Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
[16] Sakit
Karena mereka hanya punya waktu hari minggu untuk mengerjakan tugas kelompok sedang akan dikumpulkan hari selasa, keempatnya belajar hingga pukul enam sore. Kalau saja Bina tidak mengatakan sudah hampir jam enam, mungkin mereka masih melanjutkan karena tidak tahu nyatanya hari sudah sore.
Lagipula Bumi juga harus masuk kerja dan sudah telat. Mereka buru-buru membereskan ruang tamu yang penuh buku dan remah-remah makanan ringan.
"Bum, lo siap-siap aja deh. Mau kerja kan? Kami aja yang bereskan." Langit mendongak pada Bumi seraya mengumpulkan sampah makanan mereka.
"Benar Bum. Ini buku-buku gue deh yang beresin." Bina yang tengah menutup laptop menyeletuk.
"Gak apa-apa. Gue bantu beresin."
"Mereka benar Bumi. Lo bisa kena marah kalau telat. Udah serahin aja ke kami. Ganti baju terus sono pergi." Liam mengusir si empu
Rumah.
Bumi melirik jam. Saran mereka ada benarnya juga. Ia kemudian mengangguk dan buru-buru ke kamar untuk ganti baju dan bersiap-siap.
Langit membawa sampah dalam pelukannya menuju dapur rumah Bumi.
Dapur rumah itu tidak terlalu besar, tapi sangat bersih. Barang-barang juga tertata rapi. Ia mengedarkan pandang melihat keberadaan tempat sampah.
Hingga tempat sampah berwarna abu-abu itu berada di dekat kulkas. Ketika hendak membuang sampah itu, langit mengernyit menemukan sebuah foto yang sobek.
Ia berjongkok. Mengambil foto tersebut
dan menatap seorang pria memakai Tuxedo putih namun wajahnya tidak jelas karena penuh coretan hitam. Hanya setengah foto. Sedang bagian lainnya hilang. Langit menduga itu adalah foto papa Bumi. Tapi kenapa dibuang?
Ia buang sampah tadi. Lalu meletakkan foto tersebut di atas meja makan. Tidak ingin terlalu ikut campur, Langit segera menyudahi kekepoannya dan mengambil sapu. Ia kembali balik untuk membersihkan remah makanan
Yang berserakan.
Liam dan Bina sudah selesai membereskan buku-buku mereka.
ya?" "Ngit, buku lo udah gue taruh dalam tas
Langit mengacungkan jempol. Ia lekas menyapu ruang tengah dari dalam ke luar.
Bumi kemudian turun selang beberapa detik.
"Muk, gak udah disapu. Ntar pulang kerja gue beresin." Bumi memakai jam tangannya, cowok itu sudah memakai jaket kulitnya.
"Dikit kok." Langit tidak memperdulikan.
Bumi memperhatikan lalu mengangguk saja. Ia tunggu sebentar Langit hingga selesai. Karena Bumi harus pergi, ketiganya langsung keluar untuk pulang. Langit kelabu berwarna abu kehitaman menyambut mereka di luar.
"Yah kayaknya mau hujan," ujar Bina.
"Buruan pulang kalian. Biar gak kehujanan," pesan Liam pada kedua cewek itu.
"Iya. Ini papa gue juga udah nelfon. Mama juga." Langit melirik layar ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab. Kedua orang tuanya pasti bertanya-tanya jika anak gadisnya jam enam belum ada di rumah.
"Duluan ya Bum, Liam." Bina melambaikan tangannya dan melangkah duluan ke motornya. Langit lekas menyimpan ponselnya ke tas sebelum ikut pamit. Ia melihat Bumi sesaat teringat foto tadi. Langit hendak bicara tapi ia urungkan.
"Bye gaiss!" Hanya itu pada akhirnya kalimat yang dia ucapkan. Kedua cowok itu memberi anggukan.
"Hati-hati. Kabarin kita kalau udah sampai rumah."
Keduanya mengacungkan jempol. Motor Bina melaju meninggalkan kawasan rumah Bumi usai memberikan klakson. Seperginya mereka, Bumi dan Liam juga bersiap.
Di atas motor, Langit yang biasanya akan berceloteh mengajak Bina ngobrol, kini mengheningkan cipta. Dia diam karena memikirkan satu hal yang tidak sengaja dilihat tadi.
Sungguh Langit jadi kepo sama Bumi
Bumi kerja
Bantu ibunya yang sakit.
Rumahnya sepi
Tidak ada foto ayahnya Bumi. Terus dia
Juga melihat foto pria yang dicoret. Juga saat hari itu mata Bumi merah.
Ada apa sebenarnya sama Bumi?
Eh tunggu kenapa Langit penasaran sih?
