NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan

Pagi itu, kediaman Mahardika yang biasanya tenang dan teratur seperti mesin jam yang diminyaki dengan baik, mendadak pecah oleh kebisingan yang tidak diundang. Erlangga masih terlelap di balik selimut tebalnya, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruk dan aroma penyesalan yang menghantui tidurnya semalaman, ketika suara gedoran keras menggema dari balik pintu jati kamarnya.

Brak! Brak! Brak!

“LANGGA! BANGUN! MATAHARI UDAH TINGGI, WOI! KAMU MAU JADI CEO ATAU MAU JADI PENJAGA KASUR?”

Erlangga mengerang, menarik bantal sutranya untuk menutupi kepala. “Lima menit lagi, pergi lo, siapa pun itu. Gue pecat lo kalau lo karyawan gue,” gumamnya parau dengan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi.

“LA LO LA LO, LIMA MENIT MATAMU! INI MAMA, BUKAN KARYAWANMU! RIAN SUDAH NUNGGU DI BAWAH SAMPAI TEHNYA DINGIN!” teriakan itu kembali terdengar, kali ini diikuti suara kunci pintu yang terbuka secara paksa. Ibunya, Ny. Mahardika, melangkah masuk dengan langkah tegas yang berirama. “Bangun sekarang atau Mama suruh satpam buat seret kamu ke kamar mandi pakai selang air!”

Mata Erlangga langsung terbuka lebar. Kata 'Rian' seolah menjadi pemicu adrenalin yang memaksanya kembali ke realitas. Ia bangkit setengah duduk, rambutnya berantakan, menatap mamahnya yang berdiri di ujung ranjang dengan tangan di pinggang dan ekspresi yang tidak bisa dibantah.

“Rian? Bukannya dia harusnya di Surabaya sampai besok, Ma?” tanya Erlangga sambil mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan rasa pening yang berdenyut di pelipisnya.

“Tanya sendiri sama orangnya di bawah. Dia sudah sarapan dua piring sama Mama, sudah cerita panjang lebar soal Surabaya, kamu malah masih molor kayak nggak punya beban hidup! Cepet mandi!”

Erlangga menghela napas, menyerah pada otoritas tertinggi di rumah itu. Dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya untuk membilas sisa-sisa rasa kantuk. Setelah berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, pakaian tempur hariannya, ia turun ke lantai bawah.

Begitu ia sampai di ruang tamu, pemandangan di sana membuatnya ingin memutar bola mata. Rian sudah duduk santai di sofa kulit, menyandarkan tubuhnya seolah itu rumah pribadinya, sambil tertawa renyah bersama mamahnya.

“Nah, akhirnya Yang Mulia turun juga dari singgasananya,” sapa Rian dengan seringai lebar yang menyebalkan saat melihat Erlangga mendekat. “Gue pikir lo udah pingsan karena kebanyakan mikirin kurs saham.”

Erlangga menatap datar sahabatnya itu, lalu duduk di kursi seberang Rian. “Bukannya lo harusnya masih di Surabaya? Lo naik jet pribadi atau terbang pake sayap sendiri?”

“Masalah di sana ternyata nggak separah dugaan kita, Lang. Vendor di sana langsung ciut nyalinya begitu gue sebut nama Mahardika. Gue selesain malem itu juga. Terus gue mikir, 'Ah, Langga pasti kangen berat sama gue,' jadi gue ambil penerbangan subuh tadi trus langsung mesen taxi ke sini, soalnya mobil gue masih ada di perusahaan hehe,” jawab Rian enteng sambil mengambil kue kering dari meja.

“Gue nggak pernah bilang gue kangen sama lo, Rian. Lo tahu itu dengan sangat jelas.”

Ibunya langsung menepuk lengan Erlangga dengan cukup keras hingga terdengar bunyi plak. “Jangan jutek begitu sama Rian, Langga. Dia itu jauh lebih manis, lebih perhatian, dan lebih sopan dari kamu yang kaku kayak kanebo kering begini.”

Rian tersenyum bangga, menatap Erlangga dengan tatapan kemenangan yang provokatif. “Nah tuh, dengerin Mamah. Mertua idaman emang seleranya nggak pernah salah dalam menilai kualitas manusia.”

“Sejak kapan lo manggil mama gue 'Mamah'?” tanya Erlangga dengan nada mengancam.

“Sejak beliau sadar kalau gue lebih layak jadi anak kandung keluarga ini dibanding lo yang cuma bisa bikin orang darah tinggi tiap pagi. Iya kan, Ma?” balas Rian santai, mengedipkan mata pada Ny. Mahardika.

“Benar sekali, Rian. Mungkin Mama harus mulai mikirin buat tukar tambah anak,” canda ibunya yang membuat Erlangga memijat pangkal hidungnya.

