NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mustika Yang Tercium

Satya duduk menikmati Pulau Jawa sedang terlelap dalam keresahan yang tak kasatmata. Selama berbulan-bulan, jaring laba-laba milik Satya telah terentang luas, menutupi setiap inci wilayah dari pesisir utara hingga selatan. Perintah itu turun langsung dari singgasana sang penguasa Mata Malaikat: pasang mata di setiap sudut kota, awasi setiap gerak-gerik sekecil apa pun. Perintah tersebut diterima oleh Alexa, ibunya, sang arsitek jaringan intelijen yang dingin. Namun, waktu merayap lambat. Bulan berganti, musim berputar, dan laporan yang dinanti-nantikan oleh Satya tak kunjung mendarat di mejanya. Keheningan itu bukanlah kedamaian, melainkan ketegangan yang menumpuk, sebuah penantian yang membuat urat nadi kemarahan Satya berdenyut kian kencang.

​Di sebuah sudut sunyi pinggiran Indramayu, kehidupan di kediaman Bang Jagur seolah membeku dalam ketakutan yang terselubung. Miranti dan Kirana bersembunyi—tidak keluar dari rumah sekalipun.

Bang Jagur, pria yang diberitahu oleh Miranti, semua tentang Kirana, setiap pagi sebelum mesin truknya menderu, akan selalu berbisik dengan nada yang getar oleh cemas.

​"Bu," ujarnya pada sang istri, "tolong, pastikan mereka benar-benar terkunci di dalam. Jangan sampai mereka keluar barang sedikit pun. Mata-mata itu ada di mana-mana, dan satu helai rambut mereka yang terlihat bisa berarti kematian bagi kita semua."

​Namun, takdir memiliki jalan yang lain. Pada suatu sore yang gerah, saat cahaya matahari meredup menjadi jingga pucat, musibah menghantam. Bu RT mendadak tersungkur di lantai dapur. Wajahnya membiru, napasnya terputus-putus, dan busa tipis keluar dari sudut bibirnya akibat serangan darah tinggi yang meledak hebat.

​Miranti, yang saat itu sedang membersihkan meja, mematung sejenak sebelum kepanikan mengambil alih. Ia mengobrak-abrik kotak obat di atas lemari, namun yang ia temukan hanyalah kotak kosong. Jantungnya berdegup kencang, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Ia menoleh ke arah Kirana yang berdiri mematung di sudut ruangan, wajah bocah itu mencerminkan ketakutan yang murni. Miranti mendekat, memegang pundak keponakannya dengan jemari yang gemetar hebat.

​"Kirana," bisik Miranti, matanya berkaca-kaca. "Bibi harus pergi. Ibu RT butuh obat segera, atau dia... dia tidak akan selamat."

​"Tapi, Bi..." Kirana menggeleng, air matanya mulai menetes. "Bukankah Bang Jagur bilang di luar berbahaya? Bagaimana kalau ada orang jahat yang melihat Bibi?"

​Miranti menelan ludah, dadanya terasa sesak oleh dilema. Ia tidak bisa membiarkan Bu RT mati, wanita yang telah menampung mereka meski dalam keraguan. "Dengar, Sayang. Bibi berutang nyawa padanya. Bibi harus melakukan ini. Tolong, jaga Ibu RT selagi Bibi pergi. Apa pun yang terjadi, jangan pernah buka pintu untuk siapa pun. Mengerti?"

​"Bi... cepat kembali, ya? Aku takut sekali," pinta Kirana, suaranya parau.

​Miranti mengangguk, mencium kening Kirana untuk terakhir kalinya sebelum mengenakan kerudung lebar untuk menyamarkan wajahnya. Ia melangkah keluar dengan dada yang berat, setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas bara api.

​Di keramaian pasar, di antara hiruk-pikuk pedagang yang tak sadar akan bahaya yang mengintai, seorang pria berjaket abu-abu berdiri mematung di balik tiang beton. Ketika sosok wanita yang terburu-buru itu melintas, pria tersebut terkesiap. Meski wajahnya tertutup, gerak tubuh dan sorot matanya yang penuh kecemasan adalah jejak yang tak bisa disembunyikan. Pria itu segera menyingkir, mengeluarkan ponselnya, dan mengirimkan pesan singkat ke markas besar.

​Pesan itu sampai ke tangan Satya. Ia tidak marah; justru ia tersenyum. Sebuah senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan. Mustika itu adalah kartu as-nya, dan kini, mangsa itu telah melangkah masuk ke dalam jebakan. "Reno, Lisa, Bram. Jemput mustika itu," ucapnya tenang.

---

​Sementara itu, di puncak bukit Indramayu, Jalal terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu. Mimpi tentang burung gagak membawa mutiara tujuh warna masih terasa sangat nyata di pikirannya. Ia merasakan aura yang sangat janggal dan pekat menyelimuti atmosfer kota.

​"Rafael!" teriak Jalal. "Mustika itu ada di kota ini, di Desa Paku Alam."

----

​Di kediaman Bang Jagur, malam telah turun dengan pekat. Gerimis halus mulai membasahi aspal. Bang Jagur baru saja memarkir truknya di halaman rumah, lelah setelah seharian penuh bekerja. Ia belum menyadari bahwa di balik kegelapan semak-semak dan bayangan pepohonan, sepasang mata-mata sedang mengawasinya.

​Dua puluh pria berpakaian serba hitam kini telah mengepung rumah itu dalam diam. Reno berdiri di depan pagar, tangan kirinya yang buntung tertutup kain hitam, memancarkan aura maut. Lisa dan Bram berdiri di belakangnya. Bram, dengan dada pelat bajanya, mengeluarkan suara tik-tik-tik yang ritmik dari jantung mesinnya, sebuah ritme kematian yang menunggu waktu.

​Jagur turun dari truk, berniat membuka pagar. Ia menghela napas panjang, bersiap menghadapi istrinya yang mungkin akan mengomel karena ia pulang terlambat. Namun, sebelum tangannya menyentuh besi pagar, ia berhenti. Bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin yang tidak wajar menyapu tengkuknya. Ia menoleh ke sekeliling, dan di balik bayang-bayang pohon jati, ia melihat siluet-siluet pria yang berdiri diam seperti patung maut.

​Rumah itu sudah terkepung rapat. Tidak ada jalan keluar. Jagur menatap ke arah pintu depan, tempat Miranti dan Kirana berada, menyadari bahwa badai yang ia takutkan selama berbulan-bulan akhirnya tiba di depan pintu rumahnya. Di balik pagar, Reno tersenyum sinis, menanti saat yang tepat untuk menghancurkan segalanya.

1
SANG
Mantap dah👍💪
SANG
Keren dah
SANG
Sip deh👍💪
SANG
Hadir thor👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu tho rrrrrr💪👍
SANG
Semangat💪👍
SANG
Keren
SANG
Aku hadir💪👍
Muqimuddin Al Hasani
si abah mati
Muqimuddin Al Hasani
💪
Siti Meilani
wah ke3e3eeeeeeren
Muqimuddin Al Hasani
rencananya novel tidak ada end, nanti ada sembara dari gunung merapi, ada Jaka Tingkir dari Madura, Jaka Tarub, sunan Kalijaga 🤣🤣
T28J: waaah lebih mantap itu, cerita cross-over semua pahlawan jadi satu universe
macam Marvel indo ya kan 👍👍👍
total 1 replies
T28J
jalal, si buta dari gua hantu
mungkin lebih mantap lagi nanti ada karakter baru titisan wiro sableng, buat bantu jalal 🤔
Muqimuddin Al Hasani
makasih kak, baru nyoba nulis kak🙏
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!