Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Rumah Kedua
Meng Wu mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka, memperlihatkan suasana di dalam kamar yang jauh lebih sunyi dibandingkan bagian rumah lainnya. Cahaya masuk dengan lembut melalui jendela, namun tidak cukup untuk menghilangkan kesan rapuh yang menyelimuti ruangan itu.
Di atas ranjang, seorang gadis terbaring.
Wajahnya pucat, napasnya lemah, dan tubuhnya tampak tidak memiliki kekuatan, seolah setiap gerakan pun menjadi beban baginya.
Meng Wu langsung melangkah mendekat tanpa ragu, lalu duduk di samping ranjangnya. “Mei Ling,” panggilnya pelan, suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
Gadis itu perlahan membuka matanya.
Gerakannya lambat, namun ia tetap berusaha fokus. “Guru… sudah datang…?” ucapnya lemah, suaranya hampir seperti bisikan.
Meng Wu mengangguk kecil. “Aku baru saja kembali dari Aula Besar, dipanggil oleh Ketua Sekte,” jawabnya tenang.
Mei Ling mengangguk pelan, seolah memahami meski kondisinya tidak sepenuhnya baik. “Oh… begitu…” balasnya lirih.
Dengan usaha yang terlihat jelas, ia perlahan mengangkat tubuhnya dan duduk di atas ranjang, napasnya sedikit tersengal, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap sadar.
Mei Ling perlahan mengalihkan pandangannya, matanya yang masih lemah akhirnya tertuju pada Long Chen yang berdiri di dekat pintu. Dengan suara pelan, ia bertanya, “Guru… dia siapa?”
Meng Wu menjawab dengan tenang, “Mulai sekarang dia adalah bagian dari kita, dan dia telah menjadi anggota Divisi Pedang Petir.”
Long Chen segera menunduk dengan sopan, sikapnya penuh hormat meski masih sedikit canggung. “Namaku Long Chen, salam kenal, senior,” ucapnya pelan.
Mei Ling tersenyum lemah, senyum yang tipis namun tulus. “Namaku Mei Ling… salam kenal juga…” jawabnya dengan suara lembut, meski jelas masih menahan rasa sakit.
Long Chen menatap Mei Ling dengan lebih lembut, melihat kondisi gadis itu yang jelas sedang berjuang menahan rasa sakit. Ia sedikit menunduk, suaranya terdengar tulus. “Aku harap… senior cepat sembuh, ya,” ucapnya pelan.
Mei Ling membalas dengan senyum tipis, meski wajahnya masih pucat, kehangatan tetap terlihat di matanya. “Terima kasih… junior Long Chen,” jawabnya lembut.
Tiba-tiba Ling Er melihat sesuatu di atas meja kecil di samping ranjang. “Eh?” ucapnya pelan sambil mengambil sebuah mangkuk.
Ia menyentuhnya sebentar, lalu sedikit mengernyit. “Makanannya masih hangat…” katanya heran.
Ling Er kemudian menoleh ke arah Mei Ling, tatapannya penuh kebingungan sekaligus kekhawatiran. “Kenapa belum dimakan, Senior Mei Ling?” tanyanya dengan nada lembut.
Mei Ling terdiam sejenak.
Senyumnya tidak berubah, namun tidak ada jawaban yang langsung keluar.
Ling Er menghela napas pelan, ekspresinya berubah menjadi sedikit murung. “Sayang sekali…” gumamnya lirih, jelas merasa kasihan.
Ling Er lalu duduk di samping Mei Ling dengan gerakan hati-hati, wajahnya berubah serius meski usianya masih kecil. “Kau harus makan teratur, kalau tidak penyakitmu akan semakin parah,” ucapnya dengan nada yang lembut namun tegas.
Ia mengambil sendok, lalu mendekatkan mangkuk itu dengan penuh perhatian. “Ayo, aku suapi, Senior,” lanjutnya.
Mei Ling sedikit menggeleng, suaranya pelan dan lemah. “Tidak usah…”
Namun Ling Er langsung mengerutkan kening dan menggeleng cepat. “Tetap harus makan, Senior, supaya cepat membaik,” katanya dengan nada lebih tegas, kali ini tidak memberi ruang untuk penolakan.
Akhirnya, Mei Ling menyerah.
Ia membuka mulut perlahan dan menerima suapan itu, meski gerakannya masih terlihat lemah.
Meng Wu yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan nada lembut, “Beristirahatlah yang cukup. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk latihan, tunggu sampai kondisimu benar-benar membaik, baru lanjutkan lagi.”
Ia menambahkan dengan tenang, “Jaga kesehatanmu.”
Mei Ling mengangguk pelan, matanya sedikit terpejam sebelum kembali terbuka. “Baik, Guru…” jawabnya lirih.
Meng Wu perlahan berdiri dari sisi ranjang, sikapnya kembali tenang namun tetap membawa wibawa. “Baiklah, kalau begitu kita keluar dulu. Aku masih harus memperkenalkan Long Chen kepada yang lain,” ucapnya dengan nada ringan.
