Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan-2
Perlahan handuknya melorot, seperti ada tangan kasar dan berukuran besar yang menariknya, lalu terlempar kesembarang arah, dan membuat tubuhnya polos tanpa sehelai benang—pun.
Satu sosok berbulu lebat menghampirinya, melebarkan kedua kakinya, kemudian menyentuh bagian intimnya.
Novita merasakan tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik. Ia menggigit bibirnya, dan merasakan gejolak yang datang memburu.
"Emmm ...." suara tertahan, dan akhirnya meluncur dari mulutnya, saat sosok itu semakin liar.
Diluar kamar, Ratna menempelkan telinganya, menanti suara erang penuh kenikmatan yang keluar dari mulut puterinya, sebab itu menentukan hasil yang akan mereka dapatkan.
Tangan berukuran besar itu sudah menyentuh tubuhnya, dan membuat gadis tersebut meremang, ia mengingat pesan ibunya, harus melayani dengan baik.
Ia memberanikan membuka matanya, dan tentunya ia bukan kali ini menatap wajah sosok dihadapannya.
Dua mata merah menyala, tidak lagi membuatnya terkejut, dan sosok bertubuh tinggi, dengan bulu tebal yang memenuhi sekujur tubuhnya, tersenyum seringai padanya.
Novita menyambutnya dengan senyum manis. Sebab ia yang menjadi andalan sang ibu, dalam meraih impian mereka, mobil mewah sudah didepan mata.
Gadis itu tanpa ragu menyesap bibir sosok tersebut, meski taring mencuat dari sudut mulut, ia tetap berpagut dalam kemesraan, pergumulan yang cukup ekstrem, dan ia mulai mengerang penuh nikmat, membuat Ratna tersenyum sumringah.
Novita semakin sering mengerang, saat sosok itu menjamah tubuhnya, tangan besar yang cukup liar di kedua bukit kembarnya, membuat ia menggelinjangkan tubuhnya.
Ia tak lagi dapat membendung gejolak hasratnya, dan berakhir dengan hentakan rudal sosok mengerikan tersebut, yang memiliki ukuran diluar manusia normal, yang membuat Novita terpekik dan mengejang.
Ratna yang mendengarnya, tersenyum puas, dan juga merasa beruntung, memiliki puteri yang cukup berbakti.
"Ah, Novita, kamu puteri ibu yang dapat dibanggakan," bisiknya dengan senyum yang sumringah.
Sedangkan sosok makhluk bertubuh tinggi itu sudah merasa terpuaskan, dan beranjak dari tubuhnya tanpa busana.
"Imbalannya, ambil sendiri," bisik Novita, ditelinga sosok makhluk yang tak lain adalah genderuwo.
Sosok itu menganggukkan kepalanya, lalu melesat dan menghilang.
*****
Malam semakin larut, Alawiyah tersentak saat merasakan perutnya seperti ada yang menyentuh.
"Astaghfirullah!" ia membuka matanya, dan merasakan aroma singkong bakar yang menguar didalam kamarnya.
"Siapa yang mengusap perutku?" gumamnya dengan lirih, lalu menatap sekitarnya.
Tak ada sesiapapun, hanya saja, bulu kuduknya meremang ketika mendengar suara lolongan anjing yang cukup panjang didepan rumah ibu mertuanya.
"Perasaanku kenapa tidak enak, ya?" Ia beranjak dari ranjang yang terbuat dari papan sederhana, dengan kasur yang terbuat dari kapas.
"Aku mau lihat Mas Bayu, dan perutku lapar sekali, dari sore belum makan," ucapnya dengan lirih, dan tubuhnya gemetar menahan rasa dingin udara pegunungan, serta lapar yang begitu menyiksa.
"Sepertinya aku ada nyimpan coklat batang," Alawiyah menuju kopernya, lalu menemukan coklat batang dengan isian kacang mede, dan tanpa ragu langsung melahapnya.
Rasa manis pada coklat, mengandung kalori yang lebih cepat diserap tubuh, hingga membuatnya lebih berenergi.
Sembari mengunyah coklat, ia merasakan tendangan-tendangan kecil diperutnya, tetapi semakin lama, terjadi kontraksi yang cukup intens.
"Ya, Rabb. Kenapa sakit banget." Alawiyah meletakkan coklatnya yang masih tersisa cukup banyak diatas tepian ranjang, lalu memegangi perutnya yang semakin sakit.
Ia mengingat pada Sang Rabb, lalu membaca doa dengan ayat-ayat ruqyah.
