Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Cahaya remang-remang di ruang tengah apartemen penthouse Valerio menciptakan suasana yang begitu kontras dengan kedinginan di luar sana.
Di atas sofa kulit Italia yang luas, Lexington duduk bersandar, membiarkan tubuh mungil Briella berada di pangkuannya. Briella tampak sangat serius, jemarinya lincah menggeser layar tablet, menelusuri katalog tas koleksi terbaru dari rumah mode di Paris.
Lexington tidak fokus pada tablet itu. Ia justru menumpukan dagunya di bahu Briella, menghirup aroma vanila dan melati yang selalu menguar dari rambut istrinya. Pikirannya mendadak melayang pada kejadian di mobil tadi.
Kata-kata Catalonia Vera West terngiang kembali seperti kaset rusak yang sangat mengganggu.
“Istri Anda hanyalah kesempurnaan hasil operasi plastik... saya cukup unggul dalam segala hal.”
Lexington hampir saja tertawa sendiri memikirkan betapa delusinya wanita yang dipanggil Late itu. Ia memperhatikan wajah Briella dari samping dengan jarak yang sangat dekat. Matanya yang besar dengan bulu mata lentik, hidungnya yang bangir namun memiliki sedikit lekukan alami yang manis, dan pipinya yang merona tanpa perlu banyak riasan.
Apa yang dibilang Late tadi? Palsu? Oplas?
Lexington tahu setiap jengkal wajah ini sejak Briella masih berusia delapan belas tahun.
Satu-satunya hal yang berubah secara drastis dalam lima tahun perpisahan mereka hanyalah bibir Briella yang kini memang terlihat lebih penuh dan bervolume—sebuah hasil dari prosedur kecantikan yang Briella lakukan di kliniknya sendiri untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.
Selebihnya? Semuanya masih asli. Masih Briella yang sama, yang memiliki tahi lalat kecil di dekat telinga dan kerutan halus di sudut mata saat tertawa.
"Lex, kau mendengarku tidak?" Briella menyikut pelan perut Lexington, membuyarkan lamunan suaminya. "Warna emerald atau nude? Aku bingung. Tas ini hanya ada dua, dan aku harus memilih salah satu sebelum kolektor lain mengambilnya."
Lexington mengeratkan pelukannya di pinggang Briella, tangannya menyusup ke bawah daster sutra istrinya, merasakan kulit halus yang terasa sangat nyata di bawah telapak tangannya.
"Ambil keduanya," jawab Lexington pendek.
"Lex! Ini harganya ratusan juta!"
"Aku tidak bertanya harganya, Sayang. Aku bilang ambil keduanya agar kau berhenti mengerutkan kening seperti itu. Kau merusak pemandangan indahnya," Lexington mengecup pipi Briella dengan gemas. "Dan omong-omong, bibirmu... kau melakukan filler?"
Briella membeku sejenak, lalu menoleh dengan wajah sedikit defensif. "Hanya sedikit, Lex. Kenapa? Apa terlihat terlalu penuh? Kau tidak suka? Aku hanya merasa ini membuatku terlihat lebih... profesional sebagai dokter kecantikan."
Lexington tertawa rendah, ia menarik wajah Briella dan mencium bibir bervolume itu dengan intensitas yang membuat napas Briella tercekat. "Aku menyukainya. Apapun yang ada padamu, aku menyukainya. Aku hanya sedang memikirkan betapa lucunya orang-orang di luar sana yang merasa tahu segalanya tentang dirimu, padahal mereka bahkan tidak pernah melihatmu bangun tidur dengan wajah bantal."
"Siapa yang kau maksud?" tanya Briella menyelidik.
"Hanya orang bodoh," jawab Lexington tenang. Ia tidak ingin merusak suasana malam ini dengan menyebut nama Catalonia.
Di sisi lain kota, di dalam kamar suite yang luas dan terorganisir dengan sangat rapi, Catalonia Vera West berdiri di depan jendela kaca besar. Ia sedang memegang segelas red wine, menatap lampu-lampu kota dengan pandangan yang tajam dan tak terbaca.
Late Vera bukanlah gadis yang jatuh cinta karena hormon yang meledak-ledak. Baginya, menyukai Lexington Valerio bukanlah sebuah kesalahan atau kelemahan emosional. Baginya, menyukai Lexington adalah sebuah keputusan logis.
Lexington adalah definisi kesempurnaan fungsional. Pintar, berkuasa, kaya, dan memiliki simetri wajah yang hampir mustahil.
Bagi Catalonia yang membenci segala bentuk ketidaksempurnaan, Lexington adalah "item" yang harus ia miliki. Cinta? Tidak, dia tidak percaya pada omong kosong seperti itu. Baginya, cinta hanyalah reaksi kimia jangka pendek yang sering kali membuat orang menjadi bodoh dan ceroboh—seperti Briella Zamora.
Catalonia tidak pernah memiliki masa lalu yang tragis. Ia tidak pernah patah hati atau dikhianati. Dia tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kesempurnaan sejak kecil. Ayahnya, Dekan West, selalu menekankan bahwa hanya yang terbaik yang berhak bersanding dengan yang terbaik.
"Cinta itu variabel pengganggu," gumam Catalonia pada dirinya sendiri. "Tapi kepemilikan... itu adalah kepastian."
Ia meletakkan gelasnya, lalu berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan dokumen riset. Namun, di bawah tumpukan kertas itu, terselip sebuah folder tipis berisi profil Briella Zamora. Catalonia mengambil folder itu, menatap foto pernikahan Lexington dan Briella yang sempat viral di media sosial.
Ia memperhatikan wajah Briella dengan saksama. Senyumnya, matanya, dan bibirnya. Sebagai seorang intelektual yang juga sangat peduli pada estetika, Catalonia merasa Briella adalah gangguan pada kesempurnaan Lexington.
"Bagaimana bisa pria secerdas dia terjebak dengan wanita yang memiliki riwayat kecerobohan setebal buku telepon?" Catalonia berbisik sinis. "Hanya karena wajah cantik? Wajah bisa diciptakan. Tapi otak? Otak tidak bisa dibeli di klinik kecantikan."
Ia merasa dirinya jauh lebih unggul. Ia bisa menemani Lexington berdiskusi tentang fisika kuantum hingga pagi, sementara Briella mungkin hanya bisa mengeluh tentang koleksi Gaun terbarunya. Catalonia yakin, Lexington hanya sedang mengalami fase nostalgia biologis dengan istrinya.
"Tiga Minggu," Catalonia mengulang janjinya. "Aku akan membuktikan bahwa kesempurnaan yang aku tawarkan jauh lebih stabil daripada emosi labil yang ditawarkan istrinya."
Ia tidak takut dengan ancaman Lexington soal pengunduran diri. Ia tahu ayahnya memegang kendali atas dana riset Lexington tahun depan. Lexington mungkin bisa mengusirnya dari mobil, tapi Lexington tidak akan bisa mengusirnya dari gedung universitas.
Catalonia mematikan lampu kamarnya, namun matanya tetap menyala di kegelapan. Baginya, mendapatkan Lexington bukan soal memenangkan hati, tapi soal memenangkan sebuah kompetisi efisiensi. Dan dalam dunia Catalonia Vera West, tidak ada tempat untuk kekalahan.
Kembali ke apartemen Lexington, malam semakin larut. Briella sudah tertidur di pelukan Lexington, tabletnya tergeletak di lantai. Lexington menatap wajah istrinya yang damai. Ia teringat kembali bagaimana Briella menangis di kliniknya, mengatakan betapa ia merasa tidak sempurna di samping Lexington.
"Kau tidak perlu menjadi sempurna untukku, Bri," bisik Lexington pelan sambil merapikan anak rambut di dahi istrinya. "Karena di mataku, ketidaksempurnaan mu itulah yang membuatku merasa hidup. Bukan mesin, bukan angka, tapi kau."
Lexington tahu, Catalonia Vera West adalah ancaman jenis baru. Wanita itu tidak menggunakan perasaan, dia menggunakan logika dan manipulasi. Dan pria itu bersumpah, ia akan menghancurkan siapa pun yang berani mencoba merusak dunia kecil yang baru saja ia bangun kembali bersama Istrinya.