"Woi Ngit. Lo dengar gue gak sih?"
teriakan Bina menyentaknya dari lamunan mengenai Bumi. Langit mengerjap dan saat itu baru sadar air hujan turun mengenai mereka.
"Kenapa Bin kenapa?"
"Hujan nih. Gimana? Lanjut gak?"
Langit mendongak dan mengadahkan tangannya. Ia menatap rintik yang jatuh ke telapak tangannya. Tidak terlalu deras juga tidak gerimis.
"Lanjut gimana Bin? Ntar makin kesorean. Mak bapak gue udah nelfonin kesayangannya ih ini."
Bina melirik jam tangannya yang sudah basah kena air. Dia mengangguk setuju. "Boleh dah. Gue juga mesti cepat. Kayaknya hujannya bakal lama."
"Skuy gaskuen!"
Motor kembali melaju membelah jalanan yang kian basah. Butuh dua puluh menit di
Perjalanan hingga motor Bina berhenti di depan rumahnya. Gadis itu langsung balik kiri. Engan mampir karena sudah maghrib.
Seperginya Bina. Langit menatapi tubuhnya yang basah. Ia memeluk diri. Dingin. Langit lalu melepaskan tasnya yang anti air, menentengnya ke dalam. Siap-siap saja kena marah. Hujan-hujanan sih!
"Assalamu'alaikum! Langit pulang.... " Dia mendorong pintu. Saat melihat ke arah ruang tamu. Ada Ezhar dan juga loh ... Biru? Keduanya baru bangkit dari duduk mereka di ruang tamu.
Langit mengerjap melihat Biru yang tampak tampan dengan celana jeansnya dan kaus hitam polos. Pria itu juga tengah menatapnya. Melihat Biru membuat rasa dingin akibat hujan kini berganti hangat. Sedahsyat itu.
"Kak Langit kenapa gak bilang papa aja minta jemput? Kok hujan-hujanan?"
Suara Ezhar membuatnya sadar dan mengalihkan perhatian.
"Kak Langit rumahnya basah. Di sana dulu. Mama bawain handuk. " Orlin tiba-tiba datang. Langit cengcesan. Dia memberi
Perjalanan hingga motor Bina berhenti di depan rumahnya. Gadis itu langsung balik kiri. Engan mampir karena sudah maghrib.
Seperginya Bina. Langit menatapi tubuhnya yang basah. Ia memeluk diri. Dingin. Langit lalu melepaskan tasnya yang anti air, menentengnya ke dalam. Siap-siap saja kena marah. Hujan-hujanan sih!
"Assalamu'alaikum! Langit pulang.... " Dia mendorong pintu. Saat melihat ke arah ruang tamu. Ada Ezhar dan juga loh ... Biru? Keduanya baru bangkit dari duduk mereka di ruang tamu.
Langit mengerjap melihat Biru yang tampak tampan dengan celana jeansnya dan kaus hitam polos. Pria itu juga tengah menatapnya. Melihat Biru membuat rasa dingin akibat hujan kini berganti hangat. Sedahsyat itu.
"Kak Langit kenapa gak bilang papa aja minta jemput? Kok hujan-hujanan?"
Suara Ezhar membuatnya sadar dan mengalihkan perhatian.
"Kak Langit rumahnya basah. Di sana dulu. Mama bawain handuk. " Orlin tiba-tiba datang. Langit cengcesan. Dia memberi
Anggukan dan berdiri saja nunggu mamanya.
"Dapat hujan di jalan Papa," ucapnya menjawab pertanyaan Ezhar tadi. Langit curi pandang sama Biru.
"Kak Biru mau makan malam di rumah Langit?" Ia terus terang bertanya.
"Enggak. Ada yang dibahas sama papa." Ezhar yang memberi jawaban.
"Papa bahas apa sama kak Biru?"
"Urusan orang dewasa sayang." Orlin datang membawa handuk. "Cepat gih ganti baju, nanti kak Langit malah sakit."
Langit menerima handuk itu dan menutup tubuhnya yang basah. "Enggak kok. Langit mah ku- hachim!"
Baru dibilang. Ia bersin-bersin. Langit mudah sakit jika hujan-hujanan. Itu salah satu kelemahannya.
"Mandi air hangat aja. Mama buatkan teh panas ya? Habis itu sholat, ngaji dan makan malam. Hari ini tidurnya cepat kak. " Orlin membawanya masuk ke dalam rumah. Langit nurut. Ia mengusap hidungnya. Tapi matanya lirik Biru, sayangnya Biru udah buang wajah.
Ia mengerucutkan bibirnya.
"Makasih ya Om. Kalau begitu saya ke sebelah dulu."
"Hm. Bawa payung ini. Biar gak basah."
Obrolan keduanya masih terdengar, tapi samar. Langit menatap mamanya kepo.
