NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

Devon terus mendekat ke arah Esther yang sekarang ini malah berubah jadi jual mahal kepadanya.

Esther memalingkan pandangannya ke arah lain, dia tersenyum miring. Esther masih sangat mencintai Devon, dulu memang saat pacaran yang sangat bucin itu dari pihak Esther.

Kini ke duanya sudah sama sama dalam keadaan polos, akhirnya Devon dengan mudah menarik tubuh Esther ke dalam pelukannya.

Devon menggendong Esther ala bridal style lalu merebahkannya dengan hati hati ke atas ranjang yang ada di dalam kamar hotel itu.

Devon menciumi seluruh wajah Esther dengan penuh cinta.

'Devon sampai kapan aku bisa melupakanmu dan melupakan rasa sakit yang sekarang ini menjadi sebuah dendam kesumat. Andai kamu tahu Devon, anakmu itu sudah tiada, karena sakit. Makanya aku yang tidak punya pilihan memilih untuk menjauh darimu, dan juga menjauhkan mu dari Renata," batin Esther sembari melihat Devon dengan tatapan mendalam.

Jika Esther masih memandang Devon dengan penuh cinta, sungguh hal berbeda di tunjukkan oleh Devon. Dia memandang Esther hanya karena sebuah hasrat yang meninggi.

Hanya ada suara desahan khas surgawi yang sekarang ini menggema didalam kamar hotel itu.

Akhirnya permainan itu pun berakhir setelah 3 ronde.

"Esther, aku mau minta nomor mu gimana? Buat kita melepas rindu," ucap Devon dengan senyuman miring sembari menaikkan satu alis nya, dia pun mulai memakai baju yang tadi dia tanggalkan.

Esther sendiri dalam keadaan terkulai lemas dengan duduk bersandar pada ujung kasur. Sungguh permainan Devon sangat lah kasar. Sangat berbeda jika di bandingkan dengan Ivan, suami sahabatnya sendiri.

Bahkan saking lembutnya Ivan memperlakukan dirinya, Esther kadang meminta Ivan untuk bermain sedikit kasar.

Esther menatap nyalang ke arah Devon. Lalu dia berkata, "Kenapa kamu pakai? Kamu mau langsung pergi meninggalkan ku setelah aku puaskan."

"Maaf Esther, dari tadi istriku terus menelponku. Aku harus pulang sekarang," sesal Devon, lalu dia berjalan ke arah ranjang milik Esther, menyerahkan sebuah kartu nama padanya.

"Sayang, aku pamit ya. Jangan lupa hubungi aku lagi, di nomor yang tertera di kartu nama ini," bisik Devon tepat di telinga Esther. Tapi saat Devon ingin mencium pipi Esther.

Esther buru buru memalingkan pandangannya ke arah lain.

"Kamu marah sayang, karena aku lebih memilih istriku dari pada kamu?" tanya Devon.

"Gak," jawab Esther ketus.

"Ayolah Esther, aku mohon jangan marah padaku."

Drrt

Drtt

Hape yang ada di saku celana milik Devon pun terus berdering. Akhirnya dia memilih untuk keluar dari dalam kamar hotel, meninggalkan Esther begitu saja.

Esther memandang Devon dengan penuh kebencian.

******

***

***

Sore pun tiba, akhirnya Ivan memilih untuk kembali ke kediamannya.

Pintu rumahnya masih terbuka lebar, dengan menampilkan beberapa anggota keluarganya yang masih bercengkrama di sana.

Tapi tidak seramai pagi tadi. Karena ada beberapa anggota keluarganya yang pamit pulang.

Ivan buru buru mengubah wajah murungnya menjadi ramah kembali. Dia pun bersalaman dengan sanak saudaranya yang tersisa.

Saat Ivan akan duduk, ibunya pun menghampirinya.

"Van Renata kok muntah muntah terus dari tadi, apa dia hamil?" tanya Sriyani.

Ivan pun bingung, karena baru tadi pagi dia itu menyentuh istrinya, setelah dua tahun berlalu.

'Gak mungkin lah, buatnya tadi pagi dan sekarang udah jadi,' batin Ivan seraya memasang wajah bingung.

"Terus dia dimana buk?"

"Dia di belakang di bantu sama Rihana," jawab Sriyani.

"Iya Van, makanya Bu Dhe itu heran, kenapa hari ini Renata itu sangat kurus ama pucat gitu? Nyatanya istrimu itu hamil toh," tutur Bu Dhe Ivan dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.

"Iya Van, selamat ya. Tapi kemarin kok Tante dapat kabar dari Bu Mirna, jika Renata kemarin sore itu pulang dengan diantar mobil merah sport," ucap Tante Ivan dengan senyuman miring.

Ivan yang bingung semakin bertambah bingung, bahkan Ivan terlihat mengepalkan tangan. Urat urat di lehernya pun nampak menonjol. Iya Ivan sangat marah.

