NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Pecah

Lampu kristal di ruang tamu menyala serentak, membuat mata Kayla yang sembap terasa perih. Bersamaan dengan itu, tawa renyah dari arah pintu mendadak terhenti. Bau alkohol samar dan parfum vanila yang menyengat langsung memenuhi ruangan, merusak aroma lavender yang sejak sore menempel di daster Kayla.

Adrian berdiri di ambang pintu, merangkul pinggang Valerie yang berjalan sedikit sempoyongan. Saat matanya menangkap sosok Kayla yang meringkuk di lantai marmer sambil memegangi perut, tidak ada kepanikan di wajah pria itu.

Adrian hanya menghela napas panjang. Jengkel. Dia melempar kunci mobilnya ke atas meja konsol hingga menimbulkan bunyi berdenting yang nyaring.

"Kayla, ngapain lagi sih tidur di lantai begitu?" Adrian melangkah mendekat, melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar. "Kamu sengaja ya? Sengaja mau merusak suasana malam ini? Gak bisa apa sekali aja gak usah bikin drama pas aku pulang kerja?"

Kayla tidak langsung menjawab. Ulu hatinya mendadak mual. Dia mencoba bernafas tetapi napasnya terasa pendek dan putus-putus. Perutnya kembali mengeras, menimbulkan rasa ngilu yang menjalar dari pinggang hingga ke paha.

Di belakang Adrian, Valerie memundurkan langkah. Dia tidak berteriak atau memaki. Perempuan itu hanya meremas lengan kemeja Adrian dengan jemari lentiknya, membuat daster sutra biru tua yang dipakainya sedikit berkerut.

"Adrian... aku takut," bisik Valerie rendah, suaranya bergetar dengan porsi yang pas. Matanya menatap Kayla dengan pandangan ngeri yang dibuat buat. "Kak Kayla kenapa menatap aku seperti itu? Apa... apa sebaiknya aku pulang aja? Aku gak mau jadi penyebab kalian bertengkar."

Mendengar bisikan itu, bahu Adrian menegang. Dia menepuk pelan tangan Valerie yang ada di lengannya, memberi gestur menenangkan. Saat dia kembali menatap Kayla, sorot matanya berubah menjadi dingin dan penuh permusuhan.

"Lihat kelakuan kamu, Kay. Kamu bikin Valerie gak nyaman di rumah ini," kata Adrian, suaranya datar namun tajam.

Kayla mencengkeram pinggiran sofa kulit di dekatnya. Dengan seluruh sisa tenaga yang tersisa, dia memaksa lututnya yang gemetar untuk bertumpu. Tubuhnya yang terasa seberat timah karena usia kehamilan delapan bulan itu dipaksa berdiri tegak. Peluh dingin menetes di pelipisnya, bercampur dengan sisa air mata yang mengering.

Dia menatap gaun malam yang melekat di tubuh Valerie. Gaun biru tua yang semalaman dia setrika dengan tangan yang melepuh.

"Valerie... gak nyaman?" Kayla bersuara, memotong keheningan ruangan. Suaranya serak, nyaris habis di tenggorokan. "Lalu bagaimana dengan aku, Mas? Bagaimana dengan istri sah kamu yang semalaman menyetrika baju untuk selingkuhan suaminya?"

Adrian tersentak. Matanya melebar selama sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali menyipit tajam. "Kamu bicara apa, sih? Gak usah asal tuduh kalau lagi sakit!"

"Empat belas Februari dua tahun lalu," Kayla melanjutkan, suaranya pelan tapi bergetar hebat. Dia harus berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, menahan kram perut yang kembali memilin rahimnya. "Kamu bilang ada rapat investor di luar kota. Tapi kemarin aku nemuin foto Polaroid di laci mejamu, Mas. Kamu di Bali, memeluk perempuan ini."

Adrian bungkam. Wajah tampannya mengeras, rahangnya mengetat mendengar rahasia lamanya dibongkar tanpa peringatan.

"Bukan cuma itu..." Kayla melangkah satu kali, meski tumitnya terasa kebas. "Pengalihan lima belas persen saham Wijaya Corp atas nama Valerie Amanda. Perusahaan itu... perusahaan itu berdiri karena pembukuan dan analisis yang aku kerjakan sampai subuh tiap hari, Mas! Tapi kenapa hasilnya kamu kasih ke dia?!"

