dia bukan sekadar idola. Junho adalah leader SOLIX—sebuah boy group fenomenal yang menjadi ikon global. Sebagai rapper utama, produser musik, sekaligus dancer, Junho memegang kendali tak hanya dalam ritme panggung, melainkan juga dalam arah seni kelompoknya.

Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya: karisma yang kuat, intelektualitas yang tajam, dan sikap yang tenang membuatnya dihormati, bahkan oleh orang-orang yang tak mengenal K-pop sekalipun.

Namun, Junho bukan satu-satunya cahaya dalam semesta SOLIX. Bersamanya ada enam bintang lain yang bersama-sama membentuk rasi yang tak tergantikan. Ada Seo Jinwoo, wajah menawan dengan senyum yang bisa membuat dunia seakan berhenti sesaat. Tapi di balik wajah sempurna itu, ia adalah penghibur sejati—si tukang bercanda yang selalu tahu cara meredakan tegangnya suasana latihan.

Ada juga Min Yoohan, dingin seperti musim dingin Seoul. Ia lebih banyak bicara dengan musiknya ketimbang dengan kata-kata. Studio adalah kerajaannya, dan di sanalah ia menyalakan bara yang membuat SOLIX tetap hidup.

Lalu Jung Hoseung, badai energi yang tak pernah surut. Ia menari bukan dengan tubuhnya semata, melainkan dengan seluruh jiwa. Tertawanya menular, keceriaannya jadi pelipur di hari-hari gelap.

Park Jihwan, menjadi member ke empat dia memiliki suara emas, lembut tapi menusuk. Setiap kali ia menyanyi, seakan ada luka yang perlahan dijahit, ada ruang kosong yang tiba-tiba terisi. Ia bukan hanya penyanyi, ia adalah penyembuh.

Setelah nya Choi Taeyang, sang penyanyi dengan dunia yang tak pernah bisa ditebak. Kadang ia berbicara tentang hal-hal absurd, kadang ia tiba-tiba melontarkan kalimat puitis. Di panggung, suaranya penuh karakter, tak pernah bisa dilupakan.

Dan akhirnya, Jeon Kiyoon, si bungsu. Polos, jenius, dan penuh bakat. Dari rap ke vokal, dari menari ke mencipta lagu—semuanya ia lakukan seakan itu bawaan lahir. Bagi para member, Kiyoon bukan sekadar adik, ia adalah harta yang tak ternilai.

Mereka bertujuh adalah SOLIX, phoenix yang selalu bangkit dari api. Setiap lagu mereka adalah nyala, setiap konser adalah kebangkitan. Dunia melihat mereka sebagai legenda hidup, tapi di balik semua itu ada kisah manusiawi—tentang luka, perjuangan, cinta, dan kesepian.

Di balik sorotan cahaya yang gemerlap itu, Junho adalah pria yang jauh lebih kompleks. Sorot matanya yang tegas menyimpan kerentanan, dan di balik senyumnya yang meyakinkan, ada beban besar yang dipanggulnya sebagai seorang pemimpin. Dunia hanya melihat sosok bintang, tetapi hanya sedikit yang tahu: ia adalah manusia yang sesungguhnya—dengan luka, mimpi, dan kerinduan yang tak pernah benar-benar diungkapkan.

Di ruangannya yang luas di sebuah apartemen mewah di pusat Seoul, Junho duduk di depan meja kerjanya, menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Matanya yang biasanya penuh semangat kini terlihat lelah, seakan kelelahan yang datang bukan hanya karena fisik, tetapi juga karena beban pikiran yang tak kunjung reda.

Pekerjaan, jadwal padat, dan ekspektasi yang terus menekan dirinya sebagai seorang idol—itu semua menyatukan dalam kepalanya, menciptakan suatu kekosongan yang sulit untuk dijelaskan.

Junho menghela napas panjang, mencoba mengusir perasaan lelah itu. Dia meraih secangkir kopi hangat yang terletak di samping meja, namun sebelum ia sempat meneguknya, suara pintu terbuka. Seorang manajer muda masuk, membawa beberapa dokumen dan jadwal yang harus dipenuhi Namjoon hari itu.

"Junho-ssi, ini jadwal untuk hari ini, dan kita harus segera bersiap untuk wawancara dengan media," kata manajer SOLIX tersebut dengan cepat, tanpa banyak basa-basi.

Pria berusia sekitar 40 tahun itu bernama Han sungwoo, yang sudah lama menjadi manajer SOLIX. Junho mengangguk perlahan, matanya masih tidak lepas dari layar.

"Baiklah, terima kasih," jawabnya datar.

Manajer Han memperhatikan ekspresi Junho yang kosong dan sedikit khawatir, namun tidak berani bertanya lebih jauh. Dia tahu betul betapa kerasnya tekanan yang dihadapi Junho sebagai idol. Semua orang menginginkan sesuatu darinya, namun tak ada yang benar-benar tahu apa yang Junho butuhkan.

