"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DELAPAN
Di kamar rumah, Adelia sedang duduk diam, mencoba menenangkan diri. Bastian bergerak ke arah pintu.
"Papa keluar dulu. Istirahatlah, Del!" ucap Bastian.
Adelia mengangguk. "Selamat malam, Pa."
Bastian menatapnya lama sebelum berkata, "Selamat malam."
Pintu tertutup.
Namun, Bastian tidak sepenuhnya pergi.
Ia berdiri lama di depan pintu itu... seperti mempertimbangkan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
Adelia tidak tahu bahwa di luar sana, bahaya yang ia hindari... tidak benar-benar pergi.
Di rumah Lukas, pada saat yang sama, Adelia duduk sendirian di dalam kamar, memikirkan peristiwa malam tadi... dan juga perilaku Bastian yang semakin sulit ditebak.
Ia masih bisa merasakan ketakutan menyeret tubuhnya ke dalam kegelapan. Ia juga bisa merasakan getaran dalam suaranya saat berusaha menenangkan diri.
Namun yang paling membuatnya bingung adalah kedekatan itu - kedekatan yang ia hindari, tetapi tidak bisa ia tolak ketika Bastian menyelamatkannya.
Adelia memeluk lututnya, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
"Mas... cepatlah pulang!" bisiknya lirih, hampir seperti doa yang terbang ke udara malam.
Namun jauh di luar kamar, seseorang sedang berdiri diam di depan pintu itu.
Bastian.
Ia belum pergi tidur. Ia berdiri di koridor gelap, menyandarkan bahunya ke dinding dengan kepala sedikit menunduk, seperti seseorang yang mempertimbangkan sesuatu yang tidak boleh ia lakukan.
Matanya tidak lepas dari pintu kamar Adelia.
Dan perlahan, sebuah senyum rumit muncul di sudut bibirnya.
÷÷÷
Pagi itu, hotel masih tenang. Cahaya matahari menembus tirai tipis, membuat lorong lantai enam tampak hangat. Sean berdiri di depan kamar Ririn sambil membawa dua cup kopi panas. Ia menarik napas pendek sebelum menekan bel.
Ding-dong.
Tak lama, pintu terbuka.
Ririn muncul dengan rambut basah yang masih menetes sedikit, tubuhnya dibalut bathrobe hotel berwarna putih. Wajahnya segar, namun jelas kaget melihat Sean berdiri di depan.
"Eh... Pak Sean?" Ririn mengerjap. "Ada apa?"
Sean mengangkat dua kopi itu. "Saya mau ngobrol. Saya bawain kopi juga biar enak ngobrolnya. Boleh saya masuk bentar?"
Ririn terdiam sejenak. Ada kegugupan kecil yang muncul di wajahnya, tapi ia cepat menutupinya dengan senyuman tipis.
"Oh... iya, silakan masuk, Pak!" ucap Ririn lirih.
Sean melangkah masuk. Ririn menutup pintu dan menuju sofa kecil di dekat jendela. Mereka duduk berdampingan, namun cukup berjarak. Sean memberikan kopi untuknya.
"Ini cappuccino yang kamu suka, kan?" tanya Sean.
Ririn tersenyum. "Iya, makasih banyak, Pak. Bapak perhatian sekali sama kesukaan saya."
Sean tertawa kecil. "Saya bukan perhatian. Saya cuma mau kamu nggak kaget dengan pembicaraan kita nanti."
Wajah Ririn langsung berubah.
"A... apa maksudnya?" tanya Ririn penasaran.
Sean menyeruput kopi, kemudian menatap Ririn dengan ekspresi serius-jauh lebih serius daripada biasanya.
"Ririn... saya mau tanya jujur. Kamu suka sama Pak Lukas, kan?" ucap Sean.
Ririn tersentak kecil, tubuhnya kaku. "Hah?! Ngg-nggak, Pak Sean. Saya... saya cuma... saya hormat sama dia sebagai bos saya."
Sean mengangkat alis. "Rin, kamu yakin mau bohong sama saya?"
"A-apa maksudnya? Saya nggak bohong-"
"Kemarin kamu pijitin Pak Lukas sampai tidur, lalu kamu tidur di sebelahnya. Malamnya kamu selalu mencari kesempatan untuk duduk di sampingnya. Kamu lihat sendiri siapa yang kamu tatap terus sepanjang rapat," potong Sean.
Ririn langsung diam.
Wajahnya memerah, bukan karena malu... tapi karena ketahuan.
Sean melanjutkan, suaranya lembut namun tegas.
"Ririn... saya hanya khawatir, kamu itu kan sekretarisnya. Kalau kamu masuk terlalu dalam, nanti kamu yang sakit," ucap Sean.
Ririn kembali menunduk. Tangannya memegang cup kopi dengan erat.
"Pak Sean..." suaranya bergetar, "Saya cuma... saya cuma kagum sama Pak Lukas. Dia orang yang baik, dia perhatian, dia sopan, dia pekerja keras... saya... saya nggak bisa bohong."
"Kamu suka dia," potong Sean.
Ririn menutup mata, lalu mengangguk pelan.
"Ya... saya suka sama beliau," ucap Ririn mengakuinya.
Sean menghela napas panjang. "Tapi kamu tahu kan, dia sudah punya istri?"
Ririn menggigit bibir. "Saya tahu... tapi saya nggak berniat merebut beliau dari istrinya. Saya cuma... ingin ada di dekatnya. Itu saja."
Sean menatap gadis itu lama. "Saya harap kamu sadar batasnya, Rin. Kamu bukan orang jahat. Jangan bikin diri kamu terseret masalah yang kamu nggak siap hadapi."
Ririn tak menjawab. Matanya berkaca-kaca meski ia berusaha tersenyum.
"Saya ngerti, Pak..."
Sean mengangguk, berdiri, dan meletakkan kopi kosongnya di meja.
"Kalau kamu butuh teman ngobrol... saya ada buat kamu," ucapnya sebelum menuju pintu.
Ririn hanya mengangguk kecil tanpa menatapnya.
Setelah pintu menutup, Ririn duduk sendiri di sofa, memegang cup kopinya kuat-kuat. Hatinya terasa berat... namun ia juga tidak bisa menghapus perasaan itu begitu saja.