“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14.Cinta yang tak lagi berarti.
Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu berat, seolah udara sendiri ikut membeku karena kehadiran sosok pria di hadapannya. Jantung Lae ria berdegup kencang bukan lagi karena rasa gugup atau bahagia, melainkan karena rasa takut yang mencekam. Tangan besar dan dingin Ka el mencengkeram lehernya dengan kuat, cukup untuk membuatnya sulit bernapas, namun tidak cukup kuat untuk membunuhnya seketika.
Lae ria mendongak, matanya yang berwarna biru cerah menatap lurus ke dalam iris mata pria itu yang berwarna merah darah. Ia bisa melihat pantulan ketakutan dirinya sendiri di sana. Namun, di balik tatapan mengerikan itu, Lae ria menyadari ada sesuatu yang lain. Ka el tidak langsung membunuhnya. Pria itu justru menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mengamati seekor serangga aneh, atau sedang membandingkan sesuatu di dalam kepalanya.
Jari-jari Ka el mengeratkan cengkeramannya sedikit saja, cukup untuk membuat Lae ria tersentak, namun pandangannya tidak lepas dari bola mata wanita di depannya.
Biru cerah... batin Ka el berbisik, alisnya yang tegas sedikit berkerut. Warnanya terlalu terang. Terlalu mencolok.
Di dalam benak Ka el, terbayang sosok gadis lain yang pernah menolongnya sekaligus menghinanya. Gadis itu juga memiliki wajah yang sama persis, kembar identik, namun ada perbedaan mendasar yang tak bisa dibohongi. Mata gadis di villa itu berwarna biru pekat, hampir seperti lautan dalam yang gelap, misterius, dan menyimpan ketenangan yang aneh. Sedangkan wanita yang ada di hadapannya sekarang, matanya berwarna biru langit yang cerah, terang, namun dangkal dan penuh dengan ambisi serta kepura-puraan.
"Apa..." suara Ka el menggumam pelan, suaranya berat dan bergetar, namun bukan karena marah, melainkan karena kekecewaan. "Ternyata bukan dia,siapa kau?"
Ia menatap lebih dalam, memindai aura yang memancar dari tubuh wanita itu. Energi sihir yang keluar dari tubuh Lae ria memang kuat, berkilauan indah seperti permata, namun rasanya... biasa saja. Tidak ada getaran aneh, tidak ada tarikan magnet misterius yang seharusnya ia rasakan saat berhadapan dengan wanita di villa. Yang ada hanyalah rasa hambar dan palsu.
Jadi ini bukan dia... pikir Ka el dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa kecewa yang mendalam, bagaikan seseorang yang menemukan sebuah peti harta karun yang indah namun saat dibuka isinya hanya batu kerikil biasa. Harapan kecil yang entah sejak kapan tumbuh di hatinya, hancur berkeping-keping dalam sekejap.
Dengan gerakan kasar dan penuh emosi yang terpendam, Ka el melepaskan cengkeramannya dari leher Lae ria. Ia mendorong bahu wanita itu dengan kuat hingga Lae ria terhuyung mundur beberapa langkah dan akhirnya jatuh terduduk di lantai yang dingin karena kaget dan kehilangan keseimbangan.
Lae ria terbatuk-batuk keras, tangannya reflex memegangi lehernya yang terasa perih dan meninggalkan bekas merah menyala. Ia menatap Ka el dengan napas memburu, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Pria itu tampak marah, tapi juga tampak... kecewa. Tatapan mata Ka el kini berubah menjadi sangat dingin, jauh lebih dingin dari sebelumnya, seolah Lae ria adalah sesuatu yang tidak berharga dan membuang-buang waktunya saja.
Ka el berbalik memunggunginya, berjalan kembali menuju singgasana nya dengan langkah lebar dan penuh wibawa yang menakutkan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran singgasana, menyilangkan kedua kakinya, dan menatap Lae ria dari atas dengan tatapan menghakimi.
"Bangun," perintah Ka el singkat, nadanya datar dan membosankan. "Jangan membuat pemandangan menyedihkan di hadapanku."
Dengan gemetar, Lae ria bangkit berdiri. Kakinya yang sakit terasa semakin ngilu, baik secara fisik maupun batin. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sakit, tapi karena rasa malu dan tersinggung.
"Y-Yang Mulia..." panggil Lae ria pelan. "Apa... apa aku melakukan kesalahan?"
Ka el tidak langsung menjawab. Ia mengambil segelas anggur merah yang ada di meja sampingnya, menyesapnya perlahan seolah Lae ria tidak ada di sana.
