NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perjalanan ke Reruntuhan

Perjalanan dari Sekte Pedang Surgawi ke reruntuhan markas tua memakan waktu tiga hari jika berjalan normal. Tapi dengan medan yang sulit—hutan lebat, dua sungai deras, dan satu pegunungan kecil—mereka membutuhkan waktu setidaknya empat hari. Hari pertama mereka habiskan untuk melewati hutan cemara yang lebat di kaki Gunung Cheongmyeong, dan hari kedua untuk menyeberangi Sungai Naga Putih yang airnya dingin dan deras.

Kini, di hari ketiga, mereka memasuki wilayah yang disebut Lembah Bayangan—sebuah lembah sempit yang terletak di antara dua tebing batu, ditutupi oleh kabut tebal yang tidak pernah mencair meski matahari bersinar terik. Konon, di sinilah pertempuran terakhir antara Pendiri Sekte Pedang Surgawi dan Raja Iblis Pertama terjadi seratus tahun lalu. Sisa-sisa qi iblis masih tertinggal di udara, membuat lembah ini terasa dingin dan menyesakkan bagi siapa pun yang masuk.

Seol berjalan di depan, matanya terus mengamati sekeliling. Peta yang diberikan Baek Yoon terbuka di pikirannya—ia sudah menghafal setiap tikungan, setiap sungai, setiap bukit. Tapi peta tidak bisa menunjukkan apa yang sebenarnya menunggu mereka di balik kabut.

Di belakangnya, Baek Ho berjalan dengan langkah berat, tubuh besarnya yang biasanya menjadi keunggulan kini menjadi beban di medan yang licin. Ia beberapa kali hampir terjatuh, dan setiap kali Seol Hwa harus menarik lengannya agar tetap tegak.

“Aku benci tempat ini,” gerutu Baek Ho, suaranya setengah berbisih. “Udaranya terasa… aneh. Seperti ada yang mengawasi kita.”

Seol Hwa tidak menjawab, tetapi Seol melihat tangannya meraih gagang pedangnya lebih erat. Ia juga merasakannya. Kehadiran di balik kabut. Bukan satu—beberapa. Mereka bergerak, mengikuti, menunggu.

“Seol,” bisik Gu di kepalanya, suaranya lemah tetapi waspada. “Ada enam dari mereka. Dua di depan, dua di kiri, dua di kanan. Mereka mengepung kalian.”

Seol tidak berhenti. Ia terus berjalan, tetapi pikirannya sudah memetakan posisi musuh. Enam orang. Dengan qi yang tidak bersih—qi iblis, sama seperti Cheonmyeong, sama seperti Kwak Jung. Tapi tidak sekuat mereka. Mata-mata, mungkin, atau prajurit rendahan.

“Mereka akan menyerang dalam tiga langkah lagi,” kata Gu. “Di titik tersempit lembah ini, di mana kalian tidak punya ruang untuk menghindar.”

Seol mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada Seol Hwa dan Baek Ho untuk berhenti.

“Ada apa?” bisik Seol Hwa.

“Kita tidak sendirian,” kata Seol, suaranya pelan tetapi tegas. “Enam orang. Dua di depan, dua di kiri, dua di kanan. Mereka akan menyerang dalam hitungan detik.”

Baek Ho terkesiap. “Kau bisa merasakan mereka? Dari jarak ini?”

Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, ke arah kabut yang tebal, dan bersiap.

---

Serangan

Mereka datang seperti bayangan.

Dari kabut di depan, dua sosok melesat keluar dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Jubah hitam mereka berkibar, dan di tangan mereka, pisau-pisau pendek berkilat dengan cahaya merah gelap—qi iblis yang terkonsentrasi di ujung bilah.

Seol sudah bergerak sebelum mereka mencapai setengah jarak.

Pedang Seol Hwa—yang ia pinjam untuk misi ini—berkelebat di udara. Dua tebasan cepat, satu ke kiri, satu ke kanan. Crak! Crak! Dua pisau terpental, dua sosok terpental ke belakang, darah menyembur dari lengan mereka.

Tapi mereka tidak berteriak. Mereka tidak menunjukkan rasa sakit. Mereka hanya bangkit kembali, mata mereka yang kosong menatap Seol dengan kebencian yang tidak manusiawi.

“Mereka seperti zombie,” kata Baek Ho, suaranya gemetar.

“Mereka lebih buruk dari zombie,” kata Seol Hwa, pedangnya sudah terhunus. “Mereka adalah korban ritual pengikatan darah. Tidak merasakan sakit. Tidak merasakan takut. Satu-satunya cara menghentikan mereka adalah dengan melumpuhkan meridian mereka atau memenggal kepala mereka.”