"Memang bahas apa sih Ma? Kok penting banget kayaknya."
"Udah. Kak Langit cepat aja mandi. Gak usah kepo."
Langit mencebik. Abis sih Biru gak biasanya main ke rumahnya. Eh tunggu! Langit tiba-tiba menghentikan langkah. Bagaimana jika Biru mengatakan soal balapan
malam itu?
Matanya menatap panik Orlin.
***
Langit terus bersin-bersin selesai mandi.
Orlin dan Ezhar sampai khawatir dia akan sakit. Tapi Langit menyakinkan mereka dia baik-baik saja. Setelah makan malam dia disuruh langsung istirahat. Untungnya tidak ada pembahasan mengenai balapan. Langit cukup lega akan hal itu. Artinya Biru tidak mengatakan apapun. Tapi kenapa ya Biru datang ke rumah. Ngobrol lagi sama papa.
Langit merebahkan tubuhnya di kasur dan menyelimuti dirinya. Dia yang hendak memejamkan mata kemudian melirik ponsel di atas nakas. Langit lekas mengambil benda itu. Membuka WhatsApp notif masuk malah banyak dari Bumi.
Bumi Luknut
[Muk, lo udah di rumah kan?]
[Kena hujan gak?]
[Muk balas woi!]
[Aman kan lo?]
[Aelah malah gak aktif]
[Muk?]
[Zainab?]
[Maimun?]
[Kabarin gue kalau udah aktif]
Langit berdecak. Usai balas chat Bumi, dia langsung membuka chatnya dengan Albiru. Chat terakhir perihal dia kasih sesuatu di depan pintu sih cuman dibaca.
Oh iya Langit tiba-tiba ingat cewek yang sama Biru tadi. Dia menghela nafas. Langit memutar otak. Apa yang kiranya bisa buat
Dokter dingin itu membalas chatnya langsung.
Teringat sesuatu. Langit mengulas senyum dan mengetikkan kalimat.
Calon suami
[Kak Biru?]
[Langit bersin-bersin abis hujan-hujanan.]
[Kayaknya langit bakal demam deh]
Calon suami sedang mengetik....
Langit berjingkrak senang dan loncat-loncat di atas kasur. Ia menatap kolom chat menunggu pesan masuk Biru.
[Badannya panas?]
Langit sontak menyentuh dahinya.
[Dingin kok]
[Langsung tiduraja. Minum teh hangat]
[Hoo gitu ya kak Biru. Udah kok. Tadi udah dibuatkan mama]
[Oke]
[Kak Biru?]
[Apa?]
[Marah gak sama Langit?]
[Gak]
[Eh beneran?]
[Hm]
[Aaa makasi Kak Biru]
[Ngomong-ngomong Langit mau tanya dua hal sama kak Biru. Boleh ya?]
[Gak]
[Kak Biru bahas apa sama papa?]
Dibilang tidak, dia malah tetap bertanya. Abis Langit sangat penasaran.
[Saya gak akan bilang tentang balapan malam itu]
[Kenapa gak di bilang aja?]
[Bukannya kamu yang minta?]
[Tapi kan Kak Biru bisa aja bilang Papa]
[Nanti! Kalau saya lihat lagi. Saya bilang]
Langit tersenyum akan jawaban Biru.
[Kak Biru sepeduli itu ya sama Langit? Kak Biru gak mau Langit dimarahin Kan?]
[Saya lebih kasihan jika Papa kamu marah terus]
[Bilang aja karena peduli sama Langit kak Biru]
[Kamu mending tidur daripada menghalu]
Langit mengerucutkan bibirnya.
[Tapi kak Biru. Langit masih ada pertanyaan satu lagi]
[Buruan]
[Kak Biru diam-diam udah nikah ya?]
[Memang kenapa?]
[Tadi Langit lihat kak biru sama cewek di CFD. Kayaknya dekat banget. Sampai sentuhan. Dia siapa Kak Biru?]
Hanya di read. Langit menunggu beberapa detik. Tidak ada balasan hingga menit berikutnya. Padahal masih online.
Langit menghela nafas. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Netranya melirik arah kamar Biru.
Kok gak dijawab sih?
***
"Langit ayo bangun!"
Orlin mengetuk kamar putrinya. Tidak ada sahutan apapun dari dalam.
Loh." "Sayang... ayo nanti telat. Hari ini upacara
Dia menarik engsel. Pintu tidak terkunci. Ia menghela nafas melihat Langit yang masih tidur nyenyak. Orlin berkacak pinggang dan hendak membangunkan. Tapi niatnya batal saat mendengar gigauan pelan dari bibir putrinya yang tampak pucat.
Dahi Langit juga berkeringat. Raut Orlin menjadi panik. Dia menempelkan punggung tangannya dan merasakan panas.
