NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Fitnah di Balik Sumur Tua

Kabar tentang kejadian di pasar sapi menyebar secepat angin ke seluruh pelosok desa. Bukannya semua orang kagum, justru banyak orang yang iri dan dengki, termasuk seorang dukun sakti bernama Mbah Gendrowo. Ia merasa tersinggung karena "wilayah kekuasaannya" diusik oleh sosok Arjuna yang dianggap hanya seorang pengemis gila.

Pagi itu, Ning Siti Khumairoh sedang menimba air di sumur tua yang terletak agak jauh di belakang gubuk. Namun, saat menimba, ia merasakan tali timbanya terasa sangat berat, seolah ada beban ribuan ton yang menarik dari bawah sumur.

"Lho, kok abot sanget nggih? Nopo timbane kecanthol watu?" (Lho, kok berat banget ya? Apa timbanya tersangkut batu?) gumam Ning Siti sambil terus menarik napas terengah-engah.

Tiba-tiba, dari dalam sumur muncul asap hitam yang sangat pekat dan bau bangkai yang menyengat. Ning Siti langsung jatuh terduduk, tubuhnya mendadak lemas dan kulitnya muncul bercak-bercak hitam yang terasa sangat gatal dan panas.

"Tulung! Kang Juna! Ning Aminah! Tulung!" (Tolong! Kang Juna! Ning Aminah! Tolong!) teriak Ning Siti dengan suara yang mulai serak dan hilang.

Ning Aminah Az-Zahra yang mendengar teriakan itu langsung berlari menuju sumur, disusul oleh Arjuna yang hanya memakai kaos dalam dan sarung yang melilit tidak rapi. Melihat kondisi Ning Siti, Aminah langsung menangis ketakutan.

"Kang, niki Ning Siti nopo? Kok awake dadi ireng-ireng ngeten?" (Kang, ini Ning Siti kenapa? Kok badannya jadi hitam-hitam begini?) tanya Ning Aminah sambil mencoba memegang tangan Ning Siti, tapi tangannya justru ikut terasa panas.

Arjuna tidak panik, matanya menatap tajam ke arah dalam sumur tua itu. Ia melihat ada kiriman energi hitam yang sengaja ditaruh di sana untuk mencelakai keluarganya.

"Walah, niki wonten tiyang sing ajeng ngirim oleh-oleh tapi kok salah alamat," (Walah, ini ada orang yang mau kirim oleh-oleh tapi kok salah alamat,) celetuk Arjuna sambil cengengesan, meski matanya menunjukkan kemarahan yang terpendam.

Tiba-tiba, dari balik pepohonan muncul Mbah Gendrowo sambil membawa keris kecil dan kemenyan. Ia tertawa dengan suara yang sangat parau dan menakutkan.

"Hahaha! Juna, kowe wis lancang ngerusak tatanane dunyo neng pasar wingi! Iki balesane! Bojomu bakal dadi patung ireng nek kowe mboten sujud neng sikilku!" (Hahaha! Juna, kamu sudah lancang merusak tatanan dunia di pasar kemarin! Ini balasannya! Istrimu bakal jadi patung hitam kalau kamu tidak sujud di kakiku!) bentak Mbah Gendrowo sombong.

Arjuna justru mendekat ke arah dukun itu sambil menggaruk-garuk punggungnya yang gatal. "Mbah, sampeyan niku mpun sepuh. Masak dolanan kembang karo menyan terus? Mending nggo tuku kopi nopo nggo sedekah," (Mbah, Anda itu sudah tua. Masak mainan bunga sama kemenyan terus? Mending buat beli kopi atau buat sedekah,) ledek Arjuna tanpa rasa takut sedikit pun.

Mbah Gendrowo marah besar, ia merapalkan mantra dan mengarahkan kerisnya ke arah Arjuna. Seketika kilat menyambar di langit yang cerah, mengarah tepat ke kepala Arjuna.

