Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Murid Inti dan Lautan Ruh Hitam
Episode 20
Asap hitam pekat yang menyelimuti tubuh Gu Sheng perlahan-lahan mulai menipis, menyingkap sosoknya yang berdiri tegak di tengah kawah yang hancur. Namun, meskipun asap itu menipis, tekanan aura yang ia pancarkan justru berlipat ganda. Udara di dalam Arena Agung terasa seperti timah cair yang menekan dada setiap penonton.
Di kaki Gu Sheng, tubuh Lin Tian tergeletak tak berdaya. Sosok yang tadinya gagah dan sombong itu kini tak lebih dari seonggok daging kering yang terbungkus kulit keriput berwarna abu-abu. Napasnya terdengar seperti gesekan kertas tua, sangat lemah dan penuh penderitaan. Matanya yang cekung menatap langit dengan kekosongan yang mengerikan ia masih hidup, namun jiwanya telah hancur bersama dengan Dantian-nya.
Gu Sheng tidak melirik sedikit pun pada sampah di kakinya. Ia sedang memejamkan mata, meresapi sensasi luar biasa di dalam tubuhnya.
“Dug... Dug... Dug...”
Setiap detak jantungnya kini mengirimkan gelombang energi yang jauh lebih padat daripada sebelumnya. Di dalam Dantian-nya, pusaran hitam itu tidak lagi hanya berisi uap. Kini, sebuah danau kecil berwarna hitam pekat, berkilau seperti minyak yang kental, telah terbentuk. Itulah Lautan Ruh (Spirit Sea).
Bagi praktisi biasa, Spirit Sea berwarna biru atau putih, melambangkan kemurnian energi spiritual. Namun milik Gu Sheng adalah kegelapan murni yang seolah-olah mampu menelan cahaya matahari sekalipun.
“Hahaha! Rasakan itu, bocah!” suara Kaisar Iblis tertawa dengan nada yang sangat puas di dalam batin Gu Sheng. “Kau telah melewati gerbang menuju kekuatan sejati. Tujuh Bayangan dan energi dari pil terlarang si sampah itu adalah nutrisi terbaik yang pernah kau telan. Sekarang, raga fana ini mulai benar-benar bertransformasi menjadi Raga Iblis Penelan Langit!”
Gu Sheng mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan setiap serat ototnya diperkuat oleh cairan Qi hitam tersebut. Ia merasa seolah-olah bisa menghancurkan seluruh stadion ini hanya dengan satu hantaman tangan kosong.
"Gu... Sheng..." suara geraman yang penuh dengan niat membunuh meledak dari arah balkon VIP.
Zhao Ruo, sang murid inti Sekte Pedang Langit, melompat turun dari balkon. Ia tidak mendarat dengan anggun; sebaliknya, ia menghantamkan tubuhnya ke lantai arena seperti sebuah meteor perak.
BOOM!
Lantai granit di seberang Gu Sheng hancur berkeping-keping akibat hantaman tersebut. Zhao Ruo berdiri tegak, jubah putihnya berkibar liar, dan pedang peraknya memancarkan cahaya yang begitu tajam hingga membelah tetesan hujan yang jatuh di sekitarnya.
"Kau... benar-benar mencari mati!" Zhao Ruo menunjuk Gu Sheng dengan pedangnya, suaranya bergetar karena amarah yang tak tertahankan. "Mencacat murid sekte kami di depan umum... kau tidak hanya menyinggung Keluarga Mu, kau telah menantang harga diri Sekte Pedang Langit! Hari ini, aku akan mencabik jiwamu dan membakarnya di api penyucian selama tujuh hari tujuh malam!"
Gu Sheng perlahan membuka matanya. Warna merah di pupilnya kini memiliki lingkaran emas tipis di tepinya, tanda dari evolusi kekuatan darahnya. Ia mengangkat pedang Penebas Dosa yang berat, meletakkannya kembali di bahunya dengan gerakan yang sangat santai.
"Harga diri?" Gu Sheng mendengus dingin. "Sekte yang menampung pencuri dan sampah seperti Lin Tian... apakah masih punya harga diri yang tersisa? Bagiku, sektamu hanyalah tumpukan sampah yang lebih besar. Dan kau... kau hanyalah lalat yang lebih berisik."
"Beraninya kau!" Zhao Ruo tidak bisa menahan diri lagi.
Ia membakar Qi-nya hingga tingkat maksimal. Sebagai praktisi Spirit Sea Tingkat Pertama (Puncak), auranya jauh lebih stabil dan kuat daripada Lin Tian yang menggunakan pil tadi. Sebuah bayangan pedang perak raksasa sepanjang sepuluh meter muncul di belakang punggungnya, memancarkan aura yang mampu membelah ruang.
"Jurus Rahasia Murid Inti, Tebasan Perak Perobek Langit!"
Zhao Ruo mengayunkan pedangnya. Bayangan pedang raksasa itu jatuh dengan kecepatan cahaya, membelah arena menjadi dua bagian secara instan. Tekanan dari serangan ini membuat penonton di barisan depan terlempar keluar dari kursi mereka, dan beberapa tembok stadion mulai runtuh.
Gu Sheng tidak menghindar. Ia justru melangkah maju.
