Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan (timeskip)
Di kejauhan Samudra tampak berhenti dan memandangi monyet liar yang memiliki kegesitan dan kelincahan yang sangat luar biasa.
"Monyet bajingan sial! Tunggu saja pembalasan dariku!" Gumam Samudra mendesis penuh dendam. Kemudian ia membalikan tubuhnya menuju ke air terjun, tempat dia memulai belajar sihir alam.
Waktu berlalu begitu saja tanpa bisa di hentikan...
Tujuh tahun pun berlalu begitu saja di jurang hantu. Samudra di latih dengan cara cara yang tidak masuk akal, di pukuli, di permalukan, di lempar ke kawah, di suruh memakan jamur halu, bahkan sekali dia pernah di paksa oleh Bara Tunggal untuk berdebat dengan kodok tentang filosofi dunia ini.
Namun kini setelah semua itu berlalu tubuh Samudra mengalami banyak perubahan. Otot otot yang indah terbentuk di tubuhnya yang proposional.
Jiwa mudanya dulu yang di penuhi dengan tangis kini menyimpan badai dalam diam. Gerakannya cepat, matanya tajam, dan tawanya... membuat para kera tua yang telah menggemblengnya menjadi ikut terbawa suasana penuh semangat.
Malam ini adalah malam terakhir Samudra berada di jurang hantu ini.
Di atas batu besar Samudra berdiri dan di sekelilingnya tujuh gurunya yang berdiri menatapnya.
"Kau... sudah cukup kuat Samudra, semua teknik terlarang, sihir dan sebagainya sudah kami ajarkan kepadamu. Walaupun semua teknik dan sihir yang kami ajarkan hanya sebagian kecil dari kekuatan kami, tapi aku yakin itu sudah cukup untuk bekalmu bertahan hidup di luaran sana. Sebentar lagi aku akan benar benar lenyap dari dunia ini, oleh karena itu aku serahkan ini kepadamu." Ucap Resi Ngambang Sungsang yang memberikan caping di kepalanya kepada Samudra.
Samudra tersenyum dan menerima itu, "terimakasih guru." Samudra tau apa yang di berikan gurunya bukanlah benda remeh.
Bara Tunggal kemudian Maju, "kini kau bukan hanya menjadi penyihir kuat Samudra, kau juga menjadi penyihir gila, tak banyak hal yang dapat aku sampaikan padamu... aku hanya ingin berterimakasih padamu, sebelum kau datang jurang hantu ini terasa sangat senyap dan sepi, kami semua hanya menunggu waktu di mana eksistensi sihir kami lenyap dan kami benar benar musnah, namun setelah kehadiranmu hari hari terakhir kami di penuhi dengan canda dan tawa... kau telah membalut luka kami dengan tingkah konyolmu." Ucap Bara Tunggal...
Sring!
Bara Tunggal mencabut pedangnya dan menyerahkannya pada Samudra.
"Simpan ini, nama pedang ini adalah kubikiribocho... pedang ini adalah pedang yang menemaniku dari kecil hingga setua ini, jika pedang ini hancur jangan kau buang karena pedang ini dapat meregenerasi bilahnya sendiri apabila pedang ini terkena darah manusia."
"Terimakasih Guru... aku pasti akan menjaga pedang ini baik baik!" Ucap Samudra. Tanpa sadar Samudra meneteskan air matanya, Bara Tunggal memang adalah sosok guru yang paling dekat dengan Samudra. Entah mengapa Samudra merasa sangat sedih mendengar ucapan Bara Tunggal yang akan pergi selamanya.
Ki Brojol Buntung maju kedepan, "kau tak perlu menangis bocah, kami tau perpisahan ini sulit bagimu dan bagi kami juga. Namun kau tidak punya pilihan lain, ada banyak hal yang harus kau selesaikan di luaran sana."
Ki Brojol Buntung melepaskan topengnya dan menyerahkannya pada Samudra, "terimalah ini, Topeng Panji Asmorobangun, ketika kau memakai topeng ini kau dapat merubah wajahmu menjadi orang lain lewat imajinasi di otakmu, itu akan sangat berguna. Pesan dariku, jadilah laki laki yang kuat dan pemberani agar kau memiliki cerita yang mengagumkan untuk di ceritakan ke anak cucumu."
"Terimakasih Guru! Aku akan menjadi laki laki yang kuat sesuai pesan guru dan aku akan menjaga dengan nyawaku sendiri topeng peninggalan guru ini!" Ucap Samudra.
Nyi Randa Lembayung yang kini maju, "cucuku, kau sudah besar..." ucapnya dengan derai air mata, sekuat apapun wanita ia tetap memiliki perasaan dan hati yang sangat rapuh.