Ia memberi isyarat halus sebagai tanda berpamitan kepada Mei Ling dan Ling Er, lalu melangkah menuju pintu.
Long Chen ikut berbalik, namun sebelum benar-benar keluar, ia sempat menoleh ke belakang.
Pandangan mereka bertemu.
Mei Ling tersenyum tipis kepadanya, senyum yang lemah namun tulus.
Long Chen membalas dengan anggukan kecil.
Mereka keluar dari kamar dengan langkah pelan, lalu berjalan menyusuri lorong menuju dapur. Suasana kembali berubah, dari ketenangan yang rapuh menjadi kehangatan yang lebih hidup seiring mereka mendekati sumber aroma makanan yang menggoda.
Di dapur, dua orang tampak sibuk memasak.
Uap hangat mengepul dari panci, sementara suara alat masak beradu pelan menciptakan suasana yang terasa akrab.
Mereka adalah Mo Fan dan Shi Hao.
Begitu melihat Meng Wu masuk, keduanya langsung berhenti dari aktivitas mereka dan mendekat dengan cepat.
“Guru!” seru mereka hampir bersamaan.
Mo Fan tersenyum, ekspresinya lega melihat gurunya kembali. “Guru sudah kembali,” ucapnya, lalu tanpa menunda ia langsung bertanya dengan nada yang berubah serius, “Apakah Guru sudah melihat kondisi Mei Ling? Aku melihat keadaannya masih memburuk.”
Meng Wu menjawab dengan nada tenang namun tidak bisa menyembunyikan keseriusan di baliknya. “Aku sudah melihatnya. Penyakitnya memang lebih parah dari sebelumnya,” ucapnya pelan.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Namun kita harus tetap menghiburnya, jangan sampai dia tenggelam dalam kesedihan.”
Shi Hao langsung mengangguk, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jelas. “Iya, Guru, aku sudah berusaha menghiburnya dan juga memberinya makan, tapi dia tetap tidak mau. Katanya tidak nafsu makan,” jelasnya jujur.
Meng Wu mengangguk kecil. “Dia sudah makan,” jawabnya singkat. “Ling Er yang menyuapinya.”
Mendengar itu, ekspresi Shi Hao langsung berubah.
Ia menghela napas lega, bahunya sedikit turun seolah beban di dalam hatinya berkurang. “Syukurlah…” gumamnya pelan.
Shi Hao kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Long Chen, ekspresinya penuh rasa penasaran. “Dia siapa, Guru?” tanyanya.
Meng Wu menjawab dengan tenang, “Dia adalah anggota baru. Mulai sekarang, anggap dia sebagai adik kalian, karena dia sudah menjadi bagian dari tempat ini.”
Shi Hao langsung tersenyum ramah, sikapnya hangat dan terbuka. “Salam kenal, Long Chen. Aku Shi Hao, murid kedua,” ucapnya tanpa ragu.
Di sampingnya, Mo Fan juga tersenyum, namun dengan sedikit wibawa sebagai yang tertua. “Aku Mo Fan, murid pertama, sekaligus yang paling senior di sini,” katanya dengan nada santai.
Long Chen segera menunduk dengan sopan, menunjukkan rasa hormatnya. “Salam kenal… semuanya,” jawabnya pelan.
Mo Fan kemudian melirik ke arah masakan di dapur, aroma hangatnya semakin terasa memenuhi ruangan. Ia tersenyum ringan sebelum berkata, “Sepertinya masakannya sudah matang, kalau begitu ayo kita makan dulu. Aku dan junior Shi Hao yang memasaknya.”
Mereka pun duduk bersama di meja makan, suasana yang tadinya tegang perlahan berubah menjadi lebih hangat dan akrab.
Long Chen mengambil sedikit makanan dan mencicipinya.
Dalam sekejap, matanya langsung berbinar.
“Enak sekali…” ucapnya jujur, tanpa menyembunyikan kekagumannya.
Mo Fan terlihat puas mendengar itu, senyumnya sedikit melebar. “Kalau kau mau, nanti aku bisa mengajarimu memasak,” katanya santai.
Long Chen langsung mengangguk dengan semangat. “Tentu, senior. Mohon bimbingannya,” jawabnya sopan.
Di meja makan itu, Meng Wu, Mo Fan, Shi Hao, dan Long Chen duduk bersama, menikmati hidangan sederhana yang disiapkan dengan penuh perhatian. Suasana terasa hangat dan tenang, jauh dari tekanan dunia kultivasi yang keras di luar sana, seolah tempat ini menjadi ruang kecil yang terpisah dari segala kekacauan.
Percakapan ringan sesekali terdengar, diselingi senyum dan tawa kecil yang membuat suasana semakin hidup. Tidak ada formalitas yang kaku, tidak ada jarak yang terasa, hanya kebersamaan yang mengalir dengan alami.
Long Chen duduk di antara mereka, perlahan menikmati setiap momen itu.
Untuk pertama kalinya sejak tragedi yang menghancurkan hidupnya—
ia merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan.
Kehangatan sebuah keluarga.
Dan tanpa ia sadari, perasaan itu mulai mengisi ruang kosong di dalam hatinya.
End Chapter 16