Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di jebak
"Cepat bersihkan sekarang!" perintah Angelia dengan nada yang tak terbantahkan. Matanya berkilat penuh ancaman, seolah-olah jika Tiana menolak satu detik saja, sebuah tamparan keras akan mendarat di pipinya.
"Iya, Bik..." jawab Tiana dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan genangan air mata yang siap tumpah. Dengan langkah lunglai, ia turun ke lantai bawah, melewati lorong-lorong mansion yang dulu terasa hangat namun kini sedingin es.
Di halaman belakang yang sangat luas, dedaunan kering berserakan akibat badai kecil semalam. Tiana mengambil sapu lidi yang kasar—sesuatu yang belum pernah ia sentuh sebelumnya—dan mulai menyapu dengan tangan yang masih gemetar. Kulit tangannya yang halus mulai memerah karena gesekan kayu sapu yang kasar.
"Non... biar saya saja yang bersihin," tegur seorang pelayan tua yang sudah bekerja puluhan tahun di sana. Bik mery menatap Tiana dengan mata berkaca-kaca, tak tega melihat putri majikannya diperlakukan seperti budak.
Tiana mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis meski bibirnya bergetar. "Nggak apa-apa, Bik... biar aku bantu. Aku harus melakukan ini kalau mau tetap tinggal di sini."
Tiana terus menyapu, keringat mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi seragam pembantunya yang lusuh. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang berantakan atau sekolahnya yang terancam bolos. Fokusnya hanya satu: bertahan hidup di rumahnya sendiri.
Namun, di balik rimbunnya pohon besar di seberang gerbang mansion, sebuah lensa kamera panjang tersembunyi dengan rapi. Seorang pria berpakaian serba hitam, mata-mata Alex, sedang membidikkan kameranya ke arah Tiana.
Cekrek! Cekrek!
Foto-foto Tiana yang sedang berlutut di tanah, menyapu daun dengan wajah yang kuyu dan sedih, langsung terkirim ke ponsel pribadi Alex Ferguson.
------------------------------
Di belahan kota lain, ponsel Alex bergetar di atas meja kerja yang mewah. Alex meraih ponselnya, dan matanya menyipit saat melihat deretan foto yang dikirim anak buahnya.
"Menarik," gumam Alex dengan suara bariton yang berat. Ia memperbesar foto wajah Tiana yang sedang menangis sambil memegang sapu. "Jadi, mereka memperlakukan 'mawar' musuhku seperti sampah? Sepertinya aku tak perlu mengotori tanganku untuk menghancurkannya... orang-orang di rumah itu sudah melakukannya untukku."
Alex menyandarkan punggungnya di kursi kulit, sebuah rencana baru mulai terbentuk di kepalanya yang dingin.
------------------------------
Di dalam kemewahan mansion yang kini terasa seperti penjara, Angelia sedang menyesap teh paginya dengan anggun saat ponsel mahalnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Liona.
"Halo, Sayang? Ada apa?" tanya Angelia dengan nada lembut yang hanya ia berikan pada putrinya.
Di seberang telepon, Liona terkekeh licik. "Bu, biarkan Tiana masuk sekarang. Suruh dia berangkat kuliah. Aku ingin melihatnya dihukum di depan semua orang... apalagi hari ini jadwal dosen paling galak di kampus. Aku mau dia dipermalukan habis-habisan dengan kondisinya yang berantakan itu!"
Angelia melirik ke arah jendela, menatap Tiana yang masih membungkuk kepayahan menyapu dedaunan kering di halaman bawah terik matahari. Senyum kejam terukir di wajahnya. "Baiklah, Liona, kalau itu maumu. Ibu akan mengurusnya."
Angelia kemudian melangkah ke balkon, suaranya yang melengking memecah keheningan halaman. "Tiana! Berhenti menyapu! Cepatlah berganti pakaian, kau boleh berangkat sekarang!"
Tiana tersentak, ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang kotor. "Benarkah, Bik? Aku boleh ke kampus?"
"Cepat sebelum aku berubah pikiran! Jangan harap ada supir yang mengantarmu, pergilah sendiri!" bentak Angelia lagi sebelum berbalik masuk ke dalam.
