Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Endang
Agus menarik Endang yang ketakutan ke dalam pondok. Mbah Jari menatap Endang dengan mata hitamnya yang seolah menyedot cahaya. Endang berusaha menahan napas, merasa auranya ditelanjangi oleh tatapan yang sangat tua itu. Setelah beberapa detik yang terasa abadi, Mbah Jari mengangguk puas.
“Cukup,” kata Mbah Jari. “Aku tahu apa yang harus kucari. Sekarang, pergilah. Seratus juta, dan bawa tiruan itu. Ingat, harus mirip, dan harus kosong.”
Agus dan Endang bergegas kembali ke mobil. Perjalanan kembali ke kota terasa sunyi, kecuali suara Endang yang terisak pelan.
“Kau lihat matanya, Gus? Dia tahu kita berbohong! Dia tahu kita akan menipu makhluk gaib!” protes Endang, suaranya dipenuhi histeria.
“Dia tidak peduli, Endang. Dia hanya peduli pada uang seratus juta itu,” balas Agus, mengemudi dengan agresif. “Fokus kita sekarang adalah mencari wanita itu. Kita harus mencarinya sebelum Titi Kusumo mulai curiga.”
Agus berhasil meminjam seratus juta dari rentenir dengan jaminan mobil Endang. Uang itu segera ia transfer ke rekening Mbah Jari. Sekarang, ia harus mencari tumbal pengganti.
Pencarian itu membawanya ke sudut-sudut kota yang paling gelap, tempat Mbah Jari menyarankan: lokalisasi yang tersembunyi, tempat putus asa bersemayam.
Setelah empat hari pencarian intens, menanyai mucikari-mucikari tua dan bersembunyi di gang-gang sempit, Agus menemukan targetnya di sebuah bilik kumuh di pinggiran kota. Namanya Sari.
Sari sedang duduk di kursi kayu, merokok, menatap kosong ke dinding yang lembap. Ia mengenakan blus tipis dan sarung yang sudah pudar warnanya. Wajahnya, meskipun ditutupi riasan tebal, memiliki struktur tulang dan bentuk mata yang luar biasa mirip dengan Endang. Namun, ada perbedaan mendasar: mata Sari tidak memiliki cahaya Endang. Matanya lelah, kosong, seperti sumur yang sudah kering.
Agus mendekati bilik itu, berpura-pura menjadi pelanggan.
“Boleh aku masuk?” tanya Agus.
Sari menoleh, ekspresinya datar. “Lima ratus ribu, satu jam. Tidak ada yang aneh-aneh.”
Agus masuk, menutup pintu. Bau parfum murah, rokok, dan keputusasaan langsung menyeruak.
“Aku tidak datang untuk itu,” kata Agus, duduk di tepi ranjang.
Sari mengerutkan kening, meletakkan rokoknya. “Kalau begitu, kau salah tempat. Aku bukan psikiater.”
“Aku punya pekerjaan untukmu,” kata Agus, suaranya direndahkan. Ia mengeluarkan sisa uang tunai yang ia miliki (Rp33 juta) dan beberapa lembar ratusan ribu. Ia meletakkan uang itu di meja kecil di samping Sari. “Ini uang mukanya.”
Sari melirik tumpukan uang itu. Matanya yang tadinya kosong kini menunjukkan sedikit minat, meskipun tetap waspada.
“Pekerjaan apa?” tanya Sari.
“Kau harus menjadi istriku,” jawab Agus, langsung ke intinya. “Hanya untuk beberapa malam. Kau harus menyamar. Kau harus menjadi Bayangan Endang.”
Sari tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit. “Menjadi istrimu? Aku sudah cukup banyak memainkan peran, Tuan. Tapi peran istri orang kaya, apa untungnya bagiku?”
“Untungnya adalah uang ini, dan lebih banyak lagi,” desak Agus. “Kau akan dibayar fantastis. Kau harus tinggal di rumah mewahku, berpakaian seperti Endang, dan bertingkah seperti Endang.”
“Kenapa? Kenapa kau tidak menggunakan istrimu yang asli?”
Agus menghela napas, memainkan perannya. “Kami sedang dalam masalah legal. Istriku tidak bisa hadir di depan publik. Aku butuh seseorang yang sangat mirip dengannya untuk urusan bisnis yang sangat sensitif.”
Sari mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit. “Urusan bisnis? Atau urusan gaib? Aku tidak bodoh, Tuan. Di tempat seperti ini, kami mendengar banyak hal. Aku dengar kau mencari tumbal untuk pesugihan Lanang Sewu.”
Agus tersentak. Rasa dingin merayap di punggungnya. Informasi menyebar cepat di dunia gelap.
“Itu omong kosong!” bantah Agus, terlalu keras. “Aku tidak berurusan dengan hal-hal seperti itu. Ini murni urusan hukum dan perjanjian aset. Aku hanya butuh kau berakting sempurna sebagai Endang.”
Sari menatap uang tunai itu lagi. “Berapa banyak yang kau tawarkan total?”
“Lima ratus juta,” balas Agus, melebih-lebihkan. Ia berharap bisa membayar tiga ratus juta dan sisanya ia simpan. “Lima ratus juta tunai. Setelah tugasmu selesai. Uang muka ini sepuluh juta. Cukup untuk keluargamu selama setahun penuh.”
Mata Sari berkaca-kaca. Lima ratus juta. Jumlah itu bisa membebaskan adiknya dari utang dan membelikan ibunya rumah di desa. Itu adalah harga yang sangat besar.