"Tujuanmu datang kemari apa?" tanya Ka el akhirnya, tanpa menatapnya. Suaranya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh dengan kebosanan. "Bukankah seharusnya Nona Penyihir Hebat sedang beristirahat menyembuhkan kaki patahmu? Atau kau datang kemari supaya aku bisa menyakiti bagian tubuhmu yang lain?"
Pertanyaan itu membuat Lae ria menggigil. Ia menggeleng cepat, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.
"Tidak, Yang Mulia! Aku datang bukan untuk itu! Aku datang karena... karena ada hal penting yang harus kukatakan padamu!" Lae ria menarik napas panjang, mencoba menenangkan suaranya. "Keluargaku... Ayah dan Ibu serta seluruh tetua keluarga Star born sedang mengadakan rapat darurat malam ini."
Ka el masih diam, namun telinganya tampak menangkap setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Mereka..." Lae ria menggigit bibir bawahnya, rasa iri dan amarah mulai bercampur di dadanya. "Mereka berniat mengirim orang lain sebagai penggantiku. Mereka takut... mereka takut akan kutukanmu, Yang Mulia. Mereka takut jika aku yang menikah denganmu, aku akan mati seperti istri-istrimu yang dulu."
Lae ria menunduk, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Mereka punya rencana jahat. Mereka ingin mengirim saudara kembarku..." suaranya bergetar saat mengucapkan nama itu, penuh dengan rasa jijik dan rendah diri. "Mereka ingin mengirim Luna ria. Gadis yang tidak berguna itu, gadis yang tidak bisa menggunakan sihir sama sekali, untuk menggantikanku menjadi istri Yang Mulia. Mereka pikir karena dia tidak punya sihir, maka kutukan itu tidak akan bekerja padanya. Mereka pikir itu ide cemerlang untuk menyelamatkanku!"
Lae ria berharap setelah mendengar cerita ini, Ka el akan marah. Ia berharap Ka el akan menolak keras, mengatakan bahwa ia hanya menginginkan Lae ria, tidak peduli siapa pun yang datang menggantikannya. Ia berharap pria itu akan mengatakan bahwa ia tidak mau melihat wajah gadis cacat seperti Luna ria.
Namun kenyataan berkata lain.
Wajah Ka el yang tadinya datar dan bosan, tiba-tiba berubah. Alisnya terangkat sedikit, dan ada kilatan aneh yang muncul di mata merahnya. Bukan kemarahan, bukan juga penolakan. Yang ada justru adalah... rasa penasaran. Rasa tertarik yang sangat kuat.
"Luna ria..." Ka el melafalkan nama itu perlahan, seolah mengecap rasanya di lidah. Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman miring, kali ini senyuman itu terlihat jauh lebih hidup dan menarik dibandingkan saat ia melihat Lae ria. "Jadi namanya Luna ria..."
Hati Lae ria seakan diremas kuat. Dadanya sesak. Apa ini? Kenapa dia tersenyum begitu? Kenapa dia malah terlihat tertarik?
"Jadi..." Ka el bersuara lagi, suaranya terdengar lebih ringan namun tetap memancarkan aura bahaya. "Mereka ingin menukar kalian. Lae ria si Jenius dengan Luna ria si Cacat. Itu rencananya?"
"Be-Tapi Yang Mulia!" potong Lae ria cepat, suaranya meninggi karena panik. "Itu tidak adil! Yang Mulia memilihku! Di pesta itu, mata Yang Mulia tertuju padaku! Kenapa sekarang Yang Mulia terlihat... terlihat tidak keberatan?"
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Lae ria. Rasa sakit karena ditolak secara tidak langsung ini jauh lebih menyakitkan daripada patah tulang kakinya.
Ka el menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Ia tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang terdengar sinis.
"Kenapa aku harus keberatan?" tanya Ka el santai. "Kerajaan hanya meminta putri Star born. Tidak disebutkan namanya. Jika mereka mau mengirim yang lain, itu urusan mereka. Bagiku, tidak ada bedanya apakah itu kau atau saudaramu itu. Aku hanya butuh seorang istri untuk duduk di sampingku, atau untuk... menjadi pengorbanan."
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Lae ria.
"Tapi... tapi aku yang mencintai Yang Mulia!" seru Lae ria, tak mampu menahan perasaannya lagi. "Aku yang mengagumimu! Aku yang berani datang kemari meski tahu kakimu berdarah! Gadis itu... Luna ria itu pengecut! Dia lemah! Dia tidak pantas berdiri di sisimu!"
