NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Kisah Nayla dimulai dari hal-hal sederhana, namun perlahan mengarah ke sesuatu yang tidak lagi bisa ia hindari—dan dari sana, hidupnya tidak pernah benar-benar sama lagi.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Bukan Sekadar Daun"

Arkan terlihat paling antusias. Ia berjalan sambil melompat-lompat kecil, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

Diana dan Nayla tertawa kecil melihat tingkahnya.

Saat mereka hendak menuju pintu, ponsel di saku Darvian tiba-tiba berdering.

"Tunggu di mobil," ujarnya singkat, lalu melangkah ke arah berbeda.

Arkan menatap kepergian Darvian dengan sedikit bingung.

Diana yang melihat itu segera menjelaskan, "Cuma angkat telepon. Nggak lama, kok. Kita tunggu di mobil saja," ucapnya sambil menggenggam tangan mungil Arkan.

Arkan kembali bersenandung riang.

Namun beberapa langkah kemudian, ia berhenti dan menoleh ke belakang.

"Kakak, ayo… pegang tangan Arkan. Nanti Kakak hilang," serunya polos.

Diana dan Nayla kembali tertawa kecil.

Nayla pun berlari kecil menghampirinya. Bunyi high heels-nya beradu dengan lantai dingin, menciptakan irama yang ringan. Ia meraih tangan Arkan, lalu ikut bersenandung bersama.

Di depan, sebuah mobil limousine sudah menunggu, dengan Danu berdiri di sampingnya.

Dari kejauhan, Danu memperbaiki kacamatanya, bahkan sempat mengucek mata, seolah memastikan apa yang dilihatnya benar.

Ia kemudian melangkah maju, menatap gadis anggun yang tengah menuruni anak tangga itu…

Danu mengulurkan tangannya, menuntun Nayla menuruni anak tangga.

Nayla tampak sedikit kesulitan dengan gaunnya yang panjang, ujungnya menyapu lantai di setiap langkah.

Diana yang melihat itu berdehem pelan, lalu mengangkat tangannya sendiri—seolah memberi kode bahwa ia juga butuh dituntun.

Danu hanya menyesuaikan kacamatanya, lalu tersenyum tipis… mengabaikannya.

Di sisi lain, tangan Diana justru sudah lebih dulu digenggam oleh Siska, asisten pribadinya.

Diana menoleh, lalu langsung tertawa kecil menyadari hal itu.

Sementara itu, Arkan menatap Danu dengan wajah tidak suka.

Ia mengerucutkan bibirnya, seolah tak rela tangan Kakaknya dipegang orang lain.

Danu melihat itu, namun memilih mengabaikannya.

"Kak Danu lagi bantu Kakak Nay," ucapnya santai, disertai senyum hangat. Kapan lagi, batinnya senang.

"Biar aku saja yang bantu Kakak Nay!" seru Arkan lantang.

Danu terkekeh kecil. "Kamu masih pendek. Nanti malah gaun Kakak Nay keinjak sama kamu," sahutnya sambil cengengesan.

Arkan mendelik tak suka. Ia menatap tubuhnya sendiri sekilas, lalu menghentakkan kaki.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melenggang pergi dengan langkah cepat.

"Pasti ngambek," ujar Diana sambil menggelengkan kepala kecil.

Nayla tersenyum gemas, memperhatikan tingkah Arkan.

Di sisi lain, seseorang yang masih berbicara di telepon tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Tatapannya tertuju pada Danu—tajam, dingin… nyaris membunuh.

Rahangnya mengeras.

"Nanti kita bicarakan lagi," ucapnya singkat, sebelum memutus sambungan.

Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah pergi dengan cepat.

Sementara itu, Danu tampak enggan melepaskan genggamannya. Ia masih menuntun Nayla dengan hati-hati.

Diana memutar bola mata dengan sinis. Entah apa yang akan terjadi kalau Darvian melihat ini, batinnya.

Danu membantu Nayla masuk ke dalam mobil.

Di dalam, Arkan sudah duduk… menatap mereka dengan wajah cemberut.

Pipinya mengembung, jelas tak suka melihat pemandangan itu.

"Danu."

Panggilan itu terdengar tegas. Darvian memberi isyarat singkat lewat tangannya.

Danu menelan ludah. Ia sudah tahu… apa yang akan terjadi.

Tanpa banyak kata, ia mengikuti dari belakang.

Hingga mereka sampai di sudut yang cukup gelap.

Buk!

Satu pukulan mendarat telak di perutnya.

Buk!

Yang kedua.

Buk!

Yang ketiga.

Danu langsung terduduk, menahan sakit sambil memegangi perutnya.

Darvian melemparkan saputangan. Tepat mengenai wajahnya.

"Sebetulnya, aku ingin menghancurkan wajahmu," ucapnya dingin.

" Bersihkan. Dan jangan terlihat sakit," lanjutnya, sebelum berbalik pergi.

Danu menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Napasnya berat.

Ia tahu… Darvian tertarik pada Nayla.

Namun ia tak menyangka akan diperlakukan seperti ini.

Ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah penegasan bahwa Nayla… adalah miliknya.

Langkah Darvian tiba-tiba terhenti.