Tiana tidak membuang waktu. Dengan kaki yang terasa kaku dan tangan yang lecet karena sapu lidi, ia berlari menuju kamar sempitnya di basemen. Ia mengganti seragam pelayannya dengan pakaian kuliah yang paling sederhana—satu-satunya yang tersisa karena baju bagusnya telah dirampas. Tanpa sempat memoles wajah atau menyisir rambut cokelat sebahunya dengan rapi, ia berlari keluar gerbang mansion, berharap bisa mengejar bus kota.
------------------------------
Sementara itu, tak jauh dari gerbang, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap yang sangat pekat terparkir diam. Di dalamnya, Alex Ferguson sedang memperhatikan setiap gerak-gerik Tiana melalui layar tablet yang terhubung dengan kamera mata-matanya.
"Dia dilepaskan hanya untuk dipermalukan," gumam Alex dengan suara bariton yang dingin. Ia menyesap wiskinya, matanya yang tajam mengunci sosok Tiana yang tampak sangat rapuh di pinggir jalan.
"Tuan, haruskah kita menjemputnya sekarang?" tanya anak buahnya.
Alex menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak memberikan rasa hangat sedikit pun. "Belum. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya diinjak-injak oleh dunianya sendiri. Aku ingin dia memohon padaku untuk membawanya pergi dari neraka ini."
"Ikuti bus yang dia naiki. Aku ingin melihat pertunjukan di kampusnya," perintah Alex mutlak.
------------------------------
Tiana akhirnya sampai di depan kelas dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup kencang karena terlambat hampir satu jam. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu kayu besar itu.
Tok... Tok... Tok...
Pintu terbuka, menampakkan Profesor Miller yang berdiri dengan wajah kaku dan kacamata yang melorot di hidungnya. Di barisan depan, Liona duduk dengan anggun mengenakan gaun biru milik Tiana, memberikan senyum kemenangan yang mematikan.
"Nona Luxemburg Warming... senang sekali Anda sudi hadir di kelas saya meski hampir selesai," suara Profesor Miller menggelegar, membuat seluruh mahasiswa menoleh dan mulai berbisik-bisik melihat penampilan Tiana yang kuyu.
------------------------------
"Maaf, Pak... saya terlambat karena..." kalimat Tiana terputus, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia dipaksa menjadi pelayan di rumahnya sendiri.
Profesor Miller tidak peduli. Ia menyesuaikan kacamatanya dan menunjuk ke sudut depan kelas dengan penggaris kayunya yang panjang. "Berdiri di depan sampai matkul saya selesai! Jangan berani duduk atau bersandar!"
Tiana pun akhirnya berdiri di depan kelas dengan kepala menunduk. Selama satu jam penuh, ia menjadi tontonan teman-temannya. Kakinya yang sudah lelah karena menyapu halaman kini terasa mati rasa. Di barisan depan, Liona sesekali berbisik pada teman-temannya sambil menunjuk ke arah sepatu Tiana yang sedikit kotor, memicu tawa tertahan di seisi ruangan.
Setelah penjelasan dosen yang terasa sangat lama itu berakhir, Profesor Miller membereskan bukunya dan pergi. Bukannya merasa bebas, Tiana justru dikepung. Liona dan gengnya langsung berdiri mengitari Tiana yang tampak sangat rapuh.
"Guys, aku punya tugas baru buat kita hari ini," ucap Liona dengan senyum licik yang sulit diartikan. Ia merangkul bahu Tiana dengan sok akrab, padahal Tiana bisa merasakan kuku tajam Liona menekan kulitnya. "Kita ajak Tiana bermain ke suatu tempat... anggap saja perayaan karena dia sudah rajin menyapu pagi ini."
Tiana yang tidak mengetahui akan dibawa ke mana pun hanya bisa pasrah dan ikut. Ia terlalu lelah untuk melawan, dan di lubuk hatinya, ia berharap Liona mulai bersikap baik padanya.
Beberapa lama waktu perjalanan dengan mobil mewah Liona, mereka akhirnya berhenti. Jantung Tiana berdegup kencang saat melihat lampu neon yang berkedip-kedip di depan sebuah gedung gelap dengan dentuman musik yang terasa hingga ke trotoar.
Mereka sampai di depan sebuah club malam paling terkenal dan "liar" di London.
"Liona... kenapa kita ke sini? Aku ingin pulang," bisik Tiana ketakutan, matanya menatap pintu masuk yang dijaga pria-pria berbadan besar.
Liona tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat jahat. "Pulang? Acara intinya baru saja dimulai, Tiana. Ayo masuk, atau aku akan melaporkan pada Ibu kalau kau membangkang lagi!"