Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kami melewati jalan dengan perbukitan yang tertutup oleh pepohonan pinus dan rumput, badanku bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arak truk yang berjalan melewati beberapa kelokan tajam. Mataku dengan tajam menatap kotak titanium itu, tapi otak dan sudut mataku tentu tidaklah diam, dengan memindai situasi yang bisa saja tiba-tiba berbahaya seperti kejadian tadi.
"Sebentar lagi akan sampai, Arthur." Fedor menggeram rendah di sampingku.
Aku mengangguk. "Pastikan semua aman, Fedor." aman yang aku sendiri tidak tahu ditujukan untuk siapa.
Sesaat setelahnya, kami berhenti di sebuah gudang tua yang tertutup oleh rimbunnya pohon pinus, gudang yang menyembunyikan kemewahan sebuah transaksi dibalik kumuhnya atap seng yang berkarat.
"Kamu bawa kotaknya, Arthur, jaga jangan sampai lecet. Kita turun." Aku mengangguk dan turun dari truk dengan gerakan yang sengaja kubuat seperti...lambat, sesuai karakter Arthur.
Tampak di depan pintu, seorang pria paruh baya dengan senjata terselip di pinggangnya, berbicara dengan Fedor dengan penuh kewaspadaan. Otot leher Fedor sedikit menegang dan giginya sedikit menggertak.
"Jangan khawatir, Tuan. Kami tak menyentuh apapun." Suara Fedor terdengar menggeram.
Tampaknya Petinggi Vanguard ini tak percaya dengan Markov dengan perlakuannya pada kami yang tampak meremehkan. Tangan kanan orang itu masih berada di gagang pistolnya tanpa menurunkan kewaspadaannya. Tak berapa lama dia memberi isyarat untuk masuk.
Bau oli, besi tua, dan debu yang bercampur membuat dada terasa sesak, diiringi dengan meningkatkan atmosfer ketegangan. Hanya suara sepatu kami yang beradu dengan dinginnya lantai beton yang menyambut. Kami melangkah sedikit jauh ke dalam gudang, hingga masuk ke sebuah ruangan yang terbengkalai, namun sebenarnya tidak. Meja tampak rusak kakinya, tapi permukaannya bersih dari debu. Selain meja dan kurai yang tampak tua, lantai dan tembok nampak bersih. Ruangan ini tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Di depan meja duduk dua orang tua menggunakan jas hitam, yang satu berkacamata dan yang satu tidak.
"Yang kita tunggu akhirnya datang, Tuan Hans." Pria Tua berkacamata itu berkata pada Pria di sebelahanya.
Yang di panggil Tuan Hans kemudian berdiri dan berjalan menuju kami dengan presisi, dan memberi isyarat padaku untuk meletakkan kotak itu di meja besi. Aku dengan perlahan meletakkannya di atas meja. Pria berkacamata itu menghampiriku dan hendak menyentuh kotak titanium ini.
Aku tahu bahwa di dalam gudang ini, pihak mereka kemungkinan besar memasang alat Signal Sniffer untuk memastikan aku tidak membawa perangkat pelacak aktif.
"Tunggu," kataku, suaranya sengaja kubuat sedikit bergetar, mempertahankan sosok Arthur yang penakut. "Aku sudah memodifikasi kotak ini dengan Passive Shielding. Jika Anda membukanya sekarang tanpa prosedur de-ionisasi, sensor di dalam ledger bisa memicu self-destruct karena perubahan tekanan sinyal yang tiba-tiba."
Itu bohong, tentu saja. Tapi bagi mereka, aku adalah jenius. Aku butuh waktu beberapa detik untuk memastikan langkah 'mimikri'ku bekerja.
Sambil berpura-pura memeriksa segel kotak, jemariku yang tersembunyi di balik badan kotak menempelkan sebuah Micro-Transmitter pasif berukuran sebesar kuku ke balik meja besi gudang itu. Perangkat ini tidak memancarkan sinyal sekarang, tapi akan aktif 24 jam lagi, memancarkan sinyal "Arthur" palsu seolah-olah aku masih berada di gudang ini.
Mataku menoleh pada pria tua itu dan mengangguk. Aku menghubungkan kabel bypass dan melakukan sinkronisasi frekuensi untuk membuka kunci biometrik koper.
Sambil membuka kunci untuk mereka, aku diam-diam menyisipkan worm ke dalam ledger digital tersebut. Dadaku sesak saat melakukannya, teringat aku membukakan kunci kekayaan orang lain, tapi aku sendiri bahkan tidak bisa membukakan pintu kebebasan untuk Ghea. Aku menarik nafas panjang untuk mengurangi perasaan ini.
Setiap kali mereka mengakses buku besar itu nanti, sistemnya otomatis akan mengirimkan salinan log-nya ke server rahasiaku di Zurich.
"Kenapa lama sekali?" bentak petinggi itu, ia menepis tanganku dengan kasar sebelum proses sinkronisasi benar-benar selesai.
"Hati-hati, Tuan," kataku dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas. "Jika koneksinya terputus secara paksa, sistem anti-tamper akan menghapus seluruh data ledger ini secara permanen. Dan Anda akan kehilangan daftar aset Vanguard dalam sekejap."
Dia terhenti. Wajahnya memerah karena tersinggung oleh bawahannya. "Kau mengancamku, Anak Muda?"
"Saya hanya memberikan peringatan teknis," jawabku tanpa menatap matanya. "Tugas saya adalah memastikan data Anda aman, bukan memastikan ego Anda tetap terjaga."
Suasana membeku. Fedor menahan napas. Petinggi itu menatapku tajam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, sebelum akhirnya tertawa sinis. "Pintar. Tapi ingat posisimu, Pria Muda. Kau hanya alat. Jangan pernah berpikir kau lebih besar dari sistem ini."
Begitu koper terbuka dan data terverifikasi, mereka mengabaikanku. Mereka sibuk menatap angka-angka miliaran dolar di layar, tanpa sadar bahwa di bawah hidung mereka, aku baru saja menyalin "kunci kerajaan" mereka.
Aku mundur dan memberi isyarat pada Fedor dan beberapa yang lain untuk pulang.
"Kamu cerdas, Arthur. Tak kusangka kamu berani menghadapi asisten Tuan Hans yang terkenal kejam." Kata Fedor saat kami dalam truk.
"Kunci kotak itu ada di tangan kita, Fedor. Jika kita mati, kotak itu tak akan terbuka."
Perjalanan pulang akan menjadi perjalanan penuh kerinduan pada gadis itu. Tanpa signal, aku tahu bagaimana dia di sana, di tempat paling aman menurutnya, tanpa tahu aku telah mengamankan jalannya, juga jalanku sendiri disini untuk tetap bisa melihatnya.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/