"Tidak banyak yang ingin nenek ucapkan padamu, Jangan menjadi pemilih makanan, makanlah yang banyak agar tumbuh kuat, dan pastikan mandi setiap hari agar tetap hangat. Jangan begadang, tidurlah yang cukup dan carilah teman, tidak perlu banyak, cukup beberapa saja yang benar-benar bisa dipercaya." Ucapnya dengan derai air mata.
Samudra mengusap air mata Nyi Randa Lembayung, "nek, aku pasti akan melakukan pesan yang nenek sampaikan!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Aku tidak memiliki artefak yang hebat seperti mereka, hanya ini yang dapat aku berikan, cincin penyimpanan." Ucapnya sambil melepaskan cincin di jarinya.
Samudra menerima cincin itu, "terimakasih nek, ini sangat berguna untukku!"
Guru Genta Gelap maju sembari melepaskan kain perak yang menutup matanya.
Samudra menatap dalam wajah Guru Genta Gelap, pupil matanya tampak berwarna putih ekspresinya tak sedatar biasanya.
"Carilah wanita yang benar benar tulus padamu bocah tidak Samudra, dan ingat satu hal jangan pernah menyakiti perasaan wanita! Karena wanita yang kau sakiti pasti memiliki harapan yang sama dengan ibumu.
Hanya itu yang dapat aku sampaikan, terima ini... Kain ini aku belum memberikannya nama, kau bebas mau memberikan nama apa. Kain itu dapat memanjang hingga puluhan meter..."
"Terimakasih Guru! aku sangat menghargai jasa guru selama ini! Karena gurulah aku menjadi sosok yang sangat disiplin dan berkat gurulah aku mampu mendeteksi serangan hanya melalui suara."
Jagad Giri maju, satu satunya Guru Samudra yang memiliki penampilan paling glamor itu menatap dalam Samudra.
"Satu pesan terakhir yang aku sampaikan padamu bocah, memang emas dan perak bukanlah segalanya namun dengan itu semuanya dapat terasa mudah, carilah harta sebanyak banyaknya di luaran sana, agar istrimu kelak dapat membeli hal yang ia mau dan anakmu tumbuh menjadi anak yang ceria. Aku serahkan ini padamu." Empat gelang emas di pergelangan tangan Jagad Giri melayang dan langsung melingkat di kedua pergelangan tangan Samudra.
"Gelang ini cukup istimewa, itu dapat melindungimu dari serangan sihir tingkat tinggi. Walaupun itu emas jangan di jual!" Tekan Jagad Giri.
"Hahaha... terimakasih guru, aku akan menjaga baik baik gelang emas ini. Mungkin kalau aku kelaparan dan hampir mati baru aku menjualnya... hahaha..." ucap Samudra.
"Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya!" Jawab Jagad Giri walaupun ia tau ucapan Samudra hanya candaan.
Kera paling tua tampak maju ke depan... ia bernama Resi Jaludoro, seekor kera tua dengan pakaian dari kulit kayu, ia adalah yang pertama kali mencurigai, bahwa ada sesuatu yang 'istimewa' di dalam tubuh Samudra.
"Semoga sesuatu yang aku ajarkan menjadi sesuatu yang berguna bagimu di masa depan, nak. Pesan dariku, banyak orang baik di luaran sana jika kau tidak menemukannya maka jadiah salah satunya." Ucap kera tua itu.
"Guru......" Samudra tak bisa berkata kata.
"Ambillah ini, ini akan sangat berguna bagimu, kau akan mengetahui kegunaanya nanti." Ucapnya sambil menyerahkan kertas dengan pola sihir.
"Terimakasih guru, gurulah yang paling keras mebimbing diriku, gurulah yang membuat diriku mampu menguasai sihir ilusi hingga tingkat setinggi ini. Bahkan gurulah yang pertama kali menyadari keistimewaan mata kiriku."
Resi Jaludoro terkekeh geli, "mata kirimu itu adalah pemberian entitas yang tidak di kenal, ada rencana besar yang ia sedang rencanakan. Berhati hatilah nak, aku rasa perjalananmu lebih berat dari pada kami."
Secara perlahan tubuh ketujuh kera itu mengeluarkan cahaya putih, tubuh mereka secara perlahan melayang di udara, mereka menatap Samudra yang berada di bawah dengan perasaan haru dan bangga bercampur menjadi satu.
dan tak lama kemudian mereka terbang melesat ke langit. Mereka kini benar benar menghilang dari dunia ini.
Bara Tunggal : Pedang Kubikiribocho
Ki Brojol Buntung : Topeng Panji Asmorobangun
Nyi Randa Lembayung : Cincin Penyimpanan
Guru Genta Gelap : Kain perak tanpa nama
Jagad Giri : Gelang emas
Resi Ngambang Sungsang : caping
Resi Jaludoro : kertas pola sihir