“Silakan adopsi dia sekalian, Ma. Aku rela pindah ke kantor selamanya. Lagian dia kelihatannya lebih butuh kasih sayang orang tua daripada gue,” gumam Erlangga.

Rian tertawa terbahak-bahak. “Eh, kalau gue jadi anak kandung resmi keluarga ini, warisan Mahardika Group dibagi dua ya, Ma? Gue nggak minta banyak kok, jatah saham mayoritas aja cukup.”

“Keluar lo sekarang juga sebelum gue berubah pikiran buat nggak bayar gaji lo bulan ini,” potong Erlangga, namun ada secercah tawa yang tertahan di sudut bibirnya melihat kelakuan sahabatnya itu.

Setelah itu Langga pergi untuk sarapan, yang penuh dengan sindiran dan candaan.

Erlangga dan Rian berjalan menuju garasi. Namun, begitu sampai di depan mobil sport hitam milik Erlangga, Rian langsung menyerobot masuk ke kursi pengemudi sebelum Erlangga sempat protes.

“Turun. Gue yang nyetir,” perintah Erlangga sambil mengetuk kaca mobil.

“Enggak. Gue yang lebih waras nyetir pagi-pagi begini dibanding lo yang mukanya kusut kayak seprai nggak disetrika setahun,” balas Rian dari dalam, langsung mengunci pintu.

“Rian, itu mobil gue! Keluar sekarang atau gue panggil derek!”

“Mobil lo, nyawa gue, Lang! Gue nggak mau mati konyol gara-gara sopirnya lagi ngelamun mikirin entah apa. Udah, duduk manis aja di samping, Bos! Gue anterin sampe depan lobi dengan selamat sentosa!” Rian menyalakan mesin, suara deru knalpotnya membelah keheningan pagi.

Erlangga menghela napas kasar, menyadari bahwa berdebat dengan Rian adalah kesia-siaan belaka. Ia akhirnya memutar ke sisi penumpang dan masuk dengan wajah kesal. Begitu mobil membelah kemacetan Jakarta, Rian mulai mengubah nadanya menjadi lebih profesional. Ia menyerahkan beberapa map tebal yang diambil dari kursi belakang.

“Ini laporan lengkap dari cabang Surabaya. Masalah distribusi yang kemaren macet udah kelar, vendor pengganti juga udah siap kontrak. Lo tinggal baca bentar, terus tanda tangan kalau setuju,” jelas Rian.

Langga membukanya sekilas, membolak-balik kertas dengan teliti, lalu mengangguk kecil. “Bagus. Kerja cepat seperti biasa.”

Namun kemudian, suasana di dalam mobil mendadak mendingin. Rian mengambil satu map cokelat lain yang lebih tipis dari tasnya. Ia tidak langsung memberikannya, melainkan memegangnya sejenak sambil melirik Erlangga dengan ekspresi yang kini tidak lagi jenaka. Matanya menunjukkan keseriusan yang jarang ia perlihatkan.

“Yang ini… data cewek yang lo suruh cari semalam. Zea,” ucap Rian pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin.

Tubuh Erlangga sedikit menegang. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan saat ia meraih map itu. Ia segera membukanya. Di halaman pertama, sebuah pasfoto Zea menatapnya. Nama lengkapnya tertulis dengan jelas: Zea Anindhita Prameswari. Usia: 21 Tahun. Mahasiswi Fakultas Bisnis. Penerima Beasiswa Penuh.

Tatapan Erlangga perlahan turun ke kolom latar belakang keluarga, dan seketika, raut wajahnya berubah total. Tangannya yang memegang kertas sedikit gemetar.

“Ayah meninggal empat tahun lalu… kecelakaan? Dan sekarang dia tinggal sama ibunya di sebuah kontrakan di pinggiran?” gumam Erlangga, suaranya parau seolah ada yang menyumbat tenggorokannya.

“Iya, Lang,” sahut Rian dengan nada prihatin yang dalam. “Dan ceritanya makin sedih di bawah. Ibunya sekarang lagi dirawat di rumah sakit umum. Penyakit jantung kronis. Dia benar-benar sendirian, nggak punya saudara atau keluarga besar yang bisa atau mau bantu finansial mereka.”

Tangan Erlangga semakin erat mencengkeram map itu saat ia membaca daftar riwayat pekerjaan sampingan Zea yang sangat panjang, tutor privat matematika, kasir minimarket shift malam, petugas kebersihan harian di apartemennya, freelance staf acara, hingga posisi waitress restoran.

“Dia kerja sebanyak ini setiap hari?” tanya Erlangga, matanya terpaku pada daftar panjang yang menunjukkan perjuangan hidup seseorang.

“Gue juga kaget pas intel kita kasih datanya semalem, Lang. Gue sempet nggak percaya. Dia kerja gila-gilaan cuma buat biayain kuliahnya sendiri dan bayar tagihan pengobatan ibunya yang makin numpuk. Dan yang paling gila, lo lihat nilai IPK-nya di pojok bawah itu? Tiga koma sembilan! Itu angka yang nggak masuk akal buat orang yang mungkin jam tidurnya cuma sisa tiga jam sehari gara-gara kerja kasar di sana-sini,” jelas Rian panjang lebar.

