NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CIUM TANGAN DI AMBANG NERAKA

Di sudut kota yang lain, jauh dari ketegangan rumah keluarga besar Nayaka dan kesedihan di rumah Damira, seorang pria bersimpuh di atas sajadahnya. Keheningan malam menyelimuti dirinya yang baru saja menyelesaikan sujud terakhirnya.

Pria itu adalah Satya.

Ia menarik napas panjang, menengadahkan kedua tangannya dengan penuh ketulusan. Wajahnya tampak tenang, namun ada kerinduan yang dalam di sorot matanya. Selama ini, ia hanya bisa mencintai dalam diam, menjaga jarak demi menghormati pernikahan wanita yang sangat ia muliakan.

"Ya Allah, Penguasa hati setiap hamba-Mu..." bisiknya dengan suara rendah yang bergetar. "Hamba tidak meminta untuk memilikinya jika itu memang bukan takdirku. Hamba hanya memohon satu hal... lindungilah Azzura. Di mana pun ia berada, dalam kondisi apa pun ia saat ini, berikanlah ia kekuatan dan kebahagiaan."

Satya terdiam sejenak, membasahi bibirnya yang terasa kering.

"Jauhkanlah ia dari segala mara bahaya, dari lisan yang menyakiti, dan dari hati yang membenci. Jika ia sedang dalam kesulitan, jadilah penolongnya. Jika ia sedang bersedih, jadilah penghiburnya. Karena hamba tahu, hanya Engkaulah sebaik-baiknya penjaga."

Satya mengusap wajahnya, lalu mengakhiri doanya dengan amin yang panjang. Ia berdiri, melipat sajadahnya dengan rapi tanpa sedikit pun menyadari bahwa saat ini, wanita yang namanya baru saja ia langitkan sedang meringkuk ketakutan di lantai kamar, menahan sakit hati dan cengkeraman kasar dari suaminya sendiri.

Ia tidak tahu bahwa Azzura sedang difitnah karena namanya, dan ia tidak tahu bahwa janin yang sedang dikutuk oleh Nayaka itu adalah alasan mengapa Azzura kini berada di ambang kehancuran. Satya tetap menjadi pelindung lewat doa-doanya, menjadi satu-satunya orang yang memohon keselamatan bagi Azzura, sementara seisi rumah itu seolah sedang bersekongkol untuk menyiksa batin sang wanita.

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke celah jendela tidak membawa kehangatan sedikit pun di kamar itu. Azzura, yang baru saja terlelap karena kelelahan menangis semalaman, tersentak bangun saat tangan kekar Nayaka mencengkeram lengannya dan menariknya paksa dari tempat tidur.

"Bangun!" bentak Nayaka, suaranya serak namun penuh penekanan.

Azzura meringis kesakitan, mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemas. Ia menatap Nayaka dengan pandangan kabur, melihat suaminya sudah rapi dengan kemeja kantornya, seolah tidak terjadi badai besar semalam.

"Pakai jilbab lo, dandan yang rapi. Lo harus akting jadi istri solehah di depan semua orang bawah," desis Nayaka sambil melempar sebuah kotak kosmetik ke arah tempat tidur. "Tutupin memar di badan lo itu. Jangan sampai Ayah sama Ibu curiga dan bikin drama baru lagi pagi ini."

Azzura memegang lengannya yang terasa nyeri, menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak sangat hancur. "Sampai kapan kita harus begini, Nay?"

"Sampai gue dapet bukti kalau anak itu bukan darah daging gue!" Nayaka mendekat, mencengkeram dagu Azzura hingga wanita itu terpaksa menatap matanya yang dingin. "Dengar, Ra. Jangan pikir kehamilan ini adalah kemenangan buat lo. Kita tetap akan cerai. Lo udah rebut kebahagiaan Damira, lo hancurin rencana masa depan gue sama dia, dan sekarang lo dengan tidak tahu malunya minta gue tanggung jawab sama apa yang nggak pernah gue lakuin?"

"Nay, aku nggak pernah minta kamu tanggung jawab kalau kamu memang nggak mau..." suara Azzura bergetar, "tapi tolong, jangan tuduh aku sejahat itu."

Nayaka menghempaskan wajah Azzura dengan kasar. "Simpan air mata lo buat di depan orang tua gue nanti. Cepat turun. Kalau lo telat dan mereka mulai nanya-nanya, gue nggak akan segan-segan bikin luka yang lebih nyata daripada sekadar memar."

Nayaka berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras. Azzura terduduk lemas di tepi ranjang. Dengan tangan gemetar, ia mulai memakai riasannya, mencoba menutupi pucat di wajahnya dan tanda kemerahan di lengannya dengan bedak dan baju lengan panjang. Di dalam hatinya, ia merasa seperti mayat hidup yang dipaksa menari di atas panggung sandiwara yang dibuat oleh suaminya sendiri.

Lantai bawah rumah besar itu sudah ramai oleh kerabat dan keluarga besar yang datang untuk merayakan kabar kehamilan Azzura. Aroma nasi kebuli dan kopi hangat memenuhi ruangan, kontras dengan hawa dingin yang menyelimuti hati kedua mempelai itu.

Begitu menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, topeng itu langsung terpasang sempurna. Nayaka menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang sering ia gunakan saat melobi klien bisnis, namun kali ini ia gunakan untuk menipu seluruh keluarganya.

"Nah, ini dia pasangan bahagia kita!" seru salah seorang paman yang disambut tepuk tangan riuh.