"Cukup, Kayla!" Adrian memotong dengan bentakan keras, mematikan kalimat Kayla. Rasa panik karena posisinya tersudut kini berubah menjadi amarah yang meledak-ledak. Ego narsistiknya menolak untuk disalahkan.

"Kamu lancang ya buka-buka laci kerja saya!" Adrian maju dua langkah, menunjuk wajah Kayla dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Kamu pikir tanpa aku, coretan angka kamu di dapur itu ada gunanya? Hah?! Sadar diri, Kay! Kamu itu siapa sebelum nikah sama aku?!"

Kayla menatap pria di depannya dengan pandangan kosong. Rasa kram di perutnya mendadak mati rasa, berganti dengan rasa perih yang menjalar di seluruh dadanya.

"Kamu itu cuma anak yatim piatu miskin yang gak punya siapa-siapa di dunia ini! Kamu gak punya keluarga, gak punya harta!" Adrian mendesis, setiap katanya sengaja ditekan untuk menghancurkan harga diri Kayla. "Kamu untung aku pungut, aku kasih makan, aku kasih tempat tinggal mewah begini. Semua yang ada di rumah ini, uang yang kamu pakai, baju yang kamu pakai, itu semua punya saya! Kamu cuma menumpang hidup di sini, jadi gak usah sok mengatur keuangan saya!"

Di belakang Adrian, sudut bibir Valerie terangkat tipis. Sangat tipis hingga hampir tidak terlihat, sebuah senyuman penuh kemenangan yang ditujukan langsung pada Kayla.

Rasa sakit yang teramat sangat dari kalimat Adrian membuat fisik Kayla menyerah. Dia memegangi perutnya yang kembali menegang keras seperti batu. Tubuhnya limbung ke samping, terpaksa berpegangan pada sandaran kursi makan agar tidak langsung jatuh ke lantai. Napasnya memburu, tenggorokannya tercekat hingga dia kesulitan untuk mengeluarkan suara.

Adrian melihat kondisi Kayla yang kepayahan, namun hatinya sudah tertutup oleh rasa murka. Pria itu berbalik cepat menuju meja kerja di sudut lorong tengah, menyambar sebuah map cokelat tebal yang memang sudah dia siapkan sejak minggu lalu.

Brakk!

Map cokelat itu dibanting di atas meja makan, tepat di depan jangkauan tangan Kayla. Beberapa lembar dokumen putih mencuat keluar, memperlihatkan tulisan tebal di bagian atas: SURAT GUGATAN CERAI.

"Tanda tangan. Aku sudah muak sama drama miskin dan muka melas kamu di rumah ini," ucap Adrian, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan mutlak.

Kayla bahkan belum sempat menyentuh kertas itu ketika Adrian tiba-tiba maju dan mencengkeram pergelangan tangan kurusnya dengan kasar.

"Mas... sakit... lepas..." Kayla merintih. Kulit pergelangan tangannya seketika memerah di bawah tekanan jari-jari Adrian. Sebelah tangannya yang lain mati-matian mendekap perut buncitnya yang terasa kram hebat.

Adrian tidak mendengar. Dia menarik tubuh lemah Kayla, menyeretnya melewati ruang tengah menuju pintu depan mansion yang terbuka lebar. Sendal rumah Kayla terlepas, membuat telapak kaki telanjangnya terseret di atas marmer yang dingin.

"Keluar dari rumah saya, Kayla! Bawa semua drama sialan kamu ini keluar dari sini!" bentak Adrian, suaranya bersahut-sahutan dengan deru angin malam.

Di luar, hujan badai sedang tumpah dengan brutalnya. Angin kencang meniup cipratan air hujan hingga membasahi lantai teras depan.

Kayla mencoba menahan tubuhnya dengan berpegangan pada tiang pintu, air matanya luruh deras membasahi pipinya yang pias. Dia menatap wajah Adrian dari jarak dekat—wajah pria yang dulu memohon di makam orang tuanya untuk diizinkan menjaga Kayla.

Malam ini, di mata Adrian, Kayla tidak menemukan sisa-sisa cinta atau belas kasihan sedikit pun. Pria itu benar-benar menutup mata dari rasa sakit fisik dan batin istrinya yang sedang bertaruh nyawa mengandung anaknya, siap mendorongnya jatuh ke dalam kegelapan badai di luar sana.

1
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!