“Aku punya adik yang sakit, Tuan. Dan ibuku membutuhkan operasi,” bisik Sari, suaranya kini sedikit bergetar. “Lima ratus juta?”
“Ya. Tapi kau harus bersumpah untuk diam. Dan kau harus mengikuti semua instruksiku. Kau harus sepenuhnya menjadi Bayangan Endang.”
Sari mengusap air mata yang tiba-tiba muncul. “Tapi bagaimana jika ini benar-benar pesugihan? Aku takut hal-hal mistis.”
“Aku melindungimu. Aku akan menyediakan segala yang kau butuhkan,” janji Agus, padahal ia tahu Sari akan dilindungi oleh sihir Mbah Jari, sihir yang sangat berbahaya. “Kau tidak perlu melakukan apa-apa selain berakting. Hanya beberapa malam.”
Sari bangkit, berjalan mondar-mandir di bilik sempit itu. Konflik batinnya terlihat jelas di wajahnya. Lima ratus juta versus jiwanya.
“Aku sudah menjual tubuhku, Tuan. Tapi aku belum pernah menjual jiwaku,” kata Sari.
“Kau tidak menjual jiwamu. Kau hanya menjual waktumu untuk sebuah peran yang sangat berharga,” manipulasi Agus. “Pikirkan keluargamu. Pikirkan kebebasan yang bisa kau beli dengan uang itu. Ini adalah tiket keluar terakhirmu dari tempat busuk ini.”
Sari berhenti di depan Agus. Ia menatapnya dengan tatapan yang sangat mirip Endang, tetapi dipenuhi kesedihan yang jauh lebih dalam.
“Bagaimana jika aku mati?” tanya Sari, suaranya nyaris tak terdengar.
“Kau tidak akan mati. Kau akan kaya,” desak Agus, meraih tangannya dan menaruh tumpukan uang tunai di sana. “Ambil. Ini sepuluh juta. Sisanya akan menyusul. Kau harus ikut denganku malam ini juga. Mbah Jari menunggu.”
Sari merasakan dinginnya uang kertas itu di telapak tangannya. Ia melihat ke bawah, pada kekayaan fana yang kini membebani tangannya.
Ia menangis. Bukan tangisan kebahagiaan, melainkan ratapan yang pilu. Ia tahu, di lubuk hatinya, ia sedang menjual nasib spiritualnya untuk menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan yang sama dengan yang pernah dialami Agus.
“Baik,” bisik Sari, mengangguk pasrah. “Aku akan ikut denganmu. Aku akan menjadi Bayangan Endang. Tapi jika ada yang terjadi padaku, aku harap kau dan istrimu akan dikutuk oleh entitas itu sampai akhir zaman.”
Agus tersenyum lega. Ia telah memenangkan pertempuran moral ini. Sari, dengan jiwanya yang terkuras habis oleh dunia, adalah wadah yang sempurna.
“Kau tidak akan menyesal,” kata Agus, berdiri.
“Aku sudah menyesal sejak aku menerima uang ini,” balas Sari, meremas uang itu. Ia berjalan ke sudut bilik, mengambil tas usang berisi sedikit pakaian.
“Kita harus pergi sekarang. Aku harus membawamu ke Mbah Jari,” kata Agus.
Saat Sari berbalik, Agus melihatnya lagi. Kesamaan itu mencengangkan. Sari benar-benar replika fisik Endang.
“Satu hal lagi,” kata Sari, menatap Agus. “Aku butuh jaminan bahwa kalian akan melepaskanku setelah ritualnya selesai. Aku tidak mau terjebak dalam kehidupan barumu.”
Agus mengangguk cepat. “Tentu saja. Setelah Pangeran Titi Kusumo puas, kau bebas. Bebas dan kaya.”
Sari tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewatinya, menuju pintu.
“Aku siap, Tuan Agus. Bawa aku ke neraka yang kau sebut ‘pekerjaan’ ini.”
Agus mengikuti Sari keluar dari bilik. Mereka berjalan melewati gang gelap. Saat Agus menyalakan mobil, ia melihat Sari menatap pantulan dirinya di jendela mobil—sebuah bayangan Endang yang sayu.
Tiba-tiba, Sari berhenti.
“Tuan Agus,” panggilnya, suaranya kini kembali dingin. “Katakan padaku, apa yang akan terjadi padaku ketika aku bertemu dengan Pangeran itu?”
Agus ragu. Ia harus berbohong.
“Kau akan tidur. Kau akan mimpi indah, dan kau akan bangun sebagai wanita kaya.”
Sari menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk ke langit. Meskipun malam, tidak ada bintang yang terlihat di atas lokalisasi itu.
“Aku tidak peduli dengan mimpi indahmu, Agus. Aku hanya peduli pada satu hal,” katanya, suaranya mengandung ancaman yang aneh, seolah-olah ia bukan lagi Sari yang rapuh. “Aku butuh kepastian bahwa keluargaku akan aman. Jika Lanang Sewu itu mengambil apa pun dariku, aku akan memastikan bahwa jiwaku, yang sekarang kau beli, akan menghantuimu dan istrimu seumur hidupmu!” Sari menyelesaikan ancamannya, suaranya tajam seperti pecahan kaca, menusuk telinga Agus. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita yang lelah, tetapi seperti singa betina yang melindungi anak-anaknya.