Nayaka merangkul pinggang Azzura dengan protektif, seolah-olah ia adalah suami paling siaga di dunia. Azzura sedikit tersentak, rasa perih di lengannya yang tertutup kain lengan panjang terasa berdenyut saat tangan Nayaka sengaja menekan tepat di bekas cengkeramannya semalam. Namun, Azzura tidak meringis. Ia justru tersenyum manis, sebuah senyum yang ia latih di depan cermin tadi.

"Azzura, Sayang... makan yang banyak ya, kamu pucat sekali," ucap Ibu Nayaka sambil mengelus pipi menantunya.

"Hanya mual biasa kok, Bu. Mas Nayaka juga sudah jaga aku dengan baik semalaman," jawab Azzura halus, suaranya terdengar sangat meyakinkan hingga Ibu Nayaka tampak lega.

Tiba saatnya Nayaka berpamitan untuk berangkat ke kantor. Di depan semua mata yang memandang dengan haru, Azzura meraih tangan kanan Nayaka yang tidak dibalut perban. Ia membungkuk, mencium punggung tangan suaminya dengan takzim—sebuah gestur pengabdian yang paling tinggi.

Saat wajah Azzura mendekat ke tangannya, Nayaka membungkuk sedikit, berpura-pura membisikkan kata sayang di telinga istrinya agar terlihat romantis di mata keluarga.

"Bagus, Ra. Akting lo sempurna," bisik Nayaka dengan nada rendah yang mengerikan, berbanding terbalik dengan senyum di wajahnya. "Pertahanin sampai gue pulang, atau lo tahu akibatnya."

Azzura menjauhkan wajahnya, matanya menatap mata Nayaka sejenak. "Hati-hati di jalan, Mas," ucapnya lantang, cukup untuk didengar semua orang.

Nayaka mengangguk, lalu mencium kening Azzura sekilas—sebuah kecupan yang terasa sedingin es bagi Azzura. Seluruh keluarga bersorak menggoda mereka, tidak tahu bahwa di balik kecupan itu, ada rasa jijik yang luar biasa, dan di balik cium tangan itu, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.

Begitu mobil Nayaka menderu pergi meninggalkan halaman rumah, Azzura langsung berbalik, menelan ludah dengan susah payah. Sandiwara pagi itu selesai, namun ia tahu, ia baru saja memulai satu hari lagi di dalam neraka yang dibungkus dengan tawa keluarga.

Damira baru saja hendak melangkah melewati pintu kaca lobi kantornya saat sebuah suara yang sangat ia kenal memecah kebisingan pagi.

"Damira!"

Damira menoleh dan mendapati Satya sedang berjalan ke arahnya. Pria itu tampak sangat rapi dengan map di tangannya. Wajahnya cerah, langkahnya ringan, dan ada binar kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari matanya.

"Satya? Kamu ngapain di sini pagi-pagi?" sapa Damira, mencoba bersikap normal meski hatinya masih terasa berat karena kejadian semalam.

"Oh, ini, Mir. Kebetulan ada job di kantor kamu buat bikin desain ruangan baru di lantai tiga. Tadi baru aja dipanggil buat survei lokasi dan diskusi konsep awal," jawab Satya semangat. "Tapi jujur, pagi ini rasanya beda saja. Aku merasa tenang, Mir. Seperti semua doa-doaku selama ini mulai menemukan jalannya."

Damira terdiam sejenak, menatap Satya dengan rasa iba yang mendalam. Ia menyadari satu hal: Satya pasti belum tahu soal kabar kehamilan Azzura. Satya tidak tahu bahwa wanita yang selalu ia sebut dalam doa-doanya itu kini sedang terjebak dalam sandiwara menyakitkan di rumah Nayaka.

"Kamu... kelihatan senang banget, Sat. Padahal kan baru mau mulai kerjanya," gumam Damira hati-hati.

"Iya, entahlah. Rasanya kayak dapet energi tambahan aja. Aku cuma pengen kerja yang bener, terus berharap Azzura juga baik-baik saja di sana. Aku merasa dia bakal segera dapet kebahagiaannya, Mir," ucap Satya tulus, tanpa sedikit pun beban.

Damira menelan ludah. Ia ingin sekali bicara, ingin memberitahu Satya bahwa dunia baru saja jungkir balik bagi Azzura. Namun, melihat keceriaan di wajah Satya yang sedang bersemangat dengan proyek desainnya, Damira merasa lidahnya kelu. Ia tidak sanggup menjadi orang yang menghancurkan senyum itu dengan berita tentang "kehamilan" yang bahkan Nayaka sendiri anggap sebagai aib.

"Kenapa, Mir? Kok kamu bengong? Ada yang salah sama penampilanku?" tanya Satya sambil memeriksa kemejanya, mulai menyadari perubahan raut wajah Damira.

Damira menggeleng cepat, mencoba memaksakan senyum. "Enggak, Sat. Bagus kok, kamu kelihatan profesional. Sukses ya buat desain ruangannya. Semoga... semoga memang yang terbaik yang terjadi hari ini."

Damira segera berpamitan dan masuk ke dalam lift dengan perasaan yang semakin tidak keruan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Satya jika ia tahu bahwa proyek desain ruangan ini adalah hal terakhir yang akan membuatnya bahagia sebelum kenyataan pahit tentang Azzura terungkap. Sementara itu, di lobi, Satya berjalan menuju lift barang dengan semangat, tidak menyadari bahwa badai besar sebenarnya sudah meratakan segalanya sejak semalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!