“Bocah, jangan remehkan dia. Serangan ini mengandung Niat Pedang (Sword Intent) tingkat pemula!” kaisar iblis memperingatkan.
"Niat Pedang?" Gu Sheng menyeringai tipis. "Kalau begitu, aku akan menunjukkan padanya... Niat Iblis-ku."
Gu Sheng menggenggam gagang Penebas Dosa dengan kedua tangannya. Ia tidak mengayunkannya ke atas, melainkan melakukan gerakan menusuk ke depan secara horizontal.
"TEKNIK PENELAN, GIGITAN HAMPA!"
Saat ujung pedang tumpul Penebas Dosa bertemu dengan bayangan pedang perak Zhao Ruo, sebuah fenomena aneh terjadi. Udara di titik pertemuan itu tiba-tiba mengerut, menciptakan lubang hitam kecil yang berputar-putar.
KREKKKKK!
Suara seperti kaca yang pecah bergema di seluruh stadion. Bayangan pedang raksasa Zhao Ruo yang seharusnya menghancurkan Gu Sheng, tiba-tiba mulai retak dan hancur berkeping-keping. Potongan-potongan energi perak itu tidak meledak ke samping, melainkan tersedot masuk ke dalam lubang hitam di ujung pedang Gu Sheng.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Zhao Ruo terperangah. Ia merasa seolah-olah seluruh serangannya baru saja dimakan oleh seekor binatang buas yang tak terlihat.
Gu Sheng tidak berhenti. Dengan memanfaatkan momentum tarikan dari lubang hitamnya, ia melesat maju. Kecepatannya kini begitu tinggi hingga ia tampak seperti garis hitam yang membelah arena.
Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Zhao Ruo.
"Beratnya dosa... rasakanlah," bisik Gu Sheng.
Ia mengayunkan Penebas Dosa dari samping. Hantaman ini tidak membawa Qi yang meledak-ledak, melainkan membawa beban massa yang luar biasa dari Gerbang Kedua dan gravitasi yang telah ia kuasai.
Zhao Ruo segera mengangkat pedang peraknya untuk menahan secara horizontal.
BUMMMMMMM!
Lantai arena di bawah kaki Zhao Ruo hancur sedalam tiga meter. Zhao Ruo memuntahkan darah segar, kedua kakinya tertanam dalam ke dalam tanah. Ia merasa seolah-olah sebuah gunung besar baru saja dijatuhkan ke atas pedangnya.
"Argh... kekuatan fisik macam apa ini?!" Zhao Ruo menggertakkan giginya, tangannya gemetar hebat menahan beban pedang Gu Sheng.
"Kekuatan yang tidak akan pernah kau mengerti, lalat," jawab Gu Sheng dingin.
Gu Sheng melepaskan satu tangannya dari pedang, lalu menghantamkan telapak tangan kirinya ke dada Zhao Ruo.
"Penelan Langit, Gema Kematian!"
DUAK!
Sebuah ledakan Qi hitam berbentuk gelombang kejut masuk langsung ke dalam organ dalam Zhao Ruo. Zhao Ruo terlempar mundur sejauh lima puluh meter, menabrak tembok stadion hingga tembok tebal itu hancur berantakan, mengubur tubuh sang murid inti di bawah tumpukan batu.
Keheningan kembali menyelimuti Arena Agung. Penonton menatap reruntuhan tembok itu dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
Seorang murid inti... praktisi tingkat Spirit Sea... dikalahkan hanya dalam dua langkah?
Di balkon VIP, Mu Chen jatuh terduduk kembali ke kursinya. Ia menatap Gu Sheng dengan ketakutan yang murni. Ia baru menyadari bahwa ia telah memicu amukan seekor naga yang seharusnya ia biarkan tidur selamanya.
Mu Ruoxue berdiri kaku, tangannya gemetar hebat. Ia menatap Gu Sheng yang berdiri dengan tenang di tengah debu, memegang pedang raksasanya dengan satu tangan.
"Dia... dia sudah melampaui level kita semua..." bisik Mu Ruoxue dengan suara yang pecah.
Gu Sheng tidak menghampiri reruntuhan tempat Zhao Ruo tertimbun. Ia justru berbalik ke arah kursi kehormatan, menatap langsung ke arah Mu Chen dan Mu Ruoxue.
"Tinggal kalian berdua," suara Gu Sheng bergema, dingin dan tanpa ampun. "Mu Chen, kau yang merencanakan penghancuran keluargaku. Ruoxue, kau yang merobek dadaku. Sekarang, siapa yang ingin mati duluan? Atau kalian ingin maju bersama agar aku bisa menghemat energiku?"
Pacing yang lambat ini memberikan kesempatan bagi ketakutan Mu Chen untuk memuncak. Setiap detik penantian terasa seperti pisau yang mengiris jiwanya. Sang Iblis Penelan Langit tidak hanya menuntut nyawa, ia menuntut kehancuran total dari harga diri mereka.
Di bawah reruntuhan batu, aura perak yang lemah mulai kembali menyala. Zhao Ruo belum mati, namun kehormatannya sebagai murid inti telah hancur berkeping-keping.
Badai di Kota Azure baru saja mencapai puncaknya.