Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 18. Drama Queen
Denting suara sendok yang beradu dengan piring, sedikit memecah keheningan yang terjadi di ruang makan. Ganis, Krisna, Dinda, Puspa dan Herman terlihat tengah fokus pada makanan yang mulai memanjakan indera pengecap masing-masing. Sesekali Ganis melirik ke arah Herman. Meskipun sang mertua sempat berperilaku buruk, namun ia berupaya untuk menganggapnya seperti angin lalu.
"Hoeekkkk... Mas, ini asin sekali!"
Jus jeruk yang masuk ke dalam kerongkongan Dinda secara tiba-tiba ia muntahkan semua, membuat orang-orang yang berada di meja makan ini menghentikan kunyahannya.
"Asin?" tanya Krisna penasaran. "Asin apanya sih Honey?"
Setelah beberapa hari memikirkan panggilan kesayangan untuk masing-masing istri, akhirnya Dinda memiliki panggilan kesayangan sendiri. Honey, itulah panggilan kesayangan untuk Dinda yang terdengar sama manisnya dengan Sayang.
"Coba minum ini, Mas! Ini sungguh asin!" titah Dinda seraya menyerahkan segelas jus jeruk kepada Krisna.
Krisna meneguk jus jeruk yang diberikan oleh Dinda dan benar saja lelaki itu seketika memasang wajah meringis.
"Ssshhhhhh... Ini memang asin sekali. Kok bisa seperti ini?"
Dinda cemberut. Sepertinya perkara jus jeruk yang asin rasanya itu membuat mood-nya berantakan. Pandangannya langsung tertuju ke arah Ganis. Ganis yang merasa dilirik tajam oleh Dinda hanya bisa mengerutkan dahi. Ekspresi wajahnya seakan berbahasa 'ngapain kamu melihatku seperti itu'.
"Ini sudah jelas perbuatan mbak Ganis, Mas. Siapa lagi jika bukan mbak Ganis yang melakukan?" tuduh Dinda langsung di hadapan Ganis.
Ganis terhenyak. "Apa maksudmu menuduhku seperti itu?"
"Siapa lagi jika bukan kamu yang melakukan, Mbak? Di sini satu-satunya orang yang membenci keberadaanku adalah kamu," ucap Dinda dengan nada bicara yang lantang.
"Jangan asal bicara kamu! Mana buktinya jika aku yang melakukan?" tantang Ganis. "Di rumah ini ada CCTV, mau aku perlihatkan?"
Wajah Dinda mendadak pias. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Nampaknya rencana yang ia buat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Mati aku! Kenapa aku tak berpikir sampai sana? Aku baru ingat jika rumah ini diawasi oleh CCTV, pastinya akan ketahuan jika aku yang memasukkan garam ke minumanku sendiri. Ahh Dinda... Ceroboh sekali sih kamu.
"Sudah, sudah, tidak perlu diperpanjang. Mungkin mbok Mar yang salah masukin garam ke dalam jus jeruk. Tidak perlu buka CCTV segala," timpal Puspa.
"Hah, apa-apaan itu? Nyonya besar pakai bawa-bawa namaku segala. Padahal aku tidak tahu apa-apa," celetuk Maryati kesal sendiri dari dapur setelah mendengar Puspa membawa-bawa namanya.
"Mana bisa begitu? Wanita ini sudah berani menuduh, berarti harus berani membuktikan Ma. Jangan asal main fitnah!" protes Ganis yang seakan menjadi tersangka kasus kejahatan.
"Sudah, sudah, Sayang. Tidak perlu buka-buka CCTV. Ini hanya kesalahpahaman," bujuk Krisna agar istri pertamanya ini tidak sampai melakukan hal-hal lebih jauh lagi.
"Ini bukan kesalahpahaman Mas. Tapi ini sudah fitnah yang merobek-robek harga diriku. Memang se-iri apa sih aku sama kehamilan istri keduamu itu? Aku sama sekali tidak iri. Aku masih punya rahim. Jika Allah mengizinkan, aku pasti juga bisa hamil!" teriak Ganis dengan lantang.
"Honey!" panggil Krisna. "Ayo minta maaf ke mbak Rengganis. Kamu sudah salah tuduh loh. Ayo minta maaf!" titah Krisna.
Huh... Aku terpaksa melakukan hal ini. Padahal aku ingin membuat rencana seolah-olah istri pertama mas Krisna ini membenciku dan melakukan hal-hal konyol kepadaku. Eh, tahunya aku sendiri yang harus minta maaf.
Dinda beranjak dan mendekat ke arah Ganis. Ia ulurkan tangannya. "Aku minta maaf ya Mbak. Mungkin ini hanya bawaan kehamilanku. Aku merasa mbak Ganis membenciku dan belum bisa menerima keberadaanku."
