10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Menghadapi Diri Sendiri
Kegelapan itu tidak lagi terasa kosong.
Kini ia penuh.
Penuh oleh napas—meski tak ada udara.
Penuh oleh suara—meski tak ada gema yang jelas.
Dan yang paling menyesakkan… penuh oleh dirinya sendiri.
Raka berdiri di tengah lingkaran sosok-sosok yang perlahan mendekat.
Mereka tidak menyerang.
Tidak terburu-buru.
Namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih mengerikan.
Karena mereka… menunggu.
Menunggu dia.
Sosok bercahaya di sampingnya melangkah mundur satu langkah.
“Ini bagianmu,” katanya pelan.
Raka menoleh.
“Kamu nggak akan bantu?”
Sosok itu menggeleng perlahan.
“Aku hanya bisa membimbing.
Tapi yang harus menghadapi mereka… tetap kamu.”
Sunyi.
Raka menelan ludah.
Ia kembali menatap ke depan.
Puluhan… mungkin ratusan versi dirinya berdiri di sana.
Masing-masing membawa sesuatu.
Ekspresi.
Luka.
Kenangan.
Dan ketika satu langkah pertama terdengar—
Tap.
Salah satu dari mereka maju.
Seorang Raka dengan wajah penuh ketakutan.
Matanya membesar, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat.
“Jangan…” katanya terbata. “Jangan lanjutkan…”
Raka mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Sosok itu mendekat cepat.
“Semua ini salah! Kita seharusnya berhenti dari awal!
Kita nggak perlu tahu semuanya!”
Raka terdiam.
Ia mengenali perasaan itu.
Ketakutan pertama.
Saat ia sadar bahwa dunia tidak sesederhana yang ia kira.
“Kalau kita berhenti sekarang,” lanjut sosok itu, “kita masih bisa kembali! Kita masih bisa pura-pura semuanya normal!”
Raka mengepalkan tangannya.
Normal.
Kata itu terasa… jauh.
“Tidak,” jawabnya pelan.
Sosok itu membeku.
“Apa?”
“Aku nggak bisa balik lagi ke situ,” kata Raka. “Aku sudah melihat terlalu banyak.”
“Justru itu!” teriak sosok itu. “Itu yang bikin kita hancur!”
Raka menggeleng.
“Bukan melihat yang bikin kita hancur.”
Ia menatap langsung ke mata sosok itu.
“Yang bikin hancur… adalah lari.”
Sunyi.
Sosok itu terdiam.
Tubuhnya mulai bergetar.
Perlahan…
Retakan muncul di permukaannya.
Seperti kaca.
Dan dalam hitungan detik—
Ia pecah.
Hancur menjadi serpihan cahaya yang kemudian menghilang.
Raka terdiam.
Dadanya terasa lebih ringan.
Sedikit.
Namun cukup untuk membuatnya sadar—
Ini nyata.
Ia benar-benar sedang… melepaskan sesuatu.
Namun sebelum ia bisa berpikir
lebih jauh—
Tap.
Langkah lain terdengar.
Sosok kedua maju.
Kali ini… berbeda.
Wajahnya datar.
Namun matanya penuh amarah.
Rahangnya mengeras.
Tangannya terkepal kuat.
“Akhirnya,” katanya dingin.
Raka menatapnya.
Ia langsung tahu.
Amarah.
Yang selama ini ia tekan.
Yang tidak pernah ia akui.
“Kau pikir dengan menghadapi semuanya, semuanya akan selesai?” lanjut sosok itu.
Raka tidak menjawab.
“Kau bodoh,” katanya. “Semua yang terjadi… semua rasa sakit itu… bukan salah kita!”
Suaranya meninggi.
“Kenapa kita harus yang menanggung semua ini?!”
Raka menghela napas.
Ia tahu perasaan ini.
Tahu betapa beratnya.
“Terkadang… memang bukan salah kita,” katanya pelan.
Sosok itu tertawa sinis.
“Lalu kenapa kita yang harus berurusan dengan ini semua?!”
Raka menatapnya.
“Karena kita satu-satunya yang bisa.”
Sunyi.
Sosok itu terdiam.
Matanya bergetar.
“Kalau bukan kita,” lanjut Raka, “siapa lagi?”
Amarah di wajah sosok itu perlahan memudar.
Digantikan oleh sesuatu yang
lebih dalam.
Kesedihan.
Namun ia tidak menangis.
Ia hanya menatap Raka—
Lalu…
Mengangguk pelan.
Tubuhnya mulai retak.
Dan seperti sebelumnya—
Ia hancur.
Menghilang.
Raka menarik napas panjang.
Dua sudah.
Namun masih banyak.
Terlalu banyak.
Ia hampir menyerah—
Namun suara lembut itu kembali terdengar.
“Kamu melakukannya dengan benar.”
Raka menoleh ke sosok bercahaya.
“Berapa banyak lagi?” tanyanya lelah.
Sosok itu tidak menjawab langsung.
“Hingga tidak ada lagi yang tersisa.”
Jawaban itu membuat Raka terdiam.
Namun ia tidak punya pilihan.
Jika ini jalan keluar—
Ia harus menyelesaikannya.
Langkah berikutnya terdengar.
Tap.
Sosok ketiga muncul.
Kali ini… berbeda lagi.
Ia duduk di lantai.
Memeluk lututnya.
Menangis.
Pelan.
Tanpa suara.
Raka merasa dadanya sesak.
Ia tahu ini siapa.
Penyesalan.
Ia mendekat perlahan.
