Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Arlan hanya diam, menyesap rokoknya dalam-dalam seolah kepulan asap itu dapat memberinya jawaban yang tepat. Ia membiarkan pertanyaan Kenzo menggantung di udara begitu saja tanpa niat untuk segera menyahut.
"Aku juga butuh penjelasan darimu, Arlan," sela Sean yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin bicara. "Soal itu... bagaimana bisa kau malah menikahi putri Sutra Santoso? Kau masih waras, kan?" tanya Sean dengan nada yang menunjukkan bahwa ia benar-benar penasaran setengah mati.
Arlan mengembuskan asap rokoknya perlahan. Tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela ruang VIP.
"Hm," Arlan hanya berdehem pelan, membuat Sean mendengus kesal.
"Sikap dinginmu ini benar-benar menyebalkan, Arlan!" gerutu Sean dengan nada kesal yang tidak ditutup-tutupi.
Arlan tetap tidak menyahut. Pikirannya justru terlempar jauh, terseret kembali pada memori seminggu sebelum adiknya tewas. Kenangan itu tb
berputar jelas di kepalanya seperti adegan sebuah filem.
Flashback
"Kak Arlan, Kakak sayang tidak sama aku?" tanya Anisa tiba-tiba, memecah keheningan di ruang kerja kakaknya.
"Melebihi apa pun," jawab Arlan singkat. Ia menoleh sejenak dengan senyum tulus yang terlihat jelas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedang menumpuk.
"Kalau gitu, jangan dekat-dekat dengan si Gina itu! Enek aku setiap kali lihatnya, dia sering sekali berusaha mendekati Kakak. Padahal palingan cuman ngincar harta Kakak doang," cetus Anisa dengan wajah cemberut.
"Kamu terlalu berburuk sangka, Anisa," sahut Arlan santai, mencoba mengabaikan kecemburuan adiknya.
Gadis itu langsung menghentakkan kaki. "Tidak! Pokoknya aku nggak mau! Anisa cuman pengen punya ponakan dari Adira, titik! Kakak hanya boleh menikah dengan sahabatku itu saja! Kakak harus memiliki keturunan dari keluarga Santoso! Titik no koma!" kekeh gadis itu semakin memonyongkan bibirnya.
"Sudah berapa kali kau terus meminta hal itu, Anisa? Kalian itu masih anak kecil. Mana mungkin aku menikah dengan anak kecil seperti temanmu itu, Anisa sayang," jawab Arlan tanpa menoleh dari layar komputer.
"Kakak! Aku bukan anak kecil!" seru Anisa gemas.
Tiba-tiba, gadis itu menghampiri kakaknya dan menarik paksa tangan Arlan yang sedang sibuk di atas keyboard komputer. Gerakannya yang mendadak membuat Arlan terpaksa berhenti dan menatap sang adik.
Gadis itu menatap ke dalam mata kakanya, "Kak, berjanjilah padaku... kalau suatu saat terjadi apa-apa denganku, tolong... Anisa hanya ingin yang melanjutkan keturunan keluarga ini berasal dari keturunan Paman Sutra Santoso," ucap Anisa.
Sorot mata gadis itu berubah menjadi sangat serius, tidak lagi manja atau merengek seperti biasanya. Arlan menatap lekat ke dalam bola mata adiknya. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Anisa? Jangan bicara sembarangan."
"Tidak, pokoknya Kakak harus berjanji. Paman Sutra itu sudah seperti ayah kandungku sendiri. Aku tidak mau hubungan ini hanya sekadar pertemanan tanpa ada ikatan darah yang menyatukan. Aku ingin Kakak memiliki keturunan dengan temanku, dan Kakak harus berjanji kepadaku, jika Kakak benar-benar menyayangiku!"
Arlan terdiam untuk beberapa saat. Ia merasa sikap adiknya saat ini benar-benar berbeda dari biasanya. Namun, pada akhirnya ia tersenyum dan mengangguk pelan sembari mengusap puncak kepala adik kesayangannya itu.
Flashback Berakhir
Arlan tersentak dari lamunannya, kembali pada kenyataan di ruang VIP hotel yang tenang. Ia menyesap rokoknya sekali lagi, membiarkan asap tebal mengepul di udara sebelum mematikannya pada asbak kristal di atas meja.
"Kak Arlan, kelompok mafia yang terbunuh itu... sepertinya keluarga mereka akan membalas dendam kepada Kakak," ujar Kenzo dengan nada serius. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terhadap kakak sepupunya tersebut. "Ke depannya situasi akan semakin sulit bagi Kakak. Terlebih lagi, Paman Sutra sampai saat ini belum bisa ditemukan."
Arlan tetap bungkam, namun sorot matanya menajam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa risiko yang ia ambil sangatlah besar.
Iya, ternyata selama ini Arlan memang sengaja menggunakan identitas Kenzo untuk mengelabui musuh-musuhnya. Ia pun ternyata sama sekali tidak cacat. Dengan bertukar peran, ia dapat bergerak lebih leluasa di bawah bayang-bayang, sementara lawan-lawannya disibukkan oleh target yang salah. Namun, sampai kapan penyamaran ini dapat bertahan, terutama dengan keberadaan Adira yang mulai masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya?
Dan orang yang sering bertengkar dengan Adira adalah Arlan sendiri. Arlan juga sengaja......
Bersambung...
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang