NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: DATARAN TINGGI TULANG BUMI DAN SANG PENJAGA BATU

Cahaya terang benderang yang menyelimuti tubuh mereka perlahan meredup dan memudar. Rasa melayang dan bergerak cepat itu pun hilang seketika, digantikan oleh pijakan tanah yang keras, padat, dan sangat kokoh di bawah telapak kaki mereka.

Raga membuka matanya lebar-lebar, dan seketika ia tertegun takjub melihat pemandangan yang terbentang luas di hadapannya.

Lorong cahaya yang diciptakan Raja Api Purba telah membawa mereka menempuh jarak ribuan kilometer dalam sekejap mata, menempatkan mereka tepat di jantung benua besar bagian selatan. Di sini, tidak ada lagi panas terik, tidak ada asap, tidak ada lava. Yang ada hanyalah hamparan luas dataran tinggi yang tingginya seolah menembus langit, dikelilingi oleh rangkaian pegunungan batu raksasa yang menjulang tegak, kokoh, dan gagah perkasa seolah menjadi tulang punggung bumi itu sendiri.

Tanah di sini berwarna abu-abu kecokelatan, keras seperti beton, padat, dan kering kerontang. Tidak banyak tumbuhan yang tumbuh di sini, hanya sedikit rumput kering dan semak berduri yang berani hidup di tanah yang sangat miskin air dan unsur hara ini. Udara di sini dingin, kering, dan sangat tipis, membuat napas terasa sedikit berat bagi orang yang belum terbiasa.

Namun yang paling membuat hati bergetar adalah aura yang terasa sangat kuat, tua, dan tenang. Energi di sini tidak liar dan meledak-ledak seperti di Kawah Api Semesta, tapi energi yang diam, berat, dan tak tergoyahkan. Energi ketahanan. Energi kekokohan. Energi yang bisa menahan beban seluruh dunia.

"Ini... luar biasa hening..." bisik Nyi Blorong pelan, matanya berkeliling mengamati setiap sudut pegunungan batu itu. Sebagai makhluk penguasa tanah dan air, ia bisa merasakan betapa murni dan dahsyatnya energi yang tersimpan di tempat ini. "Di sini rasanya seperti waktu berhenti berjalan. Segala sesuatu terasa abadi dan tak berubah."

Kanjeng Raden mengangguk berat, wajahnya serius. Ia melangkah maju satu langkah, dan bunyi hentakan kakinya bergema panjang di tanah luas itu, seolah seluruh dataran tinggi ini mendengar dan merasakan kehadiran mereka.

"Benar. Tempat ini bukan sekadar gunung atau tanah biasa, Raga. Ingat apa kata Raja Api Purba kemarin? Ini adalah Tulang Bumi. Seluruh beban benua ini ditopang oleh akar-akar batu yang ada di bawah kaki kita. Kalau tempat ini sampai rusak atau goyah... bukan cuma gempa yang terjadi, tapi seluruh daratan bisa ambles dan tenggelam ke dasar lautan."

Raga mengangguk mantap. Ia merasakan beban tanggung jawab makin berat di pundaknya. Segel Api saja bahayanya sudah luar biasa, tapi Segel Tanah ini dampaknya bahkan lebih mengerikan lagi.

Ia merogoh dadanya, mengeluarkan Kitab Lontar Eyang Noto. Di bawah sinar matahari yang terik namun sejuk anginnya itu, halaman kitab itu terbuka sendiri, memunculkan peta rinci wilayah ini dan sebuah gambar gerbang besar yang terukir di tebing batu raksasa di kejauhan.

"Lihat itu," tunjuk Raga ke arah depan, ke arah sebuah celah besar di antara dua gunung batu tertinggi yang berdiri berhadapan seperti dua raksasa penjaga. Di sana, terlihat jelas sebuah gerbang raksasa yang tingginya ratusan meter, terbuat dari batu hitam pekat yang dipahat dengan ukiran-ukiran kuno berupa hewan-hewan purba dan simbol kekuatan tanah.

"Itu dia Gerbang Segel Kedua. Di balik gerbang itulah letak inti Segel Tanah, dan di sanalah kita harus pergi untuk memastikan semuanya aman... atau memperbaikinya kalau sudah rusak," kata Raga tegas sambil menyimpan kembali kitab itu.

Belum sempat mereka melangkah mendekat ke arah gerbang itu...

"BERHENTI DI TEMPAT! SIAPA YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI DATARAN SUCI INI?!"

Suara itu tidak keluar dari mulut makhluk mana pun, tapi bergema langsung dari dalam tanah, dari bebatuan, dari udara, memenuhi seluruh dataran tinggi itu. Suara yang berat, dalam, kasar, dan penuh otoritas mutlak.

Seketika, tanah di sekeliling mereka bergetar halus. Dari balik bukit-bukit batu dan celah-celah tebing, muncul puluhan bahkan ratusan sosok makhluk yang bentuknya persis seperti manusia, tapi seluruh tubuhnya terbuat dari batu keras. Kulit mereka kasar, berwarna abu-abu gelap, dan sangat kokoh. Mata mereka adalah kristal kecil yang menyala dingin. Mereka memegang senjata berupa gada batu dan perisai tebal, bergerak dengan langkah berat namun serempak dan disiplin tinggi.

Dan di depan barisan pasukan batu itu, berjalan mendekat sosok yang jauh lebih besar, jauh lebih kokoh, dan jauh lebih mengerikan.

Tingginya sekitar lima meter, tubuhnya raksasa tegap yang seluruhnya terbuat dari batu granit hitam yang keras dan padat. Di kepalanya tidak ada rambut, melainkan tonjolan-tonjolan batu tajam yang membentuk semacam mahkota alami. Wajahnya datar, keras, tanpa ekspresi, hanya sepasang mata kristal merah yang menatap tajam ke arah Raga dan kawan-kawannya. Di tangannya, ia memanggul sebuah gada raksasa yang ujungnya sebesar gerobak sapi, terbuat dari satu potongan batu utuh yang sangat berat.

Ini dia Si Kepala Tanah, panglima perang Sang Adipati Kala yang dikhawatirkan oleh Raja Api Purba.

Makhluk batu raksasa itu berhenti sekitar sepuluh meter di hadapan mereka. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan, seolah mereka hanyalah butiran debu kecil yang tidak berarti apa-apa dibandingkan kebesarannya.

"Manusia... makhluk hutan... dan ular... Aneh sekali ada kelompok sepeti kalian yang berani datang ke sini," suaranya bergema berat, membuat debu halus berjatuhan dari bebatuan di sekitarnya. "Apakah kalian tidak tahu? Dataran Tinggi Tulang Bumi ini adalah wilayah mutlak milik Tuanku Sang Adipati Kala! Segel Tanah sekarang sudah berada di bawah kekuasaan beliau!"

Raga melangkah maju selangkah, menatap makhluk batu itu dengan tenang dan berani, meski tubuh lawannya berkali-kali lipat lebih besar dan lebih berat darinya.

"Kami tahu tempat ini suci, Kawan. Dan kami tahu apa yang dilakukan tuanku padamu itu salah besar," jawab Raga tegas. "Sang Adipati Kala bukanlah pemilik tempat ini. Dia perusak keseimbangan. Dia sudah merusak Segel Api, dan sekarang dia mencoba merusak Segel Tanah ini demi ambisi jahatnya. Kami datang ke sini bukan untuk berperang, tapi untuk menyelamatkan tempat ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!