10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Yang Tertinggal di Balik Cahaya
Malam terasa terlalu sunyi.
Bukan sunyi yang menenangkan.
Tapi sunyi yang… salah.
Seperti ada sesuatu yang seharusnya ada—suara, bayangan, napas—namun menghilang tanpa jejak.
Alya duduk di tepi tempat tidurnya.
Lampu kamar menyala redup.
Cahaya kuningnya membuat bayangan di sudut ruangan terlihat lebih panjang dari seharusnya.
Ia tidak tidur lagi setelah kejadian tadi.
Pantulan di cermin itu…
Ia masih mengingatnya dengan jelas.
Senyum yang datang lebih dulu.
Bukan refleksi.
Bukan dirinya.
Tapi sesuatu… yang meniru dirinya.
Alya menarik napas pelan.
“Ini sudah selesai…” bisiknya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun kata-kata itu terasa kosong.
Karena jauh di dalam dirinya—
Ia tahu.
Belum.
Belum benar-benar selesai.
Jam di dinding berdetak pelan.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Normal.
Seharusnya normal.
Namun setelah beberapa menit…
Alya menyadari sesuatu.
Detaknya… tidak konsisten.
Tik.
Tok.
…
Tik.
Tok. Tok.
Ia mengerutkan kening.
“Rusak?” gumamnya.
Matanya menatap jam itu lebih lama.
Dan saat itulah—
Jarumnya bergerak mundur.
Satu detik.
Alya membeku.
“Tidak…”
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya pelan, hampir tidak bersuara.
Matanya tidak lepas dari jam itu.
Jarum detik kembali bergerak.
Maju.
Normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Alya tertawa kecil.
Tertawa gugup.
“Aku cuma capek…”
Ia mengusap wajahnya.
Mencoba mengusir rasa tidak nyaman itu.
Namun saat ia berbalik—
Cermin di dinding kembali menarik perhatiannya.
Refleksinya berdiri di sana.
Diam.
Menatapnya.
Sama seperti dirinya.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang bergerak lebih dulu.
Alya menghela napas lega.
“Lihat? Nggak ada apa-apa…”
Ia hendak berjalan menjauh.
Namun—
Refleksi itu… berkedip.
Lebih lambat.
Sepersekian detik… setelah Alya.
Langkahnya terhenti.
Jantungnya langsung berdegup keras.
“…”
Ia tidak berani bergerak.
Perlahan… sangat perlahan…
Alya mengangkat tangannya.
Refleksi itu mengikuti.
Namun—
Terlambat.
Sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup.
Cukup untuk membuat darahnya terasa dingin.
“Aku… cuma halusinasi…” bisiknya.
Namun suara itu tidak terdengar meyakinkan.
Ia mundur satu langkah.
Refleksi itu ikut mundur.
Kali ini… tepat waktu.
Seolah memperbaiki kesalahan.
Seolah belajar.
Alya langsung membalikkan badan.
Ia tidak ingin melihat lagi.
Tidak ingin tahu.
Tidak ingin—
“Kenapa kamu berhenti melihatku?”
Suara itu.
Datang dari belakangnya.
Dari arah cermin.
Alya membeku total.
Itu suaranya.
Persis.
Namun…
Lebih datar.
Lebih kosong.
Lebih… dingin.
“Alya…”
Suara itu memanggil lagi.
Pelan.
Seperti bisikan yang terlalu dekat.
Terlalu dekat dengan telinganya.
Padahal ia berdiri jauh dari cermin.
“Aku di sini…”
Air mata mulai mengalir.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ketakutan yang terlalu dalam.
Alya menggenggam tangannya erat-erat.
“Ini nggak nyata…” bisiknya cepat.
Namun suara itu menjawab.
“Aku lebih nyata dari yang kamu pikir.”
Alya menutup telinganya.
Namun suara itu tetap ada.
Di dalam kepalanya.
“Kenapa kamu menutup pintunya…”
“Kenapa kamu meninggalkan kami…”
“Kenapa kamu memilih… dia…”
Suara-suara lain mulai muncul.
Banyak.
Berlapis.
Bercampur.
Jeritan.
Tangisan.
Bisikan.
Semua bersatu menjadi satu
kekacauan yang tidak bisa ia pahami.
“Berhenti…” Alya berbisik.
Namun tidak ada yang berhenti.
“BERHENTI!” teriaknya.
Lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
Padam.
Gelap langsung menelan ruangan.
Alya terengah-engah.
Ia tidak bisa melihat apa pun.
Hanya mendengar.
Dan dalam gelap itu—
Suara napas.
Bukan napasnya.
Tapi sesuatu yang lain.
Dekat.
Sangat dekat.
Di belakangnya.
Perlahan…
Sesuatu menyentuh bahunya.
Dingin.
Lembap.
Seperti tangan yang terlalu lama berada di air.
Alya menjerit dan langsung menjauh.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Ia meraba-raba dinding.
Mencari saklar lampu.
Namun—
Dinding itu… terasa berbeda.
Basah.
Lengket.
Seperti…
Daging.
Alya menarik tangannya dengan cepat.
Napasnya kacau.
“Ini bukan kamarku…” bisiknya.
Dan saat itu—
Lampu menyala kembali.
Sekejap.
Namun cukup.
Cukup untuk melihat—
Ruangan itu tidak lagi sama.
Dindingnya retak.
Hitam.
Seperti terbakar.
Cermin itu—
Tidak lagi memantulkan apa pun.
Kosong.
Gelap.
Seperti lubang.
Dan dari dalamnya—
Sesuatu bergerak.
Cepat.
Alya mundur.