"Mati kowe, Juna!" teriak si dukun.

Namun, sebelum kilat itu mengenai Arjuna, Arjuna hanya meniup udara ke arah atas sambil berucap pelan, "Lailahaillallah." Seketika kilat itu membalas arah, justru menyambar keris di tangan Mbah Gendrowo sampai hancur berkeping-keping.

Mbah Gendrowo terpental hingga menabrak pohon jati besar. Bajunya hangus dan wajahnya penuh dengan abu hitam. Sementara itu, bercak hitam di tubuh Ning Siti tiba-tiba hilang dan berubah menjadi butiran mutiara yang sangat banyak di atas tanah.

"Nyelenah tenan sampean, Mbah. Ajeng mateni wong kok malah ngekei hadiah mutiara nggo bojoku," (Nyeleneh beneran Anda, Mbah. Mau membunuh orang kok malah kasih hadiah mutiara buat istriku,) kata Arjuna sambil mulai memunguti mutiara itu dan dimasukkan ke dalam kantong sarungnya.

Ning Siti langsung merasa segar kembali, bahkan wajahnya tampak lebih bersinar dari sebelumnya. Ia segera memeluk Ning Aminah dengan rasa syukur yang tak terhingga.

"Kang, matur nuwun. Kulo dikiro ajeng pejah wau," (Kang, terima kasih. Saya kira mau mati tadi,) ucap Ning Siti sambil gemetar.

Arjuna hanya tertawa dan mengajak mereka kembali ke gubuk. "Wis, ojo dipikir. Mbah Gendrowo niku namung khilaf. Ayo mutiara iki didol nggo mbangun sumur desa sing luwih apik, ben kabeh wong saged ngombe banyu resik," (Sudah, jangan dipikir. Mbah Gendrowo itu cuma khilaf. Ayo mutiara ini dijual buat bangun sumur desa yang lebih baik, biar semua orang bisa minum air bersih,) ajak Arjuna dengan tenang.

Pagi yang penuh teror itu berakhir dengan keberkahan, membuktikan sekali lagi bahwa cahaya Tuhan tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh kegelapan apa pun.

Mbah Gendrowo masih terkapar di bawah pohon jati dengan napas yang tersenggal-senggal. Ia tidak percaya bahwa ilmu hitam yang ia pelajari selama puluhan tahun di hutan keramat bisa hancur hanya dengan sekali tiup oleh seorang laki-laki yang penampilannya lebih mirip gelandangan daripada seorang ahli makrifat.

"Kang, niki mutiarane saestu? Kok kathah sanget, kados udan saking langit," (Kang, ini mutiaranya sungguhan? Kok banyak banget, seperti hujan dari langit,) tanya Ning Aminah sambil membantu Ning Siti memunguti butiran putih berkilau yang berserakan di sekitar sumur tua tersebut.

Arjuna hanya cengengesan sambil mencuci kakinya yang penuh lumpur di pancuran kayu. "Niku nggih mutiara asli, Ning. Gusti Allah niku ngerubah duso lan niat olo dadi kemulyan nggo wong sing sabar. Mbah Gendrowo niku niate ngirim racun, tapi tekan kene malah dadi rejeki," (Itu ya mutiara asli, Ning. Gusti Allah itu mengubah dosa dan niat jahat jadi kemuliaan buat orang yang sabar. Mbah Gendrowo itu niatnya kirim racun, tapi sampai sini malah jadi rezeki,) jawab Arjuna enteng.

Sementara itu, Mbah Gendrowo mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia merangkak mendekati kaki Arjuna dengan wajah yang penuh ketakutan. Keris pusakanya yang tadi hancur kini hanya menyisakan gagang kayu yang sudah gosong.

"Gus Juna... kulo tobat, Gus. Ampun mateni kulo. Kulo namung dikongkon kaliyan tiyang-tiyang sing mboten seneng karo Panjenengan," (Gus Juna... saya tobat, Gus. Jangan bunuh saya. Saya cuma disuruh sama orang-orang yang tidak suka dengan Anda,) rintih Mbah Gendrowo sambil menciumi tanah di depan Arjuna.