Ia menoleh perlahan.

"Jaga pandanganmu."

Suaranya rendah… tapi penuh ancaman.

Danu menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia sudah terlalu terbiasa dengan emosi Darvian yang mudah terpancing.

Di dalam mobil, Nayla tengah menggoda Arkan yang masih cemberut.

"Kakak…" ucapnya manja.

"Sini peluk… masa nggak mau peluk Kakak Nay yang cantik ini?" godanya sambil tersenyum hangat.

Arkan tampak salah tingkah. Ia ingin mendekat… tapi gengsi masih menahannya.

"Nggak mau, yaa…" ujar Nayla dengan nada pura-pura sedih.

"Mau…" jawab Arkan cepat, lalu langsung berpindah duduk ke samping Nayla.

Diana yang melihat itu hanya tertawa kecil.

Namun Arkan masih ragu-ragu. Ia menatap gaun indah Nayla, takut merusaknya.

Nayla yang menyadari itu ikut tertawa kecil.

"Nggak apa-apa kok… ini nggak bakal rusak. Emangnya ini terbuat dari jeli?" ucapnya sambil menarik Arkan ke dalam pelukan.

Arkan langsung tertawa mendengar kata itu.

Pelukan itu terasa hangat… seolah Arkan menemukan tempatnya.

Di dalam mobil limousine itu, kursi-kursi tersusun saling berhadapan, dilapisi kulit hitam yang mengilap.

Diana duduk di sisi kiri.

Di seberangnya, Nayla duduk dengan anggun. Arkan sudah berpindah ke sampingnya, duduk menempel dekat, seolah tempat itu memang miliknya.

Kepala kecilnya sesekali bersandar ke lengan Nayla, masih terkekeh pelan sisa tawanya.

Nayla mengusap rambutnya lembut, sesekali ikut tertawa kecil.

Suasana di dalam mobil terasa hangat.

Ceklek

Pintu mobil terbuka.

Darvian masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa.

Ia langsung duduk di kursi yang masih kosong, tepat berhadapan dengan mereka.

Hatinya masih terasa panas.

Bayangan tangan Nayla yang digenggam Danu tadi… terus terlintas di benaknya.

Tanpa sadar, tatapannya jatuh pada tangan Nayla yang tampak halus.

Sekilas, sebuah bayangan melintas—bagaimana rasanya jika ia yang menyentuh tangan itu.

Rahangnya mengeras.

Mobil sudah melaju.

Sejak tadi, Nayla berusaha menenangkan dirinya.

Tatapan itu…

membuatnya panas dingin.

Entah mengapa, raut wajah Darvian jelas menunjukkan kemarahan. Dan itu membuat Nayla semakin gugup.

Ia jadi tidak banyak berinteraksi dengan Arkan, hanya sesekali tersenyum tipis.

Diana yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala kecil.

Tingkah Darvian… benar-benar keterlaluan.

Sorot mata Darvian terang-terangan memperhatikan Nayla.

Dari kaki… lalu perlahan naik, berhenti sejenak pada belahan tinggi gaun yang memperlihatkan sebagian pahanya.

Nayla menelan ludah.

Tubuhnya meremang seketika.

Tatapan itu terasa terlalu jelas… terlalu berani.

Perlahan naik lagi, melewati tangannya yang sejak tadi digenggam Arkan, hingga ke leher jenjangnya.

Napas Darvian sedikit tertahan.

Ia menelan salivanya dengan susah, rahangnya mengeras. Entah kenapa, napasnya mulai memburu, dan telinganya memerah.

Baru kemudian, tatapannya sampai pada wajah Nayla.

Nayla tampak sedikit salah tingkah. Ia berusaha menghindari tatapan itu.

Sementara Darvian… tersenyum kecil, menikmati reaksinya.

Darvian sedikit membungkuk, tangannya terulur pelan ke arah rambut Nayla.

Saat jemarinya menyentuh helai rambut itu, Nayla langsung membatu.

Arkan yang melihatnya menatap aneh ke arah papahnya.

Darvian kemudian memperlihatkan sesuatu—sehelai daun kecil, bahkan tak lebih besar dari kuku Arkan.

Nayla menghela napas pelan, mencoba tetap berpikir positif.

Di sisi lain, Diana yang menyaksikan semuanya hanya bisa menatap dengan ekspresi geli.

Ia tahu.

Daun itu… sejak awal sudah ada di tangan Darvian.

Hanya alasan.

Alasan untuk menyentuh.

Tanpa Nayla sadari, tangan yang tadi menyentuh rambutnya kini perlahan didekatkan oleh Darvian… seolah menikmati sisa kehangatan yang tertinggal.

Diana menggeleng kecil, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Sepertinya… memang harus segera dinikahkan, batinnya.

1
Wawan
Semangat ✍️
Dewi Sinta
🤣🤣🤣🤣🤣
Lisna 1999
sejauh ini seru alur ceritax
Navy Ane: Author akan berusaha buat alur yang bagus 💪🤎
total 1 replies
Lisna 1999
wahhh gue juga mw JD pengasuh
Navy Ane: huhu😭
total 1 replies
Lisna 1999
🤭
Lisna 1999
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!