Namun kakinya tersandung sesuatu.
Ia jatuh.
Saat ia menoleh—
Ia melihatnya.
Tumpukan surat.
Namun bukan surat biasa.
Semua amplop itu…
Terbuka.
Dan dari dalamnya—
Keluar tangan-tangan kecil.
Pucat.
Tipis.
Seperti milik sesuatu yang tidak pernah benar-benar hidup.
Mereka bergerak.
Meraih.
Mencari.
“Tidak…” Alya berbisik.
Ia merangkak mundur.
Namun tangan-tangan itu semakin banyak.
Keluar dari setiap surat.
Setiap celah.
Setiap bayangan.
Mereka meraih kakinya.
Menarik.
Perlahan.
Kuat.
“LEPASKAN!” Alya menjerit.
Ia menendang.
Menarik tubuhnya.
Namun semakin ia melawan—
Semakin kuat mereka menarik.
Seolah mereka lapar.
Seolah mereka sudah menunggu.
Sangat lama.
“KAU MILIK KAMI…”
Suara itu kembali.
Kini bukan dari cermin.
Bukan dari dalam kepalanya.
Tapi dari mana-mana.
Dari dinding.
Dari lantai.
Dari dalam surat-surat itu.
“KAU YANG MEMBUKA…”
“KAU YANG MENUTUP…”
“KAU YANG MENGHUBUNGKAN…”
Tangan-tangan itu kini mencapai pinggangnya.
Dingin.
Menusuk.
Seolah menarik sesuatu dari dalam dirinya.
Bukan tubuhnya.
Tapi…
Sesuatu yang lebih dalam.
Alya menangis.
“Dira… tolong…”
Dan saat ia menyebut nama itu—
Semuanya berhenti.
Sekejap.
Sunyi.
Total.
Tangan-tangan itu membeku.
Suara itu hilang.
Dan dalam keheningan itu—
Sebuah cahaya kecil muncul.
Di depan Alya.
Hangat.
Lembut.
Seperti dulu.
Seperti…
Dira.
Alya terisak.
“Dira…?”
Cahaya itu bergetar pelan.
Seolah menjawab.
Tangan-tangan itu mulai mundur.
Perlahan.
Seperti takut.
Seperti teringat sesuatu.
Cahaya itu mendekat.
Menyentuh dahi Alya.
Dan dalam sekejap—
Semuanya hilang.
Alya terbangun.
Ia terengah-engah.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Kamarnya kembali normal.
Lampu menyala.
Tidak ada tangan.
Tidak ada suara.
Tidak ada…
Ia menoleh ke cermin.
Refleksinya ada di sana.
Diam.
Normal.
Alya menatapnya lama.
Tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Beberapa detik.
Tidak ada yang aneh.
Ia menghela napas panjang.
“Mimpi…” bisiknya.
Namun saat ia hendak bangkit—
Ia merasakan sesuatu di tangannya.
Ia menunduk.
Dan darahnya langsung terasa dingin.
Di tangannya—
Ada bekas.
Jejak jari.
Pucat.
Seperti bekas genggaman sesuatu.
Yang terlalu kuat.
Alya menelan ludah.
“Ini… bukan mimpi…”
Ia perlahan menoleh ke arah meja.
Kotak surat itu masih ada.
Namun—
Tutupnya terbuka.
Padahal ia ingat…
Ia sudah menutupnya.
Perlahan…
Sangat perlahan…
Alya berdiri.
Langkahnya berat.
Ia mendekat.
Dan saat ia melihat ke dalam—
Ia langsung mundur.
Semua surat itu…
Kosong.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada kata.
Seolah semua isi di dalamnya…
Telah diambil.
Atau…
Dipindahkan.
Alya gemetar.
“Siapa yang—”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu membuatnya terdiam.
Dari pintu kamar.
Ada yang mengetuk.
Pelan.
Teratur.
Namun…
Jam menunjukkan pukul 3:17 pagi.
Tidak mungkin ada siapa-siapa.
Tok.
Tok.
Tok.
“Alya…”
Suara itu.
Lagi.
Ia mundur.
Tidak menjawab.
Tidak bergerak.
Namun suara itu terus memanggil.
“Alya… buka…”
“Aku kedinginan…”
Suara itu berubah.
Menjadi lebih familiar.
Lebih… menyakitkan.
“Ini aku…”
“Dira…”
Air mata Alya langsung jatuh.
Namun ia tidak bergerak.
Tidak kali ini.
Ia menggeleng pelan.
“Bukan kamu…” bisiknya.
Di luar—
Suara itu terdiam.
Beberapa detik.
Lalu—
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
“Pintar…”
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini lebih keras.
“Kalau bukan aku…”
“Siapa yang menyelamatkanmu tadi?”
Alya membeku.
Tangannya gemetar hebat.
Ia tidak menjawab.
Tidak berani.
“Buka pintunya…” suara itu berbisik.
“Dan aku akan tunjukkan…”
“Siapa yang sebenarnya masih di sini…”
Gagang pintu bergerak.
Pelan.
Berderit.
Alya mundur.
“Jangan…” bisiknya.
Namun pintu itu—
Mulai terbuka sendiri.
Sedikit.
Cukup untuk memperlihatkan kegelapan di luar.
Dan dari celah itu—
Sesuatu mengintip.
Bukan wajah.
Bukan manusia.
Tapi…
Mata.
Banyak.
Terlalu banyak.
Mereka berkedip bersamaan.
Dan semua menatap Alya.
“Sekarang…”
“Giliran kami masuk.”
Lampu mati.
Dan kegelapan—
Kali ini…
Tidak pergi.