Arjuna menghentikan aktivitasnya mencuci kaki, lalu menatap dukun itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Mbah, sing saged mateni sampeyan niku dudu kulo, tapi kesombongan sampeyan dhewe. Sampun, mboten usah sujud neng kulo. Sujudo neng Gusti Allah sing sampun maringi sampeyan umur dowo nggo tobat," (Mbah, yang bisa membunuh Anda itu bukan saya, tapi kesombongan Anda sendiri. Sudah, tidak usah sujud ke saya. Sujudlah ke Gusti Allah yang sudah memberi Anda umur panjang buat tobat,) ucap Arjuna lembut namun tegas.

Ning Siti Khumairoh mendekati Mbah Gendrowo sambil membawa segelas air putih yang tadi diambilnya dari dalam gubuk. Meskipun hatinya sempat sakit karena serangan gaib tadi, ia tetap merasa kasihan melihat kakek tua itu menderita.

"Niki diombe dhisik, Mbah. Ben awake mboten panas malih. Kulo sampun ngapura sampeyan kok," (Ini diminum dulu, Mbah. Biar badannya tidak panas lagi. Saya sudah memaafkan Anda kok,) kata Ning Siti dengan ketulusan seorang istri wali.

Mbah Gendrowo menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat malu. Ia yang merasa paling sakti ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketulusan hati keluarga yang selama ini ia hina. Ia meminum air itu dan seketika hawa hitam di wajahnya luntur berganti dengan raut wajah yang lebih tenang.

"Matur nuwun, Ning. Sampeyan pancen pendampinge Wali sing luar biasa nyelenah nanging suci atine," (Terima kasih, Ning. Kamu memang pendamping Wali yang luar biasa nyeleneh tapi suci hatinya,) isak Mbah Gendrowo.

Arjuna kembali mengajak kedua istrinya masuk ke gubuk sambil membawa kantong sarung berisi mutiara. "Wis Mbah, ndang bali. Ojo lali kemenyane dibuang, ganti tuku minyak wangi nggo sholat. Sesuk mampir mrene malih nek pengen ngopi bareng," (Sudah Mbah, cepat pulang. Jangan lupa kemenyannya dibuang, ganti beli minyak wangi buat sholat. Besok mampir sini lagi kalau ingin ngopi bareng,) teriak Arjuna dari balik pintu gubuk.

Setelah suasana kembali tenang, gubuk bambu itu pun kembali diliputi cahaya kedamaian. Arjuna tahu bahwa ujian fitnah tidak akan berhenti sampai di sini, namun ia selalu punya cara nyeleneh untuk mengubah setiap serangan menjadi keberkahan bagi orang banyak.

"Kang, mutiara niki mangke diparingne sinten?" (Kang, mutiara ini nanti dikasihkan siapa?) tanya Ning Aminah penuh semangat.

Arjuna hanya menunjuk ke arah jalan desa. "Gowo neng pasar, Ning. Adol kabeh, duwite nggo tuku beras sing akeh. Bagikno neng janda-janda lan cah yatim neng desa niki. Awake dhewe cukup mangan tempe goreng wae wis nikmat," (Bawa ke pasar, Ning. Jual semua, uangnya buat beli beras yang banyak. Bagikan ke janda-janda dan anak yatim di desa ini. Kita cukup makan tempe goreng saja sudah nikmat,) pungkas Arjuna sambil kembali merebahkan diri di lincak bambunya.

