"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: WTF
Siang itu. Universitas Mataram.
Matahari Lombok berada di titik tertingginya ketika Adea melangkahkan kaki masuk ke gedung fakultas kedokteran.
Langkahnya tidak ringan seperti biasa. Tidak ada lompatan kecil. Tidak ada senyum merekah. Tidak ada lambaian tangan untuk Angga yang sudah berbalik arah menuju fakultas ekonomi.
Ia berjalan pelan. Tangannya menggenggam erat tali tas ransel merah muda di bahu. Pikirannya masih melayang ke pagi tadi, ke kamar Angga, ke kemeja hitam yang masih melekat di tubuhnya, ke pelukan yang tidak ingin ia lepaskan.
Tapi itu bukan yang membuat dadanya terasa berat.
Ada yang lain.
Sejak memasuki gerbang kampus, ia merasakan tatapan. Bukan satu atau dua. Tapi banyak. Dari mahasiswa yang duduk di bangku taman, dari yang berjalan di koridor, dari yang mengantre di depan lift.
Tatapan yang bisik-bisik. Tatapan yang tersenyum miring. Tatapan yang tidak ramah.
"Itu dia..."
"Yang kemarin? Yang difoto?"
"Iya. Yang tidur sekamar sama cowok ekonomi."
Adea tidak mendengar kata-kata itu persis. Tapi ia merasakannya. Getaran gosip yang merambat di udara seperti listrik statis, menyengat kulitnya setiap kali ia melewati sekelompok orang.
Ia menunduk. Melangkah lebih cepat.
Di ruang ganti praktikum.
Adea membuka lokernya dengan tangan sedikit gemetar. Buku-buku tebal anatomi ia susun rapi, jas praktikum putih ia gantung di gantungan kecil di dalam loker. Ia berusaha fokus. Bernapas. Tidak memikirkan tatapan-tatapan tadi.
"Dea!"
Eli. Sahabatnya itu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tegang, matanya gelisah. Ia langsung menarik tangan Adea ke sudut ruangan, jauh dari mahasiswi lain yang mulai berdatangan.
"Lo udah liat grup?" tanya Eli berbisik.
"Grup apa?"
"Grup angkatan. Udah rame banget dari tadi pagi."
Adea menggeleng. Ia tidak membuka ponsel sejak berangkat dari rumah. Pagi tadi ia terlalu sibuk... dengan hal lain.
Eli menghela napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan menunjukkan layar ke Adea.
Sebuah foto.
Foto Adea dan Angga. Di dalam mobil Seoul Lee? Tidak. Di villa Seoul Lee? Juga bukan.
Foto itu diambil di halaman parkir fakultas. Beberapa hari yang lalu. Adea sedang duduk di jok belakang motor Ninja hitam, helm biru di kepala, tangan memeluk pinggang Angga. Tapi yang menjadi sorotan bukan mereka berdua.
Sorotannya adalah lingkaran merah di sekitar perut Adea.
Dan tulisan di bawah foto itu:
"Mahasiswi kedokteran hamil di luar nikah? Siapa cowoknya? Anak ekonomi? Mana bukti?"
Adea membaca tulisan itu sekali. Dua kali. Tiga kali.
Darahnya terasa berhenti mengalir.
"What the fuck is this?" bisiknya.
"Udah tersebar sejak subuh," ucap Eli, suaranya pelan. "Gue udah coba minta admin grup hapus, tapi fotonya udah dishare ke grup-grup lain. Kelas A, B, C, D, bahkan grup angkatan 2022 dan 2024."
Adea menyerahkannya ponsel itu kembali. Tangannya dingin.
"Gue gak hamil."
"I know."
"Itu cuma-"
"Gue tahu, Dea. Tapi orang-orang gak peduli fakta. Mereka cuma lihat foto dan tulisan sensasional."
Adea bersandar ke loker. Kepalanya terasa berputar. Udara di ruang ganti tiba-tiba terasa tipis.
Dari pintu masuk, beberapa mahasiswi lain mulai berdatangan. Mereka melihat Adea. Mereka berbisik-bisik. Satu atau dua orang tersenyum kecil. Bukan senyum ramah, tapi senyum lega karena drama hari ini lebih menarik dari kuliah.
"Poor girl~"
"Tapi bener kan? Cowoknya yang jemput tiap hari?"
"Iya. Mobilnya gede, motornya gede. Mungkin dia digedein."
Tawa kecil. Pelan. Tapi cukup untuk didengar.
Adea mengepalkan tangan. Ia ingin berteriak. Ia ingin menjelaskan bahwa foto itu diambil dari sudut yang sengaja menyesatkan, bahwa lingkaran merah di perutnya hanya efek bayangan, bahwa ia tidak hamil, bahwa ia bahkan belum pernah-
Tapi tidak ada yang mau mendengar.
Di dunia kampus, kebenaran tidak sepenting sensasi.
Bersambung...