“Hey…” katanya pelan.
Sosok itu tidak menoleh.
“Aku tahu kamu.”
Tangisan itu semakin dalam.
“Semua hal yang kita harap bisa
kita ubah… tapi nggak bisa.”
Raka duduk di depannya.
Ia tidak menyentuhnya.
Hanya menemani.
“Aku juga ngerasain itu,”
katanya.
Akhirnya—
Sosok itu menoleh.
Matanya merah.
Penuh luka.
“Kita seharusnya bisa melakukan lebih baik…”
Suara itu pecah.
“Kita seharusnya bisa menyelamatkan mereka…”
Raka terdiam.
Kenangan itu muncul.
Semua momen di mana ia merasa terlambat.
Tidak cukup.
Gagal.
Ia menunduk.
“Ya,” katanya pelan. “Kita memang nggak sempurna.”
Sosok itu menggigit bibirnya.
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Kalau begitu… kenapa kita masih lanjut?”
Raka mengangkat kepalanya.
“Karena kalau kita berhenti di sini…”
Ia menatap langsung ke mata sosok itu.
“Semua itu benar-benar jadi sia-sia.”
Sunyi.
Tangisan itu perlahan mereda.
Sosok itu menatapnya lama.
Lalu—
Perlahan…
Ia tersenyum.
Tipis.
Namun tulus.
Dan seperti yang lain—
Ia hancur menjadi cahaya.
Menghilang.
Raka menutup matanya.
Dadanya terasa sesak—
Namun juga… lebih ringan.
Seperti beban yang selama ini ia bawa mulai berkurang.
Namun—
Belum selesai.
Langkah-langkah lain mulai terdengar.
Satu per satu.
Lebih banyak.
Lebih dekat.
Raka membuka matanya.
Dan kali ini—
Semua sosok bergerak bersamaan.
Mendekat.
Mengelilinginya.
Tanpa suara.
Tanpa ekspresi.
Namun penuh tekanan.
Raka mundur satu langkah.
“Tidak…” bisiknya.
Ini terlalu banyak.
Ia tidak bisa menghadapi semuanya satu per satu.
Tidak mungkin.
Namun sosok bercahaya itu tidak bergerak.
Tidak membantu.
Hanya menatap.
Seolah menunggu sesuatu.
Raka menggertakkan giginya.
Pikir.
Pasti ada cara lain.
Kalau semuanya adalah bagian dari dirinya—
Maka…
Ia tidak perlu melawan.
Ia tidak perlu memilih satu per satu.
Ia hanya perlu—
Menerima.
Raka menutup matanya.
Menarik napas dalam.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak melawan.
Ia tidak menolak.
Ia membuka dirinya.
Untuk semua rasa.
Semua kenangan.
Semua luka.
“Kalau kalian semua adalah aku…”
bisiknya pelan,
“maka… aku menerima kalian.”
Sunyi.
Langkah-langkah itu berhenti.
Perlahan—
Ia membuka matanya.
Semua sosok itu kini diam.
Menatapnya.
Dan dalam satu momen—
Mereka semua tersenyum.
Berbeda-beda.
Namun tidak lagi menakutkan.
Tidak lagi mengancam.
Melainkan…
Tenang.
Lalu—
Satu per satu—
Mereka berubah menjadi cahaya.
Terang.
Hangat.
Dan bergerak—
Menuju Raka.
Masuk ke dalam dirinya.
Raka tersentak.
Namun tidak sakit.
Tidak menakutkan.
Justru—
Hangat.
Seperti sesuatu yang kembali ke tempatnya.
Dalam hitungan detik—
Semuanya hilang.
Kegelapan kembali kosong.
Namun kali ini—
Berbeda.
Raka berdiri sendiri.
Namun tidak merasa sendirian.
Ia menarik napas.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia merasa utuh.
Sosok bercahaya itu mendekat.
Senyumnya lebih jelas sekarang.
“Kamu sudah siap.”
Raka menatapnya.
“Sekarang apa?”
Sosok itu mengangkat tangannya.
Menunjuk ke depan.
Sebuah pintu muncul.
Sama seperti sebelumnya.
Namun kali ini—
Tidak menakutkan.
“Pintu itu akan membawamu kembali,” katanya.
Raka menatap pintu itu.
Lalu kembali ke sosok tersebut.
“Kalau aku keluar…”
Ia ragu.
“Itu… masih aku?”
Sosok itu tersenyum lembut.
“Itu tergantung padamu.”
Sunyi.
Jawaban yang tidak pasti.
Namun cukup.
Raka mengangguk pelan.
Ia melangkah menuju pintu.
Setiap langkah terasa mantap.
Tidak ragu.
Tidak takut.
Ia sampai di depan pintu.
Mengangkat tangannya.
Gagangnya hangat.
Berbeda dari sebelumnya.
Ia tersenyum tipis.
Lalu—
Ia memutar.
Klik.
Pintu terbuka.
Cahaya menyilaukan keluar dari dalamnya.
Raka menutup matanya.
Dan melangkah masuk.
Di dunia luar—
Sosok itu berhenti berjalan.
Raka… yang bukan Raka.
Ia menoleh perlahan.
Seolah merasakan sesuatu.
Senyumnya memudar sedikit.
“Hmm…”
gumamnya.
Untuk pertama kalinya—
Ada gangguan.
Sesuatu yang tidak ia duga.
Dan di saat itu—
Di belakangnya—
Sebuah suara terdengar.
Klik.
Pintu itu…
Terbuka lagi.