Ganis melihat sekilas wajah Dinda dan ia gesekkan tangannya secepat kilat. "Aku tidak tahu sandiwara apa yang sedang kamu mainkan. Tapi ingat, kamu salah besar jika memilih jalan untuk melawanku."
Dinda hanya bisa menelan salivanya mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Ganis. Nyalinya tiba-tiba menciut melihat bahwa Rengganis tidak selemah itu.
"Sudah, sudah Din. Duduklah kembali ke kursimu!" timpal Puspa untuk mengakhiri pertikaian yang terjadi antara kedua menantunya ini.
"Mas, aku mau mulai promil lagi!" timpal Ganis tiba-tiba yang seketika membuat orang-orang yang berada di sini terperangah.
"Serius kamu mau mulai promil lagi, Sayang?" tanya Krisna dengan wajah yang berbinar. "Itu bagus Sayang, pokoknya aku dukung kamu!"
Dinda ikut terkejut mendengar rencana Ganis. Di sudut hatinya yang paling dalam ada rasa tidak terima jika sampai Ganis berhasil dalam promil kali ini.
Gawat, kalau sampai mbak Ganis hamil, bisa-bisa rasa cinta , kasih sayang dan perhatian mas Krisna tak lagi utuh untukku. Aku tidak mau jika harus berbagi perhatian dengan mbak Ganis.
"Iya Mas, aku memutuskan untuk mulai promil lagi. Jika kamu bisa membuat Dinda hamil pasti akupun juga bisa hamil."
"Iya Sayang, pokoknya atur saja sesuai keinginanmu. Lagipula akan sangat membahagiakan sekali jika kedua istriku sama-sama hamil. Jadi nanti rumah akan terasa sangat ramai." Krisna menoleh ke arah Puspa. "Benar begitu kan Ma?"
Puspa mengedikkan bahu. "Mungkin betul tapi apa tidak sia-sia jika kamu mau promil lagi Nis? Lima tahun kamu promil tapi gagal terus loh. Sudah berapa banyak uang Krisna yang habis untuk sesuatu yang belum tentu itu?"
Ganis tersentak mendengar respon sang mertua. "Maksud Mama apa? Kok sepertinya Mama yang justru memupus harapan dan semangatku untuk promil lagi? Memang Mama tidak mau punya cucu dari pernikahan yang sah secara agama dan tercatat di negara?"
"Ya bukan seperti itu. Tapi apa tidak buang-buang uang ketika kamu ikut promil lagi? Mana hasilnya belum jelas."
Ganis tersenyum getir. "Mama takut aku menghabiskan uang mas Krisna?"
"Ya pastinya kamu akan menggunakan uang Krisna kan?"
"Jika itu yang Mama khawatirkan, Mama tenang saja, sepeserpun aku tidak akan menggunakan uang mas Krisna. Aku akan menggunakan uang pribadiku."
"Baguslah kalau begitu Nis. Menurut Mama, daripada berharap pada sesuatu yang belum tahu hasilnya, lebih baik Krisna fokus pada calon anak yang benar-benar akan hadir di dalam hidupnya."
"Terserah Mama saja. Kalaupun mas Krisna tidak lagi mengharapkan keturunan dariku, setidaknya akulah yang mengharapkannya."
Dinda melirik ke arah Ganis. Ada sorot tak suka yang terpancar dari bola matanya. Entah apa yang ia takutkan. Padahal saat ini dia lah yang menjadi menantu kesayangan sang mertua.
Mbak Ganis benar-benar keras kepala dan pantang menyerah. Bisa-bisanya dia tidak goyah imannya untuk menghentikan promil yang bisa jadi hanya sia-sia itu. Bagaimana tidak sia-sia? Umurnya saja sudah tiga puluh lima tahun, yang ada sel telurnya sudah tak ada isinya semua.
Tok.. . Tok.. Tok.. . .
"Permisi!"
Suara seseorang dari teras rumah menghentikan pokok pembicaraan orang-orang yang ada di ruang makan. Puspa tersenyum lebar kala mendengar suara itu.
"Nah, itu yang kita nanti-nantikan datang," ucap Puspa dengan wajah berbinar terang.
"Memang siapa Ma?" tanya Krisna penasaran.
"Ahli design interior, yang akan merombak kamar Dinda menjadi lebih nyaman lagi untuk ditempati."
"Secepat ini Ma? T-tapi mas Krisna belum ngasih uang untuk bayar jasanya Ma," keluh Dinda dengan wajah memelas.
"Tenang Sayang, Mama yang akan membayar semua jasanya. Jadi kamu tenang saja, oke?"
Dinda tersenyum lebar mendengar jawaban sang mertua. Sekilas, ia melirik ke arah Ganis yang terlihat hanya duduk terdiam dan membeku.
Hahaha setidaknya saat ini mama mertua berada di pihakku. Aku yakin, apapun yang aku minta pasti akan terpenuhi.
.
.
.