Sriyani yang melihat raut wajah anaknya berubah marah pun, buru buru menetralkan suasana. Dia pun berkata, "Akh, ... Dek Santi itu loh! Mungkin salah info. Lha wong setiap hari saja Renata selalu di rumah gak pernah pergi pergi kok, iya gak Van!" Lalu Sriyani menyenggol lengan putranya itu.

Seketika lamunan Ivan pun buyar. Dia pun berusaha untuk mengubah ekspresi wajahnya menjadi normal kembali.

Saat Ivan ingin mengucapkan sesuatu, tiba tiba Santi, adik dari bapak Ivan pun buru buru menyela ucapannya. Ntah kenapa Santi begitu membenci Renata.

"Salah lihat gimana? Mirna saja ngirim saya bukti kok. Tapi bentar saya lihat buktinya masih ada apa tidak, soalnya kemarin hape ku itu ke restart. Aku cari dulu, kalau memang tidak ada. Nanti biar aku mintakan lagi pada Mirna, dia gak cuman foto sekali, tapi berkali kali. Nomor kamu masih sama kan Van? Nanti fotonya Renata, langsung Tante kirim saja ke nomor kamu!" Jelas Santi dengan wajah bingung, dia terlihat sedang sibuk mengotak atik hape yang berada dalam genggaman tangannya.

"Dah lah Tante ... gak usah repot-repot dicari. Apapun yang terjadi saya selalu percaya pada Renata. Dia tidak mungkin tega mengkhianati ikatan suci pernikahan kami," ungkap Ivan dengan wajah tulus, tapi ketulusan itu hanyalah sebuah topeng belaka.

"Iya Santi, gak usah menambahkan api. Percuman saja, Ivan akan selalu percaya pada istrinya," sanggah Sriyani. Lalu Sriyani terlihat berdiri menghampiri menantunya yang sedang jalan sempoyongan dengan di papah oleh Rihana.

Ivan pun melanjutkan percakapannya dengan keluarga bersarnya.

Tak berselang lama, para rombongan keluarga besar Ivan pun pamit untuk pulang ke rumah masing masing.

Setelah saudara besarnya yang lain itu pamit pulang, ke dua orang tua Ivan nampak membersihkan rumah Ivan.

"Gak usah repot-repot di bersihin dong Buk ... Pak ... " tegur Ivan ke pada bapak dan ibunya.

"Gak papa Van, kasihan nanti istrimu itu kecapean. Apalagi badannya juga sekarang ini memang sedang tidak fit," balas Sriyani.

"Iya Van, kami berdua juga tidak repot kok!" Imbuh Jatmiko.

"Ya Allah, Pak ... Buk ... nanti biar Ivan yang bersihkan. Karena setiap hari yang membersihkan rumah itu memang Ivan," ujar Ivan bohong.

Renata yang mendengar ucapan suaminya pun, langsung menatap suaminya dengan tatapan mata nanar.

Beberapa waktu pun berlalu. Rumah sekarang ini benar benar dalam keadaan bersih. Karena di bersihkan oleh Ivan dan ke dua orang tuanya. Renata sebenarnya ingin membantu, tapi di cegah oleh kedua orang tua Ivan.

"Bapak sama ibu, pamit dulu ya Renata. Jaga kesehatanmu baik baik. Soalnya bapak lihat kamu itu pucet banget, kayak orang sakit," ucap bapak Ivan dengan raut wajah prihatin ke arah menantunya.

"Ya semoga saja Renata itu gak sakit Pak. Bisa saja dia hamil," balas Sriyani.

"Tapi beda loh Bu, hamil sama sakit. Renata itu sepertinya nya nggak hamil buk. Dia sakit, bapak yakin itu," timpal Jatmiko.

"Dia hamil Yo pak. Percaya sama ibu," ucap ibu Ivan dengan nada tidak terima.

Renata sendiri hanya duduk dengan lemas, sedangkan suaminya terlihat menatapnya dengan tatapan lekat dan juga mendalam.

"Ya udah buk, terserah ibuk saja. Bapak ngalah saja. Kalau begitu bapak sama ibu pamit ya .... Semoga kamu gak kenapa kenapa ya nak. Karena perasaan bapak itu tidak enak," pamit bapak mertua Renata dengan wajah tulus. Sembari mengelus pucuk kepala menantunya.

"Jika terjadi apa apa, nanti kabari bapak sama ibuk ya nak. Bapak sama ibuk mau kembali ke desa dulu, assalamualaikum."

"Iya pak buk, hati hati." ucap Renata lemas sembari mencium punggung tangan bapak dan ibu mertuanya bergantian.

"Nanti jangan lupa makan, tadi sudah di belikan Ivan bakso," ucap ibu mertua Renata sebelum masuk ke dalam mobil.

Renata dan Ivan mengantarnya sampai ke depan rumah. Anaknya sendiri sedang tidur di dalam kamar.

Saat mobil yang di tumpangi oleh kedua mertuanya itu sudah benar benar menghilang dari pandangan mata Ivan.

Dia pun langsung menarik istrinya dengan sangat kasar, untuk masuk ke dalam rumah.

1
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!