Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: RAJA TURUN KE MEDAN PERANG
Jam 1 pagi di Villa Uluwatu. Guntur di luar, hujan deras, tapi di dalem kamar lebih panas. Mas Arga baru aja "menang perang" ronde keempat malem ini. Gue telentang di ranjang, selimut cuma nutup perut ke bawah, napas masih putus-putus, keringet nempel di leher.
"Mas... ampun... udah... empat kali..." rengekku, suara habis.
Mas Arga miring di sebelah, ngusap rambutku yang basah. Dada bidangnya naik turun, ada bekas cakaran gue di bahu. Dia ketawa kecil, serak. "Siapa suruh goda Mas terus? Tadi di pool nyebur pake bikini, terus malemnya pake lingerie renda. Sengaja kan?"
"Enggak! Itu kan Mas yang beliin!" Aku jitak dadanya, tapi nggak ada tenaga. Malah dia tangkep tangan gue, nyium punggung tangannya.
"Yang kesembilan, Sayang." Dia ngedip. "Kurang satu lagi jatah hari ini."
"Mas! Udah jam 1! Jatahnya reset jam 12 tadi!"
"Oh iya ya." Dia pura-pura mikir. "Berarti jatah hari baru. Masih 12 kali lagi."
GUE BANTING GULING KE MUKANYA. Dia ngakak, gulingin badanku, kurung gue lagi di bawahnya. "Canda, Sayang. Tidur. Besok kita..."
TUT TUT TUT. HP-nya bunyi lagi. Nada khusus. Dari Elang.
Muka Mas Arga langsung berubah. Dari suami bucin jadi CEO psikopat dalam 1 detik. Dia ngangkat, speaker.
"Tuan! Rendra preskon di Singapura! 10 menit lagi! Dia bawa ‘bukti’ USG Nyonya! Sama... sama saksi palsu! Ngaku dokter kandungan Nyonya!"
BRAK. Mas Arga turun dari ranjang, pake celana boxer doang, jalan ke meja. Buka laptop. Jarinya ngebut di keyboard. Layarnya kebelah empat: CCTV kantor Jakarta, grafik saham, live YouTube Rendra, sama WA grup direksi.
Gue duduk, selimutin dada pake selimut. "Mas, aku ikut nonton."
"Nggak usah," katanya tanpa noleh, mata fokus ke layar. "Lo tidur. Ini urusan jorok. Biar Mas yang kotor. Tangan lo tetep bersih."
"Enggak mau!" Aku maksa turun, nyamperin, peluk pinggangnya dari belakang. Dagu naruh di punggungnya. "Aku Nyonya Pratama, Mas. Susah senang sama-sama. Kalo Mas perang, aku di belakang Mas. Ngisi peluru."
Dia diem sebentar. Terus tangannya nindih tanganku yang meluk perutnya. "Yakin? Nanti lo denger kata-kata kotor."
"Udah biasa denger Mas ngomong jorok tiap malem," ledekku.
Dia ketawa pendek. "Beda, Sayang. Ini lebih jorok." Terus dia muter kursi, narik gue duduk di pahanya. Satu tangan meluk pinggangku, satu tangan megang mouse. "Ya udah. Nonton. Tapi kalo takut, tutup mata. Peluk Mas kenceng."
Live YouTube mulai.
Di layar, Rendra Mahardika. Umur 32, muka mirip Mas Arga 70%, tapi sorot matanya licik. Pake jas biru, rambut klimis. Di belakangnya ada spanduk: "KONFERENSI PERS: MENGUAK TOPENG ARGA PRATAMA". Di sebelahnya ada cewek pake jas dokter, sama foto USG gede banget. Di fotonya ada tulisan: "Janin 8 Minggu. Ibu: Siska Putri Lestari".
Gue remas jubah Mas Arga. "Anjing..."
"Selamat malam," Rendra mulai, senyum ke kamera. "Saya Rendra Mahardika, adik kandung dari Arga Pratama. Saya terpaksa buka suara, karena saya nggak tega liat publik dibohongin. Kakak saya, Arga, menikahi wanita yang sudah hamil 2 bulan sebelum nikah. Dengan siapa? Nggak tau. Mungkin mantan pacarnya. Yang jelas, bukan anak Kak Arga."
Gue nendang meja. "BACOT! GUE MASIH PERAWAN PAS NIKAH SAMA MAS ARGA!"
"Ssst," Mas Arga ngusap punggungku. "Biarin dia gonggong dulu. Anjing kalo nggak gonggong bukan anjing."
Di layar, si "dokter" palsu mulai ngomong. "Saya Dr. Lestari... eh... Dr. Amelia. Saya yang nangani Nona Siska 2 bulan lalu. Dia ke klinik saya, tes positif, usia kandungan 8 minggu. Saya ada rekam medisnya." Dia ngacungin map cokelat.
Komentar YouTube langsung rame:
"PANTES NIKAHNYA BURU-BURU!"
"OM-OM DAPET BEKAS!"
"CERAIIN AJA PAK ARGA!"
Mas Arga diem. Tapi gue ngerasa badannya tegang. Urat di tangannya nongol. Dia klik tombol di laptop. Telepon.
"Halo, Rudi? Iya gue. Lu hack server YouTube live ini. Gue mau gue bisa interrupt. Bisa?" Dia dengerin sebentar. "Bagus. 3 menit. Kasih gue akses." Tutup telepon.
"Mas mau ngapain?" bisikku.
"Mas mau main," jawabnya dingin. Dia buka tab baru. Isinya folder. Judulnya: "RENDRA - DOSA 2010-2026". Isinya video, foto, rekaman suara, transferan rekening. LENGKAP.
Mata gue mlotot. "Mas... ini..."
"Mas udah nyiapin ini 5 tahun, Sayang. Dari pas Mas usir dia ke Singapura. Mas tau, suatu hari anjing ini bakal gigit balik. Jadi Mas siapin racun." Dia klik satu video.
Di video, Rendra lagi di kelab malam Singapura, mabuk, peluk cewek, terus ngomong ke temennya: "Arga? Kakak gue? Mati aja dia! Gue udah bikin Alina keguguran! Gue yang nyuruh Mbok Inah kasih racun! Habis ini gue rebut perusahaannya! Terus gue..."
Gue tutup mulut. "Mas... jadi Alina..."
"Iya." Suara Mas Arga datar, tapi tangannya ngeremes mouse sampe bunyi krek. "Dia dalangnya. Bukan Dimas. Dimas cuma wayang. Clarissa cuma biduan. Dalangnya Rendra."
Live YouTube Rendra masih jalan. Dia sekarang nangis-nangis. "Saya sedih, sebagai adik, lihat Kak Arga dibodohi wanita. Saya cuma mau Kak Arga buka mata! Ceraiin dia! Balik ke jalan yang benar!"
TUT. Layar live YouTube tiba-tiba nge-freeze. Terus muncul tulisan: "LIVE DIAMBIL ALIH OLEH HOST."
Terus muka Mas Arga muncul. Dari kamera laptop kita. Background-nya kamar villa, ranjang acak-acakan, gue duduk di pahanya pake jubah.
Satu dunia kaget. Komentar: "LAH?!" "ITU PAK ARGA?!" "LHO KOK DI BALI?"
Mas Arga senyum. Senyumnya nggak sampe mata. "Selamat malam, Rendra," sapanya, suaranya kalem tapi nusuk. "Ganggu bulan madu orang aja lo."
Di split screen kecil, muka Rendra pucet. "K-ka... Kak Arga? Kok..."
"Kok gue bisa ambil alih live lo?" Mas Arga ketawa kecil. "Dek, dek. Lu main saham, gue yang punya bursanya. Lu main digital, gue yang punya servernya. Lu main kotor, gue tempat cuci darahnya."
Gue meluk Mas Arga lebih kenceng. Bangga banget.
"Soal USG," Mas Arga lanjut, ngode ke samping. Elang muncul di kamera, bawa map. "Ini surat keterangan dari 3 rumah sakit terbesar di Jakarta. RS Pondok Indah, RS Mayapada, RS Siloam. Hasil tes Nyonya Pratama 1 minggu lalu. Hasilnya: NEGATIF HAMIL. SELAPUT DARA BARU ROBEK TANGGAL 9 MEI 2026. Jam 02.15 WITA. Di Bali. Sama saya. Suaminya. Mau saya jelasin detailnya gimana robeknya?"
Muka gue MELEDAK MERAH. "MAS!" Aku cubit pinggangnya. Satu Indonesia denger!
Dia biarin, malah ketawa. "Biarin, Sayang. Biar anjing-anjing itu tau, istri gue nggak disentuh siapa-siapa kecuali gue."
Komentar YouTube: "AHAHAHAHAH NGAKAK" "PAK ARGA BAR-BAR" "TEAM NYONYA MENANG TELAK" "RENDRA KENA MENTAL".
Muka Rendra udah kayak mayat. "Itu... itu bohong! Dokter lo bisa dibeli!"
"Bisa," Mas Arga ngangguk. "Tapi ini nggak bisa dibeli." Dia play video Rendra mabuk tadi. Suaranya nyaring se-YouTube. "Gue udah bikin Alina keguguran! Gue yang nyuruh Mbok Inah kasih racun!"
Satu dunia hening. Terus komentar meledak: "ANJIRRRR" "PEMBUNUH!" "PENJARAIN!" "BRENGSEK!"
Rendra jatoh dari kursinya. "ITU EDITAN! KAK! KAK ARGA! AMPUN!"
"Editan?" Mas Arga nyender, elus rambutku. "Oke. Gue kasih yang nggak editan." Dia play lagi. Rekaman transfer 2 M dari rekening Rendra ke rekening Dimas. Tanggal 5 tahun lalu. News: "Untuk beresin Alina".
Terus play lagi. Rekaman CCTV Rendra ketemu Clarissa di parkiran. Kasih kancing kamera. "Pasang ini di gaun Siska. Gue mau videonya. Kalo udah, gue kasih lo 1 M."
Terus play lagi. Rekaman suara Rendra nelpon bandar saham: "Goreng saham Pratama Group. Isu hamil. Gue mau Arga bangkrut. Gue beli murah. Terus gue kudeta."
Rendra udah nangis-nangis di lantai. "KAK... KAK ARGA... AKU ADIK KAMU..."
"Adik?" Mas Arga berdiri, gendong gue sekalian. Jadi di kamera keliatan gue meluk lehernya, kaki nyangkut di pinggangnya. Pose bucin parah. "Adik gue udah mati 5 tahun lalu. Bareng Alina. Yang ada sekarang cuma sampah. Dan sampah..." Dia senyum, dingin. "Harus dibakar."
Dia nodong ke kamera. "Rendra Mahardika, lo punya 1 jam buat nyerah ke KBRI Singapura. Kalo nggak, gue yang jemput. Dan kalo gue yang jemput..." Dia ngecup bibirku sekilas, terus bisik tapi kedengeran se-YouTube: "Lo bakal mohon-mohon buat mati."
Live mati.
Gue masih meluk lehernya, jantung deg-degan. "Mas... keren banget..."
Dia naruh gue pelan-pelan ke ranjang. "Udah, Sayang. Perang selesai. Saham besok pagi naik 50%. Rendra besok pagi di penjara. Lo..." Dia naik ke atas gue lagi, ngurung gue. "Lo lanjutin tugas lo. Jadi ratu. Dan..." Dia nyium leherku, "Kasih Mas jatah yang kesepuluh."
"MAS! KAN UDAH BILANG RESET!"
"Udah reset lagi barusan. Pas Mas bilang 'Sayang' di live." Dia nyengir. "Mau protes?"
Gue... gue nyerah. Narik kerah jubahnya, nyium bibirnya duluan. "Nggak. Perang lanjut, Mas. Ronde kelima."
Di luar, hujan udah berhenti. Bintang keluar lagi. Di Singapura, Rendra diseret polisi. Di Jakarta, saham Pratama Group hijau.
Dan di Bali, di atas ranjang, ratu dan raja lagi nulis sejarah. Bahwa nggak ada yang bisa misahin Arga Pratama sama Siska Putri Lestari. Nggak Clarissa. Nggak Dimas. Nggak Rendra. Nggak satu dunia.
Karena cinta mereka udah sah. Secara negara. Secara agama. Secara ranjang.