Siang harinya, Ning Siti Khumairoh dan Ning Aminah Az-Zahra berangkat ke pasar kecamatan membawa kantong kecil berisi mutiara pemberian langit tadi pagi. Seperti biasa, Arjuna tidak ikut, ia lebih memilih meringkuk di kandang kambing sambil mengajari kambing kurusnya "berzikir" dengan cara yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Penjual perhiasan di pasar sempat terkejut melihat dua wanita berpakaian sederhana membawa mutiara kualitas tinggi yang sangat langka. Setelah mutiara itu dijual dengan harga yang sangat mahal, kedua Ning tersebut tidak membeli emas atau baju mewah, melainkan langsung mendatangi toko beras terbesar di sana.

"Pak, kulo tumbas beras sedasa ton. Tulung nggih, berasipun langsung dikirim teng alamat-alamat janda lan anak yatim niki," (Pak, saya beli beras sepuluh ton. Tolong ya, berasnya langsung dikirim ke alamat-alamat janda dan anak yatim ini,) ucap Ning Aminah sambil menyodorkan daftar nama yang tadi sudah ditulis oleh Arjuna.

Pemilik toko beras itu hanya bisa melongo. Ia tidak menyangka wanita yang penampilannya seperti orang susah itu sanggup membeli beras sebanyak itu dalam sekali bayar tunai.

Sore hari, desa Arjuna mendadak ramai lagi. Bukan karena fitnah, melainkan karena puluhan truk beras masuk ke lorong-lorong sempit menuju rumah-rumah warga yang paling miskin. Para janda tua dan anak-anak yatim menangis haru saat menerima beras kualitas terbaik atas nama "Hamba Allah yang Gila".

Lurah Bagong yang melihat kejadian itu dari jendela rumahnya hanya bisa gigit jari. Ia ingin marah tapi tidak punya alasan, ia ingin iri tapi ia takut kalau badannya kembali bau busuk seperti kemarin.

"Nyelenah tenan carane Juna sedekah. Awake dhewe mangan sisa, wong mlarat malah dipakani beras rojo lele," (Nyeleneh beneran caranya Juna sedekah. Kita makan sisa, orang miskin malah dikasih makan beras rojo lele,) gerutu Lurah Bagong sambil menutup gorden rumahnya dengan kesal.

Sementara itu, di gubuk bambu, Ning Siti dan Ning Aminah kembali dengan tangan kosong tapi hati yang sangat penuh dengan kebahagiaan. Mereka melihat Arjuna sedang asyik menggoreng tempe di tungku tanah liat yang asapnya mengepul kemana-mana.

"Kang, berasipun sampun disebar sedaya. Nggumun kulo, kok sampeyan saged ngerti jeneng-jenenge wong mlarat niku nganti detail sanget?" (Kang, berasnya sudah disebar semua. Heran saya, kok Anda bisa tahu nama-nama orang miskin itu sampai detail sekali?) tanya Ning Siti sambil duduk di samping Arjuna.

Arjuna membalik tempenya yang sudah mulai garing. "Ning, Gusti Allah niku mboten nate kleru nek nitipke jeneng neng ati. Wong-wong kuwi saben bengi dongo njaluk mangan, dadi aku mung dadi 'tukang antar' sing mboten dibayar," (Ning, Gusti Allah itu tidak pernah salah kalau menitipkan nama di hati. Orang-orang itu setiap malam doa minta makan, jadi aku cuma jadi 'tukang antar' yang tidak dibayar,) jawab Arjuna sambil tertawa renyah.

Ning Aminah tersenyum lebar melihat kesederhanaan suaminya. "Tapi Kang, mutiara sakmono akehe kok mboten disisihke sithik nggo mbangun gubuk niki? Ben mboten trocoh nek udan," (Tapi Kang, mutiara sebanyak itu kok tidak disisihkan sedikit buat bangun gubuk ini? Biar tidak bocor kalau hujan,) usul Ning Aminah dengan lembut.

Arjuna menggelengkan kepalanya pelan. "Gubuk trocoh niku pengingat, Ning. Ben awake dhewe mboten lali rasane dadi menungso bumi. Nek gubuke dadi istana, mengko awake dhewe selak lali dalan neng suwargo mergo kakehan turu enak," (Gubuk bocor itu pengingat, Ning. Biar kita tidak lupa rasanya jadi manusia bumi. Kalau gubuknya jadi istana, nanti kita keburu lupa jalan ke surga karena terlalu banyak tidur enak,) pungkas Arjuna.

