"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Keras, Harga Diri
POV Zhira
Keputusan sudah bulat. Aku tidak bisa pasrah menunggu. Jika beasiswa terlambat, maka aku harus mencari cara lain agar bisa tetap makan dan tetap bisa sekolah. Aku ingat pesan Bibi tetanggaku dulu, "Rezeki itu tidak akan tertukar, asalkan kita mau berusaha."
Sepulang kuliah, bukannya pulang ke asrama, aku justru berjalan menyusuri jalanan kota. Mataku jeli mencari tulisan "Dibantu Loker" atau "Lowongan Kerja" di depan toko-toko atau restoran.
Badanku terasa lemas, kaki terasa berat, tapi langkahku tak berhenti. Aku tahu, pekerjaan untuk mahasiswa seperti aku pasti tidak mudah dan gajinya tidak besar, tapi aku tidak boleh pilih-pilih.
Akhirnya, mataku tertuju pada sebuah restoran kecil yang cukup bersih di pinggir jalan. Ada kertas putih tertempel di kaca: "Dicari: Pelayan Restoran / Pramusaji. Jam kerja Sore - Malam."
Jantungku berdegup kencang. Ini kesempatanku. Aku merapikan baju dan rambutku sebaik mungkin, menarik napas panjang, lalu mendorong pintu restoran itu.
"Selamat siang, Mas," sapaku pada seorang pria yang terlihat sebagai manajer di sana. "Saya melihat lowongan kerjanya. Apakah masih menerima?"
Pria itu menatapku dari atas ke bawah. "Kamu mahasiswi ya?" tanyanya curiga.
"Iya, Mas. Saya kuliah pagi, jadi sore sampai malam kosong. Saya butuh kerja, dan saya janji saya rajin serta bisa dipercaya," jawabku tegas, berusaha menyembunyikan rasa gugup.
Akhirnya, setelah wawancara singkat dan melihat ketulusan mataku, dia menerimaku. Gajinya memang tidak besar, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan sedikit ditabung, tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Mulai hari itu, hidupku berubah menjadi roda yang berputar sangat cepat.
Pagi hari: Bangun subuh, belajar sebentar, lalu berangkat kuliah dengan otak penuh konsentrasi menyerap ilmu.
Siang hari: Makan sehemat mungkin, kadang hanya nasi bungkus atau roti.
Sore hari: Langsung ganti baju, pergi ke restoran, dan bekerja sampai pukul 10 malam.
Pekerjaannya tidak mudah. Aku harus berdiri berjam-jam, mengangkat nampan berat, melayani tamu dengan senyum ramah, bahkan kadang harus menerima omelan atau keluhan pelanggan yang tidak puas.
Kaki bengkak, punggung terasa pegal luar biasa, tapi aku tidak pernah mengeluh. Setiap kali menerima uang tip atau gaji harian, kumasukkan ke dalam dompet kecil dengan hati berdebar bahagia. Ini uang hasil keringatku sendiri. Tidak ada yang bisa menyalahkanku memakannya.
Suatu malam, saat sedang sibuk membersihkan meja, aku melihat bayangan diriku di kaca jendela. Wajahku terlihat lelah, kantung mata mulai tampak, dan badanku makin kurus. Tapi ada satu hal yang berubah... mataku. Mataku tidak lagi kosong dan sedih. Mataku kini berbinar penuh semangat dan tekad.
"Aku kuat. Aku bisa melewati ini," bisikku pada pantulan diriku di kaca.
Tiba-tiba ponselku bergetar di saku celemek. Ada panggilan masuk dari rumah. Dari Ibu Zainal.
Aku mengangkat telepon dengan hati-hati, menjauh ke sudut agar tidak terdengar suara bising restoran.
"Halo, Assalamu’alaikum, Bu," sapaku pelan.
"Wa’alaikumsalam. Zhira, kamu di mana? Kenapa suaranya berisik?" tanya Ibu ketus.
"Zhira di perpus, Bu. Lagi ngerjain tugas kelompok," jawabku berbohong. Aku tidak berani bilang aku sedang kerja keras sampai malam. Aku tahu, kalau tahu aku kerja jadi pelayan, Ibu pasti akan marah besar dan menganggap aku memalukan keluarga.
"Oh gitu. Ya sudah, Ibu cuma mau ingetin. Minggu depan Bimo mau ujian, butuh uang buat beli buku latihan. Kamu kirimkan ya sekiloannya. Kamu kan di sana hidup enak, kuliah santai, pasti uangnya banyak," ucap Ibu dengan nada menuntut, tanpa bertanya bagaimana keadaanku di sini.
Dadaku sesak. Hidup enak? Kuliah santai? Andai dia tahu, aku baru saja mengangkat sepuluh nampan berat, kaki ini sudah tidak terasa, dan perut ini baru akan makan setelah semua tamu pulang.
"Iya, Bu. Nanti Zhira usahakan," jawabku singkat.
"Usahakan apa, harus bisa! Kamu kan kakaknya, sudah jadi kewajiban kamu bantu adikmu. Sudah ah, mahal teleponnya," suara telepon terputus.
Aku menurunkan ponsel, menahan air mata yang ingin tumpah. Kenapa di mata mereka aku seolah mesin uang yang tidak punya perasaan? Kenapa mereka tidak pernah melihat betapa beratnya perjuanganku di sini?
"Zhira! Kenapa melamun? Meja nomor 7 minta tambah nasi!" teriak temannya kerja.
"Iya, Mas! Sebentar!" seruku balik.
Aku mengusap kasar mataku, menyimpan rasa sakit itu kembali ke dalam kotak rahasia di hati. Aku memasang kembali senyum ramahku, lalu berjalan melayani pelanggan.
Malam itu, pulang kerja dengan sepatu yang terasa menyiksa kaki, aku berjalan kaki menyusuri trotoar kota yang sepi. Angin malam menusuk tulang, tapi aku berjalan dengan kepala tegak.
Uang yang kudapat hari ini, sebagian akan kusisihkan untuk dikirim ke rumah, sebagian untuk makan besok, dan sedikit sisanya akan kumasukkan ke celengan.
"Lihatlah aku, Bu... Lihatlah Yah... Aku tidak meminta apa-apa dari kalian. Aku membangun masa depanku dengan tanganku sendiri. Dan suatu hari nanti, kalian akan melihat bahwa anak yang dulu kalian remehkan, bisa berdiri tegak dan membanggakan diri."
Langkahku terus berjalan menuju asrama, kecil, pelan, namun pasti.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wah, makin keren aja Zhiranya ya! 💪😢 Lanjut Bab 12 lagi nanti ya! Gimana ceritanya sampai sini? 😊