"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisuda Tanpa Orang Tua
POV Zhira
Waktu terasa berlari begitu cepat. Tak terasa, empat tahun masa kuliah sudah hampir sampai di garis finish. Skripsiku sudah selesai dan dinyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan. Predikat Cum Laude berhasil aku raih dengan usaha yang tidak sedikit.
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Hari Wisuda.
Aku berdiri di depan cermin panjang di kamar asrama, mengenakan toga hitam dan topi wisuda. Wajah di cermin itu terlihat cantik, matanya berbinar tegas, dan senyumnya terukir indah. Ini adalah hasil dari air mata, keringat, kelaparan, dan perjuangan yang panjang.
"Selamat ya, Zhira Alvina. Kamu berhasil melewatinya," bisikku pada bayangan sendiri.
Dinda dan teman-teman yang lain sudah sibuk memakaikan bunga di dada dan memotretku dari berbagai sudut.
"Wih, cantik banget sih Sarjana Muda! Nanti orang tuanya datang kan? Pasti mereka bangga banget lihat kamu wisuda pake cum laude gini!" seru Dinda antusias.
Pertanyaan itu membuat senyumku sedikit mengendur. Aku menunduk sebentar, lalu tersenyum lagi.
Sehari sebelumnya, aku sudah menelepon rumah memberitahu tanggal wisuda. Aku berharap, hanya sekali ini saja, mereka mau datang melihat anaknya berhasil.
"Wisuda? Buang-buang uang saja. Untuk apa Ibu pergi jauh-jauh cuma lihat kamu pakai baju aneh itu? Lagian adik-adikmu butuh biaya sekolah, Ibu nggak bisa keluyuran. Ya sudah sana wisuda, nanti kalau dapat ijazahnya foto saja kirim ke sini."
Itu jawaban Ibu Zainal. Dingin, datar, dan mematikan harapan. Ayah Alvin hanya bisa berpesan lewat pesan singkat: "Selamat ya Nak. Ayah bangga, maaf Ayah tidak bisa datang."
Jadi, hari ini aku berdiri di sini sendirian. Tidak ada orang tua yang memakaikan kalung, tidak ada ayah yang mengelus kepala, tidak ada ibu yang menangis haru.
Tapi... aku tidak sendirian benar.
Di sampingku ada Dinda, ada teman-teman seperjuangan, dan... ada Bu Lestari.
Wanita paruh baya itu datang dengan baju terbaiknya, membawa buket bunga besar dan kotak kado. Matanya berkaca-kaca melihatku.
"Anakku... Ibu bangga sekali sama kamu," ucapnya lembut lalu memelukku erat.
Pelukan itu... hangatnya melebihi pelukan siapa pun. Di pelukan Bu Lestari, aku merasa lengkap. Aku merasa menjadi anak yang benar-benar dibanggakan.
"Terima kasih sudah datang, Bu. Terima kasih sudah jadi Ibu buat Zhira," isakku di bahunya.
Acara wisuda berjalan dengan khidmat dan megah. Saat namaku dipanggil, "Zhira Alvina, S.Psi., Predikat Cum Laude!", aku melangkah tegap ke atas panggung.
Sorak-sorai teman-teman dan tepuk tangan riuh terdengar. Aku menerima ijazah dan selendang wisuda dari Rektor. Saat topi dipindahkan, aku menyunggingkan senyum terlebar seumur hidupku.
Di bawah sorotan kamera dan mata banyak orang, aku membuktikan satu hal: Meskipun aku lahir dan tumbuh di tempat yang gelap, aku berhasil menjadi cahaya bagi diriku sendiri.
Selesai acara, banyak teman yang berfoto dengan keluarganya. Aku juga berfoto, tapi dengan "keluarga baruku"—Bu Lestari dan Dinda.
"Nah, sekarang kamu sudah sarjana. Apa rencana selanjutnya, Nak?" tanya Bu Lestari sambil berjalan di taman kampus.
"Zhira mau cari kerja, Bu. Zhira mau mandiri sepenuhnya. Zhira mau punya rumah sendiri, atau setidaknya tempat tinggal yang layak. Zhira juga mau terus bantu keluarga, tapi dengan cara yang lebih bijak," jawabku tegas.
Bu Lestari tersenyum bangga. "Pilihan yang sangat dewasa. Omongan orang lain, termasuk keluarga sendiri, jangan dijadikan beban. Jadikan itu bahan bakar. Kamu sudah dewasa sekarang, Zhira. Kamu punya hidupmu sendiri."
Sore itu, angin berhembus sangat sejuk. Aku melepas toga dan melihatnya sekilas. Buku ijazah kupegang erat-erat. Ini adalah bukti nyata bahwa semua hinaan, semua rasa tidak dianggap, semua kelaparan, tidak menyia-nyiakan hidupku. Aku berhasil lulus dengan gemilang.
"Selamat tinggal masa-masa sulit. Selamat datang kehidupan baru," bisikku pada angin sore.
Namun, aku tahu perjuangan belum selesai sepenuhnya. Dunia kerja menanti, dan hubungan dengan keluarga di rumah pun masih menjadi tantangan tersendiri. Tapi kali ini, aku tidak takut. Aku sudah memiliki senjata paling ampuh: Keyakinan pada diri sendiri dan hati yang tangguh.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wah, akhirnya wisuda! 🎓🎉 Sedih sih karena orang tua nggak datang tapi senang karena ada Bu Lestari. Gimana Bab 15-nya? Lanjut Bab 16 ya, kita masuk ke dunia kerja nih! 💪✨