Dua sosok dari kiri dan kanan muncul bersamaan. Seol Hwa menghadapi dua di kiri, pedangnya berkelebat dalam pola yang anggun namun mematikan. Dua tebasan, dua tubuh jatuh, tidak bergerak.

Seol menghadapi dua di kanan. Kali ini ia tidak menggunakan pedang. Ia melangkah maju, tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang membuat mata telanjang tidak bisa mengikuti. Tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan sosok pertama, tangan kanannya menyentuh leher sosok kedua. Qi keemasan mengalir dari ujung jarinya, memasuki meridian mereka, membekukan aliran qi iblis di dalamnya.

Kedua sosok itu jatuh seketika, tidak bergerak.

Baek Ho, yang tadinya bersiap untuk bertarung, hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka. “Kau… kau melumpuhkan mereka hanya dengan sentuhan?”

“Teknik Penutup Meridian,” kata Seol. “Diajarkan oleh… seseorang. Efektif melawan pengguna qi iblis tingkat rendah.”

Ia menoleh ke depan. Dua sosok terakhir masih berdiri di hadapannya. Mereka tidak mundur. Mereka tidak menunjukkan rasa takut. Tapi di mata mereka yang kosong itu, ada sesuatu—sesuatu yang mirip dengan keraguan.

Seol melangkah maju. “Kembalilah ke majikanmu,” katanya, suaranya tenang tetapi tegas. “Katakan padanya bahwa Sekte Pedang Surgawi datang. Dan kami tidak akan membiarkan kalian mencemari tempat ini lebih lama lagi.”

Dua sosok itu saling berpandangan. Kemudian, dengan gerakan yang cepat, mereka berbalik dan melesat ke dalam kabut, menghilang dari pandangan.

Baek Ho menghela napas lega. “Mereka pergi.”

“Mereka akan kembali dengan bala bantuan,” kata Seol Hwa, memasukkan pedangnya ke sarung. “Kita harus cepat.”

Seol mengangguk. Ia melihat ke arah kabut, ke tempat di mana dua sosok itu menghilang. Pikirannya bekerja cepat.

“Mereka tahu kita datang,” bisik Gu. “Sekarang mereka akan bersiap. Hati-hati.”

“Aku tahu,” bisik Seol.

Ia menoleh ke Seol Hwa dan Baek Ho. “Ayo. Kita tidak punya banyak waktu.”

---

Menuju Reruntuhan

Mereka berjalan lebih cepat setelah serangan itu. Seol tetap di depan, indra qinya yang baru diasah terus memindai lingkungan sekitar. Seol Hwa di tengah, matanya waspada ke kiri dan kanan. Baek Ho di belakang, tubuh besarnya menjadi perisai hidup jika ada serangan dari belakang.

Setelah satu jam berjalan, kabut mulai menipis. Di depan mereka, tebing-tebing batu yang menjulang mulai terbuka, memperlihatkan sebuah lembah yang lebih luas. Dan di tengah lembah itu, di atas bukit kecil yang gundul, berdiri reruntuhan markas tua Sekte Pedang Surgawi.

Seol berhenti.

Bangunan itu dulunya pasti megah. Bekas-bekas pilar marmer masih berdiri di beberapa tempat, menjulang ke langit seperti jari-jari kerangka raksasa. Dinding-dinding batu yang runtuh membentuk tumpukan-tumpukan puing yang ditumbuhi lumut dan tanaman liar. Dan di tengah-tengah reruntuhan itu, ada sebuah bangunan yang masih utuh—sebuah kubah batu hitam dengan pintu kayu besar yang tertutup rapat.

“Itu markas lama,” kata Seol Hwa, suaranya pelan. “Ayahku pernah bercerita tentang tempat ini. Dulu, di situlah para tetua berkumpul untuk bermusyawarah. Tapi setelah serangan iblis, tidak ada yang berani mendekat lagi.”

Seol mengamati kubah itu. Dari kejauhan, ia tidak melihat gerakan. Tidak ada penjaga. Tidak ada cahaya. Tapi ia merasakan sesuatu. Qi iblis. Sangat kuat. Terkonsentrasi di dalam kubah itu, seperti jantung yang berdetak di dalam dada.

“Ada sesuatu di sana,” bisik Gu. “Sesuatu yang besar. Hati-hati.”

Seol mengangguk. “Kita mendekat perlahan. Baek Ho, kau di belakangku. Seol Hwa, kau di sisi kanan. Jika ada yang tidak beres, kita mundur.”

Mereka bergerak mendekati reruntuhan dengan langkah pelan, waspada, siap untuk apa pun.

---

Pintu Rahasia

Sesampainya di kaki bukit, Seol mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti. Ia menutup matanya, memperluas indra qinya ke seluruh area reruntuhan.