Doanya yang tanpa henti, membuatnya perlahan merasa lega, sebab rasa sakit mulai berkurang.
"Alhamdulillah, terimakasih ya—Rabb." ucapnya dengan rasa syukur, dan persaan lega.
Saat bersamaan, ia mendengar suara seperti dentuman yang cukup keras, pada rumah tetangga bagian belakang.
Buuuuum
"Astaghfirullah ...." Alawiyah terlonjak kaget, dan memegangi perutnya yang ikut terguncang.
Belum sempat ia memikirkan semua kejanggalan yang ada, ia mendengar suara orang sedang berjalan mondar dan mandir di bagian ruang tengah, tempat dimana tubuh suaminya terbaring.
"Siapa yang sedang berjalan diruang sana? Apakah si Mbok?"
Rasa penasaran, memaksa ia beranjak, lalu berjalan sembari memegangi perutnya yang cukup membesar, dan keluar dari kamar.
"Ternyata si Mbok tidur dengan Mas Bayu," gumamnya, saat menatap suaminya dan si Mbok yang tertidur lelap.
"Tapi siapa yang tadi berjalan?" Alawiyah merasa bingung. Sebab langkah kaki itu terdengar cukup jelas.
Ia mengedarkan pandangannya, memindai setiap ruangan yang tidak terlalu luas, dan tak menemukan siapa pun.
Hingga ia melihat sekelebatan bayangan yang melintas ke arah dapur, dan membuatnya semakin penasaran.
Dengan kepayahan, ia berjalan menuju dapur, menyusuri lantai rumah yang terbuat dari semen, dan cukup dingin saat diinjak.
Setibanya diambang pintu dapur, ia tak melihat apapun, hanya aroma melati yang menguar cukup kuat, lalu terlihat bayangan melintas, dengan menerobos jendela dapur yang hanya menggunakan jeruji dari kayu—tanpa daun jendela.
Alawiyah tersentak kaget, nafasnya memburu, dan wajahnya memucat menahan rasa takut.
Ia masih mengingat jelas, rambut panjang hingga sepinggang, saat menghilang dari hadapannya.
Alawiyah memegangi dadanya yang bergemuruh. Bibirnya bergetar, menahan rasa takut yang begitu besar.
"—Apa itu?" ia berguman dengan nafasnya yang tersengal, dan sungguh rumah mertuanya menyimpan hal yang cukup tak dapat diterima oleh akalnya.
Alawiyah berjalan mundur, dengan langkah cukup hati-hati, seolah setiap jengkal rumah ibu mertuanya menyimpan hal yang cukup rahasia.
"Rumah ini sangat mengerikan, mengapa ada banyak makhluk aneh disini?" ia menggenggam jemari tangannya, mencoba menghilangkan rasa tremor yang datang cukup cepat.
Ia mengedarkan pandangannya le segala arah. Seolah setiap sudut ruangan menjadi pasang mata yang terus memantaunya.
Ia menempelkan tubuhnya didinding kamar kosong yang saat ini tidak ditempati, sebab ibu mertuanya memilih untuk tidur diruang tengah, menemani puteranya yang diam dan tak juga terbangun dari tidur panjangnya.
"Mas Bayu, bangunlah. Jangan biarkan aku melewati semua ini dalam kebingungan," Alawiyah sangat berharap pasa doanya.
Ia melihat suaminya yang terbaring diatas kasur, dan wajah tampan itu, masih menyisakan garis yang sama.
"Aku yakin, pasti ada petunjuk," Alawiyah berusaha mengutakan hatinya.
Sedangkan sang Ibu Mertua, masih berada didapur, entah apa yang sedang dikerjakannya.
Ditengah kegelisahannya, ia mendengar suara pintu seperti sedang dicakar-cakar.
Alawiyah menoleh dengan wajah panik. Bagaimana kalau itu seekor hewan buas yang siap menyerang pemilik rumahnya.
Ia ingin melihat apa yang berada diluar, dan semakin lama, rasa penasaran itu tak dapat ia kendalikan.
Ia beranjak dari tempatnya, dan berjalan kepayahan.
Langkahnya sangat lamban, hingga saat ia berdiri diambang pintu yang masih tertutup.
Ia ingin menarik handle pintu, dan keraguan datang menghampirinya. Tangannya terangkat, seperti ada yang menggerakkan , dan memaksanya untuk tetap membuka pintu tersebut.
"Aku ingin tahu siapa yang datang."
Tak
Alawiyah menarik handle pintu dengan gerakan yang cukup lamban.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