Sambil menatap ke luar jendela, Junho mulai berpikir tentang hal-hal yang lebih pribadi. Tentang kehidupan yang mungkin telah terlewatkan begitu saja, tentang perasaan yang sering ia pendam di dalam hati. Sebagai idol, dirinya dituntut untuk selalu menunjukkan yang terbaik—sebuah citra sempurna yang tidak boleh tergoyahkan.

Tetapi, di dalam dirinya yang terdalam, Junho merindukan sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang tidak bisa ia temukan di dunia gemerlap yang selalu mengelilinginya.

Tiba-tiba, pikirannya teralihkan oleh suara ponselnya yang berdering. Itu pesan dari agensinya, mengingatkan jadwal berikutnya. Junho menekan tombol dengan sigap, tapi matanya tidak bisa lepas dari layar ponselnya yang menampilkan beberapa notifikasi dari penggemar yang terus-menerus mengiriminya pesan.

Namun, di antara banyaknya pesan itu, ada satu pesan yang menarik perhatian Junho. Sebuah pesan singkat yang muncul dari akun anonim, yang menulis, "Terus lakukan yang terbaik, tapi jangan lupa untuk bahagia." Itu membuat Junho tertegun sejenak.

Pesan yang sangat sederhana, namun entah mengapa, kata-kata itu terasa menyentuh jiwanya. Dia menatap layar ponselnya lebih lama, mencoba mencari tahu siapa yang mengirimkan pesan itu, namun tidak ada informasi lebih lanjut.

"Siapa ini?" gumamnya pelan, meskipun dia tahu tidak ada jawaban yang akan datang.

Tanpa pikir panjang, Junho menyimpan pesan itu. Sepertinya, dia butuh sesuatu—atau seseorang—yang mengingatkannya akan kebahagiaan yang lebih dari sekadar kesuksesan atau pujian.

Tak lama kemudian, manajer Han kembali masuk untuk mengingatkan Junho bahwa waktunya hampir habis, dan ia harus segera menuju ke lokasi wawancara. Junho bangkit dari kursinya, mengenakan jas hitam yang selalu membuatnya terlihat sempurna di depan kamera.

Dia membereskan beberapa barang yang akan dia bawa, namun tiba-tiba saat mengambil tas nya dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku, awal nya dia ingin mengabaikan nya karena di sana memang terbiasa banyak buku bergeletak. Namun saat melihat sampul nya dan judul yang tertera Junho segera menunduk mengambil buku yang terjatuh ke bawah meja itu.

"A Thread Unbroken"

Tanpa sadar Junho tersenyum lalu memasukkan buku tersebut kedalam tas nya,  Junho melangkah keluar dari ruangannya dengan langkah tegas, meskipun hatinya sedikit bergejolak. Setelah beberapa menit, dia tiba di mobil yang telah menunggu di luar apartemen nya.

Di dalam mobil mewah itu, suasana terasa sunyi. Manajernya duduk di kursi depan, sibuk dengan telepon dan jadwal yang harus dipenuhi, sementara Junho duduk di kursi belakang, melamun.

Cukup lama dia diam, hingga akhirnya mengeluarkan buku tersebut, buku bersampul krem dengan cover sederhana, hanya seutas benang merah lalu judul dan nama penulis. Dia membuka kembali buku tersebut, membaca beberapa kata dan pandangan jatuh terpaku pada halaman utama di catatan penulis.

"In this world, there are bonds that can never truly be severed—no matter how great the distance, no matter how many years have passed."

"Pemikiran yang dalam dan indah, aku tak salah memilih nya..." Batin nya membaca berulang kali kalimat tersebut ada sesuatu yang mulai bergema.

Sebuah perasaan yang tidak bisa ia hindari—perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, yang tiba-tiba hadir tanpa diduga. Mungkin, perasaan ini datang dari suatu tempat yang lebih dalam daripada sekadar kekaguman. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Perjalanan menuju kantor agensi LYNX Entertainment tidak begitu lama, tetapi rasanya waktu berjalan begitu lambat. Junho memandang keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh, namun terasa jauh dari dirinya.

Dunia yang dia kenal, dunia yang penuh sorotan dan ekspektasi, sering kali membuatnya merasa terasing. Semua yang dia lakukan, semua yang dia capai, selalu dilihat oleh orang lain. Dan semakin tinggi dia berada, semakin besar pula tekanan yang dia rasakan.

"Hyung, acara penghargaan itu... Acaranya kapan?" Tanya Junho memecahkan keheningan, manajer Han menoleh ke belakang lalu berkata.

"Di jadwalkan 3 hari lagi, karena beberapa pemenang dari beberapa negara ada keterlambatan. Kau terlihat bersemangat sekali Junho-ssi?" Ujar nya yang membuat Junho mengangguk, entah kenapa dia begitu menanti acara itu.

"Entahlah Hyung, aku memang menunggu acara ini," ujar nya yang membuat manajer Han menoleh lagi.

"Mungkin karena kau tidak sabar melihat penulis pilihan mu itu," kata nya setengah menggoda Junho, namun Junho tidak menanggapi apapun lagi, dia hanya diam dan tersenyum tipis.