Tidak ada kehidupan di atas tanah. Tidak ada qi manusia yang terdeteksi. Tapi di bawah tanah—di bawah kubah batu hitam itu—ada sesuatu. Lorong. Ruangan. Dan qi iblis yang sangat kuat, terkonsentrasi di satu titik.

“Ada pintu rahasia,” katanya, membuka mata. “Di bawah kubah itu. Mungkin di lantai, atau di balik dinding.”

Mereka memasuki reruntuhan dengan hati-hati. Puing-puing batu berserakan di mana-mana, beberapa setinggi pinggang, menciptakan labirin kecil yang harus mereka lewati. Seol memimpin, melompat dari satu batu ke batu lain dengan kelincahan yang membuat Baek Ho iri.

Di dalam kubah, suasana berbeda. Udara di sini lebih dingin, lebih berat, dan ada bau aneh yang tidak bisa Seol kenali. Bau logam bercampur sesuatu yang busuk. Bau darah tua.

Seol Hwa mengerutkan hidungnya. “Bau ini… aku pernah menciumnya di tempat eksekusi.”

Baek Ho menggigil. “Aku tidak suka tempat ini.”

Seol berjalan ke tengah kubah. Lantai di sini terbuat dari batu hitam yang mengilap, tidak seperti puing-puing di luar. Dan di tengah-tengah lantai itu, ada pola lingkaran yang terukir dalam—pola yang sama dengan yang ia lihat di ruang bawah tanah Kwak Jung.

Simbol Kultus Darah.

“Ini tempat mereka melakukan ritual,” kata Seol. “Lihat.” Ia menunjuk ke alur-alur di lantai. “Darah mengalir di sini. Dari lingkaran ini ke titik pusat. Semakin banyak darah, semakin kuat ritualnya.”

Ia berjalan mengelilingi lingkaran itu, mencari sesuatu. Dan di sisi utara, di balik tumpukan batu yang runtuh, ia menemukannya.

Sebuah pintu besi. Tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang masuk. Permukaannya berkarat, tetapi tidak ada debu di gagangnya—sering digunakan.

“Ini dia,” kata Seol.

Baek Ho mendekat, mencoba membuka pintu itu dengan kekuatan. Tidak bergerak. Ia mencoba lagi, dengan seluruh kekuatannya. Masih tidak bergerak.

“Terkunci,” katanya, napasnya tersengal. “Atau mungkin terkunci dengan qi.”

Seol Hwa mendekat. Ia meletakkan tangannya di permukaan pintu, merasakan aliran qi di dalamnya.

“Ada segel,” katanya. “Segel qi iblis. Tidak bisa dibuka dengan kekuatan fisik. Harus dengan qi yang sesuai.”

Seol melangkah maju. Ia meletakkan telapak tangannya di samping tangan Seol Hwa, merasakan segel itu dengan indra qinya.

Dan kemudian, ia mengalirkan qi-nya.

Qi keemasan mengalir dari telapak tangannya ke permukaan pintu besi. Segel qi iblis itu melawan, berdenyut merah gelap, mencoba menolak. Tapi qi keemasan Seol—qi yang telah dimurnikan oleh Ramuan Pemulih Nadi, qi yang telah diperkuat oleh latihan tanpa henti, qi yang mengandung sisa-sisa kekuatan Gu—terus menekan, terus mengikis, terus membersihkan.

Segel itu retak. Cahaya merahnya memudar, digantikan oleh cahaya keemasan yang menyala terang.

Dan pintu itu terbuka.

Di balik pintu, sebuah lorong gelap membentang ke bawah, menuju kedalaman yang tidak terlihat. Udara dari dalam terasa dingin, lembab, dan berbau tanah.

Seol menoleh ke Seol Hwa dan Baek Ho. “Aku akan masuk pertama. Ikuti dari belakang. Jaga jarak. Dan jika ada yang tidak beres…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Seol Hwa mengangguk. “Kita akan mengikutimu.”

Baek Ho menggenggam pedangnya erat-erat. “Aku siap.”

Seol melangkah masuk ke dalam kegelapan. Di tangannya, cahaya keemasan kecil menyala, cukup untuk menerangi lorong sempit itu. Di belakangnya, langkah kaki Seol Hwa dan Baek Ho mengikuti, pelan, waspada.

Lorong itu menurun tajam, berkelok-kelok, dan semakin dalam mereka berjalan, semakin kuat qi iblis yang mereka rasakan. Seol merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan karena takut. Tapi karena antisipasi.

Apa pun yang menunggu mereka di dasar lorong ini, ia akan menghadapinya.

Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut hangat, memberinya kekuatan, mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!