"Kak Langit?" Orlin mengusap lembut kepala Langit. Gadis itu hanya bergumam namun matanya masih masih terpejam. Dia singkap selimut yang menutupi tubuh Langit. Badannya panas.
Orlin buru-buru turun mengambil kain dan air. Mengompres putrinya. Ezhar yang baru keluar kamar usia sholat dan melihat istrinya terburu ke dapur lekas mengikuti.
"Kenapa sayang?"
"Langit badannya panas Mas." Dengan cekatan Orlin mengambil baskom kecil, air dan kain. Raut Ezhar berubah.
"Panasnya tinggi?"
"Tinggi Mas. Pucat. Langit mengigil."
Kalau anak sudah sakit, Orlin bawannya terus panik. Ia takut kenapa-kenapa. Walau Langit memang suka demam jika abis hujan-hujanan.
Ezhar memutar langkah ke kamar Langit di lantai dua untuk melihat langsung. Orlin menyusul membawa kompres.
"Mas perlu periksa dokter enggak?"
Ezhar menarik tangannya usai menyentuh dahi dan leher Langit. Putri mereka masih tidak terjaga.
"Gak usah sayang. Coba kompres dulu. Kasih paracetamol juga. Kalau besok gak turun juga. Baru kita periksa."
Orlin memberikan anggukan. "Ya udah Mas. Mas boleh tolong bangunin si kembar gak Mas? Orlin urus Langit dulu."
"Boleh sayang. Biar Mas yang siapkan sarapan juga."
Orlin tersenyum lega. Ezhar memang bisa diandalkan. Dia memberi anggukan.
***
Bumi mengabsen teman-temannya yang berdiri di barisan kelas IPS 3 pada upacara pagi
Ini. Upacara sudah mulai beberapa menit lalu, tapi ada yang belum terlihat.
Langit.
Ke mana gadis itu?
Bumi engan bertanya pada Bina yang malah ngobrol di barisan tengah sama Tasya.
Karena tubuhnya tinggi, Bumi mencoba melihat ke barisan para siswa yang tidak membawa salah satu atribut upacara. Dasi dan topi. Tapi di sana tidak ada keberadaan Langit.
Apa telat?
Dia rasa ya. Pilihannya hanya itu. Jika tidak ada di barisan. Ya paling Langit lahi-lagi terlambat! Seperti yang sudah-sudah.
Bumi memilih mengikuti upacara dengan bosan. Tidak ada yang bisa dia ganggu saat ijin untuk mengalihkan bosannnya. Biasanya dia berdiri dekat barisan Langit dan menjadikan gadis itu tempat kegabutannya.
Jika tidak menarik-narik ujung jilbab Langit menarik tali sepatu gadis itu ataupun sengaja menjatuhkan topi Langir hingga wajah Langit berubah kesal.
Mereka sampai sering kena tegur anak OSIS yang berjaga karena tidak bisa tenang.
Upacara selesai. Barisan dibubarkan. Para siswa memasuki kelas masing-masing untuk memulai pelajaran pertama. Satu jam terlewati, jika biasanya yang telat di akan menunggu jam kedua masuk karena dapat ceramah sekaligus hukuman, Langit belum juga menampakkan dirinya.
Hal itu membuat Bumi lekas mengambil ponselnya diam-diam di saat guru menerangkan. Ia mengetikkan spam chat. Sayangnya Langit sudah tidak online sejak pukul 21.00 semalam.
Tumben.
Apa gadis itu bolos karena telat?
Tapi tidak mungkin. Langit sekarang patuh. Sudah jarang kabur dari jam pelajaran apalagi bolos seharian.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Bumi lekas mendongak cepat. Ia membuang nafas kala melihat malah guru BK yang berdiri di ambang pintu.
"Permisi Buk."
"Iya Pak Ego. Kenapaa?"
"Ini ada titipan surat dari papa Langit. Izin
Karena Langit lagi sakit."
Nama Langit membuat telinga Bumi jadi nyaring mendengarkan. Ia menatap Pak Ego yang menyerahkan surat dan diterima Buk Susi. Beliau memberi anggukan.
"Pantas saja Langit absen. Saya kira telat atau bolos."
"Baru saja papa nya antar surat Buk. Lagipula Langit udah jarang bolos sekarang."
"Baiklah. Terima kasih Pak Ego."
Bumi melihat layar ponselnya lagi. Ia mengetikkan balasan. Pantas saja Langit tidak masuk. Apa demam karena hujan kemarin?
Cewek galak
[Muk, lo sakit??]
[Kok bisa?]
[Gue kira sekelas sakit segan sama lo]
[Jangan lama-lama libur. Ingat lo harus ngalahin gue]
Setelah mengetikkan pesan. Bumi menyimpan ponselnya. Hari ini akan membosankan.