Malam itu, mereka bertiga makan malam hanya dengan tempe goreng dan sambal korek. Meski begitu, di mata para penghuni langit, gubuk reyot itu tampak lebih terang dan lebih megah daripada istana manapun di dunia, karena di dalamnya terdapat keikhlasan yang tiada batasnya.

Arjuna menutup pintu gubuknya yang hanya berupa anyaman bambu miring. "Wis Ning, ayo zikir. Dunyo wis rampung diurusi, saiki wayahe ngurusi sing nduwe dunyo," (Sudah Ning, ayo zikir. Dunia sudah selesai diurusi, sekarang waktunya mengurusi yang punya dunia.)

Malam semakin larut, suasana di desa sudah sangat sepi. Namun, di gubuk Arjuna, suasana justru terasa sangat hidup meski tanpa lampu petromak yang terang. Hanya ada satu lampu minyak kecil yang menempel di tiang bambu, memberikan cahaya remang-remang yang menenangkan.

Ning Siti Khumairoh dan Ning Aminah Az-Zahra sudah duduk rapi di atas tikar pandan, bersiap mengikuti zikir malam yang dipimpin oleh Arjuna. Arjuna yang biasanya petakilan dan banyak bercanda, kini berubah menjadi sosok yang sangat tenang dan berwibawa.

"Ning, dunya iki pancen panggonane kesel. Nek awake dhewe mboten zikir, ati iki bakale garing koyo lemah neng mangsa ketiga," (Ning, dunia ini memang tempatnya lelah. Kalau kita tidak zikir, hati ini bakal kering seperti tanah di musim kemarau,) ucap Arjuna pelan sebelum memulai zikirnya.

Baru saja zikir dimulai, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat pelan dari luar. Arjuna menghentikan zikirnya sejenak dan memberi isyarat agar kedua istrinya tetap tenang.

"Nyuwun sewu, Gus... niki kulo, Karsa," (Mohon maaf, Gus... ini saya, Karsa,) suara dari luar itu ternyata adalah Juragan Karsa, bandar sapi yang tempo hari hartanya habis dibagikan karena kalah taruhan.

Arjuna bangkit dan membuka pintu. Terlihat Juragan Karsa berdiri mematung di kegelapan malam, bajunya lusuh dan matanya sembab seperti habis menangis berjam-jam. Ia tidak membawa apa-apa, hanya selembar sajadah tua di pundaknya.

"Walah Juragan, kok mboten sare? Ajeng njaluk sapi malih nopo?" (Walah Juragan, kok tidak tidur? Mau minta sapi lagi apa?) tanya Arjuna dengan nada bercanda seperti biasanya.

Juragan Karsa langsung bersimpuh di depan pintu gubuk. "Mboten Gus. Kulo mriki mboten njaluk dunya. Kulo ngerasa dunya kulo sampun mati. Kulo ngerasa padhang sanget atine weruh wong mlarat saged mangan sego enak mergo mutiara sampeyan wau siang. Kulo kepingin melu zikir, Gus," (Tidak Gus. Saya ke sini tidak minta dunia. Saya merasa dunia saya sudah mati. Saya merasa terang sekali hati saya melihat orang miskin bisa makan nasi enak karena mutiara Anda tadi siang. Saya ingin ikut zikir, Gus,) ucap Karsa dengan suara tulus.

Arjuna tersenyum lebar, ia menarik tangan Karsa agar masuk ke dalam gubuk. "Lha ngeten niki sing jenenge sugih tenan. Nalika dunya wis mboten nggandheli sikilmu nggo mlaku neng Gusti Allah. Ayo lungguh kene, Ning Siti karo Ning Aminah nggih sampun siap," (Nah begini ini yang namanya kaya sungguhan. Ketika dunia sudah tidak menggandoli kakimu buat jalan ke Gusti Allah. Ayo duduk sini, Ning Siti dan Ning Aminah juga sudah siap,) ajak Arjuna.