Junho memang terpilih menjadi juri tamu di acara tahunan tersebut, dan dia di perbolehkan memilih peserta yang akan di berikan penghargaan itu, banyak kandidat yang di tawarkan dan satu satunya yang Junho pilih adalah cerita itu, entah kenapa dia menyukai isi cerita tersebut.

════ ⋆★⋆ ════

Tak lama mobil berhenti di depan gedung agensi LYNX Entertainment yang tampak megah. Junho keluar dari mobil dan langsung disambut oleh staf yang menunggunya di pintu.

Mereka menyapanya dengan senyuman dan sapaan yang penuh rasa hormat, namun Junho hanya membalas dengan anggukan kecil. Dia bukan orang yang suka berbasa-basi, dan suasana formal ini mulai terasa semakin mengekang.

Di dalam ruangan meeting yang besar, seluruh tim manajer dan produser sudah berkumpul menunggu kedatangannya. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang sudah lama bekerja dengannya, sementara yang lainnya lebih baru dan lebih fokus pada pengelolaan proyek album yang sedang dalam proses.

"Junho-ssi kami sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk album baru ini," kata salah satu produser utama, Mr. Lee, yang duduk di ujung meja. "Kita membutuhkan konsep yang kuat untuk album ini, sesuatu yang bisa menarik perhatian pasar internasional," Ujar nya yang membuat Junho mengangguk, tetapi ada kelelahan yang terlihat jelas di wajahnya.

"Aku mengerti, tapi aku ingin sesuatu yang lebih pribadi di album ini. Sesuatu yang bukan hanya tentang kesuksesan atau citra, tetapi lebih ke perasaan yang sebenarnya. Apa yang ada di dalam hati," Ujar nya singkat.

Tim di sekelilingnya saling berpandangan. Mereka semua tahu betul bahwa junho selalu ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar lagu hits. Namun, dalam industri ini, pencapaian komersial adalah hal yang tak bisa diabaikan.

"Junho-ssi, kita tahu kamu punya banyak pesan yang ingin disampaikan, tapi kita juga harus mempertimbangkan audiens kita, kami harus memastikan bahwa album ini dapat diterima dengan baik oleh pasar internasional. Itu berarti kita harus tetap menjaga keseimbangan antara pesan pribadi dan tren musik global," kata manajer utama, Ms. Kim, dengan suara tegas, Junho yang mendengar itu hanya menghela napas panjang.

"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa hanya mengikuti tren. Musik adalah tentang kejujuran. Aku ingin album ini menjadi cerminan diriku, bukan hanya apa yang orang lain ingin dengar. Lagipula ini album solo ku, aku ingin jiwa ku ada di sini. Aku tidak masalah jika album grup mengikuti standar trend," ujar Junho yang membuat beberapa orang saling pandang.

Perdebatan itu berlangsung cukup lama, dengan setiap anggota tim memberikan pendapat mereka. Namun, di tengah diskusi yang semakin memanas, Junho tiba-tiba terdiam, pikirannya teralihkan oleh sesuatu yang lebih dalam.

"Junho-ssi, apa pendapatmu tentang tema utama album ini?" panggil Mr. Lee, menarik perhatiannya kembali.

Junho menatap kosong ke arah meja, mencoba merangkai kata-kata yang tepat.

"Aku ingin album ini menceritakan tentang perjalanan hidup, tentang kesendirian, dan bagaimana kita mencari arti dalam dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk. Tapi di balik semua itu, aku ingin menunjukkan bahwa meskipun kita merasa sendirian, kita tetap bisa menemukan kebahagiaan, meski tak selalu datang dengan cara yang mudah. Aku ingin menunjukkan arti penantian dan tempat pulang yang benar benar rumah," ujar nya yang membuat semua yang hadir di ruangan itu terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Junho.

Dia tahu bahwa ini adalah tema yang cukup berat, namun itu adalah apa yang ia rasakan saat ini. Kehidupan sebagai idol telah memberinya segalanya, tetapi ada sesuatu yang hilang—sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar kesuksesan.

"Ini... ide yang menarik, Namun, kita  tetap perlu memastikan agar tema ini tetap bisa diterima dengan baik oleh penggemar. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelaraskan visi kamu dengan pasar," kata Ms. Kim setelah beberapa detik.

Junho mengangguk pelan, meskipun hatinya merasa berat.

"Baiklah, kita lanjutkan dengan itu," Jawab nya pelan.

Setelah beberapa jam diskusi tentang konsep album, lagu-lagu, dan strategi pemasaran, akhirnya rapat selesai. Junho keluar dari ruang rapat dengan perasaan campur aduk. Proyek album baru ini mungkin akan menjadi pencapaian besar baginya, tetapi dia tahu bahwa itu tidak akan menyelesaikan kekosongan yang ia rasakan.

Di luar gedung, udara siang terasa dingin. Junho berjalan menuju mobilnya, pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Apa yang sebenarnya ia inginkan dari hidup ini? Apa yang bisa membuatnya merasa utuh kembali.

"Iya Hyung, aku akan ke sana."

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!