"Sudah cukup."
Ka el mengangkat tangannya, memotong ucapan Lae ria dengan gerakan sederhana namun penuh otoritas. Suasana di ruangan itu kembali mencekam.
"Dengar baik-baik, Lae ria Star born," ucap Ka el dengan nada dingin yang mematikan. "Kau datang kemari untuk memberitahu rencana keluargamu, kan? Baiklah, pesan ini kau sampaikan kembali pada Raja."
Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap mata biru cerah wanita itu tanpa berkedip.
"Katakan pada Lord Valde mar dan seluruh keluarga Star born. Aku, Ka el drago mir, tidak keberatan sama sekali dengan pertukaran itu. Jika mereka merasa kasihan padamu dan ingin menyelamatkan nyawamu yang berharga itu, silakan. Suruh mereka bawa gadis bernama Luna ria itu ke istana. Aku akan menerimanya."
Lae ria ternganga. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Ia dikalahkan. Dikalahkan oleh saudara kembarnya yang selama ini ia hina dan anggap sebagai sampah.
"Dan untukmu..." Ka el menatap Lae ria dengan tatapan tajam. "Kembalilah ke rumahmu. Rawat kakimu. Hiduplah dengan tenang sebagai penyihir hebat dan kebanggaan keluarga. Itu jauh lebih baik daripada kau datang kemari dan berbicara soal cinta atau kekaguman."
Ka el tertawa sinis lagi.
"Cinta? Kau bilang kau menyukaiku? Lae ria, buka matamu lebar-lebar. Lihatlah siapa aku. Aku bukan pangeran dongeng yang bisa membuat hidupmu bahagia selamanya. Aku adalah kematian yang berjalan. Siapa saja yang dekat denganku, nasibnya hanya satu yaitu hancur."
Ia menunjuk pintu keluar dengan jarinya.
"Pergilah. Hargai nyawamu sendiri selagi kau masih memilikinya. Jangan pernah membuang-buang waktumu untuk hal yang mustahil seperti menjadi istriku. Karena bagiku, kau tidak lebih baik daripada kaca yang indah tapi sangat mudah pecah. Dan aku... aku tidak suka memelihara barang pecah belah."
Setiap kata yang diucapkan Ka el bagaikan cambuk yang memukul harga diri Lae ria berkali-kali lipat. Pria itu menolaknya dengan sangat halus namun begitu kejam dan menyakitkan. Ia menolak bukan karena tidak mau menikah, tapi karena ia merasa Lae ria tidak cukup kuat untuk menanggung hidup bersamanya. Ia lebih memilih gadis cacat yang tidak punya sihir daripada Lae ria yang jenius.
"Y-Yang Mulia..." Lae ria terisak, tubuhnya gemetar hebat. "Apakah... apakah hati Yang Mulia benar-benar terbuat dari es? Apakah tidak ada sedikit pun perasaan?"
"Perasaan adalah kelemahan, Lae ria. Dan aku sudah membuang semua kelemahanku bertahun-tahun yang lalu," jawab Ka el datar. "Sekarang, keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan membiarkan kakimu patah lebih parah dari ini."
Ancaman itu jelas dan nyata. Lae ria tahu ia tidak bisa memaksa lagi. Dengan hati yang hancur lebur, air mata yang tak henti mengalir, dan rasa malu yang luar biasa, Lae ria akhirnya menunduk dalam memberikan penghormatan terakhir. Ia berbalik perlahan, berjalan tertatih-tatih meninggalkan ruangan megah namun seram itu, meninggalkan pria yang ia cintai namun kini membencinya, atau mungkin tidak pernah mencintainya sama sekali.
Saat pintu besar itu tertutup rapat kembali, menyisakan Ka el sendirian di dalam kegelapan.
Pria itu menatap pintu itu lama. Senyumannya menghilang, digantikan oleh tatapan serius yang mendalam.
"Luna ria..." gumamnya lagi. "Gadis tanpa sihir...aku sangat menantimu..."
Ada sesuatu di dalam dadanya yang berdebar aneh. Bukan karena cinta, tapi karena rasa penasaran yang membara. Ia ingin melihat langsung. Ia ingin bertemu dengan gadis yang memiliki wajah sama tapi aura berbeda itu. Ia ingin tahu, apakah gadis yang dianggap cacat oleh dunianya ini, benar-benar kebal terhadap kutukannya, atau justru akan menjadi satu-satunya yang bisa memecahkan kebekuan di hatinya.