Malam itu, di dalam gubuk yang reyot dan bocor di sana-sini, empat orang manusia bersujud dan berzikir dengan khusyuk. Juragan Karsa yang dulu sombong, kini merasa jauh lebih bahagia meski tidak punya sepeser pun uang di kantongnya.

Selesai zikir, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Arjuna menepuk bahu Karsa yang masih tertunduk malu. "Mulai dino iki, sampeyan dudu Juragan Sapi meneh, tapi dadi Juragan Ati. Goleko panganan sing halal, senajan mung dadi kuli panggul, sing penting atimu mboten nate ucul seko zikir," (Mulai hari ini, kamu bukan Juragan Sapi lagi, tapi jadi Juragan Hati. Carilah makanan yang halal, walaupun cuma jadi kuli panggul, yang penting hatimu tidak pernah lepas dari zikir,) pesan Arjuna.

Karsa berpamitan dengan langkah yang sangat ringan. Ia tidak lagi menoleh ke arah rumah mewahnya, melainkan berjalan menuju masjid desa untuk menunaikan salat subuh berjamaah yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.

"Nyelenah temenan sampean, Kang. Wong sing asale mungsuh, saiki malah dadi sedulur zikir," (Nyeleneh beneran Anda, Kang. Orang yang asalnya musuh, sekarang malah jadi saudara zikir,) ucap Ning Siti sambil merapikan mukenanya.

Arjuna hanya tersenyum misterius sambil melihat matahari yang mulai terbit. "Donga niku senjatane wong mukmin, Ning. Nek dongo dipadu karo sabar, gunung wae saged dadi emas, lan mungsuh wae saged dadi kekasih," (Doa itu senjatanya orang mukmin, Ning. Kalau doa dipadu dengan sabar, gunung saja bisa jadi emas, dan musuh saja bisa jadi kekasih,) pungkas Arjuna menutup malam yang penuh rahasia itu.

Terima kasih banyak untuk para pembaca setia Kisah Arjuna yang sudah mengikuti perjalanan zikir sirri ini sampai ke Bab 33. Cerita ini bukan hanya tentang kehebatan seorang tokoh, tapi tentang bagaimana kita belajar melepaskan keterikatan dunia agar bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Arjuna mengajarkan kita bahwa seringkali kebenaran itu tersembunyi di balik hal-hal yang dianggap remeh, dan kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang kita simpan, melainkan dari apa yang kita berikan dengan ikhlas. Semoga setiap baris kalimat dalam cerita ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga hati dan lisan.

Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan, komentar, dan kasih bintang lima supaya kisah perjuangan Arjuna, Ning Siti, dan Ning Aminah bisa terus berlanjut dan membawa manfaat bagi lebih banyak orang.

Doa Penutup Bab:

​Bismillahirrohmanirrohim. Ya Allah, ya Robbi, Sang Pemilik Hati yang membolak-balikkan keadaan. Kami memohon kepada-Mu, sebagaimana Engkau telah menjaga Arjuna dalam kesederhanaannya, jagalah pula hati kami dari sifat sombong dan iri dengki yang dapat menghanguskan amal kebaikan kami.

Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk selalu sabar menghadapi fitnah dan ujian dunia. Jadikanlah setiap kesulitan yang kami hadapi sebagai penggugur dosa dan jembatan untuk semakin dekat kepada-Mu. Berikanlah keberkahan pada rezeki kami, kesehatan pada tubuh kami, dan kedamaian pada keluarga kami.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu rida atas segala ketentuan-Mu, baik dalam suka maupun duka. Matikanlah kami dalam keadaan husnul khotimah, membawa iman yang selamat dan hati yang bersih. Amin ya Robbal alamin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!