Rahang Erlangga mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap angka IPK itu cukup lama, memikirkan betapa kerasnya gadis itu menjaga masa depannya sementara ia baru saja menginjak-injak harga diri gadis itu. “Ini… benar semuanya? Data ini valid? Nggak ada yang salah input?”

“Valid seratus persen, Lang. Gue udah double check ke kampus dan vendor-vendor tempat dia kerja. Dia itu mahasiswi kebanggaan fakultasnya, tapi nggak ada yang tahu kalau hidupnya seberat ini karena dia orangnya tertutup banget,” jawab Rian. Ia melirik Erlangga yang tampak sangat pucat, bahkan lebih pucat dari saat ia bangun tidur tadi. “Sebenarnya… emang ada apa antara lo sama dia, Lang? Kenapa lo sampai sekacau ini, sampe nyuruh gue ngeriset hidup orang kayak lagi mau akuisisi perusahaan?”

Erlangga diam. Seribu bahasa. Tatapannya tetap terpaku pada map di pangkuannya, pada setiap baris kalimat yang seolah menjadi pisau yang mengiris hatinya sendiri. Ia melihat foto Zea yang tampak polos namun tegar di sana.

“Langga,” suara Rian kali ini lebih serius, hampir mendesak. “Apa yang lo lakuin ke dia? Jangan bilang lo main-main sama dia cuma karena lo lagi stres masalah kantor? Atau lo…”

“Tutup mulut lo, Rian! Jangan pernah berasumsi yang nggak-nggak!” potong Erlangga dingin, namun suaranya bergetar hebat.

“Gue nggak bisa tutup mulut kalau sahabat gue kayak orang kesurupan begini setelah dapet data seorang mahasiswi miskin! Lo ngerasa bersalah? Atau lo cuma kasihan karena dia cantik tapi hidupnya susah? Mana Erlangga yang logis dan nggak punya perasaan itu?” desak Rian, suaranya mulai meninggi karena ia peduli.

Lama Erlangga terdiam, menatap jalanan di depan dengan mata kosong. “Kadang…” ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam yang terasa sangat sesak. “Kadang tidak tahu sesuatu, mungkin jauh lebih baik bagi ketenangan jiwa kita, Rian. Tapi sekarang, gue udah tahu semuanya. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada nggak tahu apa-apa.”

“Lo bikin gue takut, Lang. Jawaban lo kayak orang yang baru saja melakukan kejahatan besar yang nggak bisa dimaafin,” gumam Rian pelan, ia menurunkan kecepatan mobilnya.

Erlangga tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di atas map cokelat itu, menyadari bahwa apa pun yang ia miliki sekarang, gunungan uang di bank, kekuasaan mutlak atas ribuan orang, nama besar keluarga Mahardika, tidak akan pernah cukup untuk menebus satu tetes air mata dan luka yang ia torehkan pada Zea Anindhita semalam.

“Cari tahu di rumah sakit mana ibunya dirawat saat ini. Gue mau alamat lengkapnya dan nomor rekening rumah sakitnya,” ucap Erlangga tiba-tiba dengan nada memerintah yang tak terbantah.

“Udah ada di halaman terakhir map itu, di bagian lampiran medis,” sahut Rian. “Kenapa? Lo mau bayarin semua tagihannya?”

Erlangga menatap keluar jendela, mengabaikan pertanyaan Rian yang menusuk. “Lakukan apa pun agar dia tidak tahu siapa yang membayar semua tagihannya. Gunakan nama yayasan anonim atau beasiswa bantuan medis dari Mahardika Group. Jangan sampai nama gue atau nama perusahaan muncul secara langsung di depannya.”

Rian mengernyit, menatap Erlangga dari sudut matanya. “Lo sebersalah itu ya, Lang? Sampai harus sembunyi-sembunyi begini? Apa ini cara lo nebus dosa?”

“Jangan banyak tanya, Rian. Jalankan saja apa yang gue suruh kalau lo masih mau kerja di samping gue,” ucap Erlangga dingin, namun matanya mencerminkan kesedihan yang belum pernah Rian lihat sebelumnya.

Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Erlangga Mahardika akhirnya menyadari satu kenyataan pahit, ia mungkin bisa membeli seluruh fasilitas medis terbaik di dunia untuk ibu Zea, ia bisa melunasi semua hutangnya dalam sekejap mata, tapi ia tidak akan pernah bisa membeli kembali kehormatan dan tatapan tulus Zea yang telah ia hancurkan hanya dalam satu malam penuh kegilaan. Dan itu adalah hutang yang tidak akan pernah bisa lunas, bahkan jika ia memberikan seluruh dunianya.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!